
My love is sillie
Episode 46
•
Martin melepas tangan Aurora begitu mereka sampai di taman samping rumah gadis itu.
Aurora pun tampak grogi saat berduaan dengan Martin disana, apalagi ia tahu Martin tadi sempat memergokinya ada di markas the darks bersama Willy serta yang lain.
Aurora sedikit cemas jika Martin memang mengenalinya dan akan melapor pada orangtuanya nanti, ia juga bingung bagaimana bisa Martin ternyata adalah sepupunya.
"Kamu tadi ada di tempat the darks kan, bareng sama anak-anak berandalan itu? Saya lihat kamu kok tadi." kata Martin pelan.
"Eee iya, aku emang ada disana kok. Aku juga tahu pas kamu berkelahi sama Willy, dia itu teman sekolah aku." jawab Aurora.
"Ohh.." Martin mengangguk-angguk pelan.
"Terus kenapa? Kamu gak suka aku ada disana? Aku ini bagian dari the darks juga, jadi wajar kalau aku ikut kumpul disana. Kamu mau laporin soal ini ke papa sama mama aku, iya?" tanya Aurora yang sudah tegang duluan.
"Hahaha, kamu kenapa sih panik begitu? Buat apa saya lapor ke orang tua kamu? Saya cuma mau memastikan aja kok kalau saya gak salah lihat tadi, tenang aja gausah panik!" ujar Martin.
"Ish, siapa juga yang panik sih? Aku gak panik kok!" elak Aurora membuang muka.
"Ya baguslah kalo gitu, tapi saya bingung deh sama kamu. Kenapa kamu mau berteman dengan anak berandalan seperti mereka?" ujar Martin.
"Mereka bukan anak berandalan, aku tahu kok kalau anak-anak the darks itu semuanya baik, terutama Willy." kata Aurora.
"Baik kamu bilang? Dengar ya, geng the darks itu sudah sangat meresahkan warga. Bahkan, saya sendiri tadi hampir dibegal sama mereka. Kamu sebaiknya keluar deh dari geng itu, saya gak mau anggota keluarga saya ada yang terlibat dalam keanggotaan geng motor!" ucap Martin.
"Buat apa aku harus nurut sama kamu? Kita ini baru kenal dan ketemu sekarang, jadi kamu gak bisa atur-atur aku begitu! Suka-suka aku dong mau berteman sama siapapun!" ucap Aurora.
"Lagian, kamu gak tahu anggota the darks tuh kayak gimana. Mereka gak seperti yang kamu pikirkan barusan!" sambungnya.
"Jelas saya tahu, mereka itu sudah berkali-kali berurusan dengan polisi. Bahkan, Willy yang sama kamu itu sudah beberapa kali masuk ke penjara. Jadi, kamu bisa putuskan sendiri betapa brutalnya mereka. Kalau kamu tetap disana, yang ada kamu bisa terlibat ke dalam urusan mereka dan masuk penjara. Memangnya kamu mau?" ucap Martin.
"Udah ah gausah bahas itu lagi! Aku capek mau istirahat di dalam, kamu kan juga katanya mau pulang tadi. Sekali lagi salam kenal ya, tapi kamu tetap gak bisa atur-atur aku biarpun kamu sepupu aku!" ucap Aurora tersenyum tipis.
"Eh tunggu!" Martin mencekal lengan Aurora dan menahannya untuk tetap disana.
"Apa lagi?" tanya Aurora kesal.
"Saya mau tanya satu hal lagi sama kamu, tolong kamu jawab dengan jujur ya!" ucap Martin.
"Okay, tanya apa?" Aurora tampak penasaran.
"Antara kamu dengan Willy itu ada hubungan apa? Saya lihat sepertinya kamu dekat sekali sama dia, pasti bukan cuma teman biasa dong?" tanya Martin menelisik.
"Apaan sih? Aku sama Willy itu satu sekolah, kita cuma temenan kok. Jangan mikir yang enggak-enggak deh, nanti jatuhnya fitnah tau!" jawab Aurora ketus.
"Biasa aja dong jawabnya, kok ketus gitu? Saya kan cuma tanya, gak bermaksud nuduh atau malah fitnah." kata Martin.
"Iya iya sorry! Abisnya pertanyaan kamu itu gak berbobot!" ucap Aurora.
Martin tersenyum tipis, kemudian meraih satu tangan Aurora dan memandang wajahnya.
"Yasudah, kamu boleh masuk ke rumah sana! Kapan-kapan saya ajak kamu main ke tempat saya ya," ucap Martin.
"Ya ya ya..." Aurora mengangguk saja.
Lalu, mereka pun sama-sama pergi dari sana dan kembali ke dalam rumah Aurora.
******
Willy tengah melamun seorang diri di teras depan rumahnya, ia duduk pada kursi yang tersedia dengan satu kaki ia tekuk ditemani oleh secangkir kopi serta pisang coklat buatan ibunya.
Entah mengapa Willy tiba-tiba merasa rindu pada Kiara, gadis cantik yang tanpa sengaja ia temui ketika sedang berkeliling di sekitar rumah Martin beberapa waktu lalu.
Kenangan antara Willy dengan Kiara memang tidak begitu banyak, tetapi sudah membekas di hati Willy dan pria itu tak akan mudah untuk melupakan Kiara biarpun ia selalu mengatakan jika ia sudah moveon dari gadis itu.
"Huh Kiara kelihatannya makin bahagia hidup sama si Martin Martin itu. Gue gak ngerasa dia tertekan seperti apa yang dia sampaikan dulu," ujar Willy.
Sluurrpp sluurrpp...
Willy menyeruput kopinya sejenak, menggigit pisang coklat dan kembali menatap langit yang dipenuhi bintang bersinar itu.
Hembusan angin sepoi-sepoi menambah dinginnya suasana disana, Willy memang suka melamun diwaktu seperti sekarang ini.
"Tapi, dilihat-lihat tadi Kiara makin cantik aja. Pasti si Martin udah sering pake dia!" gumamnya.
"Willy Willy..." tiba-tiba saja suara berat muncul dari belakangnya.
Willy terkejut dan reflek menoleh untuk memastikan suara siapakah itu, ternyata benar dugaannya bahwa itu adalah bapaknya.
"Eh bapak, kenapa pak?" tanya Willy bingung.
"Kamu itu kenapa bicara seperti tadi? Masa kamu bilang kalau nak Kiara semakin cantik, terus dia sering dipake sama Martin. Maksud kamu apa bicara begitu?" ucap pak Gunawan.
"Hehe, bapak ini ngapain sih nguping segala? Bikin malu aja." kata Willy garuk-garuk kepala.
"Bukannya nguping, tadi bapak gak sengaja keluar pengen cari angin. Eh ternyata malah dengar kamu lagi bicara begitu, makanya bapak langsung tanya deh sama kamu disini. Kenapa sih Willy? Kamu masih belum bisa moveon dari nak Kiara?" jelas pak Gunawan.
"Bukan begitu pak, tapi Kiara itu entah kenapa selalu muncul di kepala aku. Padahal aku udah berusaha buat lupain dia, eh dia malah tiba-tiba datang dan bikin aku ingat lagi sama dia." ucap Willy terheran-heran.
"Haish, ada-ada aja kamu. Sudahlah lupakan saja nak Kiara itu! Dia kan sudah bahagia dengan pilihannya," ucap pak Gunawan.
"Iya pak, aku juga pengennya begitu. Tapi, masalahnya dia selalu datang lagi datang lagi. Contohnya kemarin deh, dia malah muncul sama si Martin ke tempat nongkrong aku." kata Willy.
"Loh, mau ngapain mereka?" tanya pak Gunawan.
"Aku juga kurang tahu pak, udah lah gausah dibahas gak penting juga!" jawab Willy.
"Ya benar, buat apa terus bahas masa lalu kan? Lebih baik kamu tatap masa depan kamu!" ucap pak Gunawan tersenyum.
"Iya pak, ini aku juga lagi usaha buat temuin masa depan aku." kata Willy.
"Ngapain harus dicari lagi? Padahal kan sudah di depan mata, masa kamu gak lihat sih yang secantik dan semanis nak Aurora?" ucap pak Gunawan.
"Hah? Kok jadi Aurora, pak?" ujar Willy heran.
"Benar kan? Kalian itu cocok loh, kenapa gak pacaran aja? Bukannya kalian udah saling peluk-pelukan ya?" ucap pak Gunawan.
"Enggak lah pak, kita cuma temenan aja. Mana mungkin juga Aurora mau sama aku?" ucap Willy menggeleng pelan.
Pak Gunawan terkekeh saja mendengar perkataan Willy yang malu-malu tapi mau itu.
******
Keesokan paginya, saat hendak berangkat sekolah Aurora justru melihat Willy sudah berdiri di depan gerbang rumahnya dan terlihat tengah menunggu seseorang disana.
Sontak saja Aurora merasa bingung, padahal pagi ini ia akan berangkat ke sekolah diantar oleh papanya itu, tapi Willy malah datang ke rumahnya dan membuat Aurora sedikit cemas.
"Eee sebentar ya pah, aku mau ke gerbang dulu." ucap Aurora.
"Loh ngapain?" tanya Johan heran.
"Eee itu anu.." Aurora tampak gugup menjawabnya.
"Itu anu apa? Mau ngapain kamu ke gerbang? Kan ada pak satpam yang bisa bukain pintu nanti, kamu gak perlu repot-repot begitu!" ucap Johan.
"Bukan gitu pah, aku cuma—"
"Ada apa sih emang di gerbang? Coba papa lihat deh." potong Johan.
"Eh eh, pah jangan pah! Biar aku aja yang kesana, itu tuh ada orang kayaknya." ucap Aurora.
"Orang siapa?" tanya Johan.
"Eee di-dia teman sekolah aku, pah. Makanya aku mau temuin dia dulu, gapapa kan?" jawab Aurora.
"Ohh bilang dong daritadi sayang! Yasudah, kamu temuin aja dulu! Tapi, jangan lama-lama ya sayang!" ucap Johan.
"I-i-iya pah, sebentar aja kok." ucap Aurora.
Johan mengangguk mempersilahkan Aurora untuk pergi ke depan gerbang, sedangkan Johan sendiri masuk ke dalam mobil dan menunggu putrinya disana.
Aurora terus melangkah menghampiri Willy yang ada di depan sana, ia sungguh bingung mengapa pria itu berani sekali datang ke rumahnya.
"Willy!" ucap Aurora menyapa pria itu dengan sedikit rasa emosi.
Sementara Willy justru tersenyum senang saat melihat Aurora muncul, ia pun mendekati gadis itu dan langsung meraih kedua tangannya.
Cupp!
Willy mengecup pipi Aurora secara tiba-tiba, membuat gadis itu terbelalak lebar dan terus menatap Willy dengan heran.
"Ish, lu apa-apaan sih?! Jangan sembarangan deh main cium-cium aja!" protes Aurora.
"Kenapa sih? Masih pagi udah marah-marah aja. Itu mending loh aku cium pipi kamu, daripada cium bibir nanti kamu malah ketagihan." kata Willy.
"Haish, lu mau apa kesini? Bukannya langsung ke sekolah sana!" ujar Aurora.
"Gue mau bareng sama lu, supaya murid-murid di sekolah tahu kalau kita pacaran." ucap Willy.
"Hah? Gak bisa Wil, gue diminta buat bareng sama bokap gue. Udah deh, lu jalan duluan aja sana!" ucap Aurora.
"Ohh lu mau bareng bokap lu? Yaudah, sekalian aja deh gue ketemu sama bokap lu sekarang. Dimana dia?" ucap Willy.
"Ih mau ngapain? Gak ada ya, mending lu pergi sana ke sekolah!" ujar Aurora.
"Kenapa cantik? Kemarin lu yang minta gue buat ketemu ortu lu, kok sekarang gue pengen ketemu malah dilarang?" tanya Willy heran.
"Ya sekarang kan masih pagi, bokap gue juga lagi buru-buru mau ke kantor. Dia gak mungkin mau bicara sama lu!" jawab Aurora.
"Sebentar aja kok, gue cuma mau bilang kalau gue ini sayang sama lu. Terus, gue pengen minta izin ke bokap lu buat anterin lu sekolah." kata Willy.
"Oh begitu.." mereka berdua sama-sama terkejut saat mendengar suara berat yang muncul.
Keduanya pun menoleh ke asal suara, dan terlihat Johan muncul sembari melangkah mendekati mereka berdua.
******
Kiara diantar oleh Martin ke sekolahnya, ya hari ini adalah hari kembalinya Kiara bersekolah setelah cukup lama ia tak bisa melanjutkan sekolah.
Sesampainya di sekolah barunya, Kiara cukup takjub lantaran sekolah itu benar-benar mewah dan pastinya murid-murid disana sangat elegan.
"Tuan, ini gak salah tempatnya?" tanya Kiara.
"Jelas enggak dong, saya sudah daftarkan kamu di sekolah ini. Mulai sekarang ya kamu akan sekolah disini. Gimana sayang? Apa kamu suka sekolah di tempat ini?" jawab Martin.
"Belum tahu sih tuan, aku kan belum rasain di dalam sana kayak gimana." kata Kiara.
"Oh iya juga ya, yaudah kamu boleh turun kok sekarang dan masuk ke dalam sana, supaya kamu bisa rasain gimana feel-nya sekolah disana. Nanti siang saya jemput kamu lagi disini, selamat bersekolah ya cantik!" ucap Martin tersenyum.
"Makasih tuan! Aku senang banget bisa sekolah lagi kayak gini, aku juga gak nyangka ini semua bakal terjadi." ujar Kiara.
"Sama-sama sayang, ingat juga loh disana nanti kamu gak boleh genit sama cowok-cowok! Kalau ada yang deketin atau godain kamu, bilang sama saya!" ucap Martin.
"Siap tuan!" ucap Kiara menurut.
"Hahaha, yaudah hati-hati ya sayang!" ujar Martin.
Kiara mengangguk pelan, mencium punggung tangan Martin lalu melambaikan tangannya sebelum turun dari mobil.
Martin tersenyum saja dan terus memandangi wajah gadisnya, ia sebenarnya cukup ragu memberi izin Kiara sekolah, tapi ia tak memiliki pilihan lain karena ia mau Kiara bahagia.
"Kamu memang bisa bersekolah lagi Kiara, tapi tetap saya akan awasi kamu selama di sekolah itu. Kalau sampai saya tahu kamu berbuat yang enggak-enggak, saya akan hukum kamu!" batin Martin sembari mengelus dagunya.
Kiara yang sudah turun dari mobil Martin, tampak terkagum-kagum dengan bangunan sekolah itu.
"Wah keren banget sekolahnya!" ucap Kiara.
"Kiara!" panggil Martin dari belakang.
Kiara pun menoleh dan tersenyum ke arah Martin yang membuka kaca mobilnya.
"Iya tuan?" ucap Kiara bingung.
"Semangat sekolahnya ya!" ucap Martin.
"Oke tuan!" ucap Kiara tersenyum lebar.
Setelahnya, Martin melajukan mobilnya pergi dari sekolah itu karena ia harus segera pergi ke kantor mengurus kerjaannya.
Sementara Kiara berjalan menuju ke dalam sekolah itu sambil terus memandangi bangunan yang tinggi menjuntai itu.
"Bagus banget sekolah ini!" ucapnya.
Tiiinnnn...
Kiara dikagetkan oleh suara klakson panjang yang dibunyikan dari belakangnya, ia reflek bergeser ke samping dan melihat siapa yang datang.
"Heh! Jalan itu jangan di tengah-tengah kayak gitu! Emang lu kata jalanan ini punya nenek moyang lu?!" ujar pria yang tak lain adalah Max.
"Ma-maaf aku gak tahu kalau ini suka dipake buat jalanan motor juga!" ucap Kiara gugup.
Max terkejut melihat rupa dari gadis di hadapannya, seketika ia tersenyum lebar dan terus menatap Kiara penuh arti.
Bersambung....