My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 111. Randi dan Ayna



My love is sillie


Episode 111



"Hey! Kamu lagi ngapain?" tanya pria itu.


"Hah? Ka-kamu.." Ayna sontak terkejut melihat Randi juga berada di cafe itu.


"Iya, hai Ayna!" sapa Randi sambil duduk di sebelah gadis yang masih tercengang itu.


"Ha-hai juga! Tapi, kamu kok bisa ada disini?" ujar Ayna gugup.


"Aku emang kerja disini, kamu lihat nih pakaian aku kayak gini!" jawab Randi.


Ayna pun mengarahkan pandangannya ke tubuh Randi dari atas sampai bawah.


"Kamu jadi pelayan disini?" tanya Ayna.


Randi mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu kok gak pernah bilang sih? Tahu gitu tadi aku gak mau dilayanin sama orang lain, maunya sama kamu aja." ucap Ayna.


"Tadi aku sebenarnya lihat kamu datang kesini, tapi aku sengaja gak mau samperin kamu." ucap Randi.


"Loh kenapa? Kamu gak suka ya dekat-dekat sama aku?" tanya Ayna tampak sedih.


"Bukan gak suka, aku tadi jaga-jaga aja takutnya kamu datangnya sama kakak kamu." jawab Randi.


"Ohh, kamu takut ya sama kak Geri?" goda Ayna.


"Gak takut juga sih, cuma aku gak mau cari ribut sama kakak kamu itu. Apalagi kondisinya sekarang aku lagi di tempat kerja," jelas Randi.


"Iya iya, aku paham. Tapi, sekarang aku datang sendiri kok gak sama kak Geri." ucap Ayna.


"Aku tahu, kan aku udah lihat. Makanya aku berani samperin kamu sekarang," ucap Randi.


"Berarti kamu mau dong temenin aku ngopi disini?" tanya Ayna sambil tersenyum manis.


"Sure, aku bisa temenin kamu dan siap dengerin curhat kamu. Aku tahu kamu lagi ada masalah, ya kan?" ucap Randi.


Ayna membalas dengan anggukan kecil.


"Tuh kan, kamu punya masalah apa emang? Cerita aja kalau kamu gak keberatan!" ujar Randi.


"Aku emang lagi butuh teman curhat, makasih banget ya kamu mau dengerin aku!" ucap Ayna sambil tersenyum.


"Sama-sama, jadi kamu mau cerita apa nih sama aku?" tanya Randi.


Ayna menelan saliva nya sekilas, lalu tampak berpikir sejenak sebelum mulai menceritakan apa yang dia rasakan kepada Randi.


"Aku sebenarnya lagi bete sama kak Geri," jawab Ayna.


"Bete? Bete kenapa?" tanya Randi dengan wajah penasaran.


"Iya, abisnya dia selalu larang aku buat dekat sama kamu atau anak-anak the darks yang lain." jawab Ayna.


"Oh soal itu, ya wajar aja sih kan dia emang benci banget sama geng aku." ucap Randi.


"Ya aku ngerti, tapi dia gak bisa libatin masalah dia ke aku dong Ran." kesal Ayna.


"Sabar ya! Mungkin mulai hari ini, kamu harus jauh-jauh dari aku atau anak the darks yang lainnya. Jadi, kamu gak dimarahin terus deh sama Geri," usul Randi.


"Gimana sih Ran? Aku kan pengen temenan sama kamu dan yang lain, masa gak boleh?" tanya Ayna.


"Itu lebih baik, daripada kamu dimarahin terus. Aku kasihan loh sama kamu, apalagi kamu itu kan cantik dan baik!" ucap Randi sambil tersenyum.


Ayna menunduk malu mendengar itu.


"Oh ya, minumannya gimana? Enak apa enggak?" tanya Randi mengalihkan pembicaraan.


"Eee enak kok, enak banget malah!" jawab Ayna dengan lembut.


"Kalau mau dibuatin menu lain, bilang aja ya! Khusus buat kamu, aku bikinin yang spesial deh!" ucap Randi.


"Makasih! Tapi, ini aja udah cukup kok. Lambung aku kan bukan galon," ucap Ayna.


"Hahaha..." mereka tertawa bersamaan dan terlihat cukup ceria.


***


Tanpa sadar, para pelayan di cafe itu tampak melirik ke arah Randi serta Ayna dan membicarakan mereka dari jauh.


"Eh, itu si bos sampe ketawa-ketawa gitu sama tuh cewek. Kira-kira dia siapa ya?" ujar Tio.


"Mana aku tahu, mungkin pacarnya si bos. Kamu tanya aja langsung sana!" ucap Gugum.


"Yeh mana berani aku? Tapi, kayaknya iya deh itu pacarnya si bos." ucap Tio.


"Hooh, buktinya si bos sampe rela nyamar jadi pelayan cafe begitu.." ucap Feli.


Tak lama kemudian, seorang wanita yang tak lain ialah manager di cafe itu pun datang dan menegur para pegawainya.


"Ehem ehem.." semuanya terkejut mendengar deheman pelan tersebut.


"Eh Bu Indah? Selamat pagi Bu!" ucap Gugum tampak gugup.


"Kalian lagi ngapain pada ngumpul disini? Ghibahin bos ya?" ujar wanita bernama Indah itu.


"Eee enggak Bu, ki-kita cuma lagi ngobrol-ngobrol aja kok." elak Gugum.


"Yaudah, kalian balik kerja sana! Gak baik ngomongin bos sendiri di belakang!" ujar Indah.


"I-i-iya Bu, kita permisi dulu!" ucap Gugum.


Ketiga pelayan itu pun pergi melewati Indah dengan perasaan tegang karena khawatir akan dimarahi oleh sang manager.


"Umm, tapi iya sih.. tumben banget Randi bawa ceweknya kesini," gumam Indah.


Indah langsung melongok melihat Randi meraih satu tangan Ayna dan menggenggamnya erat, membuat ia semakin yakin jika bosnya sedang bersama sang kekasih.


"Fix sih, itu emang pacarnya Randi!" ujar Indah.


"Ehem ehem.." Indah terkejut dan menoleh ke belakang begitu mendengar suara deheman.


"Kalian? Ngapain kalian masih disini?" tanya Indah pada para pelayannya.


"Eee anu Bu, kita cuma mau ngingetin, gak baik loh bahas si bos di belakang!" ujar Gugum.


"Iya Bu, betul itu!" sahut Tio.


"Saya gak ngomongin si bos, saya cuma bicara sama diri saya sendiri. Udah, kalian balik kerja sana!" ujar Indah.


"Siap Bu!" ucap mereka bertiga dengan kompak.


"Hadeh," Indah menggelengkan kepalanya melihat tingkah ketiga pelayannya barusan itu.


***


Willy dan Aurora masuk ke dalam cafe bersamaan sembari saling menggandeng satu sama lain.


Keduanya pun tersenyum, mencari tempat duduk yang kosong dan memesan makan serta minum disana.


"Sayang, kamu kenapa cantik banget sih? Aku gak bisa loh berpaling dari wajah kamu," ujar Willy.


"Ah kamu mah gombal terus! Cari pembahasan yang lain dong, jangan cuma gombal!" ucap Aurora.


"Bahas apa dong sayang? Soalnya yang ada di pikiran aku itu cuma kamu, jadinya aku gak bisa mikirin pembahasan lain," ujar Willy.


"Ih tukang gombal!" cibir Aurora.


"Hahaha, gapapa lah gombalin pacar aku sendiri. Emangnya kamu mau kalau aku nanti malah gombalin cewek lain?" ucap Willy.


"Dih, ya jangan lah! Kalau kamu lakuin itu, aku bakal benci banget sama kamu! Bukan cuma benci, mungkin aku juga gak akan mau kenal sama kamu lagi!" ujar Aurora.


"Aku bercanda sayang, jangan serius-serius gitu dong nanti cantiknya ilang loh!" ucap Willy.


"Huh bercandaan kamu mah gak asik! Aku mau ke toilet aja," ucap Aurora bangkit dari duduknya.


Willy menahan tangan Aurora dan ikut berdiri.


"Kok baru dateng udah ke toilet aja? Gara-gara marah ya sama aku?" tanya Willy.


"Bukan gitu, aku emang kebelet daritadi kok pas di mobil," elak Aurora.


"Iya iya," ucap Aurora singkat.


Willy tersenyum sembari mengusap puncak kepala wanitanya dan mengacak-acak rambutnya.


"Ih jangan diberantakin!" protes Aurora.


"Biarin, kamu tambah imut kalo rambut kamu acak-acakan kayak gini," ucap Willy sambil terkekeh kecil.


"Imut darimana sih? Udah lah, aku gak tahan mau ke toilet!" kesal Aurora.


Willy terkekeh saja, lalu duduk kembali di kursinya sambil terus memandangi punggung Aurora yang perlahan menjauh.


Tak lama kemudian, seorang pelayan muncul membawakan pesanan milik Willy dan Aurora.


"Mas, silahkan pesanannya!" ucap Gugum si pelayan seraya meletakkan pesanan itu di atas meja.


"Terimakasih ya!" ucap Willy.


"Sama-sama, selamat menikmati!" ucap Gugum.


Willy mengangguk pelan, lalu mengambil gelas minuman miliknya dan meminumnya sedikit.


"Ada punya Aurora tuh," gumam Willy saat melihat minuman pesanan wanitanya.


"Gue kerjain ah," tiba-tiba Willy memiliki ide usil untuk mengerjai Aurora.


Pria itu mengambil gelas minuman Aurora dan meminumnya sampai tersisa setengah, lalu ia taruh kembali gelas itu di meja dan berpura-pura tidak terjadi apapun.


"Hahaha, enak juga punyanya Aurora!" ucap Willy. "Eh bentar-bentar, kok jadi ambigu ya?"


Disaat ia sedang mengedarkan pandangan ke sekeliling cafe itu, tanpa sengaja Willy menangkap sosok yang ia kenali di tempat itu.


"Loh, itu kan si Randi?" gumamnya. "Dia sama siapa ya disana?"


Willy bangkit dari duduknya, menatap lebih jelas ke arah Randi untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat.


"Iya bener itu Randi," ujar Willy.


"Sayang!" Willy menghentikan langkahnya saat Aurora muncul dari belakang dan membuat pria itu terkejut.


"Eh pacarku?" ucap Willy tersenyum lebar.


Willy pun mendekati kekasihnya dan tidak jadi menghampiri Randi.


"Udah selesai ke toiletnya?" tanya Willy.


"Ya udah lah, buktinya aku udah ada disini. Kamu tadi mau ngapain sih? Godain cewek-cewek disini ya?" Aurora balik bertanya pada kekasihnya itu.


"Hah? Dih, enak aja kamu kalo ngomong! Aku mana pernah kayak gitu sih? Buat apa godain cewek lain kalau cewek aku sendiri paling cantik di dunia?!" ujar Willy.


"Yeu dasar tukang gombal! Udah ah, yuk duduk!" ucap Aurora.


"Sip sayang!" Willy menurut saja dan duduk kembali di tempatnya bersama Aurora.


"Disaat Aurora hendak meminum minuman miliknya, ia tersadar jika minuman itu tinggal tersisa setengah.


"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Willy.


"Ih ini kok minuman aku cuma segini? Kamu minum ya?" keluh Aurora.


"Apa sih? Mana aku tau? Itu daritadi emang udah segitu porsinya," elak Willy.


"Ish, serius sayang! Gak mungkin cuma segini, pasti kamu minum kan!" ucap Aurora.


"Hehe, iya deh iya aku ngaku.." ujar Willy.


"Tuh kan, nyebelin banget sih kamu! Kenapa diminum coba?" ujar Aurora.


"Maaf sayang! Aku cuma iseng tadi maksudnya, nih kamu minum punya aku deh!" ucap Willy.


"Gak mau ah!" Aurora tampak kesal dan tak mau menatap wajah kekasihnya.


"Aduh, salah deh gue!" gumam Willy sambil garuk-garuk kepalanya.


***


Randi tak sengaja mendengar kericuhan antara Aurora dan Willy tadi, ia pun mencari sumber suara untuk menemukan sosok sahabatnya tersebut.


Sementara Ayna terlihat bingung melihat Randi celingak-celinguk seperti mencari seseorang, ia penasaran siapa sebenarnya yang dicari Randi.


"Ran, kamu cari siapa sih?" tanya Ayna.


"Eh enggak kok, aku tadi cuma dengar suara teman aku disini. Tapi, aku belum berhasil temuin dia dimana. Mungkin aja aku salah dengar, udah lah gausah dipikirin!" jawab Randi.


"Ohh, kalo gitu aku mau pulang ya? Gak enak juga aku kelamaan disini ganggu kamu," ujar Ayna.


"Hah? Kamu gak ganggu kok, justru kalau kamu lama disini aku jadi senang," ucap Randi.


"Kenapa gitu?" tanya Ayna tak mengerti.


"Ya aku jadi punya teman ngobrol, apalagi kamu itu cantik dan enak diajak bicara berdua," jawab Randi.


"Duh, kamu bisa aja deh!" ujar Ayna malu-malu.


Randi terkekeh kecil, kemudian meraih dua tangan Ayna dan menggenggamnya erat sembari menatap wajah gadis itu.


"Kamu disini aja ya cantik! Aku gak sama sekali ngerasa terganggu dengan kehadiran kamu, karena jarang banget ada tamu jomblo yang datang ke tempat ini," ucap Randi.


"Hahaha, kok jadi bawa-bawa jomblo sih? Kamu maksudnya mau ngatain kalau aku jomblo gitu?" tanya Ayna.


"Eh enggak gitu loh cantik, maksud aku disini tuh kebanyakan tamunya pada bawa pasangan masing-masing. Jadi, gak ada yang bisa aku ajak ngobrol kayak gini," jelas Randi.


"Ohh, emangnya kamu gak dimarahin sama bos kamu kalau kamu kelamaan disini?" tanya Ayna.


"Ya enggak lah, aku kan bosnya disini." tanpa sadar, Randi justru mengucapkan kalimat yang seharusnya tidak ia ucapkan.


Sontak Ayna terkejut mendengarnya.


"Maksudnya? Jadi, kamu itu pemilik cafe ini? Kenapa tadi kamu bilangnya kamu cuma pelayan?" tanya Ayna tampak tak percaya.


"Eee i-i-iya Ayna, maafin aku ya! Aku bilang begitu, supaya kamu gak sungkan buat bicara sama aku," jawab Randi.


"Huft, kamu itu nyebelin deh! Tapi gapapa deh, aku tetap suka kok sama kamu," ujar Ayna.


"Hah??" Randi tampak syok mendengar ucapan Ayna yang mengaku bahwa dia menyukainya.


"Eee ma-maksud aku.." ucapan Ayna terjeda saat Randi berdiri dan duduk lebih dekat ke arahnya.


"Gak perlu dijelasin, iya aku ngerti kok maksud kamu. Yaudah, kamu mau pesan makan apa enggak nih? Aku traktir deh," potong Randi.


"Traktir? Jangan deh, aku gak—"


"Sssttt, udah kamu nurut aja sama aku! Sebentar ya, aku panggil pelayannya dulu!" potong Randi.


"Ta-tapi Ran.." Ayna menjeda ucapannya, ia tak berani saat ditatap tajam oleh Randi disana.


"Tunggu dulu ya cantik!" ucap Randi.


"Iya deh, aku ngikut aja sama kamu," ucap Ayna menurut.


Randi tersenyum seraya mengusap wajah gadis itu dengan lembut.


Lalu, Randi pun memanggil pelayan yang bertugas disana untuk memesan makanan.


"Tio!" panggil Randi.


"Ah siap bos!" pelayan itu langsung bergerak menuju meja tempat Randi berada. "Iya bos, ada apa ya?" tanyanya pada si bos.


"Saya mau pesan makan, kasih saya dan gadis cantik ini makanan terbaik disini! Kamu mengerti kan Tio?" jawab Randi.


"Siap bos! Saya pasti bakal bilang ke chef kita buat siapin makanan terenak, saya yakin pacar bos pasti suka deh bos!" ucap Tio.


"Bicara apa sih kamu? Dia bukan pacar saya, jangan sembarangan kalo ngomong ya kamu! Nanti dia bisa ngamuk sama saya," ujar Randi.


"Oh gitu, ya maaf deh bos! Yaudah, saya permisi ya bos!" ucap Tio.


"Ya silahkan!" ucap Randi.


Tio pun pergi memberitahu tukang masak disana untuk menyiapkan pesanan Randi.


Sementara Randi tetap disana dan tanpa sengaja merangkul Ayna.


Bersambung....