My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 56. Semakin genting



My love is sillie


Episode 56



Willy beserta Aurora tiba di rumah sakit tempat Thoriq dirawat, mereka langsung terburu-buru turun dari motor dan masuk kesana.


Willy sudah nampak panik dan khawatir pada kondisi Thoriq temannya itu, ia berlari ke dalam sembari menggandeng tangan Aurora.


"Wil, gue bisa jalan sendiri Wil. Ini kalo lu gandeng gue terus kayak gini, gue malah susah buat ngimbangin langkah kaki lu. Mending lu jalan duluan, terus gue ngikutin dari belakang." ujar Aurora.


"Udah sayang, kamu nurut aja sama aku ya!" ucap Willy tetap kekeuh tak ingin melepaskan tangan Aurora.


"Haish, nyebelin banget sih lu!" umpat Aurora kesal.


"Nyebelin gini juga kamu sayang kan sama aku?" goda Willy sambil tersenyum renyah.


"Dih, kepedean banget deh lu!" ujar Aurora.


"Gapapa dong, daripada minder kan? Lagian aku juga yakin kalau kamu cuma cinta sama aku, karena kamu itu punya aku." ujar Willy.


"Haish, lepasin tangan gue dong Wil! Lu mau bikin tangan gue putus apa gimana sih?!" ujar Aurora.


"Iya iya.." Willy malah menarik lengan Aurora dan mendekap gadis itu dengan erat.


"Ish, tadi katanya iya kok malah peluk gue? Kan gue minta buat dilepasin, bukan dipeluk." tanya Aurora keheranan.


"Aku gak mau kamu repot lari-lari kayak gitu, jadi aku peluk aja kamu supaya kamu gak ketinggalan dan gak kecapekan lagi!" ucap Willy tersenyum.


"Terserah lu aja deh!" ujar Aurora.


Willy tersenyum dan mengusap wajah Aurora dengan lembut, lalu mereka pun kembali melangkah secara bersama-sama menuju ruang tempat Thoriq dirawat.


"Kenapa ya tiap kali dipeluk sama Willy, gue sekarang ngerasa nyaman gini?" batin Aurora.


Setibanya mereka di UGD, Willy langsung menemui teman-temannya yang sudah berada disana tanpa melepas pelukannya dari Aurora.


"Guys!" ucap Willy memanggil mereka.


"Eh Wil, dah dateng lu?" ucap Randi.


"Gimana kondisi Thoriq? Udah ada kabar belum tentang dia?" tanya Willy cemas.


"Eee belum Wil, Thoriq masih diperiksa di dalam sama dokter." jawab Randi.


"Duh, semoga aja dia gak kenapa-napa!" ucap Willy.


"Aamiin!" ucap mereka bersamaan.


"Wil, udah Wil lepasin gue!" ujar Aurora berontak.


"Kamu kenapa sih? Aku lagi panik loh, kamu malah gak bisa diem banget!" tegur Willy.


"Ih gue cuma minta dilepasin!" ujar Aurora.


"Diam Aurora! Emang kamu mau ngapain sih kalo aku lepasin? Mau pergi dan tinggalin aku gitu?" ucap Willy.


"Enggak kok, gue tetap disini. Ayolah lepasin gue!" ucap Aurora kesal.


Willy justru tersenyum dan mencolek pipi Aurora, lalu membawa gadis itu menuju tempat duduk tanpa melepas pelukannya.


"Kita duduk dulu yuk!" ucap Willy.


"I-i-iya iya.." ucap Aurora gugup.


Akhirnya mereka berdua duduk disana dengan Willy yang terus mengusap-usap punggung Aurora.


"Sayang, kamu lapar gak?" tanya Willy.


"Enggak kok, tadi kan udah makan di sekolah pas istirahat. Emangnya lu lapar?" jawab Aurora.


"Aku enggak juga, tapi kalau kamu lapar biar aku beliin makanan dulu di kantin." ujar Willy.


"Gausah Wil, gue gak lapar kok." ucap Aurora.


"Yaudah, kamu sabar ya! Aku bakal antar kamu pulang setelah aku tahu kondisi Thoriq," ucap Willy tersenyum sambil mengusap rambut Aurora.


"Iya, gue juga pengen tahu kondisi dia." ucap Aurora lembut.


Drrttt..


Drrttt...


Tiba-tiba ponsel Randi berdering, ia langsung mengambil ponselnya dari saku celana dan agak kaget melihat nama Farrel di layarnya.


"Farrel nelpon nih, bentar ya!" ucap Randi.


"Oke!" ucap Jeki.


Randi pun mengangkat telpon itu, Willy terus memperhatikannya dengan wajah penasaran.


📞"Halo Rel!" ucap Randi serius.


📞"Eee halo bang!" ucap seseorang di telpon.


📞"Loh, ini siapa ya? Kok suaranya bukan kayak suara teman saya?" tanya Randi bingung.


📞"Iya bang, emang gue bukan temen lu. Ini gue pedagang di jalan, gue gak sengaja nemuin temen lu pingsan dan kondisinya mengenaskan. Kayaknya dia abis dikeroyok orang deh," jawab orang itu.


📞"Hah??" Randi terkejut bukan main.


******


Singkat cerita, Farrel sudah dibawa ke UGD yang sama dengan tempat Thoriq berada. Anak-anak the darks pun tampak semakin khawatir disana.


"Dalam satu hari ini, udah ada dua teman kita yang dibantai orang. Gue jadi curiga, jangan-jangan ini ada sangkut pautnya sama anak black jack!" ucap Willy.


"Benar Wil, gue juga mikir gitu! Kalau bukan mereka yang ngelakuin ini, siapa lagi coba?!" ujar Jeki.


"Tapi Wil, kita gak bisa asal tuduh gitu aja! Kita harus cari tau dulu dan kumpulin buktinya, supaya kita gak salah sangka nantinya." ucap Randi.


"Gak perlu! Gue bakal datangin markas mereka dan tanya langsung ke mereka, kalo mereka gak mau ngaku juga gue yang bakal habisin mereka semua satu persatu!" ujar Willy.


"Willy, kamu apa-apaan sih!" tegur Aurora.


"Kenapa sayang? Aku cuma pengen mastiin kok ke mereka, aku gak terima aja kalau teman-teman aku dipukulin kayak gini!" ujar Willy.


"Ya tapi gak bisa gitu Wil! Kalau lu pergi ke markas mereka sendirian, nanti yang ada lu bisa terluka!" ucap Aurora cemas.


"Emangnya kenapa? Kamu gak mau ya kalau aku terluka?" goda Willy.


"Ya jelas lah! Siapa sih emang yang pengen lu terluka? Teman-teman lu disini juga gak bakal pada mau kok, bukan gue doang. Udah deh Wil, lu jangan ngada-ngada!" ucap Aurora.


"Aku seneng sih dikhawatirin sama kamu, tapi tetap aja aku gak bisa turutin kemauan kamu. Aku harus tetap datang kesana sekarang!" ujar Willy.


"Wil, lu jangan gegabah dong!" pinta Aurora.


"Gapapa Aurora, aku udah biasa kok. Aku kesana cuma mau bicara sama Ilham, gak akan ada perkelahian dan gak bakal ada yang terluka juga. Kamu tenang aja ya cantik!" ucap Willy.


"Haish, lu susah banget ya dibilanginnya! Yaudah deh, terserah apa kata lu aja!" ucap Aurora kesal.


"Hey, jangan ngambek dong! Maaf ya sayang, aku harus lakuin ini demi teman-teman aku! Aku gak mau makin banyak korban nantinya, aku harus segera selesaikan semua ini!" ucap Willy.


"Ya tapi gak harus dengan cara ngorbanin diri kamu juga dong! Kan masih ada cara lain, kita bisa obrolin itu dan pikirin itu. Emangnya lu pikir dengan lu datang kesana, semua masalah bakal selesai gitu? Enggak Wil!" ucap Aurora.


"Tuh kan, mereka aja setuju sama gue. Udah deh, lu jangan sok jagoan!" sahut Aurora.


Willy tersenyum dan merangkul gadisnya seraya mengusap puncak kepala gadis itu.


"Iya iya, aku nurut deh sama kamu." ucap Willy.


"Ish, yaudah gausah pake acak-acak rambut gue! Sekarang mending kalian pikirin cara lain, gimana caranya supaya gak ada korban lagi." usul Aurora.


"Nah iya tuh, gue juga ngeri bakal jadi korban selanjutnya." ucap Jeki.


"Yah elah dasar pengecut lu Jek!" cibir Leo.


"Ah berisik lu! Gue yakin, lu juga takut kan bakal jadi korban berikutnya!" balas Jeki.


"Hehe iya sih.." ujar Leo nyengir.


"Yaudah, pokoknya kita jangan ada yang berpisah! Kita harus terus bersatu, gak boleh ada yang jalan sendiri-sendiri!" ucap Willy.


"Iya tuh, karena kalau kalian sendiri bakal jadi makanan empuk bagi orang-orang yang pengen keroyok kalian." sahut Aurora.


"Aih pacarku ini emang paling nyambung sama aku! Kayaknya kita cocok deh buat jadi pasangan suami-istri, karena kita tuh udah sehati." ucap Willy mencolek dagu Aurora.


"Ish, lu bisa gak berhenti gombalin gue?!" protes Aurora.


"Gak bisa," jawab Willy sambil tersenyum.


Aurora menggeleng saja sembari membuang muka, sedangkan anak-anak the darks yang lain tampak terkekeh saja melihat kelakuan sepasang kekasih itu.


******


Martin datang ke rumah Johan bersama Kiara, kekasihnya. Martin hendak mengenalkan Kiara kepada pamannya dan juga sepupunya disana yang tak lain adalah Aurora.


Mereka bertatapan sejenak di dalam mobil dengan satu tangan Martin menggenggam lengan gadis itu dan tersenyum, Kiara tampak menunduk dengan wajah memerah saat diusap oleh Martin.


"Sayang, ini dia rumah paman saya. Kamu pasti bakal suka deh kenalan sama dia, soalnya dia itu punya anak perempuan juga yang seumuran sama kamu. Selama ini kamu bosan kan sendirian terus, jadi kamu bisa deh temenan sama dia." ucap Martin.


"Iya tuan, aku juga penasaran seperti apa sih sepupu tuan itu. Pasti dia cantik banget ya?" ucap Kiara tersenyum.


"Ya gitu deh, sama cantiknya kayak kamu." jawab Martin.


"Ah tuan bisa aja! Pasti lebih cantik dia lah, secara dia kan anak orang kaya. Aku mah apa atuh cuma gadis desa yang gak tahu apa-apa," ucap Kiara.


"Jangan merendah gitu! Saya tahu kamu cantik natural, dan saya suka itu. Udah yuk, kita langsung turun aja sekarang!" ucap Martin.


"Iya tuan," ucap Kiara menurut.


Mereka pun turun dari mobil bersamaan, bergandengan tangan dan melangkah menuju rumah Johan sambil saling tersenyum.


TOK TOK TOK...


"Permisi, paman! Ini saya Martin, permisi!" ucap Martin sambil mengetuk pintu.


"Iya sebentar!" suara balasan dari dalam.


Ceklek...


Pintu terbuka, muncul sosok perempuan berpakaian biasa yang sedang memegang kemoceng di tangannya.


Itu adalah bik Sundari, alias pelayan di rumah itu.


"Eh ada tamu, den Martin sama siapa ini den?" ucap Sundari terheran-heran.


"Iya bik, kenalin ini kekasih saya. Namanya Kiara, ayo Kiara kenalan sama bik Sundari!" ucap Martin.


Kiara mengangguk lalu menatap Sundari sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada wanita tua itu.


"Halo bik! Salam kenal ya, namaku Kiara." ucap Kiara.


"Iya non, saya Sundari pekerja disini. Yaudah, ayo den Martin sama non Kiara silahkan masuk aja ke dalam!" ucap Sundari.


"Iya bik, terimakasih!" ucap Martin.


"Siap den!" ucap Sundari.


Mereka pun sama-sama masuk ke dalam rumah itu, Sundari membawa sepasang kekasih itu menemui Johan yang sedang terduduk di sofa dengan wajah paniknya.


"Itu dia den, tuan Johan ada disana. Silahkan disamperin aja den!" ucap Sundari.


"Makasih bik!" ucap Martin tersenyum singkat.


"Kalau gitu bibik tinggal dulu ya ke dapur? Bibik mau buatin minuman buat kalian," ucap Sundari.


"Oke bik! Yuk sayang, kita samperin paman Johan!" ucap Martin.


"Iya tuan," ucap Kiara menurut.


Martin dan Kiara pun melangkah mendekati Johan sambil pria itu merengkuh pinggang Kiara, sedangkan Sundari pergi ke dapur membuatkan minuman untuk mereka.


"Sayang, kamu kalau di depan orang tolong jangan panggil saya dengan sebutan tuan! Nanti mereka pada curiga loh sama kita!" bisik Martin.


"Maaf tuan! Terus, aku harus panggil tuan apa dong kalo gitu?" tanya Kiara bingung.


"Apa aja, asalkan jangan tuan! Misalnya sayang, atau mas juga gapapa." jawab Martin.


"Iya deh tuan, eh maksud aku mas." ucap Kiara langsung merevisi ucapannya.


"Nah, begitu lebih baik!" ucap Martin tersenyum.


******


Sementara itu, di luar Aurora juga baru tiba bersama Willy. Gadis itu tampak panik dan cemas saat turun dari motor Willy.


"Kamu kenapa sayang? Kok panik gitu?" tanya Willy heran sembari mengusap wajah gadisnya.


"Eee gue takut Wil, gue takut papa marah karena gue gak mau nurut sama dia. Malahan tadi gue lebih pilih ikut sama lu, dibanding bodyguard gue itu." jawab Aurora.


"Mau aku temenin ke dalam?" usul Willy.


"Eh jangan! Nanti yang ada papa malah makin emosi kalo ngeliat muka lu, mending lu balik aja sana!" ucap Aurora.


"Oh gitu, iya juga sih. Yaudah, aku balik ya? Kamu gausah cemas gitu, berdoa aja supaya gak terjadi apa-apa dan papa kamu gak bakal marahin kamu!" ucap Willy mengusap rambut Aurora.


"I-i-iya Wil, aamiin deh! Kalo gitu lu hati-hati ya pulangnya! Dan ingat Wil, jangan nekat buat datengin markas black jack!" ucap Aurora.


"Iya sayang, aku ingat kok. Sekarang kamu masuk ke dalam, baru deh aku pergi." ucap Willy.


Aurora mengangguk pelan, lalu melangkah dengan lambat menuju ke dalam rumahnya. Aurora masih merasa cemas dan tidak berani menemui papanya, tapi tak mungkin ia terus-terusan ada disana.


Gadis itu kembali menoleh ke arah Willy dengan wajah cemasnya, tentu saja Willy langsung tersenyum dan memberi kode bagi Aurora untuk segera masuk ke dalam.


Aurora menurut dan mulai membuka gerbangnya, ia melangkah masuk meninggalkan Willy yang masih terdiam di atas motornya sembari terus memandangi punggung Aurora.


"Maaf ya Aurora! Bukannya aku gak mau nurut sama kamu, tapi aku harus tuntaskan semua ini dengan segera! Aku gak mau makin banyak korban berjatuhan nantinya, biar gimanapun the darks itu saudara aku!" batin Willy.


Willy pun memakai helm, menyalakan motornya dan melaju pergi dari sana.


Sementara Aurora merasa terkejut saat melihat mobil milik Martin terparkir di halamannya.


"Loh loh, ini kan mobil kak Martin. Ngapain sih dia kesini? Jangan-jangan dia mau hasut papa lagi soal keburukan Willy!" gumam Aurora.


Aurora langsung bergerak cepat masuk ke dalam rumahnya, ia tidak mau jika Martin terus-terusan menghasut papanya untuk membenci Willy.


Bersambung....