
My love is sillie
Episode 24
•
Thoriq, Randi dan beberapa anak the darks lainnya sudah berkumpul di tempat yang diminta oleh Willy sebelumnya.
Mereka berniat untuk membangkitkan kembali geng the darks yang sempat hilang dari peredaran, sesuai dengan perintah Willy pada Thoriq.
"Eh Riq, si Willy mana? Katanya dia minta kita buat datang kesini, tapi kok malah dia yang belum datang juga daritadi? Bener gak sih info yang lu sampaikan ke kita?" tanya Jeki sedikit kesal.
"Sabar dulu Jek! Bisa aja si Willy masih dalam perjalanan menuju kesini," ujar Randi.
"Iya tuh, kita tunggu aja beberapa menit ke depan! Kalau Willy gak datang juga, baru deh kita bubar dari sini!" sahut Leo.
"Tenang tenang semuanya! Ini gue coba buat hubungi Willy dulu, gak mungkin lah dia ingkar janji! Kalian tau kan Willy itu gimana?" ujar Thoriq.
"Bagus tuh Riq! Lu telpon gih dia!" ucap Randi.
Thoriq mengangguk pelan, lalu mulai menghubungi nomor Willy.
Namun, tidak ada jawaban sama sekali dari Willy yang membuat Thoriq keheranan.
"Duh, gak diangkat sama dia." kata Thoriq.
"Hah? Terus gimana dong?" tanya Jeki heran.
"Tenang dulu! Bisa jadi Willy lagi di jalan, jadi dia gak bisa angkat telpon." ucap Randi.
"Iya Jek, lu sabar dulu napa sih! Kita juga baru nunggu Willy beberapa menit, kalo lu mau pergi yaudah pergi aja sana! Tapi, lu gak dianggap lagi di keluarga besar the darks!" ucap Thoriq.
"Yeh jangan gitu lah Riq! Iya dah iya, gue sabar kok nunggu Willy!" ucap Jeki.
Thoriq menggelengkan kepala, lalu memikirkan apa yang menimpa Willy sebenarnya, ia penasaran sekali mengapa Willy belum juga sampai disana.
"Willy kenapa ya..??" batinnya.
******
Bu Ani merasa cemas karena belum juga ada kabar mengenai putranya, ia terus mondar-mandir sembari menggigit jari memikirkan Willy.
"Duh, kamu dimana sih Willy? Kenapa sampai sekarang belum ada kabar juga tentang kamu? Ibu benar-benar khawatir sama kamu Willy, cepat dong pulang nak!" ujarnya penuh kecemasan.
Pak Gunawan yang baru selesai membuat kopi, terheran-heran melihat istrinya terus mondar-mandir disana sambil terlihat cemas.
Pak Gunawan pun mendekati Bu Ani setelah meletakkan gelas kopinya di meja, ia penasaran mengapa Bu Ani bisa secemas itu.
"Bu, ibu kenapa toh? Kok kelihatan kayak lagi mencemaskan sesuatu?" tanya pak Gunawan.
"Eh bapak. Ini loh pak, ibu khawatir banget sama Willy! Kenapa ya sampai sekarang dia belum pulang juga ke rumah?" jelas Bu Ani.
"Bapak juga gak tahu Bu, kita tunggu saja kabar dari nak Sasha! Tadi kan katanya dia mau bantu cari Willy, jadi ibu sabar dulu ya!" ucap pak Gunawan coba menenangkan istrinya.
"Tapi pak, ibu khawatir banget sama Willy! Gimana kalau sampai terjadi sesuatu sama dia? Ibu gak akan bisa maafin diri ibu sendiri!" ujar Bu Ani.
"Sabar Bu! Ibu gak boleh bicara seperti itu! Bapak yakin kok, Willy pasti baik-baik aja! Kita doakan yang terbaik buat Willy ya Bu! Mungkin sekarang Willy masih sedih karena dikeluarkan dari sekolah, dan dia butuh waktu untuk sendiri!" ucap pak Gunawan.
"Iya pak, ibu kasihan sama dia! Pasti Willy sedih sekaligus kecewa banget karena dikeluarkan dari sekolahnya, dia juga gak mau pulang karena malu sama kita. Tapi ibu tetap aja khawatir pak, dia itu kan gak ada kabarnya sampai sekarang." kata Bu Ani masih terus menangis.
"Yasudah, ibu duduk dulu ya di sofa! Mau bapak pijitin gak?" ucap pak Gunawan.
"Gausah pak, ibu cuma butuh Willy." tolak Bu Ani.
Pak Gunawan pun menuntun Bu Ani menuju sofa, lalu mereka sama-sama duduk disana dengan pak Gunawan memijat lengan serta pundak sang istri berusaha menenangkan istrinya itu.
***
Keduanya tampak bingung bagaimana caranya untuk menyampaikan itu semua pada Bu Ani atau pak Gunawan, karena mereka tidak mau membuat kedua orang tua Willy itu bersedih.
"Ziz, lu yang ketuk pintunya gih! Gue gak berani ngomong sama bu Ani," pinta Sasha.
"Hah? Kenapa jadi gue? Kan yang akrab dan dekat banget sama orangtuanya Willy tuh lu, gue aja jarang main kesini. Udah lu aja!" tolak Aziz.
"Ish, lu mah pengecut banget sih!" ujar Sasha.
"Nah itu lu tau, udah mending lu aja yang ketuk! Gue temenin lu disini aja ya?" ujar Aziz nyengir.
"Yeh yaudah awas!" Sasha emosi dan mendorong tubuh Aziz dengan kasar.
Lalu, gadis itu pun mulai mengetuk pintu dengan berhati-hati dan pelan.
TOK TOK TOK...
"Assalamualaikum, om tante ini aku Sasha." kata Sasha sedikit mengeraskan suaranya.
Tak lama kemudian, terdengar jawaban dari dalam rumah itu diiringi suara langkah kaki mendekati pintu.
Ceklek..
"Waalaikumsallam, eh nak Sasha." Bu Ani langsung bergegas keluar menemui Sasha karena sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar tentang putranya.
"Iya tante, selamat malam!" ucap Sasha tersenyum sambil mencium tangan Bu Ani dan pak Gunawan.
"Malam juga Sasha! Gimana? Kamu udah temuin Willy belum nak?" tanya bu Ani sangat cemas.
"Eee..." Sasha tampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan Bu Ani itu, ia melirik ke arah Aziz seakan meminta bantuan padanya.
"Kita belum berhasil temuin Willy, tante." sambungnya.
Seketika Bu Ani syok mendengarnya, wanita itu menutup mulut dan kembali bersedih di pelukan suaminya.
******
Willy tersadar dari pingsannya, ia membuka mata dan melihat ke sekeliling untuk mengetahui dimana dirinya saat ini.
"Aakkkhhh dimana gue..??" pekik Willy merasakan sakit yang amat sangat di tubuhnya.
Kondisi Willy benar-benar buruk, bahkan untuk bangun saja dia tidak bisa. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka akibat pengeroyokan yang dilakukan Ilham serta teman-temannya tadi.
"Awhh!! Rasanya tubuh gue susah banget buat digerakin, emang sialan tuh Ilham! Beraninya main keroyokan! Awas aja, gue bakal bales dia!" geramnya.
"Aakkkhhh..." Willy kembali memekik keras karena gagal untuk bangkit dari tidurnya.
tiba-tiba seorang suster muncul mendekatinya.
"Eh mas, masnya jangan banyak gerak dulu! Kondisi mas masih belum pulih," ucap suster itu.
"Sus, kenapa saya bisa ada disini? Siapa yang bawa saya kesini?" tanya Willy penasaran.
"Eee tadi ada orang yang temuin masnya pingsan di jalan, terus masnya dibawa kesini deh. Yaudah, sekarang masnya istirahat dulu ya!" ucap suster itu menjelaskan pada Willy.
"Tapi sus, saya gak mau disini! Saya bukan laki-laki lemah yang butuh pengobatan! Saya masih kuat kok buat jalan!" ucap Willy.
"Jangan mas! Tahan dulu sampai dokter datang memeriksa mas ya!" pinta suster itu.
Willy tak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauan suster itu, ia kembali berbaring dengan perlahan menunggu dokter datang.
Bersambung....