
My love is sillie
Episode 109
•
"Hai Sasha cantik!" sapa Ilham sambil nyengir.
"Loh, Ilham? Lu ngapain disini coba? Lu ngikutin gue ya?" ujar Sasha terkejut hebat.
"Iya aku ngikutin kamu, tapi cuma supaya aku tahu dimana rumah kamu." jawab Ilham santai.
"Mau ngapain lu tau rumah gue? Jangan cari gara-gara deh! Mending lu pergi dari sini, gue gak mau abang gue sampe lihat lu disini!" ujar Sasha.
"Emang kenapa sih? Aku kan cuma pengen main aja Sasha, apa salahnya?" ujar Ilham.
"Jelas salah besar lah itu! Gue gak pernah mau ada cowok datang ke rumah ini, begitu juga abang gue! Dia bakal hajar setiap cowok yang modus sama gue, mau lu dihajar?!" ucap Sasha.
"Aku gak mau modus Sya, aku cuma mau silaturahmi. Kamu gak boleh dong halangi niat orang yang mau silaturahmi!" ucap Ilham.
"Ah tau ah serah lu aja!" kesal Sasha.
Disaat Sasha hendak berbalik dan masuk ke rumahnya, Ilham lebih dulu menahan lengannya dari belakang dan memaksanya untuk tetap disana.
"Ish, apaan sih lu?! Lepasin gak tangan gue!!" bentak Sasha emosi.
"Aku akan lepasin, asal kamu bolehin aku buat masuk ke dalam!" ujar Ilham.
"Lu kenapa maksa-maksa gitu sih? Gue udah bilang gak boleh, ya gak boleh. Lu gak bisa maksa main ke rumah orang gitu aja dong!" kesal Sasha.
"Aku cuma mau ngobrol-ngobrol sama kamu Sya, aku janji gak akan macam-macam!" paksa Ilham.
"Tetep aja gak boleh, jangan maksa!" tegas Sasha.
"Please lah Sasha, kali ini aja kok! Lain kali aku gak akan datang lagi ke rumah kamu, aku janji! Kamu bisa pegang kata-kata aku!" ucap Ilham.
"Gue gak percaya, lu itu cuma besar omongan doang! Udah ah sana pergi!" ujar Sasha kesal.
Ilham melemahkan pegangannya, membiarkan Sasha lepas dari genggamannya.
"Oke deh, aku bakal pergi. Tapi, tolong kamu mau jalan sama aku nanti malam ya!" ucap Ilham dengan nada memelas.
"Jalan? Idih ogah banget, gak mau gue!" ujar Sasha menolak mentah-mentah ajakan Ilham.
"Kok gitu sih kamu? Emangnya kamu gak kasihan apa sama aku?" tanya Ilham jengkel.
"Buat apa kasihan?" ucap Sasha.
"Ya kasihan dong, aku ini kan butuh teman buat diajak jalan tau Sasha!" ucap Ilham.
"Gue gak perduli!" tegas Sasha.
"Kok gitu sih? Please lah Sasha, kamu masa gak mau sih temenin aku?!" bujuk Ilham.
"Iya gue gak mau, udah sana pergi!" ujar Sasha.
"Kalo aku gak mau pergi gimana? Pokoknya aku bakal tetap disini, sampai kamu mau ikut sama aku nanti malam!" ucap Ilham kekeuh.
"Lo itu keras kepala banget ya! Gue udah bilang, lu pergi dari sini sebelum abang gue lihat! Gue yakin banget, dia gak akan segan-segan buat mukul lu kalau dia ngeliat lu disini!" ucap Sasha.
"Aku gak takut Sya, aku akan terus berjuang demi kamu mau jadi pacar aku!" ucap Ilham.
Sasha menggeleng kesal, baru saja ia hendak masuk ke dalam, namun kemunculan seorang pria dari arah depan membuatnya terkejut.
"Heh! Ini ada apaan?" ucap pria tersebut.
******
Disisi lain, Willy masih berada di rumah kekasihnya bersama Aurora sembari menikmati minuman yang sudah dibuatkan wanita itu sebelumnya.
Pria itu amat bahagia karena ia merasa telah memiliki Aurora seutuhnya, ya tentu karena Willy sudah meniduri wanita itu.
"Kamu kenapa malah mau sih diajak papa buat mampir sebentar?" tanya Aurora kesal.
"Loh, emang kenapa sayang? Kamu gak suka aku mampir disini dulu?" ujar Willy balik bertanya.
"Bukan gak suka, aku kan pengennya kamu istirahat di rumah. Kalau kamu kelamaan disini, kapan kamu istirahatnya sayang? Tangan kamu masih sakit loh," ucap Aurora.
"Iya sayang, nanti aku pulang kok abis ngobrol sama kamu." ucap Willy.
"Yaudah, emangnya kamu mau ngobrolin apa sayang?" tanya Aurora lembut.
"Eee gimana kalau soal pernikahan kita sayang?" usul Willy.
Sontak Aurora terkejut mendengarnya.
"Hah? Apaan sih Wil? Pernikahan apaan? Gausah ngaco deh!" ujar Aurora.
"Hahaha, emang kamu gak mau nikah sama aku apa?" ujar Willy.
"Ya mau, tapi kan masih lama." kata Aurora.
"Kenapa harus nunggu lama? Kalau bisa secepatnya, lebih baik kita langsung nikah kan?!" ucap Willy sambil nyengir.
"Ih apaan? Enggak enggak, aku gak mau nikah muda. Aku itu masih pengen kuliah dulu setelah lulus sekolah, terus cari kerja deh." ujar Aurora.
"Oh yaudah, nanti aku bakal keluarin di dalam supaya kamu gak bisa nolak lagi." ancam Willy.
"Kamu bener-bener ya! Bisa-bisanya bahas begituan disini, kalau papa dengar gimana?!" tegur Aurora.
"Gapapa, justru malah bagus. Jadi, kita bisa segera dinikahin sama papa kamu." ucap Willy.
"Ih gila kamu ya! Mending kalo papa mau nikahin kita, kalau justru dia malah marah dan usir kamu gimana?" ujar Aurora.
"Gak bakal lah, kan papa kamu tau kalau kamu itu cinta mati sama aku." ucap Willy.
"Dih sejak kapan aku cinta mati sama kamu?" sangkal Aurora.
"Halah gak mau ngaku, padahal iya kan?" goda Willy.
"Terserah kamu aja deh sayang, yang penting kamu happy dan bisa cepat-cepat pulang dari sini!" ujar Aurora tampak kesal.
"Kamu kayaknya gak seneng banget aku ada disini, daritadi aku diusir terus sama kamu." ucap Willy.
"Bukan gak seneng, aku kan udah jelasin tadi alasannya. Kamu pulang supaya bisa istirahat, nurut dong sayang!" ucap Aurora.
"Ya ya ya, tapi cium aku dulu dong!" pinta Willy.
Cup!
Aurora Langsa mengecup pipi Willy sekilas dan membuat pria itu tersenyum.
"Kalau bisa di bibir, kenapa di pipi?" goda Willy.
"Ih gak gak, aku gak—mmpphh.." ucapan Aurora terpotong karena Willy langsung melahap bibirnya begitu saja.
******
Zafran tiba di markas the darks setelah mengantar kekasihnya pulang ke rumah.
Pria itu nampak sangat cemas mengingat kejadian saat di warung soto tadi.
Teman-temannya yang sudah lebih dulu berada disana pun merasa penasaran melihat itu.
"Eh Zaf, lu kenapa kayak lagi panik gitu? Sampe tuh nafas ngos-ngosan gitu, abis dikejar hantu apa gimana lu?" tanya Arif.
"Bukan hantu Rif, gue abis ketemu sama geng thunder sewaktu gue lagi makan soto sama ayang gue." jawab Zafran.
"Hah? Geng thunder?" Arif terkejut hebat.
"Serius lu Zaf? Terus lu diapain sama mereka?" sahut Leo ikut bertanya pada Zafran.
"Gak diapa-apain sih, mereka juga kayaknya gak ngenalin kalo gue anak the darks." jawab Zafran.
"Oh, syukurlah!" ucap Leo merasa lega.
"Iya sih, tapi gue kasihan aja sama tukang soto tadi! Soalnya geng thunder bikin rusuh disana, eh gue gak bisa berbuat apa-apa karena gue cuma sendiri." ujar Zafran.
"Sabar aja Zaf! Lo gak perlu nyalahin diri lu sendiri kayak gitu, kan ini bukan kesalahan lu!" ujar Arif.
"Iya, tapi tetep aja gue ngerasa gak enak sama tuh tukang soto! Pasti dia bakalan takut banget sama geng motor kayak kita," ucap Zafran.
"Oh iya, image geng motor bisa jadi jelek nih gara-gara si geng thunder itu!" ujar Jeki.
"Terus kita harus ngapain sekarang?" tanya Leo.
"Eee mending buruan deh kita cari anak-anak thunder dan kasih mereka pelajaran! Sebelum mereka cari gara-gara lebih dari ini," usul Arif.
"Mau cari kemana Rif? Lagian Willy juga masih sakit, emang lu berani gerak tanpa Willy?" ucap Leo.
"Kita gausah ngandelin Willy terus lah! Masa iya kita mau berharap sama dia melulu?" ujar Arif.
"Nah, betul tuh kata Zafran!" sahut Jeki.
"Iya gue ngerti, tapi kalau Willy lagi sakit kayak gini, masa kita cuma mau diem aja?" ujar Arif.
"Yaudah, kita gerak sekarang! Tapi, Randi mana nih? Seenggaknya kalau gak ada Willy, ya ada Randi lah gitu. Dia kan wakil ketua the darks, jadi kita harus minta dia ikut!" ucap Zafran.
"Itu dia masalahnya, sampe sekarang Randi juga belum datang kesini." ucap Arif.
"Coba aja lu telpon Rif!" ujar Leo.
Arif mengangguk, kemudian coba menghubungi nomor Randi menggunakan handphonenya.
"Gimana?" tanya Jeki.
"Gak diangkat guys," jawab Arif menggeleng.
"Aduh! Kemana sih Randi? Lagi dibutuhin malah dia ngilang!" keluh Zafran.
******
Randi rupanya mengalami pecah ban saat sedang dalam perjalanan menuju markas the darks.
Pria itu mendorong motornya ke arah bengkel di dekat sana untuk menambal ban motornya.
"Huh capek banget!" keluh Randi.
Akhirnya setelah sekian lama, Randi berhasil menemukan bengkel di depannya.
Tentu saja pria itu langsung bersemangat dan makin cepat mendorong motornya kesana.
"Nah itu dia!" ucapnya.
Setibanya di bengkel itu, Randi langsung meminta sang montir untuk menambal bannya.
"Bang, tambal ban ya!" ucap Randi.
"Oh iya iya, duduk aja dulu!" ucap si montir.
Randi pun mengarah ke tempat duduk, disana ada seorang wanita yang tengah sibuk bermain ponsel dan membuat Randi merasa tak asing.
"Gue kayak kenal sama nih cewek," batin Randi.
Randi duduk di samping wanita itu, menatapnya terus-menerus hingga ia sadar bahwa wanita itu adalah Ayna.
"Eee Ayna...??" sapa Randi pelan.
"Ya?" Ayna langsung menoleh dan terkejut begitu melihat Randi di dekatnya.
"Randi? Kamu Randi kan?" tanya Ayna.
"Iya benar, aku Randi temannya Tedy." jawab Randi.
"Kamu ngapain disini?" tanya Ayna.
"Itu motor aku bannya kempes tadi di jalan, makanya aku terpaksa dorong-dorong motor deh sampe kesini, mana jauh lagi." jawab Randi.
"Duh, pantes aja kamu keringetan begini. Yaudah, nih tisu buat kamu lap keringatnya!" ucap Ayna.
"Makasih ya!" Randi tersenyum singkat dan mengambil tisu tersebut dari tangan Ayna.
Pria itu mengusap wajahnya yang berkeringat menggunakan tisu tersebut, sedangkan Ayna terus memandanginya sambil tersenyum.
"Kamu kenapa ngeliatin aku? Terpesona ya sama ketampanan aku?" goda Randi.
"Hah? Ternyata kamu orangnya kepedean juga ya? Dasar kamu!" ujar Ayna sembari terkekeh kecil.
"Hahaha, abisnya kamu ngeliatin aku terus kayak gitu. Mau bantu lap keringat aku?" ucap Randi.
"Oh boleh," di luar dugaan justru Ayna berkata seperti itu dan mengambil tisu lainnya.
Randi pun terkejut dengan tindakan yang dilakukan gadis itu, apalagi saat Ayna mendekat lalu mengusap wajahnya menggunakan tisu.
"Ka-kamu apa-apaan sih Ayna?!" ujar Randi menahan tangan Ayna agar tak meneruskan kegiatannya.
"Loh kok ditahan? Tadi katanya minta dibersihin mukanya, giliran aku bantu malah protes." tanya Ayna keheranan.
"Aku tadi cuma bercanda loh, eh kamu malah bersihin beneran." ujar Randi.
"Emangnya kalau aku bersihin beneran kenapa? Gak boleh ya?" tanya Ayna.
"Bukan gak boleh, aku takut kakak kamu tau dan dia marah sama aku!" jawab Randi.
"Gausah takut, kan disini gak ada kak Geri! Dia mah lagi kumpul sama teman-temannya," ucap Ayna.
"Iya, tapi tetep aja kamu gak boleh begitu lagi!" pinta Randi.
"Kenapa?" tanya Ayna bingung.
Randi mendekat ke wajah Ayna tanpa melepas genggaman pada lengan gadis itu.
"Aku takut baper sama kamu," ucap Randi.
Deg!
Jantung Ayna serasa ingin copot mendengar ucapan Randi, apalagi pria itu menatapnya cukup dekat saat ini.
******
Geri tiba di markas black jack menemui teman-temannya yang sudah lebih dulu berada disana.
"Hai guys!" sapa Geri seraya melakukan tos bersama mereka semua.
Setelahnya, Geri pun duduk di tempatnya dan tampak celingak-celinguk mencari seseorang.
"Eh, ini si Ilham mana? Dia belum dateng apa emang gak mau dateng?" tanya Geri bingung.
"Gak tahu deh, biarin ajalah namanya juga ketua, dia mau dateng atau enggak ya suka-suka dia!" jawab Choky.
"Iya sih, terus bang Martin gimana? Sehabis hajar si Willy sampai tangannya patah, dia belum kelihatan lagi disini." tanya Geri.
"Itu juga kita gak tahu, yang punya kontaknya bang Martin kan cuma Ilham." jawab Billy.
"Yaudah, terus sekarang kegiatan kita ngapain nih? Masa mau diem doang disini?" tanya Geri.
"Gimana kalau kita keliling-keliling? Sekalian kita cari uang di jalan," usul Billy.
"Boleh tuh, udah lama juga gue gak olahraga, badan gue pegal-pegal nih." ujar Dean.
"Ah banyak gaya lu! Kayak pernah olahraga aja!" cibir Billy.
"Maksud olahraga itu berkelahi Bil, bukan olahraga biasanya." jelas Dean.
"Ohh, bilang dong dari kemaren!" ujar Billy.
"Lo gak pernah nonton preman pensiun sih!" ucap Dean.
"Ah udah lah, jangan kelamaan ngobrol disini! Bosen tau cuma duduk-duduk doang," ujar Geri.
"Gak sabaran amat lu Ger!" ujar Billy.
"Ya iyalah, gue gak bisa kalau cuma duduk sambil ngobrol kayak gini." kata Geri.
"Yaudah, kita cabut aja sekarang yuk!" ucap Billy.
"Gak koordinasi sama Ilham dulu Bil?" tanya Choky.
"Biarin aja, Ilham gak mungkin juga larang kita! Lagian kalau gue telpon dia sekarang, takutnya dia malah keganggu!" jawab Billy.
"Iya juga sih," ucap Choky singkat.
"Udah lah, ayo kita langsung gas berangkat!" ucap Geri.
"Gas!" sahut yang lainnya bersamaan.
Akhirnya para anggota black jack itu langsung bangkit dari tempat duduk mereka dan bersiap pergi.
Namun, sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka dan membuat orang-orang itu mengurungkan niatnya.
"Mobil siapa tuh?" tanya Choky heran.
"Ini kayak mobilnya bang Martin," ucap Billy.
Lalu, seorang pria turun dari mobil itu dan menatap mereka secara bergantian.
"Mau kemana kalian?"
Bersambung....