My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 113. Puas jalan-jalan



My love is sillie


Episode 113



"Yaudah, kamu jangan lirik-lirik cewek lain lagi kayak tadi!" ucap Aurora mengingatkan kekasihnya.


"Kapan sih aku lirik-lirik cewek lain? Cuma kamu yang ada di hati aku sayang," elak Willy.


"Apa iya? Buktinya tadi kamu sempat lirik pacarnya Randi, itu apa kalo bukan curi-curi pandang?" ucap Aurora kesal.


"Udah lah sayang, jangan dibahas lagi! Aku minta maaf ya sama kamu, aku janji deh gak akan begitu lagi!" ucap Willy.


"Okay!" ucap Aurora singkat.


Wanita itu langsung beranjak dari tempat duduknya, diikuti Willy yang tak mau menjauh darinya.


"Bentar dulu dong! Aku bayar dulu makanannya, baru kita bisa pergi dari sini," ucap Willy.


"Yaudah, kamu bayar aja sana! Aku tunggu di mobil, kamu tinggal nyusul kan!" ujar Aurora.


"Jangan dong sayang! Kita ke mobilnya barengan aja, kamu ikut aku dulu!" pinta Willy.


"Gak mau ah!" ucap Aurora ketus.


Saat Aurora hendak pergi, tiba-tiba Willy menahan lengannya dari belakang dan mencengkramnya kuat seakan tak mau melepaskannya.


"Apa sih sayang?! Lepasin ah!" ujar Aurora.


"Bentar dulu, kamu ikut aku bayar makanannya ya!" ucap Willy.


"Ih kamu mah maksa terus!" cibir Aurora.


"Hehe, kamu harus nurut sama aku kan kamu pacar aku!" ujar Willy.


"Baru pacar sayang, belum suami. Jadi, kamu belum bisa paksa aku!" ucap Aurora.


"Sama aja, intinya kamu harus tetap nurut dan patuh sama aku!" tegas Willy.


"Haish, ngeselin kamu ah!" kesal Aurora.


"Willy!" keduanya terkejut saat mendengar suara seorang pria yang memanggil nama Willy.


Ya itu adalah Randi bersama Ayna yang datang menghampiri Willy serta Aurora disana.


Tentu saja Willy langsung tersenyum lebar begitu melihat sahabatnya disana, sedangkan Aurora tampak bete karena Ayna juga ikut bersama Randi.


"Eh bro, gak nyangka kita bisa ketemu disini. Lo sekarang punya pacar nih?" ujar Willy.


"Ahaha, bisa aja lu! Ini bukan pacar gue, dia ini Ayna gacoan nya si Tedy. Kebetulan aja tadi gue ketemu sama dia disini, jadinya gue temenin dia makan sama ngobrol bareng deh," jelas Randi.


"Ohh, jadi lu yang namanya Ayna? Lo adiknya Geri itu kan?" tanya Willy pada Ayna.


"Iya benar, aku Ayna dan aku adiknya kak Geri. Tapi, aku gak seperti dia kok," jawab Ayna.


"Gue juga ngerti kok, gak mungkin lah cewek kayak lu punya sikap sama kayak Geri," ujar Willy.


"Hahaha," mereka saling tertawa disana.


"Tapi bener nih bro, lu emangnya gak ada rasa sama Ayna?" tanya Willy pada Randi.


"Bicara apa sih lu? Mana mungkin gue gebet punyanya Tedy? Bisa disikat abis gue sama tuh anak," jawab Randi.


"Ah masa? Kok tadi lu sama Ayna sampe rangkulan kayak gitu sih?" goda Willy.


"Oh lu lihat ya? Waduh, jangan bilang-bilang Tedy ya bro!" ucap Randi panik.


"Hahaha, santai aja kali bro! Tedy sama Ayna kan belum resmi pacaran, masih bisa lah lu tikung. Asalkan si Ayna nya ini mau sih," ucap Willy.


Randi langsung melirik ke arah Ayna, membuat gadis di sampingnya itu merasa salah tingkah.


******


Thoriq dan Mia kini sedang berada di kebun binatang untuk menikmati momen libur berdua.


Keduanya tampak sangat bahagia, pasalnya cukup jarang memang mereka jalan berdua seperti ini.


"Sayang, kita ke kandang singa yuk! Aku pengen dengar suara auman dia tau, pasti keren banget deh kayak di film-film!" ajak Mia.


"Emang kamu berani lihatnya?" tanya Thoriq.


"Ih ya berani lah! Lagian singa nya kan juga di kandang, buat apa aku takut coba?" jawab Mia dengan tegas.


"Yakin gak takut? Kalau singa nya tiba-tiba lepas terus terkam kamu gimana? Misalnya kondisi kandangnya gak bagus, atau dia lagi lapar nih gara-gara ngeliat kamu," goda Thoriq.


"Ish, kamu kenapa jadi nakut-nakutin aku kayak gitu sih? Aku kan cuma mau lihat singa sayang, ayolah jangan kayak gitu!" rengek Mia.


"Hahaha, bercanda doang sayang! Kamu mah gampang ngambeknya nih," ujar Thoriq.


"Lagian kamu bercandanya gak asik ih! Mana mungkin singa bisa lepas dari kandangnya coba? Disini tuh aman tau, ngada-ngada aja!" ucap Mia.


"Iya iya, yaudah ayo kita ke kandang singa! Tapi, kamu jalan di depan ya!" ujar Thoriq.


"Hah? Kenapa harus aku jalan di depan? Barengan aja kali kayak gini," ucap Mia.


"Sekali-kali kamu duluan gitu, supaya aku bisa jagain kamu dari belakang. Gimana kalau kamu diterkam singa tiba-tiba hayo?" ucap Thoriq.


"Aih kamu mah nakutin aku terus hobinya! Udah ah aku ngambek sama kamu!" kesal Mia.


"Eh eh, tunggu dong sayang! Kamu jangan ambekan gitu dong! Aku minta maaf, iya aku janji gak akan begitu lagi deh!" bujuk Thoriq.


"Huh kamu nyebelin!" cibir Mia.


"Udah dong sayang, jangan ngambek terus ya!" Thoriq tampak kewalahan merayu gadisnya untuk tidak marah lagi padanya.


"Okay! Tapi, kamu harus gendong aku sampe ke kandang singa!" ucap Mia.


"Hah? Yaudah deh iya, tapi nanti begitu sampai, kamu langsung aku ceburin ke kandang singa," sarkas Thoriq.


Mia melotot tajam ke arah Thoriq, sedangkan Thoriq sendiri sudah tertawa terpingkal-pingkal.


"Hahaha... hahaha..."


"Ih gak lucu tau! Kamu seneng ya bikin aku emosi kayak gitu?" kesal Mia.


"Hehe, ampun sayang ampun! Nanti aku ajak kamu naik gajah deh, atau kuda, gimana? Mau gak?" ucap Thoriq.


"Eee iya deh mau, yang penting sekarang kita lihat singa dulu!" ucap Mia dengan manja.


"Oke Mia ku yang manis dan cantik!" ujar Thoriq sembari mencubit hidung gadisnya.


"Ih sakit tau!" rengek Mia.


"Udah ah, ayo kita pergi sekarang!" ucap Thoriq.


Mia mengangguk, lalu sepasang kekasih itu pun pergi dengan tangan saling menggandeng satu sama lain.


******


Billy, Choky serta Geri tengah mengelilingi jalanan sekitar kota dengan maksud untuk mencari kegiatan bagi mereka di hari libur ini.


Ya memang mereka hanya bertiga, karena para anggota black jack lainnya sedang sibuk dengan pasangan mereka masing-masing.


Akhirnya ketiga pria itu terpaksa harus pergi bertiga mengelilingi kota untuk mengisi waktu luang agar tidak bosan.


"Eh guys, di depan ada kang kerak telor tuh. Gimana kalau kita makan dulu?" usul Choky.


"Yang ada dipikiran lu makanan terus Cok! Kita kan mau jalan-jalan, bukan makan!" ucap Geri.


"Tapi si Choky ada benarnya juga sih, apa salahnya kita cobain kerak telor dulu?" ujar Billy.


"Nah kan, si Billy aja setuju sama gue. Udah lah Ger, lu gausah malu-malu gitu! Gue yakin perut lu juga keroncongan kan? Mending kita mampir dulu, terus makan deh rame-rame," ucap Choky.


"Iya Ger, ngisi perut kan lumayan juga buat nambah energi," sahut Billy.


"Okelah, tapi kali ini bayarnya sendiri-sendiri ya? Gue gak mau bayarin kalian lagi," ucap Geri.


"Yah elah bro, jadi karena itu lu gak mau diajak makan? Perhitungan banget sih lu!" ucap Billy.


"Tau lu, masa sama teman sendiri perhitungan? Kita kan senasib bro, harus saling membantu lah!" ucap Choky.


"Hahaha, iya santai aja bro! Kali ini kita bayar sendiri-sendiri kok," ucap Billy.


"Oke! Kita mampir dulu di tukang kerak telor, gue nurut aja deh sama kalian," ucap Geri.


"Gas!" mereka bertiga langsung menuju tempat penjual kerak telor dan menghentikan motornya.


Sesampainya disana, mereka langsung memesan kerak telor dan juga minuman sesuai keinginan mereka.


"Bang, kerak telor nya tiga ya sama es teh!" ucap Billy.


"Siap!" ucap penjual itu singkat.


Mereka bertiga pun duduk di tempat masing-masing menunggu pesanan jadi.


"Guys, gimana nih rencana kita selanjutnya? Mau ngapain lagi kita abis ini?" tanya Geri penasaran.


"Udah lah bro, sekarang jangan mikirin itu dulu! Kita kan mau makan enak, jadi kita fokus dulu sama makanannya!" ucap Billy.


"Ah makan enak apaan? Orang cuma kerak telor, itu mah gue udah sering!" ujar Geri.


"Yeh kan lu doang yang sering, kita berdua mah jarang. Ya gak Cok?" ucap Billy.


"Iya betul!" sahut Choky.


"Serah lu berdua aja dah!" ujar Geri kesal.


Tak lama kemudian, sekumpulan geng motor berhenti di tempat yang sama dengan mereka.


Sontak Billy, Choky dan Geri langsung terkejut dengan kedatangan pemotor itu.


******


Malamnya, Willy mengantarkan Aurora pulang ke rumah setelah mereka puas menikmati waktu berdua selama seharian ini.


Gadis itu menatap wajah kekasihnya sambil tersenyum dan mengusapnya lembut, entah mengapa ia sangat menyukai momen itu.


"Kamu ganteng deh!" puji Aurora.


"Duh, cewek aku udah mulai bisa gombal ya? Siapa sih yang ngajarin, ha?" gemas Willy.


"Kamu," jawab Aurora dengan manja.


"Yaudah, kamu istirahat ya cantik! Aku juga mau pulang nih capek, kita kan udah jalan-jalan satu hari ini," ujar Willy.


"Iya sayang, ini kan udah di rumah aku. Tapi, kamu pulangnya naik apa?" tanya Aurora.


"Gampang, aku mah bisa pesan ojek online. Makasih ya sayang atas satu harinya yang sangat memuaskan!" ucap Willy.


Aurora tersenyum lebar, Willy mendaratkan kecupan singkat di bibir ranumnya.


Cup!


"Rasa strawberry nya masih belum hilang, selalu enak buat dicium," ucap Willy sembari mengelus bibir mungil gadisnya itu.


"Ah bisa aja!" Aurora menunduk malu mendengar pujian yang dilontarkan Willy.


Cup!


Pria itu kembali mengecupnya, bahkan kali ini melumatt nya selama beberapa menit.


Lidah mereka saling menjelajah satu sama lain, menari-nari dengan lihai dan panas.


"Udah ah, aku capek!" ucap Aurora.


"Iya, aku ngerti kok." Willy tersenyum tipis dan mengusap puncak kepala wanitanya lembut.


Setelahnya, Willy ikut turun bersama Aurora dari mobil. Mereka bertatapan sejenak sambil saling tersenyum satu sama lain dengan kedua tangan menyatu.


"Kamu pulang ke rumah ya! Awas loh kalo kamu malah main lagi!" ucap Aurora.


"Gak akan sayang, kali ini aku nurut sama kamu. Servis dari kamu tadi kan udah bikin aku puas, jadi aku gak mau kecewain kamu," ucap Willy.


"Ih kamu mah pake diungkit-ungkit segala, aku kan jadi malu tau!" ujar Aurora.


"Kenapa malu? Tadi pas kamu kasih servis ke aku gak pake malu tuh," goda Willy.


"Ish, Willy jangan bahas itu lagi ah! Kalau ada yang dengar gimana? Aku bisa kena marah sama papa nanti," ucap Aurora panik.


"Santai aja sayang! Kamu gausah panik gitu, lagian papa kamu juga gak ada disini!" ujar Willy.


"Iya sih, tapi tetap aja kamu harus hati-hati supaya gak ketahuan papa!" ucap Aurora.


Willy tersenyum dan memajukan langkahnya sedikit ke dekat Aurora, ia selipkan rambut wanita itu di atas telinga lalu mengecup keningnya.


Cup!


"Good night sayang, i love you!" ucap Willy.


Aurora merasa senang mendengar ucapan Willy, kata-kata pria itu barusan amat membuat detak jantungnya tidak aman.


"Ih kok malah diem? Balas dong!" ujar Willy.


"Iya, i love you too.."


******


Disisi lain, Ilham datang ke markas black jack dengan perasaan murung karena ia gagal mengajak Sasha pergi bersamanya.


Suasana di markas itu juga tampak tegang, membuat Ilham penasaran dan akhirnya bertanya pada mereka.


"Eh, ada apa nih kalian? Kok pada tegang kayak gini?" tanya Ilham pada mereka.


"Begini Ham, tadi gue sama Choky dan Geri ketemu geng baru di jalan," jelas Billy.


"Hah? Geng baru? Siapa? Apa nama gengnya?" tanya Ilham terkejut.


"Eee kalo gak salah sih namanya Thunder, ya gak guys?" jawab Billy.


"Bener tuh, emang nama gengnya itu geng thunder!" sahut Choky.


"Geng thunder? Kalo gak salah, mereka itu pernah gue dengar namanya. Jadi, geng thunder tuh bukan geng baru," ucap Ilham.


"Hah? Serius lu Ham? Berarti mereka bisa jadi ancaman buat kita dong?" tanya Billy kaget.


"Iya, mereka sebelumnya masuk penjara karena pernah berurusan sama the darks. Gue rasa mereka punya dendam ke Willy dan teman-temannya itu, jadi kita gak mungkin ada urusan sama mereka!" jelas Ilham.


"Wah berarti bagus dong buat kita Ham! Geng thunder bisa kita ajak kerjasama buat abisin tuh anak the darks!" ucap Billy.


"Gue setuju sama kata-kata Billy! Kalau kita gabung sama geng thunder, kekuatan kita pasti gak akan ada tandingannya. Jangankan the darks, seluruh geng motor juga bisa kita kalahin!" ujar Geri.


"Benar juga! Terus, dimana kalian ketemu sama geng thunder tadi?" tanya Ilham.


"Eee di pinggir jalan kurma, tepatnya tempat jual kerak telor," jawab Billy.


"Loh, ngapain mereka disitu?" tanya Ilham heran.


"Mau makan kerak telor lah Ham, masa rental PS?" jawab Billy dengan candaan.


"Yah berarti kita gak bisa cari mereka disitu lagi dong besok, gak mungkin mereka bakal ke tempat itu lagi. Gue kira kalian tau dimana markasnya," ucap Ilham.


"Siapa tau aja markas mereka ada di dekat sana, ya kan?" ujar Choky.


"Yaudah, kita cari aja besok tempat mereka! Sekarang gimana kalau kita main kartu dulu?" usul Ilham.


"Wah boleh tuh! Setuju gue!" ucap Billy.


"Oke, gas lah ayo!" ujar Ilham.


Tiba-tiba saja, sebuah mobil muncul dan berhenti di dekat mereka dengan sinar lampu menyorot ke arah mereka.


"Eh guys, itu bang Martin. Ayo semua kita berdiri!" ucap Ilham.


Mereka pun kompak bangkit dari duduknya bersiap menyambut kedatangan Martin di markas mereka.


"Selamat malam bang!" sapa Ilham.


Bersambung....