
My love is sillie
Episode 42.
•
"Ayo masuk kamu!" pinta pak Sumanto.
"Baik pak!" ucap seseorang di luar sana.
Mendengar itu, Aurora merasa tidak asing dengan suara yang muncul di telinganya.
"Itu siapa ya? Gue kayak pernah denger," batinnya.
Lalu, seorang pria tampan pun melangkah masuk ke dalam kelas tersebut disertai jaket kebanggaan miliknya yang melekat di tubuh.
Sontak seluruh kelas merasa terkagum-kagum dengan kehadiran pria itu, termasuk Aurora yang langsung dibuat menganga oleh pria itu.
"Hai semua!" ucap pria itu menyapa mereka.
"Hah? Lu..." ujar Aurora syok.
Elsa dan Cindy pun reflek menatap ke arah Aurora dengan mulut mereka yang masih terbuka lebar.
"Eh Rora, itu cowok lu kan?" bisik Elsa.
"I-i-iya.." jawab Aurora gugup.
"Haha, ternyata bener ya dia bakal sekolah disini. Wah bakalan seru dong kalo lu ada pawangnya begitu!" ucap Elsa sambil nyengir.
"Palalu seru! Gue males banget tau satu sekolah sama dia, apalagi sekarang sekelas juga!" ucap Aurora.
"Yah elah pake malu-malu segala lu, bilang aja kalo suka mah!" ujar Elsa.
"Tau, sama pacar sendiri gausah gengsi gitu kali Rora!" sahut Cindy.
Sontak Clara alias teman sebangku Aurora juga ikut menimbrung dengan mereka, Clara terkejut saat mendengar Aurora sudah memiliki pacar.
"Rora, jadi cowok di depan itu pacar lu?" tanyanya.
"Ya iyalah Clar, ganteng kan?" ucap Cindy.
"Iya, ganteng banget! Kalo bukan pacar lu Rora, pasti udah gue gebet tuh cowok!" ujar Clara.
"Ish, yang ditanya itu gue bukan lu!" ujar Aurora.
"Hehe, kan mewakili." kata Cindy nyengir.
"Lagian Clar, kalo lu mau gebet dia ya silahkan aja! Gue gak larang kok!" ucap Aurora pada Clara.
"Hah? Serius lu?" tanya Clara.
"Serius lah!" jawab Aurora.
"Hilih itu mah bercandaannya si Rora doang, nanti giliran lu gebet beneran juga dihajar sama dia!" cibir Elsa dari jauh.
"Ah berisik lu!" umpat Aurora kesal.
Sementara pak Sumanto meminta Willy untuk segera mengenalkan dirinya di depan kelas.
"Baiklah anak muda, ayo kenalkan diri kamu sama mereka semua!" pinta pak Sumanto.
"Oke pak!" ucap Willy menurut.
Willy pun mengalihkan pandangan ke depan, menaruh dua tangannya di atas perut sembari tersenyum mengarah pada sosok Aurora.
"Halo semua! Nama gue Willy, dan gue pindahan dari SMA citra bangsa. Salam kenal ya semua!" ucap Willy.
Setelahnya, Willy kembali mundur ke belakang dan menghadap ke arah pak Sumanto.
"Hey! Ini kenapa semuanya malah pada diam? Sapa balik dong teman baru kalian ini, jangan begitu dong!" tegur pak Sumanto.
"Hai Willy, salam kenal ya!" ucap murid-murid disana.
"Iya," balas Willy singkat.
"Yasudah, kamu boleh duduk di bangku yang kosong itu sekarang! Supaya kita bisa langsung mulai pelajaran kali ini," ucap pak Sumanto.
"Baik pak!" ucap Willy menurut.
Willy melangkah menuju bangku kosong yang kebetulan tepat berada di belakang kursi Aurora, tentu saja Willy tampak senang karena ia bisa melihat Aurora setiap saat.
Pria itu membungkuk sejenak mendekati Aurora dan tersenyum ke arahnya.
"Cantik amat sih pacarku ini kalo lagi di kelas! Gimana? Kamu senang gak aku masuk ke kelas ini?" ucap Willy sembari mencolek dagu Aurora.
"Ish, udah duduk sana!" ujar Aurora.
"Jangan galak-galak! Aku duduk di belakang kamu loh, kalau kamu butuh sesuatu tinggal noleh aja ke belakang oke!" ucap Willy tersenyum.
Aurora membuang muka, Willy pun terkekeh saja dan kembali melangkah menuju kursinya.
******
Anak-anak the darks kini tengah berkumpul di markas baru mereka sembari menikmati minuman yang baru dibawakan oleh Jeki.
Mereka tampak berbincang-bincang ria mengenai rencana mereka untuk membalas dendam kepada geng black jack yang sudah membakar jaket mereka itu.
Namun, Randi tetap kekeuh pada keputusannya untuk menolak rencana itu.
"Guys, kalian ini masih mau balas dendam ke anak-anak black jack?" tanya Randi dengan wajah cemasnya.
"Yah elah pake ditanya, udah jelas lah kita mau balas dendam sama mereka! Emang kenapa sih Ran? Lu takut?" ucap Jeki.
"Oh gitu, yaudah terserah kalian aja deh, gue udah capek bilangin kalian semua tau gak!" ujar Randi.
"Randi Randi, lu sebenarnya anak geng motor apa anak mami sih? Cupu banget lu! Kalo lu takut, yaudah lu gausah ikut sama kita buat serang markas black jack!" ujar Thoriq.
"Gue emang gak mau ikut kok, tapi bukan karena takut. Gue ini lebih suka kita berdamai sama mereka, bukan ribut-ribut terus begini!" ucap Randi.
"Halah alasan aja lu, takut mah bilang aja takut! Sampai kiamat sekalipun, kita gak akan mungkin berdamai sama black jack! Mereka yang mulai duluan, jadi kita harus balas perbuatan mereka itu!" ucap Thoriq.
"Gue setuju sama si Thoriq! Eh Ran, ayolah jangan jadi pengecut bro!" ujar Jeki.
"Udah gue bilang, gue bukan pengecut. Gue cuma pengen kita ini murni jadi geng motor, bukan geng yang suka cari keributan. Harusnya kita ini fokus ke motor dan balapan!" ucap Randi.
"Gue setuju sama yang dibilang Randi, udah gak jaman boy ribut-ribut kayak gitu! Mending kita fokus tentang motor!" sahut Farrel.
"Ah kalian berdua mah emang sama aja! Terlebih lu Rel, jangan lupa ya kalau lu sempat laporin kita-kita ini ke penjara!" ujar Jeki.
"Nah iya tuh, dasar cepu!" ucap Leo.
"Udah udah lah guys, jangan malah pada ribut sendiri! Jangan sampai kita jadi terpecah belah cuma karena beda visi misi, kita ini satu dan kita keluarga!" ucap Randi menengahi.
"Kan lu duluan Ran yang mulai, harusnya lu setuju sama rencana kita!" ucap Jeki.
"Iya iya, gue salah dan gue minta maaf sama kalian!" ucap Randi mengalah.
"Okelah, gue juga minta maaf karena tadi sempat kepancing emosi! Semoga kita gak ribut-ribut lagi ya kayak tadi!" ucap Thoriq.
"Iya," ucap Randi singkat.
Setelahnya, mereka pun saling bersalaman satu sama lain dan tidak ada lagi keributan diantara mereka.
"Oh ya, Willy sekarang kan udah mulai sekolah lagi tuh. Kira-kira dia bakal balik kesini lagi apa kagak ya?" tanya Jeki keheranan.
"Lu kenapa nanya begitu sih? Dari dulu kan Willy juga sekolah, tapi dia tetep tuh pimpin kita dan jadi ketua geng the darks yang ganas dan kejam. Lu gak perlu khawatir lah bro!" jawab Thoriq.
"Tapi, buktinya sekarang-sekarang ini dia jadi jarang datang kesini. Gue takut aja dia tinggalin gitu dan gak mau kumpul sama kita lagi," ucap Jeki.
"Tenang aja Jek! Kemarin kan Willy lagi sakit, wajar aja lah dia gak datang kesini. Mungkin besok atau malah nanti pulang sekolah dia baru kesini, jangan berprasangka buruk lah!" ucap Thoriq.
"Eh terus, Willy sekarang sekolah dimana dah?" tanya Leo penasaran.
"Eee kalo gak salah dia satu sekolah sama si Aurora, tapi tempatnya dimana gue gak tahu." jawab Randi.
"Wah keren tuh si Willy! Makin deket aja dong sama Aurora!" ujar Leo sambil nyengir.
"Hahaha..." mereka kompak tertawa.
******
Kriiinggg... Kriiinggg...
Istirahat telah tiba, Aurora menutup bukunya dan memasukkan semua alat tulis miliknya ke dalam tas lalu bersiap untuk pergi ke kantin.
"Eh guys, kantin yuk!" ucap Aurora pada kedua temannya di samping.
"Gas!" ucap Cindy langsung berdiri, begitupun dengan Elsa.
Namun, tiba-tiba Willy mencekal lengan Aurora dari belakang dan membuat gadis itu tidak bisa pergi kemana-mana.
"Awhh lu apa-apaan sih?!" geram Aurora.
"Lu mau kemana? Kok gak bilang dulu sama pacar lu ini?" ucap Willy sambil tersenyum.
"Gue cuma mau ke kantin," jawab Aurora.
"Oh gitu, ajak gue juga dong pacar!" pinta Willy.
"Yaudah lu ke kantin aja sama anak cowok, jangan sama kita dong! Emang lu gak malu kalau dilihat orang-orang nanti?" ucap Aurora.
"Buat apa gue malu? Justru gue gak mau biarin lu pergi cuma sama mereka ini, nanti yang ada lu digodain lagi sama cowok gatel itu. Makanya gue pengen temenin lu," ucap Willy.
"Iya udah Aurora, dengerin aja tuh apa kata cowok lu!" sahut Elsa.
"Nah, teman lu aja setuju. Masa lu masih gak mau gue temenin ke kantin?" ujar Willy.
Tiba-tiba saja gadis-gadis di kelas itu mendekat ke arah Willy dan bertingkah genit kepadanya.
"Hai Willy! Kita ke kantin bareng yuk!" ucapnya.
"What? Sorry sorry, gue gak bisa ke kantin bareng kalian semua! Karena gue harus temenin pacar gue yang cantik jelita ini," ucap Willy tersenyum.
"Hah? Kalian pacaran?" tanya mereka kaget.
"Iya dong, gue pacarnya Aurora dan kita ini saling mencintai. Jadi, sorry banget ya gue gak bisa ke kantin bareng kalian semua!" jawab Willy.
Aurora hanya terdiam bingung dengan lengan yang masih digenggam oleh Willy.
Tampak juga mata gadis-gadis itu mengarah ke Aurora, membuat Aurora merasa ngeri.
"Yaudah, yuk pacar kita ke kantin!" ucap Willy.
"Eee gue..."
"Ah sssttt gak ada penolakan!" potong Willy.
Willy langsung menarik tangan Aurora pergi dari sana, diikuti oleh Cindy dan Elsa di belakang mereka.
"Wil, lepasin Wil..!!" pinta Aurora berusaha berontak.
"Gak bakal gue lepasin lu, gue itu paling suka pegang tangan lu tau gak!" ucap Willy.
"Tapi Wil, lu gak lihat tuh daritadi orang-orang pada natap sinis ke kita? Gue ngeri tau!" ujar Aurora.
"Ah biarin aja, itu mah orang-orang iri! Mereka gak punya pacar yang setampan gue, jadi iri deh sama lu!" ujar Willy sambil nyengir.
"Ish, pede lu setinggi langit ya!" cibir Aurora.
"Gapapa dong," ucap Willy.
Disaat mereka hendak keluar dari kelas, tiba-tiba Max beserta teman-temannya muncul dan menghalangi jalan mereka.
"Hai Aurora!" ucap Max menyapa gadis itu.
"Eee iya hai juga!" balas Aurora.
Willy pun menatap sinis ke arah Aurora, gadis itu reflek menunduk panik dan langsung bersembunyi dibalik punggung Willy.
"Mau ngapain lagi lu? Masih pengen godain pacar gue?" tanya Willy ketus.
"Haha, gue kan cuma sapa dia. Biasanya juga begitu kok setiap hari, sebelum ada lu disini. Aurora juga gak ada masalah tuh, kenapa jadi lu yang repot?!" ujar Max.
"Jelas gue repot, gue gak terima ada laki-laki lain yang nyapa cewek gue!" tegas Willy.
******
Kiara bersama Martin sedang berada di mobil dalam perjalanan menuju rumah sakit, kebetulan Martin ingin gundukan milik Kiara dapat mengeluarkan cairan sehingga dia bisa menyusu layaknya seorang bayi.
Kiara setuju saja dengan keinginan Martin itu, walaupun ia sempat ragu sebelumnya karena khawatir akan terjadi sesuatu jika ia memaksa miliknya dapat mengeluarkan air disaat yang belum semestinya.
Namun, setelah diyakinkan oleh Martin secara terus-menerus, akhirnya Kiara mengiyakan saja kemauan Martin itu karena tidak mungkin juga jika Kiara menolaknya.
"Kiara, terimakasih ya kamu sudah mau menuruti kemauan saya!" ucap Martin tersenyum senang.
"Sama-sama tuan, apapun untuk memuaskan tuan." jawab Kiara.
"Oh ya, saya juga sudah daftarkan kamu di sekolah dekat-dekat sini. Mulai besok kamu sudah bisa bersekolah seperti biasa," ucap Martin.
"Apa? Tuan serius?" tanya Kiara agak terkejut.
"Iya Kiara sayang, saya kan sudah janji sama kamu kemarin. Semua proses pendaftaran sudah saya selesaikan, jadi kamu hanya tinggal datang ke sekolah esok hari. Biar saya yang antar kamu kesana besok," jawab Martin.
"Terimakasih ya tuan! Akhirnya impian aku buat lanjut sekolah lagi terwujud, aku senang banget!" ucap Kiara tersenyum ceria.
"Sama-sama Kiara, semoga sekolah kamu lancar terus ya sampai kamu lulus terus jadi sarjana di kuliah nanti! Saya akan sangat bahagia bila melihat kamu jadi sarjana!" ucap Martin.
"Begitupun aku tuan, aku juga ingin sekali menjadi sarjana!" ucap Kiara.
"Baiklah, saya akan usahakan untuk mewujudkan mimpi kamu itu! Setelah kamu jadi sarjana, kamu bisa deh bekerja di kantor saya." ucap Martin.
"Aku ikut aja apa kata tuan," ucap Kiara.
"Anak pintar!" ucap Martin mengusap puncak kepala Kiara.
"Tapi tuan, soal suntikan air ini apa tidak terlalu berbahaya untuk ku? Aku khawatir akan terjadi sesuatu nantinya, karena ini kan bukan saat yang tepat punyaku mengeluarkan air." tanya Kiara.
"Kamu tidak perlu cemas! Temanku ini dokter ahli, dia tahu semua tentang ini. Kamu pasti akan baik-baik saja Kiara!" jawab Martin santai.
"Baiklah tuan!" ucap Kiara.
"Maaf ya kalau saya memaksa! Saya hanya ingin rasakan sensasi yang lebih nikmat saat menyusu dengan kamu, untuk itu saya meminta kamu melakukan penyuntikan itu." kata Martin.
"Tak apa tuan, aku juga bersedia kok. Asalkan itu bisa membuat tuan bahagia," ucap Kiara.
Martin tersenyum puas mendengar jawaban itu, ia memeluk Kiara dengan erat sembari mengusap kepala bagian belakangnya.
Cupp!
Dikecupnya puncak kepala Kiara, gadis itu memejamkan mata merasakan kehangatan yang jarang ia dapatkan dahulu.
Hingga tiba-tiba saja kaca mobil mereka dilempari batu oleh segerombolan pemotor di luar sana yang membuat Martin cukup terkejut.
Pluuggg...
Untungnya kaca mobil itu tidak pecah, namun tentunya agak sedikit mengganggu perjalanan mereka, terutama kaca bagian depan yang tampak retak dan menyulitkan supir untuk menyetir.
"Sialan! Siapa mereka?" umpat Martin kesal dan lalu meminta supirnya berhenti sejenak.
Bersambung....