My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 106. Tedy dan Geri



My love is sillie


Episode 106



"Permisi! Permi—"


"Tedy?" ucapan Ayna langsung memotong apa yang hendak dikatakan Tedy.


"Ehehe, good morning Ayna cantik!" ucap Tedy menyapa gadis itu dengan santai.


"Morning! Kamu ngapain kesini? Kamu gak tahu apa ada kakak aku di dalam?" tanya Ayna panik.


"Tahu kok," jawab Tedy sambil tersenyum.


"Ish, terus kalo kamu tahu kenapa kamu malah datang kesini? Mana main teriak-teriak aja lagi, gimana kalau kakak aku dengar?" tanya Ayna.


"Ya biarin aja dia dengar, aku gak masalah kok. Dia itu kan kakak kamu, jadi wajar aja kalau dia dengar. Lagian aku kesini cuma pengen bicara sama kamu kok, apa salah?" jawab Tedy santai.


"Emang gak salah, tapi tetap aja bagi kak Geri kedatangan kamu kesini tuh masalah besar. Dia kan gak suka kita dekat-dekat," ucap Ayna.


"Gapapa, nanti biar aku aja yang bicara sama kakak kamu." ucap Tedy.


"Emang kamu yakin berani sama kakak aku? Kalau sampai kalian ribut gimana? Aku gak mau salah satu dari kalian terluka, aku takut!" ujar Ayna.


"Gausah panik cantik! Kita gak akan berantem kok, aku kan cuma mau ngobrol." ucap Tedy.


"Terserah kamu deh, aku gak mau tahu ya kalau nanti misalnya kak Geri marahin kamu dan kalian adu mulut disini." ucap Ayna.


"Tenang aja Ayna cantik!" ucap Tedy.


"Hey Tedy!!" suara teriakan itu membuat mereka berdua terkejut dan menoleh bersamaan.


"Kak Geri?" Ayna menganga sedikit melihat kakaknya muncul disana.


"Harus berapa kali sih gue bilang sama lu? Lu itu gak boleh dekat-dekat sama dia, lu ngeyel banget sih jadi cewek!" geram Geri.


"Ger, gue datang kesini atas kemauan gue sendiri, bukan diminta adik lu." sela Tedy.


Sontak Geri menatap tajam ke arah Tedy, ia emosi dan tangannya pun sudah terkepal kuat menahan emosi di dalam dirinya.


"Ohh, jadi lu yang kegatelan ya?" ujar Geri.


"Enggak dong Ger, gue kan cuma mau berteman sama adik lu. Lagian gue rasa Ayna juga gak keberatan kok kalo gue dekat sama dia, apa salahnya ya kan?" ucap Tedy membela diri.


"Asal lu tahu ya, gue itu gak suka adik gue yang paling gue sayangi ini dekat sama salah satu anggota geng the darks yang merupakan musuh besar gue!" ujar Geri.


"Kenapa sih Ger? Ayolah, lu jangan bawa-bawa masalah geng kita ke dalam ini!" pinta Tedy.


"Diam lu Ted! Sekarang lu pergi dari sini, sebelum gue abisin lu!" geram Geri.


"Sabar dong Ger! Gue tahu lu emosi banget, tapi jangan apa-apa dibawa emosi dong! Kita kan bisa bicara baik-baik," ucap Tedy.


"Halah berisik lu! Gue gak akan pernah mau bicara sama lu, cepat sana pergi!" ujar Geri.


"Gak mau ah, Ayna aja bolehin gue disini kok." ucap Tedy sambil tersenyum.


Geri makin tersulut emosi, ia beralih menatap adiknya yang masih berdiri disana dengan raut wajah ketakutan.


"Dek, ngapain lu masih disini?" tanya Geri.


"Eee aku mau pastiin aja kalau kakak sama Tedy gak berantem," jawab Ayna gugup.


"Masuk kamu!" perintah Geri pada adiknya.


"Enggak mau ah! Pokoknya aku bakal tetap disini, supaya aku bisa tahan kak Geri kalau mau berantem sama Tedy!" ucap Ayna kekeuh.


"Lu tuh susah banget dibilangin ya, cepet masuk atau gue seret lu ke dalam!" ancam Geri.


"Heh! Lu jangan kasar begitu dong sama perempuan!" ucap Tedy.


Geri menatap tajam ke arah Tedy.


******


"Siap sayang! Abisnya kamu gemesin banget sih, saya jadi susah nahannya!" ujar Martin.


"Halah dasar tuan aja yang mesum!" ujar Kiara.


"Hahaha..." Martin justru tertawa lepas disana.


Kiara yang kesal pun menghadiahi Martin dengan cubitan keras di pahanya hingga membuat pria itu mengerang kesakitan.


"Akkhh!! Aduh, sakit banget gila cubitan kamu!" rintih Martin.


"Biarin, makanya jangan ngeselin tuan! Udah ya, aku mau sekolah dulu?" ucap Kiara.


"Ya ya ya, akh sakit!" Martin masih terus mengusap pahanya dan meringis kesakitan.


Kiara tersenyum saja melihatnya, lalu turun dari mobil itu dan bersiap masuk ke dalam sekolahnya.


"Loh, itu kan Willy sama Aurora?" batinnya.


Baru saja Kiara hendak melangkah, namun Martin tiba-tiba memanggilnya kembali.


"Hey cantik!" ucap Martin.


"Ah iya, kenapa lagi tuan?" tanya Kiara.


"Kamu yang kenapa? Kok malah berdiri aja disitu? Ngeliatin apaan sih cantikku?" ucap Martin balik bertanya pada gadisnya.


"Eee enggak kok, bukan apa-apa.." elak Kiara.


"Ohh, yaudah kamu masuk gih sana! Sekalian aku mau pamit sama kamu," ucap Martin.


"Iya tuan, hati-hati ya!" ucap Kiara.


"Kamu juga ya sayangku," ucap Martin.


Kiara mengangguk sembari melambai ke arah Martin disertai senyum manisnya.


Lalu, Martin pun melaju pergi dengan kecepatan sedang meninggalkan gadisnya itu disana.


Kini Kiara kembali beralih menatap ke depan, dimana Willy tengah berbincang dengan Max.


Tanpa basa-basi lagi, Kiara langsung saja melangkah mendekati mereka.


"Tunggu sayang!" ucap Max.


"Ih lepasin!" ucap Aurora berusaha berontak.


Willy pun makin tersulut emosinya, ia melepas paksa tangan Max dari lengan kekasihnya dan mendorongnya pelan.


"Lo jangan ganggu cewek gue lagi! Walau tangan gue begini, tapi kalo lawan lu doang gue masih bisa!" ucap Willy tegas.


Max tersenyum smirk dan berdiri tegak bersiap menghadapi Willy disana.


"Wil, tahan Wil! Kamu gak boleh bikin masalah lagi di sekolah ini, aku takut kamu bakal dihukum seperti dulu!" ucap Aurora mengingatkan Willy.


"Tapi sayang, dia udah keterlaluan sama kamu! Berani banget dia sentuh kamu kayak gitu, aku gak terima!" ucap Willy.


"Iya aku ngerti kamu marah, tapi kamu harus bisa tahan diri! Jangan sampai gara-gara emosi, terus kamu malah diskors lagi nantinya!" ucap Aurora.


Willy terdiam sejenak memikirkan ucapan kekasihnya, sampai ia pun sadar bahwa semua itu memang ada benarnya dan ia tidak boleh dihukum karena itu tidak mengenakkan baginya.


"Oke, aku nurut sama kamu!" ucap Willy.


"Makasih ya sayang!" ucap Aurora tersenyum senang.


"Heh Willy! Mana nih yang katanya mau nyerang gue? Kok gak jadi sih? Takut ya?" ujar Max.


"Cih! Lu beruntung karena gue gak jadi nyerang lu, selamat lu kali ini!" ucap Willy.


"Hahaha, bilang aja lu takut Wil Wil.." ledek Max.


Disaat Willy hendak tersulut emosi kembali, Aurora pun memegangi lengan pria itu dan tersenyum ke arahnya.


"Tenang ya Willy sayang!" ucap Aurora.


"Iya cantik, aku selalu tenang kalau lihat senyum kamu yang manis itu." ujar Willy.


"Bagus deh!" ucap Aurora singkat.


"Rora, kenapa sih kamu mau sama dia? Padahal jauh lebih ganteng aku kemana-mana loh, mending kamu sama aku aja!" ucap Max.


Willy mengangguk setuju, lalu mereka pun melangkah pergi meninggalkan Max.


Akan tetapi, Kiara muncul dan memanggil Willy dari belakang sehingga mereka kompak berhenti.


"Willy!" Aurora jadi yang pertama menoleh ke asal suara, sepertinya dia tak suka ada perempuan lain yang memanggil kekasihnya.


******


Disisi lain, Zafran menghentikan motornya tepat di depan penjual soto mie untuk mengisi perutnya.


Ia bersama sang kekasih yang bernama Imey itu pun turun dari motor dan duduk di kursi seraya memesan makanan untuk mereka.


"Pak, soto mie nya dua ya!" ucap Zafran.


"Siap mas!" ucap penjual itu.


Zafran terlihat tersenyum renyah ke arah gadisnya, ia meraih satu tangan gadis itu dan menggenggamnya erat.


Cup!


Imey terkejut saat tangannya tiba-tiba dikecup oleh Zafran dengan sangat romantis.


"Kamu ngapain sih?" tanya Imey heran.


"Gapapa, gabut aja." jawab Zafran sambil terkekeh.


"Hahaha, ada-ada aja kamu ah!" ujar Imey.


"Kamu kalo lagi ketawa gitu tambah lucu deh, bikin gemes!" goda Zafran.


"Ah bisa aja kamu!" ucap Imey malu-malu.


Zafran pun terus mencubit kedua pipi kekasihnya itu selagi menunggu pesanan mereka datang, sesekali mereka juga terlibat canda tawa dan saling melempar senyum.


Akhirnya pesanan mereka datang, keduanya pun langsung menikmati soto mie itu dengan nyaman.


"Gimana sayang, enak kan?" tanya Zafran.


"Mmhhh iya, ini enak!" jawab Imey.


"Tuh pak, soto bapak diakuin enak sama pacar saya! Emang dah soto disini paling the best!" ucap Zafran pada sang penjual.


"Hahaha, terimakasih ya mas, mbak!" ucap si penjual tampak bahagia.


Kini Zafran kembali menggoda kekasihnya, ia memang tidak bisa menahan diri jika bersama sang kekasih tercinta itu.


"Uhuk uhuk.." tiba-tiba saja Imey terbatuk-batuk saat sedang menikmati makanannya.


"Eh eh, minum sayang minum! Makanya kamu makan jangan sambil lihatin aku, jadi keselek kan tuh!" ucap Zafran langsung menyodorkan air minum ke arah kekasihnya.


"Huh kamu sih gak berhenti-henti godain aku!" cibir Imey setelah meminum airnya.


"Hehe, maaf!" ujar Zafran sambil nyengir.


Mereka pun kembali melanjutkan aktivitas makan mereka yang sempat tertunda itu.


Namun, tanpa diduga sekumpulan orang-orang yang menggunakan motor racing muncul dan berhenti tepat di dekat mereka.


Tentu saja kehadiran orang-orang itu membuat Zafran merasa risih dan terganggu.


Salah satu dari mereka tampak melirik sekilas ke arah Zafran, sebelum akhirnya mendekati sang penjual soto tersebut.


"Heh orang tua! Gue sama temen-temen gue mau makan, buatin kita satu-satu ya!" ucap orang itu.


"Bentar dulu, ini bayar gak nih? Nanti kayak kemarin lagi pada kabur," tanya si penjual.


Braakkk...


"Lo gausah banyak tanya! Cepat bikinin atau gue obrak-abrik nih tempat!" bentak orang itu.


"I-i-iya iya.." ucap si penjual ketakutan.


Melihat itu, Zafran amat kesal dan ingin rasanya ia memberi pelajaran pada geng motor tersebut jika ia sedang tidak bersama kekasihnya saat ini.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Imey curiga.


"Aku gak suka aja sama sikap mereka, gak sopan gitu sama orang tua!" jawab Zafran.


"Sabar ya! Kamu jangan kepancing!" ucap Imey.


Zafran mengangguk sambil sesekali tetap mencuri pandang ke arah orang-orang itu, sampai matanya mendapati sebuah tulisan di jaket mereka yang membuatnya terkejut.


"Thunder? Apa geng ini yang dibicarain sama Willy? Kalau iya, gue dalam bahaya dong!" batin Zafran.


Zafran tampak mempercepat proses makannya, ia tak mau jika sampai orang-orang itu menyadari bahwa dirinya adalah anggota the darks.


"Heh!" Zafran terkejut mendengarnya.


******


"Diam lu Ted! Sekarang lu pergi dari sini, sebelum gue abisin lu!" geram Geri.


"Sabar dong Ger! Gue tahu lu emosi banget, tapi jangan apa-apa dibawa emosi dong! Kita kan bisa bicara baik-baik," ucap Tedy.


"Halah berisik lu! Gue gak akan pernah mau bicara sama lu, cepat sana pergi!" ujar Geri.


"Gak mau ah, Ayna aja bolehin gue disini kok." ucap Tedy sambil tersenyum.


Geri makin tersulut emosi, ia beralih menatap adiknya yang masih berdiri disana dengan raut wajah ketakutan.


"Dek, ngapain lu masih disini?" tanya Geri.


"Eee aku mau pastiin aja kalau kakak sama Tedy gak berantem," jawab Ayna gugup.


"Masuk kamu!" perintah Geri pada adiknya.


"Enggak mau ah! Pokoknya aku bakal tetap disini, supaya aku bisa tahan kak Geri kalau mau berantem sama Tedy!" ucap Ayna kekeuh.


"Lu tuh susah banget dibilangin ya, cepet masuk atau gue seret lu ke dalam!" ancam Geri.


"Heh! Lu jangan kasar begitu dong sama perempuan!" ucap Tedy.


Geri menatap tajam ke arah Tedy.


"Lu mau apa? Terserah gue dong mau kasar atau enggak sama Ayna, dia itu adik gue!" ujar Geri.


"Ya emang, tapi gak sepantasnya lu bersikap kayak gitu sama Ayna!" ucap Tedy.


"Banyak bacot lu! Pergi sana!" usir Geri.


"Gue gak akan pergi, gue mau lu minta maaf dulu sama Ayna atas apa yang udah lu lakuin tadi ke dia!" ucap Tedy.


"Lu pikir lu siapa bisa atur-atur gue kayak gitu? Gue gak bakal mau turutin kemauan lu, karena lu gak bisa suruh-suruh gue begitu! Ayna itu adik gue, jadi terserah gue mau apain dia!" geram Geri.


Geri semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Ayna hingga gadis itu kesakitan.


"Akh kak! Jangan kuat-kuat dong pegang nya, sakit tau! Yang dibilang Tedy itu benar, harusnya kakak jangan kayak gini sama aku!" protes Ayna.


"Diam kamu Ayna!!" bentak Geri.


"Ayna, kamu jangan diam aja kayak gitu! Kamu harus lawan sikap abang kamu yang kasar ini, supaya dia gak terus-terusan perlakukan kamu kayak gini!" ucap Tedy.


"Lo bener-bener kurang ajar ya Ted! Kesabaran gue kali ini udah abis, gue bakal keluar dan kasih pelajaran buat lu!" ucap Geri.


Geri yang kesal akhirnya membuka pintu pagar dan hendak menghampiri Tedy.


Namun, Ayna coba menahan kakaknya itu karena ia tak mau ada keributan disana.


"Kak, please jangan kak! Jangan berantem sama Tedy di depan sini! Aku gak mau salah satu diantara kalian terluka!" ucap Ayna memohon.


"Ah diem lu! Lu juga sama aja sama Tedy, dasar adik durhaka!" geram Geri seraya mendorong tubuh Ayna dengan kasar.


Bruuukkk..


"Awhh!" Ayna meringis pelan saat tubuhnya terjatuh ke bawah dengan posisi terduduk.


"Ayna!" Tedy yang melihat itu langsung melotot tajam dan geram dengan kelakuan Geri.


Bughh...


Bersambung....