My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 26. Willy yang sama



My love is sillie


Episode 26



Ilham dan teman-temannya duduk di kursi untuk sekedar berbincang sejenak sembari memakan cemilan yang mereka beli sebelumnya.


Tampak ekspresi gembira terpampang di wajah Ilham serta kedua temannya itu, tentu saja karena mereka telah berhasil memukuli Willy sampai dia dirawat di rumah sakit.


"Ham, kira-kira si Willy sekarang masih dirawat apa enggak ya? Rasanya gue kurang puas deh, gue masih pengen hajar dia!" ujar Billy.


"Sama Ham, gue juga masih pengen bantai tuh anak! Abisnya dia songong banget!" sahut Choky.


"Hahaha... kalau nurutin nafsu, gue juga gak mau berhenti hajar dia kemarin. Tapi, kalian kan lihat sendiri udah banyak warga yang datang dan telpon polisi buat bubarin kita. Kalau kita tetap bantai si Willy, yang ada kita bisa di penjara. Emangnya lu pada mau masuk penjara, ha?" ucap Ilham.


"Iya sih, masih untung kita bisa kabur kemarin. Andai aja kita bantai dia di jalan sepi, pasti kita bisa bikin dia makin sekarat!" ucap Billy.


"Sabar! Gue gak bakal lepasin Willy gitu aja, gue pastikan dia akan dapat yang lebih parah dari ini begitu dia keluar dari rumah sakit. Kalian ingat kan waktu itu gue koma berapa hari?" ucap Ilham.


"Iya Ham, kita ingat kok. Waktu itu sekitar dua atau tiga Minggu lu koma di rumah sakit," ucap Billy.


"Nah, gue juga bakal bikin dia koma bahkan lebih lama dari gue. Kalau bisa, sekalian aja dia mati di tangan gue!" geram Ilham mengepalkan tangan.


"Apa??" Ilham dan yang lainnya terkejut mendengar suara wanita yang muncul disana, mereka kompak menoleh menatap ke asal suara dengan mulut menganga sedikit.


"Jadi, kalian udah bikin Willy masuk rumah sakit? Benar-benar kelewatan ya kalian!" sambung wanita itu.


Ilham berdiri mendekati wanita itu.


"Heh Sasha! Sebaiknya lu jangan bilang-bilang soal ini ke siapapun, termasuk Bu guru atau kepala sekolah. Atau kita bakal bikin lu bernasib sama seperti W,illy saat ini, mau lu!" ancam Ilham.


"Gue gak takut sama ancaman lu! Yang kalian lakuin ke Willy itu udah keterlaluan, sekarang kasih tahu gue dimana Willy!" tegas Sasha.


"Entahlah, paling dia lagi terbaring di rumah sakit." kata Ilham tersenyum smirk.


"Lu yang bener kalo jawab! Dimana Willy sekarang, kasih tahu gue!" bentak Sasha emosi.


"Hahaha... segitunya lu khawatir sama Willy, suka lu sama dia ha?" ujar Ilham.


"Bukan urusan lu! Sekarang jawab pertanyaan gue, dimana Willy! Kalau lu gak mau kasih tahu, gue laporin lu sekarang ke kepala sekolah!" ucap Sasha.


"Gue gak tahu Willy dimana, kemarin begitu gue selesai bantai dia, gue langsung tinggalin dia gitu aja di jalan. Ya mungkin dia udah dibawa ke rumah sakit sama orang," jawab Ilham.


"Iya tuh, lu cek aja satu-satu rumah sakit di Jakarta!" sahut Billy.


"Kalian jangan main-main! Kasih tahu gue dimana terakhir kali kalian tinggalin Willy! Cepat!" bentak Sasha makin emosi.


"Kalau kita gak mau kasih tahu gimana?" tantang Ilham sambil tersenyum smirk.


Sasha semakin emosi, ia menatap tajam ke arah Ilham dengan mengepalkan kedua tangannya.


******


Aurora kembali datang ke lapangan Bintaro untuk mencari keberadaan Willy, gadis itu masih percaya kalau Willy akan datang ke tempat tersebut sesuai janjinya sebelumnya.


Akan tetapi, tetap saja disana ia tidak berhasil menemukan Willy.


Aurora pun kebingungan harus mencari kemana lagi, ia sudah tidak memiliki ide atau petunjuk untuk bisa menemukan Willy.


"Haish, kok dia gak ada juga sih? Sebenarnya lu kemana Willy? Bilangnya mau ketemuan disini, tapi kenapa lu gak datang-datang juga?" ujarnya.


Tak lama kemudian, dua orang pemotor berhenti tepat di sampingnya.


"Hey! Lu siapa? Lagi ngapain disini?" tanya salah seorang lelaki itu terus menatap Aurora.


"Emang kenapa sih? Salah gitu kalo gue diem disini? Ini kan tempat umum, bukan punya kalian berdua." protes Aurora.


"Kalem lah neng! Gue kan cuma nanya. Btw, nama gue Thoriq. Dan asal lu tahu aja, tempat ini tuh udah jadi markas geng gue." ucap pria itu.


Ya kedua lelaki yang datang itu ialah Thoriq dan juga Randi.


"Markas geng lu? Masa sih?" tanya Aurora.


"Iya, kenapa? Lu gak percaya?" ujar Thoriq.


"Jelas lah! Setahu gue, ini tuh markasnya geng cowok yang namanya Willy. Nah nama lu aja Thoriq bukan Willy, jangan ngarang deh lu!" ucap Aurora.


Sontak Thoriq dan Randi pun terkejut mendengar Aurora menyebut nama Willy, mereka saling pandang kemudian kembali menatap Aurora dengan wajah kagetnya.


"Bentar bentar, lu kenal sama yang namanya Willy?" tanya Thoriq terheran-heran.


"Belum kenal banget sih, gue baru ketemu sekali sama dia. Cuma waktu itu dia bilang kalau disini tuh markas gengnya, dia juga ajak gue buat ketemuan disini. Ya tapi masalahnya, sampai sekarang dia gak muncul-muncul juga disini. Padahal gue udah bolak-balik beberapa kali ke tempat ini," jawab Aurora menjelaskan.


"Jangan-jangan Willy yang lu maksud itu Willy teman kita sekaligus ketua geng kita," ujar Thoriq coba menerka-nerka.


"Emangnya ketua lu berdua namanya Willy juga?" tanya Aurora.


"Iya, nama geng kita the darks. Waktu lu ketemu Willy, dia bilang gak nama gengnya apa?" ucap Randi.


"Enggak." Aurora menggeleng pelan.


"Umm... terus sekarang lu kesini pengen ketemu sama Willy?" tanya Thoriq.


"Iya, tapi dia gak datang-datang juga." jawab Aurora.


"Ya jelas lah! Orang Willy aja lagi dirawat di rumah sakit, mana mungkin dia bisa kesini temuin lu?" ucap Thoriq tersenyum.


"Hah? Lu serius?" Aurora terkejut mendengarnya.


"Serius lah masa bohong!" jawab Thoriq.


"Iya, lu mau ketemu sama dia di rumah sakit? Kita bisa kok antar lu kesana, itu juga kalau lu mau." ucap Randi memberi penawaran bagi Aurora.


"Gue mau gue mau!" ucap Aurora.


"Tapi bentar dulu, nama lu siapa? Gak mungkin kita antar lu ke rumah sakit buat temuin Willy, tapi kita belum tahu nama lu." kata Thoriq.


"Gue Aurora, sebut aja nama itu di depan Willy, gue yakin dia pasti masih ingat!" ucap Aurora.


"Aurora? Waw indah banget nama lu! Bukan cuma namanya sih, lu nya juga indah, cantik lagi." ujar Thoriq tanpa sadar memuji gadis di hadapannya.


"Riq, sadar Riq!" tegur Randi.


"Hehe..." Thoriq nyengir sembari menggaruk kepalanya.


"Yaudah, kalian bisa kan anterin gue ketemu sama Willy? Gue mau jenguk dia!" ucap Aurora.


"Bisa kok. Si Willy pasti juga senang dijenguk sama cewek cantik kayak lu!" ujar Thoriq.


"Oke thanks!" ucap Aurora singkat.


Setelahnya, mereka bertiga pun pergi dengan motor masing-masing menuju rumah sakit untuk menjenguk Willy.


Bersambung....