My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 85. Permainan yang gagal



My love is sillie


Episode 85


•


"Ahh!" desahh Aurora ketika Willy meremass gundukan miliknya.


Aurora pun menjauhkan tubuh Willy darinya dan melepas pagutan mereka untuk mencegah Willy melakukan lebih dari itu.


Willy tampak kecewa karena Aurora menghentikan kegiatan mereka, padahal ia berharap gadis itu mau meneruskannya ke hal yang lebih panas.


"Kamu kenapa sih?" tanya Willy cemberut.


"Kamu tuh yang kenapa! Ngapain kamu sentuh dada aku segala? Aku kan gak mau kita kelewatan nantinya, apalagi ini di rumah aku. Gimana misal ada yang lihat kelakuan kamu tadi?" ujar Aurora.


"Ya maaf sayang! Aku bawaannya kalau berdua sama kamu tuh menjurus kesitu terus, apalagi dada kamu kenyal dan enak banget buat disentuh." ucap Willy sambil nyengir.


"Ish, kamu itu mesum banget ya Wil! Aku gak mau kehilangan kesucian aku sebelum nikah! Kalau kamu kepengen, nanti aja tunggu nikah!" ucap Aurora.


"Emang kamu mau nikah sama aku?" tanya Willy sambil memajukan wajahnya ke dekat Aurora.


"Dih, kenapa jadi aku?" ujar Aurora.


"Ya kan tadi kata kamu tunggu nikah, berarti kamu mau dong nikah sama aku?" ucap Willy.


"Ih aku kan gak bilang nikahnya sama aku, maksud aku tuh kamu nikah sama jodoh kamu nanti." ucap Aurora.


"Tapi, aku maunya cuma sama kamu. Kamu itu kan jodoh aku sayang, kita nikah ya abis lulus sekolah? Supaya aku bisa langsung rasain tubuh kamu yang enak ini, aku benar-benar gak sabar tau!" ucap Willy seraya mengendus leher gadis itu.


"Eenngghh cukup ah Willy! Kamu gak boleh begini terus! Nanti kamu gak bisa tahan loh, aku gak mau ya ada yang lihat kita sewaktu lagi kayak gini!" ucap Aurora mendorong tubuh Willy jauh darinya.


"Oke! Kamu mau gak ikut aku ke hotel sekarang? Biar gak ada yang ganggu kita," ucap Willy.


"Ih apa sih?! Jangan ngaco ya kalo ngomong! Aku kan udah bilang, aku gak mau kehilangan kesucian aku sebelum nikah. Udah deh, mending kita pergi sekarang sebelum kamu bertindak lebih jauh lagi!" ucap Aurora kesal.


"Ntar dulu, kayaknya leher kamu yang mulus ini harus dikasih tanda dulu deh." ucap Willy menangkap tubuh Aurora dan menyingkirkan rambutnya sehingga ia dapat melihat leher mulus milik Aurora.


"Hah? Tanda apa?" tanya Aurora heran.


"Ya tanda, supaya orang-orang tahu kalau kamu itu milik aku. Sebentar aja kok, sini ya aku kasih cap!" jawab Willy sambil mencengkram tangan Aurora.


"Ah apa sih Wil? Aku gak mau ah! Kamu gausah ngada-ngada deh, lepasin aku!" ucap Aurora meronta-ronta.


Namun, Willy seperti sudah kehilangan kendal dan tidak mau melepaskan Aurora begitu saja.


Willy pun mulai bermain di leher jenjang Aurora, menjilatnya lembut dan menggigitnya kecil.


"Akh! Willy stop it! Please, aku gak mau!" ucap Aurora sembari menahan mulutnya agar tak mendesahh.


Willy semakin menjadi-jadi, ia meninggalkan cukup banyak tanda merah di leher sampai dada gadis itu.


"Eenngghh.." lirih Aurora.


Akhirnya Willy melepaskan tangan Aurora, menatap wajah gadis itu sambil tersenyum dan sesekali mengelus bibirnya.


"Enak?" tanya Willy lembut.


"Ih kamu nyebelin!" bentak Aurora sembari memukul tubuh Willy dengan kesal.


"Eh eh eh, kamu kok begitu sih? Jangan galak-galak dong sayang! Aku kan cuma mau kasih tanda di leher kamu ini, biar leher kamu gak polos terus kayak tadi. Nah, kalau kayak sekarang gini kan makin enak dilihatnya." ucap Willy.


"Tapi Wil, kalau papa aku lihat gimana? Nanti pasti papa bakal banyak tanya deh, gimana caranya aku jelasin ke papa?" tanya Aurora bingung.


"Udah tenang aja! Kamu kan bisa tutupin leher kamu pake rambut, gausah panik sayang! Yaudah, kita pergi sekarang yuk ke markas the darks!" ucap Willy sambil tersenyum.


Aurora mengangguk setuju, Willy pun mengecup bibirnya kembali dan menahannya cukup lama.


Cupp!


"Mmhhh.." Aurora lagi-lagi hanya bisa pasrah, cengkraman Willy memang benar-benar kuat.


******


Randi, Tedy dan Arif tiba di rumah sakit tempat Thoriq dirawat sesuai tujuan mereka.


Tedy langsung mencoba untuk menghubungi nomor perempuan yang baru ia dapatkan tadi.


"Heh! Lu nelpon siapa sih?" tanya Arif heran.


"Ini loh guys, gue mau telpon Ayna. Siapa tahu dia udah sampe rumah, jadi gue bisa telponan sama dia deh." jawab Tedy.


"Ya ampun! Mulai deh bucin, sama aja kayak Willy lu! Kita ini kesini mau jenguk Thoriq sohib kita, eh lu malah ngebucin!" cibir Arif.


"Ah berisik lu! Bilang aja lu iri kan sama gue, karena lu gak bisa dapetin cewek secantik Ayna!" ujar Tedy.


"Idih, siapa juga yang iri sama lu? Muka gue lebih ganteng daripada lu, kalo gue mau juga si Ayna bakal gue gebet dan dia pasti bakal milih gue daripada lu." ucap Arif.


"Sayang aja Ayna bukan selera gue, makanya gue kasih dah dia ke lu." sambungnya.


"Yah elah, sok kecakepan lu! Ayna mah gak bakal mau juga sama lu, dia kan cantik plus elegan, yakali mau sama modelan kang becak kayak lu!" ucap Tedy meledek Arif.


"Wah sialan ya lu!" umpat Arif.


"Heh! Kalian berdua apa-apaan sih? Ini tuh rumah sakit, bukan tempat buat ribut. Lagian ngapain coba pake berantem gara-gara cewek? Kita ini kesini mau jenguk Thoriq sama yang lain, jangan malah pada ribut dong!" tegur Randi.


"Dia duluan tuh Ran, pake iri segala sama gue gara-gara gue punya gebetan!" ujar Tedy.


"Yeh jangan fitnah lu! Siapa juga yang iri sama lu? Gue kan cuma bilang, jangan telpon si Ayna dulu sekarang!" ucap Arif.


"Ah bilang aja kalo lu iri!" ucap Tedy.


"Bener-bener lu ya! Gue—"


"Sssttt diem lu! Ini si Ayna angkat telpon dari gue, kalian duluan aja ke kamar si Thoriq!" potong Tedy.


Tedy pun pergi menjauh dari kedua temannya untuk mengangkat telpon dari Ayna.


"Heh dongok!" teriak Arif.


"Udah, biarin aja dia telponan sama gebetan barunya! Kita mah fokus jenguk Thoriq aja," ucap Randi menahan tubuh Arif.


"Iya deh iya.." ucap Arif menurut.


Randi dan Arif pun pergi ke kamar Thoriq untuk menjenguk sahabat mereka itu.


Sementara Tedy kini masih asyik dengan Ayna di dalam telpon.


📞"Halo cakep!" ucap Tedy.


📞"Ah iya, halo juga! Kenapa nih kamu telpon aku?" tanya Ayna.


📞"Gapapa sih, ngetes aja. Sekalian aku mau tau, kamu udah di rumah apa belum?" ucap Tedy.


📞"Ohh, udah kok daritadi." ucap Ayna.


📞"Syukurlah! Oh ya, kapan-kapan aku boleh gak main ke rumah kamu kalau aku lagi gak sibuk?" tanya Tedy.


📞"Umm, boleh aja. Tapi, kamu emangnya mau apa ke rumah aku?" ucap Ayna.


📞"Gak ada apa-apa sih, cuma pengen ngobrol aja sama kamu secara langsung. Jadi gimana, boleh kan?" ucap Tedy.


📞"Tadi kan aku udah jawab, boleh kok. Kamu kesini aja kalau mau, nanti aku shareloc alamat lengkapnya." ucap Ayna.


📞"Oke Ayna cakep! Eh ya, kamu udah mandi apa belum nih?" ucap Tedy.


📞"Eee belum, ini baru mau mandi. Tadi aku udah ambil handuk dari lemari, tapi kamu malah nelpon aku. Yaudah deh aku tunda dulu mandinya," ucap Ayna.


📞"Wah berarti aku ganggu kamu dong ya? Maaf ya Ayna cakep, aku gak tahu kalau kamu mau mandi tadi!" ucap Tedy.


📞"Gak juga kok," ucap Ayna.


📞"Hah? Ngapain??" tanya Ayna terkejut.


📞"Hehe, bercanda kok. Tapi, kalau kamu mau kirim ya gapapa juga." ujar Tedy.


📞"Haish, kamu orangnya lucu ya?" ujar Ayna.


📞"Iya dong, Tedy gitu loh!" ucap Tedy.


📞"Aku tutup dulu ya? Sampai nanti!" ucap Ayna.


📞"Oke! Good bye cakep!" ucap Tedy.


Tuuutttt tuuutttt...


Tedy langsung berteriak kegirangan setelah selesai menelpon Ayna.


"Yes yes!"


******


Sementara itu, kini Willy dan Aurora sudah tiba di markas the darks.


Namun, mereka terheran-heran karena suasana disana sangat sepi tak ada siapapun.


"Wil, kok sepi sih disini?" tanya Aurora bingung.


"Gak tahu, mungkin mereka lagi pada pergi. Coba deh aku telpon si Randi dulu, kamu duduk aja dulu disana!" ucap Willy.


"Enggak ah, aku capek duduk terus. Aku nunggu disini aja biar dekat sama kamu," ucap Aurora sambil tersenyum dan mengaitkan tangannya di lengan sang kekasih.


Willy tersenyum lebar seraya mengusap puncak kepala Aurora hingga rambutnya berantakan.


"Ih berantakan tau!" ujar Aurora kesal.


"Hahaha.." Willy tertawa renyah.


Willy pun mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Randi.


📞"Halo Ran! Lu dimana sekarang? Ini gue lagi di markas the darks, tapi gak ada orang. Lu pada gak ngumpul disini apa gimana?" tanya Willy.


📞"Ah iya Wil, gue sama yang lain lagi pada di rumah sakit nih. Kita niatnya mau jenguk Thoriq sama anak the darks yang masih dirawat, jadi kayaknya kita baru ke markas nanti agak malaman." jawab Randi.


📞"Oalah, oke deh!" ucap Willy singkat.


Tuuutttt tuuutttt...


Willy langsung mematikan teleponnya begitu saja, lalu menatap Aurora dan melumatt bibirnya secara tiba-tiba.


"Mmppphhh mmppphhh!!" Aurora berusaha berontak, tapi Willy menahan tengkuknya.


Setelah dirasa kehabisan nafas, Willy pun melepas pagutannya dan beralih pada leher jenjang Aurora sambil menciuminya ganas.


"Ahh Willy udah! Jangan!" pinta Aurora.


"Kamu benar-benar bikin aku gila sayang! Aku selalu bergairah tiap kali ada di dekat kamu, aku selalu pengen sentuh tubuh indah kamu ini!" ucap Willy sambil terus menciumi leher Aurora.


"Udah Wil, kamu ini kenapa sih? Perasaan tadi kamu abis telpon Randi, kenapa jadi tiba-tiba cium aku?!" ujar Aurora heran.


"Suruh siapa kamu ada di samping aku? Kan aku jadi gak bisa nahan, apalagi kamu wangi banget." ucap Willy.


Aurora akhirnya pasrah dan membiarkan saja Willy bermain di lehernya, biarpun ia merasa tidak nyaman.


"Terus gimana sekarang? Apa kata Randi tadi?" tanya Aurora penasaran.


"Dia lagi di rumah sakit, kita gausah kesana. Aku mau berduaan aja sama kamu disini, mumpung sepi. Jadi, kita bisa lakukan apapun yang kita mau." jawab Willy.


"Ih kamu jangan ngada-ngada ya! Aku gak mau berduaan sama kamu, mending kita ke rumah sakit aja sekarang susul mereka!" ucap Aurora.


"Enggak ah!" ujar Willy.


Willy justru menarik tubuh Aurora secara paksa dan membawanya ke dalam markas the darks.


Pria itu menaruh Aurora di atas meja tempat mereka biasa bermain kartu bersama.


"Akh!" pekik Aurora menahan sakit.


"Wil, kamu mau apa?" tanya Aurora panik.


Willy melepas jaketnya dan melempar ke sembarang tempat, lalu mencengkram tangan Aurora dan menaruhnya di atas kepala gadis itu.


"Aku mau kamu! Aku gak bisa tahan lagi, kamu benar-benar bikin aku gila sayang!" ujar Willy.


"Ahh Willy! Kamu harus bisa tahan, aku belum mau begituan!" ucap Aurora.


"Enggak sayang, gak bisa. Ini sangat sulit buatku, maafin aku ya cantik!" ucap Willy tersenyum smirk.


Willy yang sudah tak tahan lagi, langsung membuka baju milik Aurora dan hanya menyisakan penutup dada gadis itu.


Ia memulai aksinya, melumatt bibir Aurora dengan rakus, dan perlahan-lahan mulai turun ke bawah sampai belahan gadis itu.


"Eenngghh ahh.." lirih Aurora.


Aurora hanya bisa pasrah memejamkan matanya, sentuhan lidah Willy di kulitnya membuat Aurora merasa nikmat.


Pria itu kini sampai di perut rata sang kekasih, kembali menjilatinya rakus dan meninggalkan bekas yang cukup banyak.


"Apa ini saatnya aku kehilangan kesucian yang sudah aku jaga selama ini?" batin Aurora.


Benar saja, Willy langsung melepas celana yang dikenakan Aurora hingga gadis itu hampir telanjang sempurna.


Disaat Willy hendak meneruskan aksinya membuka kain segitiga tersebut, tiba-tiba saja sebuah suara muncul mengagetkan dirinya.


Praaangg...


Batu yang cukup besar berhasil memecahkan kaca ruangan tersebut dan membuat sepasang kekasih yang hendak bercinta itu terkejut.


"Hah??" Willy dan Aurora kompak menoleh ke arah jendela untuk mencari tahu siapa pelakunya.


Mereka berdua menangkap sosok pria yang mengenakan topeng hitam tengah berdiri di luar sana, lalu berlari begitu saja dengan cepat.


"WOI SIAPA LU??!!" teriak Willy emosi.


******


Martin tengah menyusu pada Kiara di kamarnya, pria itu memang selalu melakukannya setiap kali ia mendapat masalah dengan alasan untuk menenangkan diri.


"Tuan, apa belum cukup? Aku sudah gak kuat lagi, rasanya pegel tau terus-terusan begini." ucap Kiara.


Martin melepas nipel Kiara dan melirik ke arahnya.


"Sebenarnya saya masih belum puas, tapi karena kamu sudah kelihatan lemas, jadi saya berhenti saja sampai disini." ucap Martin.


"Terimakasih tuan!" ucap Kiara tersenyum tipis.


Martin pun bangkit dan terduduk di atas ranjang itu, sedangkan Kiara berusaha membenarkan pakaiannya seperti semula.


"Sebenarnya tuan ini kenapa? Apa masalah yang sedang tuan Martin pikirkan?" tanya Kiara.


"Masih sama, tentang Willy dan Aurora." jawab Martin singkat.


"Tuan masih belum bisa terima kalau mereka berdua saling mencintai?" tanya Kiara.


"Iya, karena saya gak yakin kalau Willy benar-benar mencintai Aurora. Dia pasti cuma jadikan Aurora sebagai pelampiasan, setelah dia gagal mendapatkan kamu Kiara." ucap Martin.


"Tuan gak boleh mikir gitu! Belum tentu kan yang ada di pikiran tuan itu benar," ucap Kiara.


Martin mengusap wajahnya kasar, ia tak tahu lagi harus bagaimana, karena semua orang terdekatnya bahkan tidak mempercayai dirinya.


Bersambung....