
My love is sillie
Episode 137
•
"Apa sih?! Kamu gausah kege'eran deh, aku gak cemburu! Aku tuh cuma tanya dan penasaran aja, ngapain gitu Sasha masih datang ke rumah kamu. Aku gak ada maksud lain," ucap Aurora.
"Iya iya sayangku, aku percaya aja deh sama kamu mah!" ucap Willy seraya memeluk kekasihnya.
"Jangan peluk-peluk ah gak enak tau kalo diliat ibu atau bapak kamu!" ujar Aurora berontak.
"Gapapa, tenang aja!" ucap Willy sambil tersenyum.
"Iya nak Aurora, gak perlu malu di depan bapak mah." keduanya sama-sama kaget mendengar suara seorang lelaki yang muncul dari arah dapur mendekati mereka.
"Hah bapak??!" Aurora tersentak kaget, ia coba melepas pelukan Willy tetapi gagal karena pria itu malah menahannya.
"Ih Willy lepas, malu tau ada bapak kamu!" ujar Aurora coba berontak.
"Kamu kenapa sih? Bapak aku perasaan biasa-biasa aja gak marah, ya kan pak?" ucap Willy dengan santai.
"Iya, udah gapapa nak Aurora namanya juga anak muda. Dulu bapak sama ibunya Willy juga begitu kok," ucap pak Gunawan.
Aurora terbelalak mendengarnya.
"Pantas aja anaknya begini," batin Aurora.
Melihat Aurora terdiam, Willy malah dengan santainya mengecup pipi gadis itu di hadapan sang ayah.
Cup!
"Ih Willy!" protes Aurora.
"Abisnya kamu kenapa diem aja? Terpesona ya sama ketampanan aku?" goda Willy yang tak berhenti mengendus leher Aurora.
"Willy, kamu jangan kayak gini di depan bapak kamu! Aku gak enak tau!" bisik Aurora.
"Iya iya, aku bicara sama bapak dulu ya?" ucap Willy kemudian beralih menatap pak Gunawan. Aurora yang mendengar itu dibuat sangat kaget.
"Wil, kamu mau ap—"
"Pak, bapak gak mau kemana gitu pak? Aurora malu katanya kalau ada bapak," ucapan Aurora terpotong oleh perkataan tidak sopan Willy kepada bapaknya sendiri.
Sontak Aurora terkejut karena Willy dengan berani mengusir papanya demi bisa berduaan dengannya disana, sungguh tidak beradab.
"Ya ya ya, ini bapak juga mau ke depan kok. Sudah, kalian ke meja makan aja sana! Sarapannya udah disiapin sama ibu, jadi nak Aurora juga bisa sekalian sarapan!" ucap pak Gunawan.
"Ah eee i-i-iya pak, makasih!" ucap Aurora.
"Yaudah, bapak ke depan dulu ya?" ucap pak Gunawan lalu berlalu pergi.
Willy tersenyum dan kembali menatap gadisnya.
"Sayang, sekarang kan bapak udah ke depan. Jadi, kamu gak perlu malu lagi! Cium aku dong!" ucap Willy dengan manja.
"Hah? Cium? Cium pipi maksud kamu kan?" kaget Aurora.
"Ya bukanlah sayang, cium bibir yang aku mau. Atau enggak, aku yang cium kamu duluan nih," ujar Willy seraya memegang bibirnya.
"Ih gak mau!" tolak Aurora.
"Ohh gitu..." tanpa aba-aba, Willy menarik tengkuk Aurora dan mencium bibirnya cukup lama.
"Mmppphhh mmppphhh!!" Aurora coba berontak tetapi gagal.
Perlahan Willy mulai mendorong tubuh Aurora hingga menempel di tembok, memperdalam ciumannya sambil terus memaksa lidahnya untuk masuk.
Aurora yang tak mampu melawan, akhirnya membuka mulutnya dan memberi akses bagi Willy untuk bermain disana.
Merasa Aurora mulai kehabisan nafas, Willy pun melepas sejenak tautan mereka dan itu langsung dimanfaatkan Aurora untuk mengambil nafas.
"Haaahhh haaahhh.."
******
Sementara itu, pak Gunawan yang bergerak keluar tak sengaja berpapasan dengan Bu Ani dan juga Sasha yang baru saja hendak masuk.
Pak Gunawan pun tersenyum menyapa Sasha dengan ramah serta lambaian tangan, sedangkan gadis itu langsung mencium tangannya.
"Halo Sasha, selamat pagi! Om gak nyangka ternyata ada kamu disini," ucap pak Gunawan.
"Iya om, pagi juga! Aku emang udah datang daritadi kok disini," ucap Sasha.
"Mau ketemu Willy ya pasti? Dia lagi di meja makan tuh, udah duluan tadi sama Aurora. Bu, ajak dong nak Sasha masuk ke dalam!" ujar pak Gunawan.
"Bawel ih bapak! Daritadi ibu juga udah bawa nak Sasha masuk, bahkan itu sarapan yang dimakan bapak juga dibawa sama nak Sasha. Tapi, ini nak Sasha barusan keluar dulu," ucap Bu Ani.
"Oalah gitu toh, yowes silahkan aja ke dalam! Bapak mau ke luar dulu ya Bu?" ucap pak Gunawan.
"Iya pak iya," ucap Bu Ani singkat.
Bu Ani pun mencium tangan pak Gunawan sebagai seorang istri, lalu pak Gunawan bergegas pergi ke luar meninggalkan mereka disana.
"Eee tante, om Gunawan sekarang udah mulai kerja lagi ya?" tanya Sasha.
"Hah? Enggak tuh, dia mah paling cuma mau luntang-lantung di luar. Ibu juga gak tahu sampai kapan dia bisa bertahan kayak gini terus," jawab Bu Ani sambil menggeleng pelan.
"Sabar ya tante, rezeki pasti gak tertukar kok! Aku bakal usaha buat bantu om sama tante supaya om Gunawan bisa dapat kerja!" ucap Sasha.
"Duh, gausah lah nak Sasha nanti malah ngerepotin kamu! Ini kan urusan tante sama om Gunawan, jadi biar kami aja yang selesaikan. Tante gak mau ngerepotin siapa-siapa, termasuk kamu!" ucap Bu Ani menolak tawaran Sasha.
"Gapapa kok Bu, aku bisa minta bantuan papaku buat kasih kerjaan ke om Gunawan. Tante sama om gak perlu ngerasa gak enak gitu sama aku, aku ikhlas kok bantunya," ucap Sasha.
"Oh ya? Kalau gitu terimakasih banyak ya nak Sasha!" ucap Bu Ani.
"Sama-sama tante," ucap Sasha singkat.
"Kamu itu emang baik sekali ya nak Sasha? Kamu selalu bersikap baik sama keluarga tante, Willy beruntung punya teman seperti kamu!" ucap Bu Ani sembari memeluk Sasha.
"Ah tante terlalu berlebihan, padahal mah aku biasa aja kok. Aku cuma mau saling bantu aja sama keluarga Willy, dia itu kan sahabat dekat aku. Aku juga udah anggap tante dan om Gunawan seperti orang tua aku sendiri," ucap Sasha.
"Sekali lagi terimakasih ya nak Sasha! Yaudah, yuk masuk!" ujar Bu Ani.
"Iya tante," singkatnya.
******
"Betul tuh, si Willy udah jarang banget kumpul sama kita! Ya mungkin dia lagi dimabuk cinta, wajar sih ceweknya cakep banget udah kayak bidadari khayangan," sahut Leo.
"Hahaha, masa sih? Gue jadi penasaran sama ceweknya si Willy yang sekarang," ujar Chalvin.
"Tunggu aja bro, dia kadang suka kesini bareng ceweknya. Ya tapi gue juga gak tahu kapan sih," ucap Zafran.
"Okelah!" ucap Chalvin singkat.
"Eh ya, ini perasaan gue doang atau emang geng the darks makin sepi? Si Randi, Thoriq sama Farrel pada kemana dah?" tanya Chalvin heran.
"Eee Thoriq sama Farrel udah keluar dari the darks bro," jawab Zafran.
"Hah? Kenapa??" Chalvin terkejut bukan main.
"Waktu itu geng the darks diincar sama orang-orang bayaran, mereka hajar satu persatu anggota kita, termasuk Thoriq dan Farrel. Sejak itu, orang tua mereka gak setuju kalau mereka balik lagi kesini," jelas Zafran.
"Apa??!" kaget Chalvin.
"Iya bro, makanya sekarang kita kehilangan anggota. Dan sampai saat ini, kita belum temuin pengganti mereka," ucap Zafran.
"Duh, berat juga ya?" ujar Chalvin.
"Ya begitulah bro, makanya sekarang kekuatan the darks itu rada berkurang. Kita aja gak bisa hadapin geng black jack tanpa Willy, kita selalu babak belur tiap mereka datangi kita," ucap Zafran.
"Hah? Black jack? Geng mana lagi itu? Geng baru?" tanya Chalvin amat kaget.
"Itu geng black punyanya si Ilham, mereka bikin geng baru yang lebih besar dan kuat. Sekarang mereka juga masih jadi musuh kita," jelas Zafran.
"Betul Vin, makanya kita lagi berusaha buat cari anggota baru di geng the darks. Supaya kita bisa mengimbangi kekuatan black jack, apalagi sekarang mereka juga dibacking sama Martin si mafia besar itu," ucap Leo.
"Berarti mereka kuat-kuat juga dong?" tanya Chalvin.
"Iya, itu karena pengaruh Martin. Kenapa Vin? Lo pengen coba lawan mereka?" ujar Leo.
"Eee gue..."
"Kalau iya lu mau, mending lu gabung aja deh sama kita lagi kayak dulu!" potong Leo.
"Nah betul tuh, gue setuju sama ucapan Leo! Lo balik aja ke the darks ya!" sahut Zafran.
"Justru emang itu yang mau gue sampein ke kalian, gue pengen balik kesini dan gabung sama kalian lagi," ucap Chalvin.
"Hah serius lo Vin?? Beneran lo mau gabung the darks lagi?" tanya Zafran yang langsung terkejut.
"Iya Zaf, makanya gue mau cari Willy karena gue pengen bicarain soal ini. Ya siapa tau aja gue bisa diterima lagi di geng the darks," jawab Chalvin.
Semua disana kompak terkejut bukan main.
******
"Sayang, ini gak ada sinyal di hp aku. Gimana caranya kita minta bantuan coba?" jawab Mia.
"Waduh, sial banget dong kita! Kenapa mesti gak ada sinyal sih?" ujar Thoriq.
"Ya mana aku tahu! Mungkin karena kita lagi ada di hutan kayak gini, jadi susah sinyal. Coba aja kamu cek hp kamu barangkali ada!" ujar Mia.
"Aku gak bawa handphone sayang, tadi hp nya aku tinggal di tempat kuda. Aku pikir lebih baik aku gak bawa hp, supaya fokus sama kamu. Eh ternyata malah kayak gini," ucap Thoriq.
"Yah terus gimana dong sayang?" tanya Mia.
"Kita turun dulu yuk sayang! Supaya kudanya juga bisa istirahat," jawab Thoriq.
Mia mengangguk setuju, lalu mereka pun turun dari kuda dan duduk bersandar di bawah pohon besar setelah mengikat kuda itu.
"Sabar ya sayang!" ucap Thoriq lirih.
"Aku sabar kok sayang, tapi aku gak mau kita terus terjebak disini sampai malam. Kita harus cepat-cepat keluar, sebelum hari mulai gelap!" ucap Mia dengan sangat panik.
"Iya iya, aku bakal pikirin cara supaya kita bisa keluar disini. Sekarang kamu tenang dulu, jangan panik ya sayang!" ucap Thoriq.
Mia mengangguk lesu, membenamkan wajahnya di bahu sang kekasih. Thoriq tersenyum merasakan wajah Mia di bahunya, ia pun mengusap wajah Mia dengan lembut dan sesekali mengecupnya.
Cup!
"Kamu tenang ya cantikku! Aku disini bakal jagain kamu, kita berdua juga pasti bisa kok keluar dari hutan ini!" ucap Thoriq.
"Iya sayang, aku percaya kamu!" ucap Mia.
"WOI!!!"
Mereka dikejutkan dengan suara teriakan yang datang secara tiba-tiba.
"Ngapain lo berdua disini? Mau mesum ya?!" tegur pria tersebut.
"Hah??" Thoriq dan Mia reflek berdiri.
"Siapa kalian? Ngapain berduaan di hutan kayak gini? Kalau mau mesum itu di hotel, yang modal dikit lah bro!" tegur si pria.
"Ki-kita gak mesum kok bang, kita kesasar. Tadi kita lagi naik kuda ini, terus gak sengaja sampai ke hutan ini. Untung kami ketemu sama abang, bisa kan kami minta bantuan?" jelas Thoriq.
"Kesasar? Jadi, kalian sewa kuda terus kesasar sampe sini?" tanya si pria.
"I-i-iya bang, emangnya kenapa?" Thoriq merasa heran dan curiga.
"Bohong! Alasan macam apa kayak gitu? Tempat kuda aja gak ada di dekat sini, jangan ngarang deh kalian!" tegur si pria.
"Ya mending kalian ngaku aja kalau mau berbuat mesum!" sahut pria yang lain.
"Apa sih bang? Mana ada kita mesum disini? Kalaupun iya, kenapa kita begituan siang-siang coba kan bisa malam biar enak?!" sangkal Thoriq.
"Iya juga ya.."
******
"Hey hentikan!!" teriaknya.
Sontak mereka menghentikan pertarungan itu, wajah Max sudah berdarah sedikit akibat pukulan dari orang-orang itu.
"Bang, tolongin gue bang! Mereka gak jelas banget tiba-tiba serang gue, padahal gue gak kenal dan gak ngerasa punya urusan sama mereka. Ketemu juga baru kali ini," ucap Max ngos-ngosan.
"Heh! Lo gausah ikut campur, ini masalah kita sama tuh orang!" bentak si ketua geng.
"Masalah apaan? Gue aja gak kenal sama kalian, jangan ngarang deh!" elak Max.
"Bener-bener lu ya, udah bawa kabur uang kita terus sekarang pura-pura gak kenal segala!" geram si ketua geng.
"Hah??!" Max terkejut bukan main, dia benar-benar bingung setelah dituduh seperti itu.
"Bawa kabur uang kalian? Apa benar begitu Max?" tanya Martin menatap ke arah Max.
Max terdiam, dia tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Itu tidak benar Martin, gue gak pernah bawa kabur uang mereka! Gue aja baru kali ini ketemu sama mereka, gimana bisa gue ambil uang mereka?!" elak Max.
Martin sama sekali tidak menemukan kebohongan dari sorot mata Max, dia bisa tahu kalau lelaki itu sedang jujur.
"Ah maling mana ada yang mau ngaku! Sekarang lo serahin duit itu, atau kita bakalan hajar lo berdua sampai masuk rumah sakit!" teriak si ketua geng mengancam Max.
"Bang Martin, gimana ini bang??" tanya Max panik.
"Kita hadapi mereka bersama, lo gak boleh jadi laki-laki pengecut!" sentak Martin.
"Ta-tapi bang.."
"Maju Max!" potong Martin.
Mau tidak mau, Max pun terpaksa ikut menyerang geng motor tersebut bersama Martin.
Kiara yang masih di dalam mobil, merasa bingung dan cemas melihat Martin serta Max berkelahi dengan geng motor itu. Ia khawatir jika salah satu diantara mereka akan terluka.
"Duh, aku harus gimana ya buat bubarin mereka? Apa aku telpon polisi aja?" gumam Kiara.
"Iya non, ada baiknya kita hubungi polisi non. Supaya tuan Martin juga bisa selamat," sahut sang supir.
"Eee i-i-iya deh pak, tapi bapak turun dong bantu tuan Martin lawan orang-orang itu!" ujar Kiara.
"Waduh! Saya bukan gak mau bantu tuan Martin non, kalau saya turun nanti non Kiara gimana?" ucap supir itu.
"Halah alasan aja kamu! Yaudah, saya mau telpon polisi dulu?" ucap Kiara.
"Siap non!" ucap si supir.
Kiara pun mulai menghubungi polisi.
Sementara itu, Martin terlihat mulai kehabisan tenaga karena harus melawan cukup banyak orang sekaligus disana.
Tak hanya Martin, bahkan Max pun sudah menjadi bulan-bulanan geng motor itu dan hampir pingsan karena tak mampu melawan lagi.
Bughh
Bughh
"Aakhhh ampun! Tolong hentikan gue gak kuat!" ucap Max memohon ampun pada mereka sambil terus menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Orang-orang itu akhirnya berhenti memukuli Max, lalu salah satu dari mereka menarik tubuh Max untuk berdiri menghadapnya.
"Heh! Lo gak mau mati di tangan kita kan?" ujarnya.
Max menggeleng dengan tubuh gemetar.
Bersambung....