
My love is sillie
Episode 88
•
"Eee gue boleh temuin Aurora dulu gak?" tanya Willy saat ia melihat Aurora.
"Hah? Oalah, ya silahkan aja Wil! Kalo lu mau ajak dia buat ikut sama kita juga gapapa, yang penting lu bisa jadi pemimpin kita." jawab Akram.
"Oke! Gue kesana dulu ya samperin dia, kalian tunggu aja disini!" ucap Willy.
"Siap Wil!" ucap mereka menurut.
Willy pun melangkah ke dekat Aurora, mencolek tengkuk gadis itu hingga membuat Aurora sedikit terkejut dan menoleh ke arahnya.
"Hai cantik!" ucap Willy sambil tersenyum.
"Ih kamu, aku pikir siapa tadi. Kamu ngapain kesini Wil? Emangnya kamu udah gak dihukum lagi?" tanya Aurora kebingungan.
"Yeh makanya kamu update dong info tentang pacar kamu, biar gak ketinggalan. Masa hukuman aku kan udah berakhir, jadi aku bisa sekolah lagi sekarang." jawab Willy.
"Oh ya? Wah bagus deh, selamat ya Wil!" ucap Aurora.
"Aku mau tanya satu hal deh sama kamu," ucap Willy seraya mendekatkan tubuh ke arah Aurora.
"Hah? Apa tuh?" ucap Aurora penasaran.
"Tadi kamu diantar Martin kan? Kenapa kamu gak mau berangkat bareng aku?" tanya Willy.
Deg!
Aurora terkejut mendengar pertanyaan dari Willy, ia langsung memalingkan wajahnya sekaligus berpikir keras untuk menjawabnya.
"Kenapa diam? Kamu gak bisa jawab pertanyaan aku barusan? Yaudah, gak perlu dijawab. Sekarang aku mau pergi dulu, sampai ketemu lagi nanti!" ucap Willy kesal.
"Eee kamu mau kemana Wil? Aku ikut ya!" ucap Aurora.
"Gausah," ucap Willy ketus.
Willy langsung pergi meninggalkan Aurora dan kembali menghampiri Akram serta yang lainnya.
Aurora berusaha menahan Willy, tapi pria itu malah sudah pergi lebih dulu.
"Ih Willy kenapa ya?" ujar Aurora.
"Ya ampun Aurora! Lu masa gak paham sih sama sikap Willy barusan? Dia itu marah sama lu, karena lu gak mau dianterin dia tadi." ucap Cindy.
"Iya tuh, lagian lu kenapa sih gak mau diantar sama Willy?" sahut Elsa.
"Duh, gue bukannya gak mau, tapi gue takut Willy malah ribut sama sepupu gue, kak Martin." jawab Aurora.
"Oh gitu, yaudah lu jelasin aja lah ke Willy sana! Takutnya dia makin marah sama lu, jadi mending lu jelasin sekarang deh!" ucap Elsa.
"Mau jelasin gimana? Willy aja udah pergi sama tuh orang-orang gak tahu kemana," ujar Aurora.
"Yaudah, lu susulin aja sih!" usul Cindy.
"Gak ah! Biarin aja nanti gue bicara sama dia pas di kelas, dia kan pasti bakal balik ke kelas juga." ucap Aurora.
"Oh yaudah, terserah lu!" ujar Cindy.
"Iya, yuk kita ke kelas sekarang!" ucap Aurora.
"Oke!" ucap Cindy singkat.
Ketiga gadis itu pun pergi menuju kelas mereka, namun Aurora masih merasa khawatir pada Willy yang sedang marah dengannya.
***
Sementara itu, Akram dan yang lainnya tampak bingung lantaran Willy tidak jadi mengajak Aurora untuk ikut bersama mereka.
Saat ini mereka sudah berjalan bersama menuju lokasi markas rahasia yang akan ditunjukkan oleh Akram kepada Willy.
"Eh Wil, lu kenapa gak jadi ajak Aurora? Padahal mah gapapa kali, lu ajak aja dia!" tanya Akram.
"Iya Wil, kan kasihan tuh tadi cewek lu cemberut gitu mukanya." sahut Faldi.
"Gapapa, gue gak mau aja bawa-bawa dia. Abisnya dia tuh ribet plus ngeselin juga, jadi mending gue gak ajak dia. Lagian nanti kan gue masih bisa ketemu sama dia di kelas," ucap Willy.
"Oh iya ya, enak ya yang punya pacar sekelas? Bisa pacaran di dalam kelas deh," ujar Akram.
"Ya begitulah.." ucap Willy sambil tersenyum.
"Ah boong kan lu Wil! Bilang aja kalo lu gak mau bikin gue cemburu, ya kan? Makanya lu gak ajak Aurora buat ikut sama kita," celetuk Keisya.
"Bicara apa sih lu? Gausah ngada-ngada deh!" ucap Willy ketus.
"Hehe.."
Akram dan yang lainnya geleng-geleng saja dengan kelakuan wanita tersebut ketika bersama Willy.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka semua tiba di markas rahasia sekolah.
"Nah, kita sampai. Wil, ini dia nih markas rahasia kita. Disini kita bisa bebas ngapain aja, tanpa takut ketahuan sama guru atau kepala sekolah." ucap Akram.
"Oh ya? Emangnya para guru gak pernah pada kesini buat ngecek gitu?" tanya Willy.
"Tenang aja! Mau lu ngerokok, main jadi, atau jual narkoba sekalipun, gak bakal ketahuan kok sama guru disini." jawab Akram.
"Buset! Gila bener lu semua!" ujar Willy terkejut.
"Hahaha, enggak lah bro.. mana berani juga kita jualan narkoba? Kita biasanya cuma ngobrol-ngobrol sambil ngerokok atau main kartu, ya pokoknya lakuin hal yang asik lah. Gak cuma kita para cowok-cowok, yang cewek juga banyak kok disini." jelas Akram.
"Nah betul tuh! Makanya lu mau ya jadi ketua kita? Pasti kita bakalan seneng banget!" ucap Keisya.
Willy langsung menyingkirkan tangan Keisya yang ada di pundaknya.
"Oke, gue mau! Tapi, tolong ya jangan sembarang sentuh gue!" ucap Willy.
"Eee.." Keisya pun tampak ketakutan.
"Hahaha, dengerin tuh Kei! Lagian lu kok gatel banget sih jadi cewek, lama-lama gue garuk lu!" ujar Rezham.
"Idih apaan sih lu?!" ucap Keisya.
"Heh udah udah! Gue punya usul nih buat rayain Willy sebagai ketua baru kita, gimana kalau malam Minggu nanti kita party di rumah gue? Pada setuju gak?" ucap Akram memberi usul.
"Wah mantap tuh! Gue pasti setuju sih kalau mau diadain pesta!" ucap Rezham.
"Sama, gue juga setuju!" sahut Fadil.
"Gue apa lagi, sebagai perwakilan pihak wanita, gue setuju sama usul lu Akram!" ucap Keisya.
"Bagus bagus! Kalo gitu kalian semua pada datang ya nanti malam! Terutama lu Wil, kan lu ketua kita. Nanti disana kita pasti bakal adain pesta yang meriah dan wah!" ujar Akram.
"Oke! Gue sih ngikut aja, asalkan lu kasih tau dimana alamat rumah lu. Selama ini kan gue belum pernah datang ke rumah lu, jadi gue gak tahu rumah lu dimana." ucap Willy.
"Santai aja Wil!" ucap Akram.
******
Willy masuk ke kelasnya, duduk di tempatnya seperti biasa dan meletakkan tasnya di atas lantai tanpa berbicara sepatah katapun.
Aurora yang sedang bersama kedua sahabatnya, langsung tersenyum lebar melihat Willy telah tiba disana.
Aurora pun berinisiatif mendekati Willy untuk membujuk pria itu agar tidak terus marah padanya lagi.
"Guys, gue samperin Willy dulu ya?" ucap Aurora.
"Ah iya iya, udah lu samperin aja sana! Bujuk dia supaya gak marah lagi!" ucap Cindy.
"Oke, doain ya!" ucap Aurora.
Cindy dan Elsa mengangguk secara bersamaan, lalu Aurora pun bergerak menghampiri Willy yang tengah melamun di tempat duduknya.
"Umm, Willy?" ucap Aurora pelan.
Willy terkejut saat Aurora ada di dekatnya, ia menoleh sekilas kemudian kembali membuang muka tanpa bicara.
"Jangan ganggu aku! Udah, kamu duduk aja di tempat kamu! Jangan berdiri terus!" ucap Willy.
"Aku gak mau duduk, sebelum kamu maafin aku dan mau bicara sama aku." ucap Aurora.
"Nanti aja kita bicaranya pas istirahat, bentar lagi guru bakal datang tuh." ucap Willy.
"Ya biarin aja, pokoknya aku mau tetap disini. Aku gak mau kamu marah terus sama aku!" ucap Aurora.
Willy bangkit dari duduknya, menatap Aurora tajam dengan mulut tertutup rapat.
Aurora justru tersenyum memandangi wajah tampan kekasihnya itu.
"Apa? Kamu mau maafin aku ya?" ujar Aurora.
Willy mencengkeram lengan Aurora dan menariknya ke tempat duduk gadis itu.
Willy juga mendudukkan Aurora secara paksa di kursinya hingga Aurora tak bisa melawan.
"Kamu duduk aja!" tegas Willy.
"Ya ampun! Kamu kok galak banget sih? Tapi, kamu lucu deh kalo lagi marah-marah kayak gini. Bikin tambah gemes!" goda Aurora.
"Cukup ya! Kamu jangan genit!" ujar Willy.
"Cuma sama kamu kok, kalau sama cowok lain mah aku gak gini tau." ucap Aurora sambil membenamkan wajahnya di lengan sang kekasih.
"Yaudah, lepasin tangan aku! Nanti kita bicara berdua pas istirahat, ngerti kan?!" ujar Willy.
"Iya iya, aku ngerti kok. Eh, tapi kamu gak mau duduk di samping aku nih? Mumpung Clara lagi gak masuk, biasanya kamu kan suka maksa buat duduk sama aku." ucap Aurora.
"Gak! Kasihan lah Zabnu kalo aku tinggal sendiri, nanti dia gak ada teman ngobrol." ucap Willy.
Willy langsung kembali ke tempat duduknya setelah menyingkirkan tangan Aurora serta wajah gadis itu.
Aurora berbalik dan terus menatap Willy dengan wajah herannya, ia benar-benar tak mengira Willy bisa semarah itu padanya.
"Ih kok Willy gitu banget sih?" batin Aurora.
Tiba-tiba saja seorang pria menghampirinya dan duduk di sebelahnya sambil tersenyum renyah.
"Halo Aurora! Gue duduk disini ya?" ujarnya.
"Hah?!" Aurora kaget bukan main melihatnya.
"Apaan sih? Ngapain lu disini?" ujar Aurora.
"Ya daripada lu sendirian kan? Mendingan gue yang duduk disini, kasihan lah cewek secantik lu duduk sendirian!" ucap pria bernama Ardan itu.
"Jangan ngada-ngada deh lu! Udah ah sana pergi, jangan kesini!" ucap Aurora.
"Gue gak mau, gue pengen disini!" ucap Ardan malah menidurkan wajahnya di atas meja itu.
"Ih Ardan! Lu bener-bener ya!" geram Aurora.
Willy yang menyaksikan itu sebenarnya merasa kesal dan ingin sekali mengusir Ardan dari sana, namun entah kenapa ia tak melakukan itu saat ini.
"Eh Wil, itu cewek lu digodain sama si Ardan. Lu gak marah apa?" ujar Zabnu.
"Ngapain? Biarin aja kali, kecuali kalau Aurora tergoda, baru gue marah." ucap Willy.
"Ohh," ucap Zabnu seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Sialan emang tuh si Ardan!" batin Willy.
******
Singkat cerita, Willy dan Aurora sudah berada di rooftop sekolah seperti yang sebelumnya Willy janjikan pada Aurora.
Aurora pun tampak bingung dan terus menunduk, ia penasaran apa yang akan dikatakan oleh Willy saat ini.
"Sayang, kamu mau bicara apa sama aku? Soal tadi pagi lagi?" tanya Aurora penasaran.
Willy menoleh ke arah Aurora dengan tatapan dingin, membuat gadis itu sedikit menjauh karena takut dengannya.
"Gausah takut! Sini deketan!" ujar Willy.
"Eee aku.." ucapan Aurora terpotong lantaran Willy langsung menariknya dan mendekapnya begitu saja.
"Eh eh, kamu mau ngapain Wil? Tolong jangan sakitin aku ya! Aku minta maaf deh sama kamu!" ucap Aurora ketakutan.
"Gak ada yang mau sakitin kamu, aku ini sayang sama kamu. Justru aku pengen jagain kamu supaya kamu gak kenapa-napa, eh tapi kamu malah kayak gitu ke aku." ujar Willy.
"Sayang, aku minta maaf ya! Tadi tuh kak Martin maksa mau antar aku ke sekolah bareng sama Kiara, jadi aku gak mungkin bisa tolak tawaran dia." ucap Aurora.
"It's okay, gapapa kok. Tapi tetap aja, nanti siang kamu harus ikut aku ke hotel!" ucap Willy.
"Hah? Mau ngapain ke hotel?" tanya Aurora.
"Aku pengen miliki kamu seutuhnya, jadi aku bisa tenang dan yakin kalau kamu gak akan berpaling ke lain hati." jawab Willy.
"Ma-maksud kamu?" tanya Aurora penasaran.
"Nanti juga kamu tau, aku bakal jelasin sekalian praktek." jawab Willy.
"Ta-tapi Wil.."
"Tadi gimana perasaannya duduk berdua sama Ardan?" potong Willy.
"Kamu bicara apa sih? Perasaannya ya biasa ajalah, malah aku was-was takut kamu cemburu. Lagian kamu kenapa gak mau duduk di sebelah aku sih tadi? Terus, kamu juga kenapa gak usir si Ardan dari sana?" ucap Aurora.
"Buat apa? Aku mah gak ngelarang kamu buat dekat atau digodain sama cowok, asalkan kamu gak tergoda aja sama mereka." ucap Willy.
"Ya pasti enggak lah! Kan cuma kamu yang bisa bikin aku tergoda," ucap Aurora tersenyum.
"Hilih gausah gombal deh kamu! Siapa sih yang ajarin kamu gombal kayak gitu?" ujar Willy sembari mencolek hidung gadisnya.
"Siapa lagi kalau bukan kamu?" ucap Aurora.
"Hahaha... eh ya, malam Minggu aku diajak pesta sama teman-teman sekolah. Kamu bisa kan ikut sama aku buat jadi pendamping disana?" ucap Willy sembari merengkuh pinggang Aurora.
"Of course, aku emang harus ikut dan temenin kamu! Supaya kamu gak digodain cewek-cewek kegatelan disana!" ujar Aurora.
"Bagus!" ucap Willy singkat.
***
Setelah jam pulang sekolah tiba, Willy langsung saja membawa Aurora menuju hotel.
Sesampainya di hotel, dengan cepat Willy pun membawa masuk Aurora ke kamar yang sudah ia sewa sebenarnya.
Aurora hanya bisa pasrah saat ia melihat Willy mengunci pintu kamar dengan rapat.
Willy kembali mendekati Aurora sambil tersenyum smirk, ia belai rambut serta wajah gadis itu dan melepas jepit rambut yang dikenakannya.
"Kamu cantik baby!" ucap Willy.
"Wil, ini gak bener. Kamu gak seharusnya punya niat buat lakuin ini sama aku! Kalau sampai papa dan kak Martin tau, mereka bakal makin benci sama kamu sayang!" ucap Aurora.
"Maka dari itu, kamu harus diam dan gak boleh bilang sama mereka!" ucap Willy.
"Tapi Wil—aaaaaa..." ucapan Aurora terpotong karena tiba-tiba Willy mendorong tubuhnya hingga terjatuh ke atas ranjang.
"Akh! Kamu apa-apaan?" protes Aurora.
"Gausah banyak bicara! Hari ini kamu akan resmi sepenuhnya jadi milik aku sayang," ucap Willy.
Willy melepas jaketnya, melempar ke sembarang arah, lalu ikut naik ke atas ranjang dan menindih tubuh Aurora.
Willy langsung mencengkeram kedua telapak tangan Aurora dan mengikatkan di atas kepala gadis itu menggunakan dasi sekolah miliknya.
"Eenngghh lepasin aku!" ujar Aurora berontak.
"Gak akan sayang!" ucap Willy tegas.
Bersambung....