My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 103. Geng thunder



My love is sillie


Episode 103



"Terus, ini tangan kamu kenapa? Kamu kan udah janji mau ceritain semuanya setelah aku ceritain kenapa aku bisa ketemu Tedy," tanya Aurora.


"Iya iya, ini tuh tadi karena aku berantem sama Martin. Tapi bukan berarti aku kalah loh, aku sebenarnya bisa menang lawan dia, cuma masalahnya aku udah kehabisan tenaga karena aku sempat lawan anak buahnya dulu." jelas Willy.


"Huh iya aku tahu kamu gak mungkin kalah, kamu kan jagoan! Tapi, tangan kamu bisa patah gini berarti parah banget loh! Kenapa kamu gak pulang? Kok malah berantem?" ujar Aurora cemas.


"Aku kesel aja sama Martin, soalnya dia udah serang markas kita semalam." jawab Willy.


"Ish, tapi kenapa kamu gak bilang dulu sama aku? Kamu malah bilangnya pengen pulang, dasar pembohong!" ujar Aurora.


"Maaf ya sayang! Aku gak bilang karena takut kamu gak izinin," ucap Willy.


"Huft nyebelin!" cibir Aurora.


"Jangan cemberut dong sayang! Ini sekarang aku mau pulang, kamu temenin aku ya!" bujuk Willy.


Aurora mengangguk setuju.


"Yaudah aku anterin, tapi kamu harus nurut sama aku ya!" ucap Aurora.


"Iya cantik, pasti aku nurut sama kamu!" ujar Willy.


"Okay! Yaudah, yuk aku bantu kamu ke mobil!" ucap Aurora memegang tangan Willy.


"Makasih ya cantikku!" ucap Willy seraya mengelus wajah kekasihnya.


"Guys, gue pamit ya? Ingat loh pesan gue yang tadi!" ucap Willy pada teman-temannya.


"Siap Wil, hati-hati!" ucap mereka serentak.


Willy dan Aurora pun melangkah menuju mobil, sang supir wanita itu sudah membuka pintu sehingga mereka dapat masuk dengan mudah.


Kini mereka sudah berada di tengah jalan menuju rumah Willy, tampak Aurora masih terus memegangi lengan Willy dengan wajah cemas.


"Kamu gausah cemas terus sayang! Aku baik-baik aja kok!" ucap Willy.


"Iya, tapi tetep aja aku khawatir kamu kenapa-napa!" ucap Aurora.


Cup!


Willy tersenyum dan mengecup pipi Aurora dengan lembut.


"Makasih ya udah perduli sama aku!" ucap Willy.


"Kamu kan pacar aku, wajarlah kalau aku perduli dan perhatian sama kamu." ucap Aurora.


"Duh, emang kamu itu pacar yang the best deh!" ucap Willy.


Willy langsung memeluk tubuh Aurora dan mengecup wajahnya berkali-kali.


Ciiitttt...


Tiba-tiba saja sang supir menginjak rem dan membuat sepasang kekasih itu terkejut.


"Duh pak, gimana sih?!" tegur Aurora.


"Ma-maaf non! Itu tadi ada yang nyalip mobil kita, sekarang mereka malah berhenti tuh di depan." jawab supir itu panik.


"Apa??" Aurora terkejut dan langsung melihat ke depan, matanya terbelalak ketika mengetahui ada cukup banyak pemotor berhenti disana.


Willy yang masih bingung, ikut menatap ke depan karena penasaran.


"Waduh! Mereka siapa ya? Mau apa coba mereka cegat kita kayak gini?" ujar Willy.


"Aku juga gak tahu, jangan-jangan mereka begal dan mau ngerampok kita!" ucap Aurora panik.


"Tenang ya, kamu gausah takut! Aku kan ada disini, aku bakal lindungin kamu!" ucap Willy coba menenangkan kekasihnya.


"Aku telpon polisi ya?" ucap Aurora.


"Boleh, telpon aja!" ucap Willy.


"Oke!" Aurora pun mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi polisi.


"Non gawat non! Mereka mendekat!" ujar sang supir.


"Hah??" Aurora amat terkejut dan takut.


"Kalian tenang ya! Aku bakal turun keluar dan coba bicara sama mereka, supaya bisa mengulur waktu sampai polisi datang." ucap Willy.


"Tapi Wil, kamu kan lagi sakit. Aku gak mau kamu semakin terluka kalau kamu turun sekarang!" ucap Aurora menahan Willy.


"Tenang sayang! Aku gak akan kenapa-napa, kamu bisa pegang kata-kata aku!" ucap Willy berusaha meyakinkan kekasihnya.


"Ta-tapi..."


"Hey, trust me!" potong Willy.


Akhirnya Aurora mengangguk dan memberi izin Willy untuk keluar dari mobil.


Tentu saja pria itu langsung turun dan mendekati gerombolan orang di depan sana.


"Kalian semua mau apa?" tanyanya.


******


Sementara itu, seluruh anggota the darks tampak menyidang Tedy yang masih kekeuh ingin mendekati Ayna.


Mereka semua tidak mau jika terjadi sesuatu pada Tedy nantinya, apalagi Ayna adalah adik kesayangan dari Geri.


"Ted, lu dengerin kita lah Ted! Gue ngerti lu cinta sama Ayna, tapi kalau lu kenapa-napa gimana? Gue ngeri aja misal nanti Geri hajar lu gara-gara lu deketin adiknya," ucap Arif.


"Iya Ted, ini semua demi kebaikan lu! Tolonglah lu dengerin kita kali ini!" bujuk Randi.


"Guys, gue kan udah bilang dari kemarin-kemarin, gue bakal baik-baik aja kok dan si Geri itu gak mungkin bisa apa-apain gue! Kalian semua tenang aja lah, gausah cemas gitu!" ucap Tedy.


"Ya ampun Ted, susah amat sih kasih tau lu! Geri sendirian emang mungkin gak bakal bisa lukain lu, tapi kalau dia bawa teman-temannya di black jack gimana? Lu bisa dikeroyok bro sama mereka, babak belur lu nanti!" ujar Zafran.


"Iya tuh, belum lagi kalau si Geri minta bantuan Martin. Lu bukan cuma babak belur, tapi mungkin aja bisa masuk liang lahat." sahut Leo.


"Ah terlalu lebay kalian! Udahlah gausah ikut campur urusan gue! Gue gak bakal jauhin Ayna, karena dia yang udah berhasil bikin gue klepek-klepek kayak gini!" ucap Tedy.


Semua disana kompak menggelengkan kepala mendengar ucapan Tedy, mereka tak mengerti lagi bagaimana caranya untuk menyadarkan Tedy.


"Terserah lu aja deh, tapi kalau terjadi sesuatu sama lu, kita semua gak mau ikut campur ya!" ucap Arif kesal.


"Santai aja!" jawab Tedy.


"Yaudah, sekarang kita bahas lagi soal geng thunder yang baru keluar dari penjara itu. Kita harus bisa temuin markas mereka duluan, sebelum mereka berhasil hajar kita!" ucap Randi.


"Nah iya tuh, daripada ngurusin si Tedy yang bandel mending kita bahas soal geng thunder! Soalnya mereka ini bahaya banget buat kita, kalau kita gak waspada pasti bakal mampus!" sahut Zafran.


"Betul! Apalagi sekarang kondisinya Willy lagi sakit dan dia pasti bakal jarang kumpul disini, jadi kita harus bisa cari siasat lain tanpa Willy!" ucap Randi.


"Ya, gue setuju sama lu Ran! Kita juga gak bisa bergantung sama Willy terus, kasihan si Willy udah belain kita sampai tangannya patah gitu!" ucap Jeki.


"Maka dari itu, kita harus coba pikirin sendiri caranya sekarang!" ucap Randi.


"Bentar bentar, ini kalian pada bahas apa sih? Geng thunder siapa?" tanya Tedy kebingungan.


"Ah lu sih kebanyakan main sama si Ayna! Makanya sering-sering kumpul disini, jangan ke rumah Ayna terus!" ujar Arif.


"Bawel lu Rif! Suka-suka gue lah!" ucap Tedy.


"Udah udah, gausah ribut! Geng thunder itu musuh bebuyutan kita dari dulu, sebelum mereka masuk penjara gara-gara Willy. Sekarang mereka udah bebas, dan mereka katanya mau balas dendam sama kita semua." jelas Randi.


"Waduh gawat dong!" ucap Tedy spontan.


"Iya, ini emang gawat banget. Makanya sekarang gue minta sama lu Ted buat gak pergi sendirian, apalagi cuma pergi ke rumah Ayna!" ucap Randi.


"Hadeh, itu lagi itu lagi yang dibahas!" geram Tedy.


Tedy pun memilih mengiyakan saja perkataan Randi karena tak mau ada perdebatan lagi disana.


******


Disisi lain, Thoriq menghampiri kekasihnya yang sedang duduk sendirian di meja rias dengan hanya mengenakan bathrobe berwarna merah muda.


"Hah? Thoriq? Kamu ngapain sih??" ujar Mia menoleh ke belakang.


"Aku minta maaf ya cantik! Harusnya tadi aku gak maksa kamu buat ngelakuin itu, aku benar-benar gak bisa tahan karena udah diujung banget!" ucap Thoriq sembari terus mengecup tengkuk Mia.


"Kamu gak perlu minta maaf, semuanya juga udah terjadi." ucap Mia.


"Beneran nih kamu gapapa?" tanya Thoriq.


Mia mengangguk tanda iya.


Thoriq melepas pelukannya, lalu menarik tubuh Mia sehingga kini wanita itu berada di pangkuannya.


"Kamu wangi banget sih!" puji Thoriq.


"Ahh stop Thoriq! Jangan buat tanda banyak-banyak disitu!" pinta Mia.


"Tenang aja! Kamu kan bisa pake syal buat tutupin semua ini sayang," ucap Thoriq.


"Iya sih, tapi..."


"Akh!" ucapan Mia berganti dengan erangan kecil akibat remasan Thoriq di dadanya.


"Punya kamu ini kenyal sekali sayang, jadi pengen nen lagi." goda Thoriq.


"Kamu nakal ya sayang! Jangan nen mulu, nanti kamu balik lagi jadi bayi loh!" ujar Mia.


"Ya gapapa, aku malah seneng jadi bayi, supaya aku bisa nen sama kamu tiap malam!" ujar Thoriq.


"Ngaco aja ih kamu, udah ah mending kamu pake baju sana! Jangan telanjang dada kayak gini, aku gak kuat lihat roti sobek kamu!" ucap Mia.


"Ohh, mau sentuh? Atau mau cium?" ucap Thoriq sengaja menggoda kekasihnya itu.


"Emangnya kamu gak bakal marah atau tegang lagi nantinya?" tanya Mia.


"Kalau itu sih iya, tapi gak perlu khawatir kan bisa dikeluarin lagi sama tangan dan mulut kamu!" jawab Thoriq sambil nyengir.


"Ish, yang tadi aja aku kapok gara-gara kamu maksa masukin itu ke mulut aku!" ucap Mia.


"Hahaha, iya enggak lagi kok. Sekarang kamu pegang aja nih perut aku, sambil gesekin pinggul kamu ke punya aku!" ucap Thoriq menuntun tangan Mia ke arah perutnya.


"Uhh ohh.." Thoriq melenguh nikmat saat Mia melakukan apa yang dimintanya tadi.


Sementara Mia menatap tak mengerti ke arah Thoriq yang sedang mendongakkan wajahnya sambil memejamkan mata.


"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Mia heran.


"Hah? Udah kamu gausah banyak tanya, lakuin aja terus yang tadi!" ujar Thoriq.


"Ih kamu kok galak gitu sih sama aku? Aku gak mau lagi nih lakuin itu," ancam Mia.


"Eh eh eh, iya iya aku minta maaf! Jangan ngambek gitu dong sayangku, cintaku!" bujuk Thoriq.


"Huh dasar otak mesum!" cibir Mia.


"Gapapa dong, yang penting mesumnya cuma sama kamu aja." goda Thoriq.


"Yaudah, tapi kapan kamu mau antar aku pulang? Kita udah cukup lama loh disini, aku takut orang tua aku nyariin nantinya!" ujar Mia.


"Sebentar lagi ya sayang, tunggu aku keluar lagi! Kamu juga mau aku bikin keluar?" ujar Thoriq.


"Hah? Keluar apa?" tanya Mia terkejut hebat.


Thoriq tersenyum licik, kemudian melepas ikatan mantel yang dikenakan Mia sehingga terpampang lah tubuh mulus sang kekasih di cermin itu.


"Waw sangat seksi!" ucap Thoriq spontan.


"Kamu mau apa ih? Jangan macam-macam Thoriq!" ujar Mia panik.


"Gak kok," ucap Thoriq singkat.


******


Ciiitttt...


Tiba-tiba saja sang supir menginjak rem dan membuat sepasang kekasih itu terkejut.


"Duh pak, gimana sih?!" tegur Aurora.


"Ma-maaf non! Itu tadi ada yang nyalip mobil kita, sekarang mereka malah berhenti tuh di depan." jawab supir itu panik.


"Apa??" Aurora terkejut dan langsung melihat ke depan, matanya terbelalak ketika mengetahui ada cukup banyak pemotor berhenti disana.


Willy yang masih bingung, ikut menatap ke depan karena penasaran.


"Waduh! Mereka siapa ya? Mau apa coba mereka cegat kita kayak gini?" ujar Willy.


"Aku juga gak tahu, jangan-jangan mereka begal dan mau ngerampok kita!" ucap Aurora panik.


"Tenang ya, kamu gausah takut! Aku kan ada disini, aku bakal lindungin kamu!" ucap Willy coba menenangkan kekasihnya.


"Aku telpon polisi ya?" ucap Aurora.


"Boleh, telpon aja!" ucap Willy.


"Oke!" Aurora pun mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi polisi.


"Non gawat non! Mereka mendekat!" ujar sang supir.


"Hah??" Aurora amat terkejut dan takut.


"Kalian tenang ya! Aku bakal turun keluar dan coba bicara sama mereka, supaya bisa mengulur waktu sampai polisi datang." ucap Willy.


"Tapi Wil, kamu kan lagi sakit. Aku gak mau kamu semakin terluka kalau kamu turun sekarang!" ucap Aurora menahan Willy.


"Tenang sayang! Aku gak akan kenapa-napa, kamu bisa pegang kata-kata aku!" ucap Willy berusaha meyakinkan kekasihnya.


"Ta-tapi..."


"Hey, trust me!" potong Willy.


Akhirnya Aurora mengangguk dan memberi izin Willy untuk keluar dari mobil.


Tentu saja pria itu langsung turun dan mendekati gerombolan orang di depan sana.


"Kalian semua mau apa?" tanyanya.


"Baguslah, akhirnya lu turun juga Willy! Kali ini kita bakal bikin perhitungan sama lu, atas apa yang udah lu lakuin ke kita!" ujar orang itu.


"Apaan sih? Ngelakuin apa? Emang kalian siapa?" tanya Willy terheran-heran.


"Gausah pura-pura lupa dah lu, gue yakin banget lu masih ingat sama kita semua!" jawab orang itu.


Willy menatap intens ke arah orang-orang itu, ia menangkap logo yang tak asing di matanya terpampang pada jaket mereka.


"Itu kan logo the darks, berarti..." batinnya.


"Gimana Wil? Pasti lu ingat kan sama kita?" ujar orang itu sambil tersenyum smirk.


"Ya ya ya, gue inget kok!" ucap Willy.


"Baguslah! Terus, sekarang lu udah siap kan buat kita kasih perhitungan?" ujar orang itu.


"Kalian mau apa?" tanya Willy.


"Pake nanya lagi, ya udah jelas lah kita pengen balas dendam sama lu karena lu udah masukin kita ke penjara! Sekarang kita mau lu rasain apa yang kita rasain, malah lebih!" jelas orang itu.


"Ohh, jadi kalian mau nyerang gue? Gak lihat apa tangan gue lagi sakit gini? Malu dong, masa sekelas geng thunder yang dikenal kuat dan hebat mau nyerang orang yang lagi sakit?!" ucap Willy.


"Kita gak perduli, pokoknya lu harus mati di tangan kita Willy!" ujar orang itu.


Willy tersenyum saja tanpa rasa takut sedikitpun, ia memang berusaha kuat agar tak membuat geng thunder mengetahui kecemasannya.


"Willy!"


Tiba-tiba saja Aurora berteriak dari belakang dan membuat Willy serta yang lainnya terkejut lalu kompak menoleh ke arahnya.


"Aurora? Ngapain dia pake turun segala sih?"


Bersambung....