My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 140. Diajak berburu



My love is sillie


Episode 140



"Makasih ya sayang! Berarti kapan-kapan boleh dong aku masuk kamar kamu lagi?" ujar Randi.


"Ish dasar mesum!" cibir Ayna.


"Hahaha, bercanda kok sayang. Tapi, kalau emang dibolehin sih gapapa. Aku ngerasa nyaman ada di kamar kamu kayak tadi," ucap Randi.


"Boleh boleh aja, asalkan gak ada kak Geri mah. Udah ah jangan bahas itu terus, yuk kita jalan ke luar!" ujar Ayna.


"Kamu mau pergi kemana emang sayang?" tanya Randi seraya mendekap tubuh gadisnya.


"Umm, kemana aja asalkan sama kamu deh." jawab Ayna sembari menaruh wajahnya di dada sang kekasih.


Randi tersenyum lebar, mencium pipi Ayna serta mengusap rambutnya.


Mereka pergi dari rumah itu, Randi sengaja membawa Ayna ke cafe nya lebih dulu untuk sekedar sarapan.


"Kita kesini aja ya sayang?" ujar Randi.


"Oke!" Ayna mengangguk singkat.


Mereka duduk berdampingan di cafe itu, Randi terus menatap wajah gadisnya dan tersenyum.


"Kamu cantik banget sih!" goda Randi.


"Ah kamu bisa aja!" ucap Ayna.


Randi semakin mendekat, mengikis jarak diantara mereka dengan tangan yang terus mengusap rambut sang wanita.


"Ka-kamu mau apa? Jangan dekat-dekat Randi, malu!" ucap Ayna.


"Rileks sayang!" bisik Randi sensual.


"Ih kamu bilang tadi gak akan mau macam-macam ya sayang! Malu tau banyak orang!" sentak Ayna.


"Banyak darimana? Enggak ada tuh," ujar Randi.


"Tetap aja aku malu, kamu gausah kayak gini dong Randi sayang!" ucap Ayna dengan gugup.


Pria itu justru tersenyum dan menaruh tangannya di atas paha sang kekasih, mengusapnya lembut membuat Ayna merasa geli.


"Eemhh, Randi jangan nakal!" ucap Ayna berusaha menyingkirkan tangan Randi, tetapi gagal.


"Sssttt udah diem aja sayang! Kamu nyaman kan diginiin?" goda Randi.


"Gak nyaman, yang ada aku malah deg-degan takut ada yang lihat kita. Udah lah Randi, cepet lepasin tangan kamu!" sentak Ayna.


"Kalau aku gak mau gimana?" ucap Randi yang kini malah mengecup ceruk leher Ayna.


"Ahh.." de-sah Ayna tak tertahankan saat pria itu mengendus lehernya dengan mesra.


Tangan Randi bergerak semakin dalam, menyentuh bagian intim wanitanya dengan lembut yang membuat sang empu makin gelisah.


"Akh Ran, please!" lirih Ayna.


"Kamu suka kan? Nanti abis dari sini, kamu ke rumah aku ya? Supaya kita berdua bisa bebas ngapain aja," ucap Randi.


"Maksud kamu apa? Kamu mau ngapain ajak aku ke rumah kamu?" tanya Ayna.


"Gak ngapa-ngapain kok sayang, aku cuma pengen kenalin kamu sama rumah aku. Emang salah ya kalau aku bawa pacar aku ini ke rumah aku?" jawab Randi sambil tersenyum miring.


"Ya enggak sih, tapi beneran kan gak mau ngapa-ngapain? Awas loh ya kalau kamu mesum lagi disana!" ancam Ayna.


"Iya iya, gak bakal kok sayang," ucap Randi seraya mencubit hidung gadisnya.


Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri mereka dan membuat keduanya terkejut.


"Ehem ehem, misi pak bos!" sapanya.


Seketika Randi langsung mendongakkan wajahnya ke arah si pelayan, ia tersenyum tanpa menjauhkan tangannya dari inti Ayna.


"Ada apa sih? Saya kan belum panggil kamu, kenapa kamu udah datang?" tegur Randi.


"Eee..."


******


Rimba mengangguk-angguk saja, lalu meminum minuman yang sudah disediakan oleh anggota black jack untuknya.


"Gue mau tanya deh sama lo, sebenarnya masalah lo sama anak the darks tuh apa?" tanya Rimba.


"Hah? Lo nanya begitu ke gue bro? Asal lu tahu ya, black jack dan the darks itu musuh bebuyutan! Kita gak akan pernah damai sama mereka sampai kapanpun, karena Willy udah bikin kita sengsara!" jelas Ilham dengan keras.


"Oh begitu, pantas aja lo kelihatan emosi banget. Gue suka nih yang begini, anak-anak the darks emang harus dikasih pelajaran supaya mereka gak semena-mena terus sama kita!" ucap Rimba.


"Iya tuh, kita harus abisin mereka!" timpal Billy.


"Gue punya saran buat kumpulin seluruh geng di Jakarta, gue bakal minta bantuan ke mereka untuk menghabisi anak-anak the darks," usul Rimba.


"Hah??!" kaget Ilham. "Serius lo bro?" sambungnya terkejut bukan main.


"Ya iyalah, semakin banyak orang yang kita kumpulin, semakin besar juga kemungkinan kita buat abisin anak-anak the darks! Mereka itu punya Willy, jadi kita harus waspada!" ucap Rimba.


"Kelihatannya lu takut banget sama Willy, lu udah pernah tarung sama dia terus kalah ya?" ledek Ilham.


Braakkk...


"Lo jaga kata-kata lo anjir!!" bentak Rimba emosi sembari menggebrak meja disana.


"Bro sabar bro, rileks! Lo kenapa jadi emosi kayak gini? Lo lupa kalau lo sekarang lagi ada di markas kita?" ujar Ilham tersenyum miring.


Rimba melirik ke sekeliling, terlihat para anggota black di sekitarnya menatapnya dengan tajam.


"Lo harus jaga sikap disini bro, kalau gak mau kita hajar sampai lu masuk UGD!" ucap Ilham sekali lagi mengingatkan Rimba.


"Oke, gue minta maaf!" ucap Rimba mengalah.


"Hahaha, takut juga ya lo ternyata sama ancaman kita?" kekeh Ilham.


"Ya iyalah Ham, dia kan cuma sendiri disini. Kalau dia ngelawan, bisa jadi ayam geprek dia!" timpal Billy.


"Hahaha..." anggota black jack lainnya pun ikut tertawa.


"Jangan ketawain gue kayak gitu kalian! Kita ini kan mau kerjasama, gak boleh lah saling mengejek!" ucap Rimba.


"Ya ya, makanya lain kali lu jaga sopan santun kalau ada di wilayah kita!" ucap Ilham.


"Siap salah! Gue minta maaf!" ucap Rimba.


"Oke kita maafin, tapi awas ya kalo lain kali lu begitu lagi!" ucap Ilham.


Rimba menunduk saja tanpa bicara apapun.


Drrttt


Drrttt


Ponsel milik Ilham berdering, dia pun bangkit dan mengangkatnya sejenak.


Sementara Rimba serta para anggota black jack yang lain hanya terduduk diam disana.


"Heh! Kira-kira siapa yang telpon Ilham?" tanya Rimba pada mereka.


Namun, mereka hanya menaikkan kedua bahu.


******


"Wil, kamu mau ap—"


"Pak, bapak gak mau kemana gitu pak? Aurora malu katanya kalau ada bapak," ucapan Aurora terpotong oleh perkataan tidak sopan Willy kepada bapaknya sendiri.


Sontak Aurora terkejut karena Willy dengan berani mengusir papanya demi bisa berduaan dengannya disana, sungguh tidak beradab.


"Ya ya ya, ini bapak juga mau ke depan kok. Sudah, kalian ke meja makan aja sana! Sarapannya udah disiapin sama ibu, jadi nak Aurora juga bisa sekalian sarapan!" ucap pak Gunawan.


"Ah eee i-i-iya pak, makasih!" ucap Aurora.


"Yaudah, bapak ke depan dulu ya?" ucap pak Gunawan lalu berlalu pergi.


Willy tersenyum dan kembali menatap gadisnya.


"Sayang, sekarang kan bapak udah ke depan. Jadi, kamu gak perlu malu lagi! Cium aku dong!" ucap Willy dengan manja.


"Hah? Cium? Cium pipi maksud kamu kan?" kaget Aurora.


"Ya bukanlah sayang, cium bibir yang aku mau. Atau enggak, aku yang cium kamu duluan nih," ujar Willy seraya memegang bibirnya.


"Ih gak mau!" tolak Aurora.


"Ohh gitu..." tanpa aba-aba, Willy menarik tengkuk Aurora dan mencium bibirnya cukup lama.


"Mmppphhh mmppphhh!!" Aurora coba berontak tetapi gagal.


Aurora yang tak mampu melawan, akhirnya membuka mulutnya dan memberi akses bagi Willy untuk bermain disana.


Merasa Aurora mulai kehabisan nafas, Willy pun melepas sejenak tautan mereka dan itu langsung dimanfaatkan Aurora untuk mengambil nafas.


"Haaahhh haaahhh.."


"Kamu benar-benar gak waras ya Willy!" kesal Aurora pada kekasihnya.


"Hahaha..."


"Ish malah ketawa, gak lucu tau! Aku sebel banget pokoknya sama kamu!" kesal Aurora.


"Hey, iya iya aku minta maaf!" ujar Willy sembari memeluk gadisnya itu dan mengusapnya lembut.


"Tadi itu aku terlalu naf-su sama kamu, jadinya aku lupa buat lepas ciumannya dan bikin kamu susah nafas. Maafin aku ya Aurora yang cantik jelita!" bujuk Willy.


Aurora hanya memutar bola mata malas, Willy pun menangkup wajahnya dan kembali mengecup bibir manis yang menjadi candu baginya itu.


Cup!


"I love you Aurora sayang!" ucap Willy.


"Willy, nak Aurora!" panggil Bu Ani.


Seketika Aurora dan Willy kompak terkejut melihat keberadaan Bu Ani serta Sasha disana.


"Hah ibu??" kaget Willy.


"Duh duh duh, kalian ini dilihat-lihat makin dekat dan mesra aja sih! Ibu jadi iri deh lihatnya, semoga kalian berdua langgeng terus ya!" ucap Bu Ani.


"Hehe, iya Bu aamiin! Insyaallah abis lulus aku bakal nikahin Aurora!" ujar Willy.


"Hah??" Aurora terkejut bukan main.


******


Cup!


"Kamu tenang ya cantikku! Aku disini bakal jagain kamu, kita berdua juga pasti bisa kok keluar dari hutan ini!" ucap Thoriq.


"Iya sayang, aku percaya kamu!" ucap Mia.


"WOI!!!"


Mereka dikejutkan dengan suara teriakan yang datang secara tiba-tiba.


"Ngapain lo berdua disini? Mau mesum ya?!" tegur pria tersebut.


"Hah??" Thoriq dan Mia reflek berdiri.


"Siapa kalian? Ngapain berduaan di hutan kayak gini? Kalau mau mesum itu di hotel, yang modal dikit lah bro!" tegur si pria.


"Ki-kita gak mesum kok bang, kita kesasar. Tadi kita lagi naik kuda ini, terus gak sengaja sampai ke hutan ini. Untung kami ketemu sama abang, bisa kan kami minta bantuan?" jelas Thoriq.


"Kesasar? Jadi, kalian sewa kuda terus kesasar sampe sini?" tanya si pria.


"I-i-iya bang, emangnya kenapa?" Thoriq merasa heran dan curiga.


"Bohong! Alasan macam apa kayak gitu? Tempat kuda aja gak ada di dekat sini, jangan ngarang deh kalian!" tegur si pria.


"Ya mending kalian ngaku aja kalau mau berbuat mesum!" sahut pria yang lain.


"Apa sih bang? Mana ada kita mesum disini? Kalaupun iya, kenapa kita begituan siang-siang coba kan bisa malam biar enak?!" sangkal Thoriq.


"Iya juga ya.."


"Yaudah kita percaya sama alasan kalian, tapi emang kalian ini siapa dan tinggal dimana?" tanya pria itu pada Thoriq.


"Kenalin bang, saya Thoriq dan ini pacar saya namanya Mia!" ucap Thoriq seraya mengulurkan tangan ke arah pria itu.


"Gue Jamal, terus ini teman gue Ujang. Kita pemburu disini dan setiap hari kita selalu kesini buat tangkap buruan kita, gak nyangka juga kita bisa ketemu kalian sekarang," jawab pria bernama Jamal itu.


"Ohh, salam kenal ya bang Jamal, bang Ujang!" ucap Thoriq agak grogi.


Jamal dan Ujang hanya mengangguk pelan disertai senyum tipis, lalu mereka menyudahi sesi salaman itu dan kembali berbincang.


"Kalian mau keluar dari hutan ini kan?" tanya Jamal.


"I-i-iya bang, abang berdua bisa bantu kita keluar dari sini?" jawab Thoriq.


"Ya bisa lah, itu mah hal kecil buat kita. Tapi sebelumnya, gue minta kalian temenin gue dulu buat cari mangsa di sekitar sini!" ucap Jamal.


"Mangsa? Mangsa apa maksudnya bang?" tanya Thoriq tak mengerti.


"Ya hewan buruan lah, gimana sih lo?!" jawab Jamal ketus.


"Hehe.."


"Ta-tapi bang, kita gak ngerti caranya cari hewan buruan. Berburu aja kita gak pernah, ya kan sayang?" ucap Mia.


"Eee i-i-iya, betul itu bang!" sahut Thoriq dengan sedikit gugup.


******


"Bener-bener lu ya, udah bawa kabur uang kita terus sekarang pura-pura gak kenal segala!" geram si ketua geng.


"Hah??!" Max terkejut bukan main, dia benar-benar bingung setelah dituduh seperti itu.


"Bawa kabur uang kalian? Apa benar begitu Max?" tanya Martin menatap ke arah Max.


Max terdiam, dia tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Itu tidak benar Martin, gue gak pernah bawa kabur uang mereka! Gue aja baru kali ini ketemu sama mereka, gimana bisa gue ambil uang mereka?!" elak Max.


Martin sama sekali tidak menemukan kebohongan dari sorot mata Max, dia bisa tahu kalau lelaki itu sedang jujur.


"Ah maling mana ada yang mau ngaku! Sekarang lo serahin duit itu, atau kita bakalan hajar lo berdua sampai masuk rumah sakit!" teriak si ketua geng mengancam Max.


"Bang Martin, gimana ini bang??" tanya Max panik.


"Kita hadapi mereka bersama, lo gak boleh jadi laki-laki pengecut!" sentak Martin.


"Ta-tapi bang.."


"Maju Max!" potong Martin.


Mau tidak mau, Max pun terpaksa ikut menyerang geng motor tersebut bersama Martin.


Kiara yang masih di dalam mobil, merasa bingung dan cemas melihat Martin serta Max berkelahi dengan geng motor itu. Ia khawatir jika salah satu diantara mereka akan terluka.


"Duh, aku harus gimana ya buat bubarin mereka? Apa aku telpon polisi aja?" gumam Kiara.


"Iya non, ada baiknya kita hubungi polisi non. Supaya tuan Martin juga bisa selamat," sahut sang supir.


"Eee i-i-iya deh pak, tapi bapak turun dong bantu tuan Martin lawan orang-orang itu!" ujar Kiara.


"Waduh! Saya bukan gak mau bantu tuan Martin non, kalau saya turun nanti non Kiara gimana?" ucap supir itu.


"Halah alasan aja kamu! Yaudah, saya mau telpon polisi dulu?" ucap Kiara.


"Siap non!" ucap si supir.


Kiara pun mulai menghubungi polisi.


Sementara itu, Martin terlihat mulai kehabisan tenaga karena harus melawan cukup banyak orang sekaligus disana.


Tak hanya Martin, bahkan Max pun sudah menjadi bulan-bulanan geng motor itu dan hampir pingsan karena tak mampu melawan lagi.


Bughh


Bughh


"Aakhhh ampun! Tolong hentikan gue gak kuat!" ucap Max memohon ampun pada mereka sambil terus menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Orang-orang itu akhirnya berhenti memukuli Max, lalu salah satu dari mereka menarik tubuh Max untuk berdiri menghadapnya.


"Heh! Lo gak mau mati di tangan kita kan?" ujarnya.


Max menggeleng dengan tubuh gemetar.


"Yaudah, lu nurut sekarang sama kita dan ikut kita atau gue habisin lu sama temen lu itu!" ancamnya.


"Oke oke, gue mau ikutin kemauan kalian. Sekarang lepasin gue dan jangan serang bang Martin lagi!" ucap Max mengalah.


"Bagus!" ucap pria itu singkat.


Akhirnya orang-orang itu berhenti menyerang Martin sesuai kemauan Max.


"Uhuk uhuk! Max, kenapa lo malah suruh mereka berhenti dan serahin diri lo? Apa lo mau mati, ha?" tanya Martin pada Max.


"Sorry bang! Gue justru gak mau lu mati gara-gara bantuin gue!" jawab Max.


Deg!


Bersambung....