My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 84. Menolong perempuan



My love is sillie


Episode 84



"HEH! NGAPAIN LAGI LU DISINI B*NGSAT!" teriak Martin penuh emosi.


Bughh...


Martin memukul wajah Willy begitu saja, menarik kerah jaket pria itu dan memaksanya berdiri lalu menatapnya tajam.


"Lu dengar ya, lu jangan pernah injakin kaki lu di rumah ini lagi! Lu sama Aurora gak akan bisa bersatu, jadi lu gausah berharap kalau lu bisa miliki dia!" ucap Martin.


"Emangnya lu siapa? Lu gak berhak larang-larang gue kayak gini!" ucap Willy.


"Kurang ajar!" umpat Martin.


Bughh...


Martin memberi pukulan pada perut Willy, hingga pria itu tersungkur ke jalan.


"Bangun lu cupu!" ucap Martin.


Willy berusaha bangkit sembari memegangi perutnya, tapi lagi-lagi Martin memukul wajahnya.


Bughh...


Willy pun terkapar di aspal, Martin tersenyum penuh kemenangan merasa bahwa Willy sudah berhasil ia kalahkan.


"Ternyata lu gak sekuat yang gue kira, lu itu cuma manusia lemah! Gue abisin lu sekarang juga!" ucap Martin.


"Hiyaaa..." Martin berteriak dan hendak menyerang Willy kembali.


"MARTIN CUKUP!!!"


Suara teriakan lantang itu membuat Martin mengurungkan niatnya, ia menoleh ke asal suara dan mendapati sosok pamannya disana.


"Kamu apa-apaan Martin? Kenapa kamu hajar Willy kayak gini, ha? Mau jadi jagoan kamu?" ujar Johan.


"Om, maaf om! Saya cuma kesal aja sama dia, om. Saya gak mau lihat muka dia nongol disini lagi, dia itu udah jahat om dan bikin Aurora diculik sama orang!" ujar Martin.


"Kamu salah, Martin! Itu semua bukan kesalahan Willy, justru Willy yang sudah menolong Aurora dan membebaskan dia dari penculik itu!" ucap Johan.


"Ah itu mah cuma akal-akalan dia aja om! Pasti dia juga terlibat dalam penculikan Aurora, tapi dia pura-pura mau nolongin Aurora biar dibilang baik sama om Johan!" ucap Martin.


"Kamu jangan asal bicara Martin! Sudahlah, katakan saja apa kemauan kamu datang kesini! Masih ada urusan sama om, atau enggak?" ucap Johan.


"Om kok nanyanya begitu sih? Aku kesini ya karena aku mau ketemu aja sama paman," jawab Martin.


"Kalo gitu kamu jangan cari keributan disini! Atau om akan minta satpam untuk mengusir kamu dari rumah ini!" ucap Johan emosi.


Martin terdiam memalingkan wajahnya, ia benar-benar bingung dengan sikap Johan saat ini.


Sementara Johan terlihat menghampiri Willy, membantu pria itu untuk bangun.


"Willy, ayo bangun Wil! Kamu gapapa kan? Kalau ada yang luka, kamu masuk aja dulu ke dalam biar diobatin." ucap Johan cemas.


"Enggak om, saya gapapa." jawab Willy lemas.


"Yang benar?" tanya Johan memastikan.


"Iya om, kalo cuma gini mah kecil om." jawab Willy.


"Syukurlah! Oh ya, kamu lagi nungguin Aurora kan?" tanya Johan.


"Iya om," jawab Willy menunduk.


"Kenapa kamu gak masuk aja dan tunggu di dalam? Aurora itu emang suka lama kalau mandi plus ganti baju, jadi kamu mending masuk ke dalam aja biar gak capek!" ucap Johan.


"Ah gausah om, saya biar nunggu disini aja. Lagian saya udah biasa kok nunggu lama," ucap Willy.


"Baiklah kalau begitu, tapi kalo kamu mau masuk ya masuk aja ya! Om ada urusan sebentar di luar, jadi om gak bisa lama-lama disini." ucap Johan.


"Iya om, om hati-hati ya!" ucap Willy.


"Ahaha, ya ya.." ucap Johan.


Melihat kedekatan Willy dan Johan, membuat Martin geram sekaligus kesal.


Akhirnya Martin pun memutuskan untuk pergi dari sana, tanpa berpamitan dengan pamannya.


"Loh om, itu Martin kok main pergi aja sih? Masa dia gak pamit dulu sama om? Gak sopan banget!" ucap Willy.


"Entahlah, biarin aja." ucap Johan.


"Oh ya Willy, nanti malam kamu ada acara tidak?" tanya Johan pada Willy.


"Eee enggak tuh om, emang ada apa ya?" jawab Willy.


"Om mau bicara empat mata sama kamu," ucap Johan.


******


Randi, Tedy dan Arif tengah mengendarai motor di jalan raya yang ramai. Mereka berniat menjenguk Thoriq serta anggota the darks lainnya yang masih dirawat di rumah sakit.


Akan tetapi, mereka justru bertemu dengan seorang wanita cantik yang tampak panik di pinggir jalan dan terlihat memerlukan bantuan mereka.


"Eh guys, kayaknya ada yang butuh bantuan deh di depan. Kita minggir sebentar yuk bantu dia! Kasihan juga tuh cewek panas-panas begini!" ucap Tedy pada kedua temannya.


"Ah bilang aja mau modus lu!" cibir Arif.


"Hehe.."


"Yaudah, ayo kita minggir!" ucap Randi.


Akhirnya mereka bertiga pun melipir sejenak mendekati wanita tersebut.


Mereka sama-sama turun dari motor, menghampiri si wanita sambil tersenyum renyah.


"Ehem ehem, hai cakep!" ucap Tedy.


"Eh eee kalian siapa ya? Kalian mau apa? Aku gak punya uang banyak, tolong jangan ambil uang aku!" ucap wanita itu ketakutan.


"Hah? Siapa juga yang mau ambil uang kamu? Kita justru kesini mau bantu kamu tau, ya kan guys?" ujar Tedy.


"Iya, soalnya tadi kita lihat kamu kesusahan gitu. Jadinya kita samperin deh buat bantu kamu," ucap Arif.


"Ohh, maaf ya kalau aku udah nuduh kalian yang enggak-enggak!" ucap wanita itu.


"Gapapa kok, wajar itu mah. Terus, ini mobil kamu kenapa nih? Gak bisa nyala?" tanya Tedy.


"Ah iya, udah daritadi aku coba utak-atik tapi gak berhasil. Aku emang gak ngerti mesin sih, kamu bisa bantu?" jawab wanita itu.


"Oh tentu bisa, apa sih yang gak bisa buat kamu? Tapi sebelum itu, kita kenalan dulu dong! Nama aku Tedy, kamu siapa?" ucap Tedy seraya mengulurkan tangan ke arah wanita itu.


"Eee aku Ayna," jawab wanita itu.


Mereka pun bersalaman sejenak, Tedy sangat terkejut saat bersentuhan dengan telapak tangan gadis itu.


"Aku Arif," ucap Arif.


"Ayna," balas gadis itu.


Kini gadis bernama Ayna itu beralih menatap Randi, entah mengapa jantungnya langsung berdegup kencang saat hendak bersalaman dengannya.


"Randi," ucap Randi singkat.


"Ayna, salam kenal ya!" ucap Ayna tersenyum.


"Iya," balas Randi.


"Eee yaudah, biar aku coba cek dulu ya mobil kamu?" ucap Tedy.


"Ah iya, silahkan!" ucap Ayna memberi izin.


Tedy berjalan ke dekat mobil Ayna sambil bersiul, membuat Arif merasa jengkel.


"Yaelah banyak gaya lu! Emang lu ngerti mesin, Ted?" ujar Arif.


"Gausah pake ditanya!" ucap Tedy.


"Ngerti?" tanya Arif.


"Kagak," jawab Tedy sambil nyengir.


"Hah??" Ayna ikut terkejut mendengar jawaban Tedy.


"Yang benar?" tanya Ayna memastikan.


"Iya, kamu tenang aja! Insyallah semuanya bakal beres di tangan aku!" jawab Tedy mantap.


"Oh okay!" ucap Ayna.


Tedy langsung memeriksa kondisi mobil milik gadis itu sambil terus bersiul.


Sementara Ayna menunggu dari dekat sambil sesekali mencuri pandang ke arah Randi.


"Kamu orang mana btw?" tanya Arif pada Ayna.


"Eh eee aku tinggal gak jauh kok dari sini, ini juga aku mau pulang ke rumah. Barusan aku abis selesai kuliah," jawab Ayna.


"Oalah, kalau boleh tau kamu tinggal dimana?" tanya Arif.


"Eee..."


"Heh Arif! Yang ini bagian gue, lu jangan macam-macam deh!" tegur Tedy.


"Hehe..."


******


Aurora amat terkejut saat melihat Willy ada di dalam rumahnya dan tengah duduk seorang diri sambil menatap sekeliling.


Sontak Aurora langsung menghampiri pria tersebut dengan wajah herannya, ia bingung bagaimana bisa Willy masuk ke dalam rumahnya saat ini.


"Willy? Kamu kok ada disini? Tadi katanya kamu mau tunggu di luar? Terus, siapa yang bolehin kamu masuk kesini? Gak mungkin dong kamu main terobos gitu aja?" tanya Aurora.


"Heh! Kamu bisa kan kalo nanya itu satu-satu? Jangan langsung sekaligus banyak begitu dong cantikku! Gimana aku mau jawabnya coba?" ujar Willy.


"Iya iya, yaudah kamu jawab aja pertanyaan aku yang terakhir dulu!" ucap Aurora.


"Yang mana sayang? Aku lupa," tanya Willy.


"Kamu masuk kesini dibolehin sama siapa?" ucap Aurora mengulang pertanyaannya.


"Ohh, papa kamu." jawab Willy santai.


"Hah? Terus, sekarang papa dimana? Kok kamu malah duduk sendirian disini gak ditemenin papa?" tanya Aurora bingung.


"Iya sayang, tadi papa kamu pergi katanya ada urusan. Tapi, sebelum pergi papa kamu itu bilang ke aku kalau aku boleh nunggu di dalam. Yaudah aku masuk aja kesini, abisnya kamu lama banget sih mandinya." jelas Willy.


"Ya maaf! Kamu maklumin dong Willy, aku ini kan perempuan." ucap Aurora.


"Iya cantik, aku maklum kok. Aku justru senang sekarang, karena kamu cantik banget! Sini yuk duduk samping aku, biar aku bisa cium kamu!" ucap Willy.


Aurora mengangguk setuju, ia pun duduk di sebelah kekasihnya sambil tersenyum manis.


"Duh, kamu tuh makin cantik dan manis deh kalo abis mandi kayak gini! Apalagi rambut kamu basah, beuh rasanya aku gak bisa berpaling dari kamu!" ujar Willy sambil memainkan rambut gadisnya.


"Eh bentar deh, itu muka kamu kenapa sayang? Kamu abis berantem lagi? Sama siapa? Perasaan tadi sebelum aku tinggal mandi, muka kamu masih baik-baik aja tuh." tanya Aurora cemas.


"Eee kamu gausah cemas sayang! Ini tadi aku cuma kena tonjok sama Martin aja kok, gak terlalu sakit lah." jawab Willy sambil tersenyum.


"Hah? Kak Martin datang kesini?" ujar Aurora.


"Iya sayang, tapi dia udah pulang tadi. Kamu gak perlu cemas gitu, aku baik-baik aja kok! Tonjokan dia mah gak berasa buat aku," ucap Willy.


"Ish, tetap aja itu muka kamu luka tau. Sebentar ya aku ambil obat dulu!" ucap Aurora.


Saat Aurora hendak berdiri, Willy malah mencekal lengannya dan menahan Aurora tetap disana.


"Kamu disini aja! Luka ini gak perlu diobatin, karena aku lagi senang banget tau. Asal kamu tahu aja, gara-gara luka ini aku dapat perhatian dari papa kamu Aku benar-benar gak nyangka, ternyata papa kamu sekarang udah lebih percaya sama aku dibanding si Martin." ucap Willy.


"Oh ya? Kamu serius sayang?" tanya Aurora.


"Iya sayangku, tadi malah si Martin diusir sama papa kamu dari sini. Aku lihat banget raut wajah emosinya, dan itu bikin aku senang banget!" jawab Willy.


"Wah syukurlah! Aku ikut senang dengarnya, semoga papa beneran mau terima kamu deh!" ucap Aurora sambil tersenyum.


"Duh, aku makin gak tahan. Boleh ya aku cium kamu sebentar?" ucap Willy menarik wajah Aurora ke dekatnya.


Deg!


Aurora benar-benar dibuat gugup, tubuhnya gemetar hebat apalagi saat Willy memajukan wajahnya hingga menyentuh bibirnya.


Cupp!


Tanpa sadar, bibir mereka sudah saling menyatu dan memagut satu sama lain.


Awalnya memang Aurora hanya diam, tapi lambat laun permainan Willy membuat Aurora terlena dan membalas ciuman panas itu.


"Mmhhh.." lirih Aurora saat Willy menyentuh bagian dadanya.


******


"Nah udah, coba deh kamu nyalain mobil kamu! Aku yakin pasti berhasil!" ucap Tedy setelah selesai membenarkan mobil milik Ayna.


"Okay, sebentar ya!" ucap Ayna.


Ayna pun masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesinnya dan benar saja saat ini mobilnya berhasil menyala seperti semula.


"Wah iya berhasil, makasih banyak ya Tedy!" ucap Ayna.


"Sama-sama, cakep. Semoga mobilnya gak mati lagi ya!" ucap Tedy sambil tersenyum.


"Iya, aamiin! Oh ya, ini buat kamu." ucap Ayna seraya menyerahkan sejumlah uang kepada Tedy.


"Hah? Ini buat apa?" tanya Tedy heran.


"Eee ya itu buat bayaran kamu, kamu kan udah bantu betulin mobil aku. Maaf gak seberapa, soalnya aku emang belum kerja jadi gak punya uang banyak!" jelas Ayna.


"Udah, gausah pake dibayar segala! Aku bantu kamu itu ikhlas kok, ini kamu pegang aja ya!" ucap Tedy menolak pemberian Ayna.


"Ta-tapi..."


"Santai aja! Aku ini pria baik hati kok, aku senang membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan." potong Tedy.


"Bener nih? Gak mau dibayar?" tanya Ayna.


"Iya cakep, bener kok." jawab Tedy.


"Oke! Sekali lagi makasih banyak ya!" ucap Ayna.


"Sama-sama," ucap Tedy singkat.


"Yeh dasar modus lu! Pake gak mau dibayar segala!" cibir Arif sembari menyenggol siku Tedy.


"Sssttt lu diem aja ya bro!" ujar Tedy.


"Yaudah, kalo gitu aku mau pamit dulu ya? Mobil aku kan udah bener, jadi aku harus pulang sekarang. Makasih banyak ya Tedy, Arif, sama kamu Randi!" ucap Ayna sambil tersenyum.


"Sama-sama," ucap mereka bertiga.


"Bye!" ucap Ayna seraya melambaikan tangan.


"Eh eh, tunggu deh!" ujar Tedy menahan lengan gadis itu sebelum masuk ke mobilnya.


"Ya, kenapa?" tanya Ayna heran.


"Aku boleh gak minta nomor hp kamu? Ya aku emang gak mau uang, tapi kalau nomor hp sih mau banget." ujar Tedy.


"Nomor hp aku? Buat apa?" tanya Ayna bingung.


"Ya siapa tahu kamu nanti butuh bantuan aku lagi, jadi kita bisa saling kontak." jawab Tedy.


"Umm, oke deh!" ucap Ayna.


Akhirnya Ayna memberikan nomor ponselnya kepada Tedy, dengan senang hati Tedy pun mencatat nomor tersebut di hp nya.


"Nah, aku udah coba telpon tuh. Kamu nanti angkat ya kalau aku telpon!" ucap Tedy.


"Ah iya," ucap Ayna singkat.


"Jangan lupa di save juga!" ujar Tedy.


Ayna manggut-manggut saja sembari tersenyum ke arah tiga pria itu, namun tetap yang paling menarik perhatiannya adalah wajah Randi.


"Duh, tu cowok bener-bener ganteng banget! Dia juga gak banyak omong kayak yang lainnya, emang keren banget deh!" batin Ayna.


Bersambung....