
My love is sillie
Episode 96
•
"Guys, gue bukan gak mau dengerin kalian. Tapi, kalian tahu sendiri kan gimana susahnya ngilangin rasa cinta yang tumbuh di dalam hati ini? Gue cinta banget sama Ayna bro!" ucap Tedy.
"Ah masa? Lu cinta apa lu nafsuu sama dia?" cibir Leo.
"Hahaha.." semua disana kompak tertawa heboh.
"Ah sialan lu pada!" ujar Tedy kesal.
"Yaudah, kita gausah bahas ini terus! Masih banyak yang harus kita urus demi kemajuan the darks, paham?!" ucap Randi menengahi.
"Paham Ran!" jawab mereka serentak.
Tak lama kemudian, segerombolan geng black jack muncul dan berhenti tepat di hadapan mereka.
Sontak seluruh anggota the darks yang ada disana langsung berdiri menghadap geng black jack itu.
"Sial! Anak black jack bro," ujar Arif.
"Santai!" ucap Zafran menenangkan.
Lalu, seluruh anggota black jack itu turun dari motor mereka masing-masing dan melangkah mendekat ke arah Randi serta yang lainnya.
Anak-anak the darks itu kompak terkejut saat menyadari Martin ada di depan gerombolan geng black jack.
"Hah? Itu kan si Martin, ngapain dia sama anak black jack?" ujar Jeki.
"Entahlah, mungkin dia udah gabung sama mereka." tebak Randi.
"Sialan!" umpat Jeki.
Martin melepas kacamata hitamnya, ia tersenyum lebar sembari menatap satu persatu dari para anggota the darks yang ada di hadapannya kini.
"Selamat malam! Kalian semua apa kabar?" Martin menyapa dengan ramah.
"Gausah basa-basi lu! Langsung aja jelasin apa maksud lu semua datang ke tempat kita!" bentak Zafran emosi.
"Wuih santai bro! Jangan emosi gitu dong!" ucap Billy sedikit mengejek.
"Iya tuh, bawaannya kok emosi mulu sih bro?" sahut Choky.
"Ah banyak bacot lu!" Arif semakin tersulut dan hendak maju menyerang geng black jack.
Namun, Randi serta Zafran menghalangi langkah Arif karena saat ini belum waktunya mereka untuk melakukan penyerangan.
"Tahan Rif!" pinta Randi.
"Tapi Ran, mereka itu emang harus dihajar! Kita gak bisa diam aja kayak gini!" ujar Arif.
"Ada waktunya nanti Rif, sabar dulu!" ucap Randi.
"Iya Rif, jangan kepancing!" sahut Zafran.
"Aaarrgghh!!" Arif menggeram kesal.
"Hahaha, nah gitu dong tenang! Maklumin ajalah bang Martin, mereka emang suka emosi gitu, ya namanya juga anjing jalanan." cibir Billy.
"Heh! Lu jaga ya omongan lu!" kini giliran Tedy yang emosi pada ucapan Billy.
"Ted, sabar!" ucap Randi menenangkan Tedy.
Tedy mengangguk saja menuruti perintah Randi, ia menarik nafas dan coba menenangkan dirinya agar tidak terpancing emosi.
Kini Randi maju lebih dekat ke arah Martin serta rombongan geng black jack, ia mewakili teman-temannya untuk bertanya pada mereka.
"Ada apa kalian semua kesini? Terus, ngapain juga lu gabung sama mereka Martin? Lu pengen ikut-ikutan jadi musuh geng the darks, iya?" tanya Randi dengan ramah.
"Saya benci dengan Willy, itu sebabnya saya memilih bergabung bersama black jack. Dan saya kesini, karena saya ingin memberi pelajaran pada kalian semua!" jawab Martin.
"Hahaha, mantap bang! Orang kayak mereka mah emang pantasnya dihabisin aja!" ujar Billy.
"Betul bang! Kita setuju banget sama keputusan abang itu!" sahut Ilham.
"Sial!" Randi mengumpat kesal.
"Ran, gimana ini?" tanya Zafran berbisik di telinga Randi.
"Kita siap-siap hadapi mereka!" jawab Randi.
"Oke!" Zafran menurut dan memberi kode pada yang lain untuk bersiap-siap.
"SERAANGGG!!" perintah Martin.
"Hiyaaa.." mereka semua saling maju dan menyerang satu sama lain.
******
Cupp!
Tiba-tiba Willy mendaratkan kecupan singkat di bibir mungil gadisnya, membuat Aurora sedikit menggeram kesal dan langsung membuka matanya.
"Ih kamu tuh ya suka banget ambil kesempatan dalam kesempitan!" ujar Aurora kesal.
"Ahaha, maaf sayang! Aku gak bisa tahan lagi, abisnya bibir kamu menggoda banget. Dia kayak minta buat dicium tau sayang," ucap Willy.
"Ish, mana ada?!" ujar Aurora.
Willy terkekeh kecil dan merapatkan tubuhnya dengan Aurora, membuat gadis itu terkejut lalu menatapnya tajam.
"Kamu apa-apaan sih? Orang-orang aja gak ada yang dansa serapat ini tau," ujar Aurora heran.
"Gapapa, aku mau peluk kamu aja." ucap Willy sensual.
Willy terus melancarkan aksinya dengan menghirup aroma tubuh Aurora, ia terpejam saat lidahnya menari-nari di leher jenjang sang kekasih.
"Emhh.." lenguh Aurora ketika Willy menggigit sedikit kulit lehernya.
"Ayolah, kapan obat itu beraksi?!" batin Willy.
Willy mengangkat kepalanya dan tersenyum memandang wajah Aurora, gadis itu hanya membalas senyuman Willy dan berusaha menetralkan nafasnya.
Tiba-tiba saja, Aurora merasa pusing pada bagian kepalanya. Ia pun reflek memegangi dahinya dan sedikit meringis.
"Awhh sshh!!" rintih Aurora.
"Kenapa sayang?" tanya Willy sok cemas.
"Gak tahu nih, aku tiba-tiba pusing." jawab Aurora.
"Mau istirahat?" tanya Willy.
Aurora mengangguk pelan, Willy pun membawa tubuh gadis itu ke pinggir dan mendudukkannya di atas kursi yang kosong.
"Yes akhirnya muncul juga efeknya!" batin Willy.
"Sayang, nih minum lagi ya!" tawar Willy.
Aurora lagi-lagi hanya mengangguk pasrah, ia meminum habis minuman itu tanpa tahu bahwa Willy sudah menaruh sesuatu disana.
Terlihat pria itu menatap ke arah Akram dan memberi simbol o melalui jarinya yang kemudian dibalas dengan kedipan oleh Akram.
"Kamu milik aku malam ini cantik!" batin Willy.
Aurora telah menghabiskan minuman yang diberikan Willy, seketika itu juga ia tambah merasa pusing dan tubuhnya semakin terasa panas.
"Duh, kok aku malah tambah pusing ya? Terus tiba-tiba aku kerasa panas banget," ujar Aurora.
"Kayaknya kamu sakit deh sayang, kita istirahat aja yuk di kamar!" usul Willy.
"Kamar? Emangnya disini ada kamar tamu buat kita istirahat?" tanya Aurora bingung.
"Ada kok sayang, nanti aku bilang dulu sama Akram deh. Gimana, kamu mau gak istirahat sekarang? Bahaya loh kalau dipaksa, nanti kamu bisa pingsan." ujar Willy.
"Iya iya, ahhss panass.." keluh Aurora sembari mengipas-ngipas tubuhnya.
"Tahan ya sayang! Aku mau temuin Akram dulu," ucap Willy.
"Iya, tapi cepetan ya Wil aku udah gak kuat sama panasnya ini!" ucap Aurora.
"Oke sayang!" Willy berdiri dan mengusap pipi Aurora dengan lembut.
Cup!
Ia mengecup pipi Aurora sekilas, lalu pergi meninggalkan gadisnya itu.
"Kamar yang gue minta gimana?" tanya Willy.
"Aman bos! Gue udah siapin semuanya, lu bisa bawa Aurora kesana sekarang." jawab Akram.
"Oke mantap, thanks bro!" ucap Willy.
"Sama-sama bos, apapun buat bos baru kita ini. Eh ya, tapi beneran nih bos mau anu-anu sama Aurora disini? Yakin bakal aman?" ucap Akram.
"Ah gue gak perduli mau aman apa kagak, gue udah kagak tahan! Lagian semuanya udah terlanjur, toh Aurora juga udah kena obatnya." ucap Willy.
"Iya sih, yaudah semoga sukses ya bos!" ucap Akram.
Willy mengangguk dan kembali menemui Aurora, ia langsung membawa gadis itu menuju kamar yang sudah disiapkan Akram.
***
Singkat cerita, Willy menidurkan Aurora di atas ranjang empuk milik Akram dengan hati-hati.
Perlahan Willy melepasnya, namun Aurora seolah tak mau lepas dari genggaman pria itu.
"Jangan lepas!" pinta Aurora.
"Kenapa sayang?" tanya Willy sambil tersenyum.
"Aku mohon kamu tetap disini! Entah kenapa rasa panas di tubuh aku hilang saat kamu sentuh aku, tolong kamu bantu aku ya!" jelas Aurora.
"Tentu saja baby, aku siap bantu kamu! Tapi sebelum itu, aku harus kunci pintu dulu supaya tidak ada orang yang masuk kesini." ujar Willy.
Aurora mengangguk memberi izin, Willy pun bangkit dan mengunci pintu kamarnya rapat.
Setelah itu, Willy kembali mendekati Aurora. Ia melepas jasnya, lalu berbaring di atas gadis itu.
"Ahh.." desahh Aurora saat Willy mulai merabaa-rabaa bagian dadanya sembari mengecup jenjang leher mulusnya.
"Nikmat sayang?" goda Willy.
"Emhh iyaahh.." jawab Aurora dengan mata terpejam.
Willy menyunggingkan senyumnya, kemudian menambah tempo remasan di dada gadis itu hingga membuat sang empu tambah bergejolak.
"Ahh panass!!" teriak Aurora.
"Rasa panas kamu akan hilang sebentar lagi baby!" ujar Willy.
"Terusss Willy ahh..!!" pinta Aurora sembari menekan tangan Willy di dadanya.
Sreekkk...
Dengan tidak sabaran, Willy merobek gaun yang dikenakan Aurora hingga terpampang lah dada milik gadis itu dengan pembungkus berwarna hitam menutupinya.
"Waw it's perfect!" puji Willy.
Aurora merasa malu saat Willy terus menatapnya seperti itu, ia menggigit bibir bawahnya dan membuat Willy makin gemas.
"Kamu kenapa gemesin banget sih sayang?" goda Willy seraya mencolek dagu Aurora.
"Kamu sendiri kenapa sobek gaun aku? Nanti aku pulangnya gimana?" tanya Aurora bingung.
"Maaf sayang! Aku udah gak tahan soalnya, soal pulang gampang deh biar aku yang urus. Sekarang kita lanjutin kan kegiatan tadi?" ujar Willy.
Aurora mengangguk malu-malu, sejujurnya ia ingin meneruskan kegiatan itu agar rasa panas di tubuhnya hilang, walau ia masih takut untuk melakukannya bersama Willy.
"Ah kamu luar biasa baby! I love you so much.." ucap Willy sembari menciumi leher jenjang gadisnya.
Aurora merem melek dengan dua tangan terus mencengkram sprei akibat permainan mulut Willy di lehernya.
Apalagi saat pria itu membuka pembungkus yang menutupi dadanya, hingga kini dua gundukan itu menyembul keluar.
"Ini luar biasa!" puji Willy.
Tanpa menunggu lama, Willy langsung melahap gundukan itu dan menyedotnya seakan-akan ada cairan yang akan keluar dari sana.
Tangannya juga tak tinggal diam, ia meremass gundukan yang lainnya dan juga mencolek-colek bagian bawah Aurora.
"Emhh akh uhh.." jerit Aurora merasakan sekujur tubuhnya penuh kenikmatan.
Drrttt..
Drrttt...
Willy mengabaikan dering telpon miliknya dan memilih meneruskan aksinya, ia sudah terlanjur bergairah dan tidak ingin berhenti begitu saja.
Namun, lambat laun bunyi telpon itu membuatnya resah. Ia pun bangkit sesaat untuk memeriksa siapa yang menelponnya.
"Randi? Ada apa sih?" gumamnya.
"Kenapa Wil?" tanya Aurora kecewa.
"Bentar sayang, aku terima telpon dulu." jawab Willy.
"Huh!" Aurora mendengus kesal.
Willy pun mengangkat telpon dari Randi itu.
📞"Halo Ran! Kenapa lu telpon gue?" tanya Willy di telpon.
📞"Ha-halo Wil! Gawat Wil, Martin udah gabung sama black jack dan dia tadi serang kita semua! Uhuk uhuk.." jawab Randi terbatuk-batuk.
📞"Apa?!!" Willy terkejut bukan main.
******
Disisi lain, Martin serta gerombolan anak-anak black jack kembali ke markas mereka setelah selesai menghajar geng the darks.
Mereka semua tampak puas dan sangat senang, biarpun ada beberapa dari mereka yang masih kurang puas menghajar anggota the darks.
"Aduh bang! Kenapa tadi kita gak bakar aja sih markas mereka sekalian? Biar supaya tuh orang gak punya tempat lagi buat kumpul, jadi kita bisa leluasa deh." ujar Geri.
"Sabar Ger! Saya punya pandangan sendiri untuk itu, saya lebih tau daripada kamu." jawab Martin.
"Betul itu Ger! Kita ikutin aja perintah bang Martin, lu gausah banyak protes!" ucap Ilham.
"Iya iya, gue cuma kesel aja tadi." ucap Geri.
"Yaudah, yang penting sekarang kita udah berhasil bikin seluruh anggota the darks terkapar. Saya yakin sekali, pasti Willy akan sangat emosi nantinya dan dia bisa dengan mudah untuk saya habisi!" ucap Martin tersenyum smirk.
"Oke bang! Kita tinggal siapin rencana selanjutnya aja buat ngejebak si Willy!" ujar Billy.
"Nah, itu dia yang kita butuhkan. Willy harus mati di tangan saya, jadi pastikan jebakan kali ini tidak gagal dan harus berhasil! Saya sudah muak dengan kelakuan anak itu!" ucap Martin.
"Siap bang! Kita juga sama," ucap Ilham.
"Hahaha, si Willy emang ngeselin banget jadi orang! Dia itu sok berkuasa, padahal mah gak punya apa-apa!" ujar Geri.
"Sebentar lagi dia bakal mati di tangan bang Martin, gue jadi gak sabar buat lihat saat-saat terakhir sebelum kematiannya nanti! Pasti bakal seru banget!" sahut Choky.
"Sama Cok, gue juga udah gak sabar banget pengen lihat Willy dihabisin sama bang Martin!" ucap Billy ikut geram.
"Tenang semua! Sekarang saya haus, kalian tolong belikan saya minuman yang terbaik di tempat ini! Ayo cepat!" perintah Martin.
"Oke bang! Dean, lu beliin gih sana minuman buat bang Martin!" ucap Ilham menyuruh Dean.
"Siap Ham! Ayo cuy temenin gue!" Dean mengajak Roki untuk ikut bersamanya membeli minuman.
Sementara Martin kini melangkah menuju kursinya, ia duduk dengan satu kaki berada di atas kaki lainnya dan tersenyum santai.
"Ham, soal Max gimana?" tanya Billy berbisik.
"Sssttt jangan bahas dia dulu saat ini! Kita masih butuh dia sebagai mesin uang kita, jadi nanti ada saatnya kita bakal kembali sama dia." jawab Ilham.
"Oke Ham! Kayaknya mantap sih kalau bang Martin dan Max kita jadiin satu, jadinya kita bisa punya kekuatan penuh buat ngelawan anak the darks." ucap Billy.
"Ya, itu juga yang gue pikirin. Tapi, saat ini Max belum bisa dihubungi, gue gak tahu dia ada dimana." ucap Ilham.
"Ham, lu yakin gak kalau bang Martin bisa kalahin Willy?" tanya Choky pada Ilham.
"Hah? Gila lu tanya begituan disini! Kalau bang Martin dengar, bisa abis lu Cok!" tegur Ilham.
"Ya mau gimana lagi Ham? Gue khawatir aja dia bakal kalah juga sama Willy, secara si Willy kan lu tau sendiri kayak gimana orangnya." ujar Choky.
"Tenang aja! Gue yakin kali ini Willy gak akan bisa menang lagi!" ucap Ilham penuh yakin.
Choky dan yang lainnya manggut-manggut setuju, lalu mereka pun ikut duduk di tempat masing-masing dan lanjut mengobrol ria.
Bersambung....