
My love is sillie
Episode 102
•
"Yaudah, aku coba cari Willy dulu ya Bu? Kalau udah ketemu, nanti aku kabarin ibu." ucap Aurora.
"Ibu ikut ya sayang?" ucap Bu Ani.
"Jangan deh Bu! Biar aku aja yang cari Willy, ibu tetap disini aja! Siapa tahu nanti Willy pulang, ya kan?" ucap Aurora.
"Iya juga sih, yaudah deh ibu nurut sama kamu. Tolong kamu cari Willy sampai ketemu ya Aurora cantik!" ucap Bu Ani sembari mengusap wajah Aurora.
"Iya Bu, kalo gitu aku pamit ya Bu? Assalamualaikum," ucap Aurora.
"Waalaikumsallam, hati-hati sayang!" ujar Bu Ani.
Aurora mencium tangan Bu Ani, kemudian berbalik dan pergi lagi dari sana.
Ia langsung meminta sang supir untuk bergegas mengantarnya mencari Willy walau tak tahu kemana.
Namun, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di depannya tepat setelah ia pergi dari rumah bu Ani.
Sontak saja sang supir langsung mengerem secara mendadak dan hampir membuat Aurora terbentur.
Ciiitttt...
"Awhh! Pak, gimana sih? Kenapa ngerem mendadak coba?" ucap Aurora menegur supirnya dengan raut kesal.
"Maaf non! Itu di depan ada yang cegat kita," ucap supir itu menunjuk ke depan.
Aurora pun mengarahkan pandangannya ke depan, tampaklah sosok pria tampan yang baru turun dari mobilnya dan tersenyum ke arahnya.
Aurora sangat mengenali sosok itu, ya dialah Max teman sekolahnya.
"Max??" ucap Aurora terkejut disertai mulut terbuka lebar.
Tiiinnnn tiiinnnn...
Supir itu berkali-kali membunyikan klakson mobilnya bermaksud meminta Max untuk menyingkir dari hadapannya.
Akan tetapi, Max tak mengindahkan itu dan tetap berdiri menghadang jalan Aurora karena ia memang ingin bertemu dengan wanita itu.
"Non, saya harus gimana sekarang? Sepertinya orang itu gak mau minggir," tanya sang supir.
"Biarin aja pak, saya turun buat temuin dia. Bapak tunggu disini aja ya!" ucap Aurora.
"Baik non!" ucap supir itu menurut.
Aurora pun turun dari mobilnya, ia melangkah mendekati Max di depan sana dengan wajah kesalnya.
"Aduh aduh Aurora, kamu makin cantik aja sih sayang!" ucap Max memujinya.
"Gausah basa-basi deh! Langsung aja bilang apa mau lu cegat gue di jalanan kayak gini! Gue itu gak punya waktu buat ladenin lu, jadi mending cepat lu ngomong sama gue!" ucap Aurora.
"Sabar dong Aurora sayang! Kita bicara berdua yuk di cafe atau tempat makan dekat sini!" pinta Max dengan senyum mengerikannya.
"Gue gak mau! Kita bicara aja disini, gak perlu pake cari cafe atau apalah itu!" ucap Aurora.
"Kenapa sih sayang? Kamu kok kayak gak suka gitu berduaan sama aku? Emang kamu gak lapar atau haus gitu?" tanya Max.
"Jangan panggil gue sayang!" bentak Aurora.
"Suka-suka aku dong, aku kan sayang sama kamu. Jadi, wajar aja kalau aku panggil kamu sayang, ya kan?" ucap Max.
"Tapi itu bikin gue jijik tau gak! Udah lah, gue males ladenin ocehan gak jelas lu itu! Gue mau pergi aja dari sini," ucap Aurora.
Aurora berbalik dan hendak kembali ke mobilnya, tetapi dicekal oleh Max dari belakang.
"Tunggu dulu sayang! Kamu jangan main pergi gitu aja dong, kita bicara dulu ya sayangku cintaku!" pinta Max memohon pada Aurora.
"Gue gak mau, lepasin!" ucap Aurora berontak.
Max tak memperdulikan itu, ia tetap memaksa Aurora untuk ikut dengannya.
"Ayo sayang ikut aku ya!" paksa Max.
"Ish gak mau, lepas!" pinta Aurora.
"Non! Non Rora!!" sang supir turun dari mobil dan berteriak menghampiri Aurora.
"Diam kamu disitu! Saya gak akan apa-apain Aurora, jadi kamu jangan ikut campur!" ujar Max.
"Lepasin gue!" ucap Aurora.
Saat Max hendak membawa Aurora ke dalam mobilnya, tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di depannya dan menghalangi niatnya.
"Heh! Lepasin dia!" ucap pemotor itu sembari melepas helmnya.
******
Willy masih berkumpul di markas bersama para anggota the darks, mereka sedang membahas mengenai bangkitnya geng thunder alias musuh besar mereka.
Willy tampak mencemaskan kondisi teman-temannya itu, ia tentu tak mau jika akan timbul banyak korban seperti sebelumnya dengan kemunculan kembali geng thunder.
"Guys, pokoknya kita semua harus hati-hati! Gak boleh ada yang bepergian sendiri, minimal dua atau tiga orang lah! Ngerti?" ujar Willy.
"Ngerti Wil!" jawab mereka serentak.
"Tapi Wil, kenapa kita gak coba cari keberadaan mereka? Jadi, sebelum mereka hajar kita, kita udah hajar mereka duluan!" usul Arif.
"Nah gue setuju tuh sama usul si Arif!" sahut Leo.
"Gue juga setuju Wil! Itu satu-satunya cara paling aman supaya kita gak perlu takut sama teror mereka lagi," ucap Jeki.
"Gimana menurut lu, Ran?" tanya Willy kepada Randi selaku wakil ketua di the darks.
"Sebenarnya sih gue gak mau ada keributan lagi, tapi karena ini demi keselamatan kita juga, ya gue sih setuju sama usulan Arif." jawab Randi.
"Yaudah, kalo gitu kita jalanin usulan Arif! Kita cari markas thunder sampai ketemu dan berunding sama mereka!" ucap Willy.
"Oke Wil!" ucap mereka serentak.
"Eh ya, ini si Tedy kemana? Kok gue gak ngeliat dia daritadi disini?" tanya Willy penasaran.
"Entahlah, paling juga dia lagi coba deketin cewek yang dia suka itu." jawab Leo.
"Hah? Cewek siapa?" tanya Willy.
"Itu loh Wil, yang adiknya si Geri geng black jack. Kita semua udah bilang ke dia buat jangan deketin Ayna lagi, tapi dia tetap ngeyel." jelas Leo.
"Iya Wil, dia bilang katanya udah terlanjur cinta. Makanya dia terus-terusan dateng temuin Ayna sampe sekarang," sahut Arif.
"Hadeh, yaudah biarin aja! Nanti kalian coba telpon dia dan kasih tahu supaya dia hati-hati! Gue gak mau ada korban berjatuhan lagi, ngerti?!" ucap Willy.
"Ngerti Wil! Biar gue yang hubungi Tedy, semoga aja dia bisa nurut!" ucap Arif.
"Oke!" ucap Willy singkat.
Willy pun bangkit dari duduknya, membuat seluruh anggota the darks terheran-heran melihatnya.
"Eh Wil, lu mau kemana?" tanya Zafran.
"Gue pengen pulang, ini udah siang dan gue juga capek banget nih." jawab Willy.
"Ohh, terus lu mau naik apa pulangnya? Tangan lu kan lagi sakit, emang bisa naik motor?" tanya Leo.
"Gue bisa pesan taksi," jawab Willy.
"Biar gue anterin aja Wil," ucap Randi.
"Gausah, lu semua disini aja! Kalo lu nganterin gue, nanti lu baliknya malah sendirian. Di situasi begini kan kita gak boleh pergi sendiri, bahaya!" ucap Willy.
"Siap Wil! Yaudah, kalo gitu kita temenin lu sampe dapet taksi di depan." ucap Randi.
Willy mengangguk setuju, kemudian mereka semua bangkit dari tempat duduk masing-masing dan saling melakukan tos.
Disaat Willy hendak pergi, tiba-tiba saja sebuah motor muncul dan berhenti di depannya.
"Willy!" suara lembut sang kekasih membuat Willy tersenyum lebar.
Ya yang datang barusan adalah Aurora, namun anehnya wanita itu datang bersama Tedy.
"Sayang, kamu kok kesini?" tanya Willy.
Aurora pun langsung menghampiri Willy, matanya terbelalak lebar menyaksikan tangan Willy yang diperban.
"Tangan kamu kenapa sayang?" tanya Aurora panik.
"Gapapa," jawab Willy sambil tersenyum dengan tatapan mengarah pada Tedy.
******
Ilham serta yang lainnya hanya diam menatap Max dengan tatapan tak suka, ya mereka memang sudah tidak menganggap Max lagi.
"Ini kenapa pada diem aja pas gue dateng? Gak ada yang nyapa gue gitu?" tanya Max.
"Heh! Lu kenapa kesakitan gitu? Abis dihajar sama siapa lu?" ujar Ilham.
Max terdiam memalingkan wajahnya, ia terlihat saat hendak menjawab pertanyaan Ilham karena tak mau dianggap sebagai lelaki lemah.
"Kenapa sekarang lu yang diem? Tadi katanya minta ditanya, aneh!" ujar Ilham.
"Hahaha, ini mah pasti dia abis dihajar sama anak the darks!" celetuk Billy.
"Gausah sok tahu deh lu! Ini gue dikeroyok tadi sama orang di jalan," elak Max.
"Ah masa? Dikeroyok siapa emang? Berapa orang?" tanya Billy sedikit mengejek.
"Gak tahu, kayaknya sepuluh. Mereka dari rombongan mana gue gak tahu," jawab Max berbohong.
"Widih sepuluh! Tapi, luka lu kayaknya gak terlalu parah. Kalau lu lawan sepuluh orang, lu pasti udah masuk ke UGD atau meninggal!" ujar Billy.
Max emosi dan menarik kerah jaket Billy.
"Maksud lu apa? Lu pengen gue mati, ha?!" geram Max.
"Santai dong Max! Kan gue cuma heran aja, masa lawan sepuluh orang tapi luka lu sedikit?" ucap Billy.
"Itu karena gue hebat, mungkin kalo lu yang dikeroyok bakalan mati!" ucap Max.
"Hahaha, hebat? Sehebat apa sih lu Max? Ngelawan Willy aja lu gak bisa," ledek Choky.
"Eh diem lu! Jangan rendahin gue! Emang lu pikir gue gak bisa kalahin Willy? Gue bakal buktiin ke kalian, kalau gue lebih hebat dari Willy!" ucap Max.
"Gausah Max, mending sekarang lu pergi aja dan jangan balik lagi kesini!" ucap Ilham.
Max terkejut mendengarnya, sedangkan Billy berhasil menyingkirkan tangan Max dari kerah jaketnya.
"Maksudnya apa?" tanya Max heran.
"Lo keluar dari black jack! Kita gak butuh lu lagi disini, karena lu gak lebih dari seorang pecundang!" jawab Ilham.
"Kurang ajar! Lu nyingkirin gue? Eh dengar ya, sekarang gue leader di black jack dan lu gak bisa usir gue kayak gitu!" geram Max.
"Oh ya? Kalo gitu gue bakal ambil balik posisi leader disini dari lu," ucap Ilham.
"Sialan!" umpat Max seraya berdiri dan menatap emosi ke arah Ilham.
"Bangun lu anjing! Sini lawan gue!" tantang Max.
"Hahaha, oke!" Ilham menurut dan bangkit dari duduknya.
Tanpa basa-basi, Max langsung menarik tubuh Ilham dan memukulnya.
Bughh...
Satu pukulan tepat mengenai wajah Ilham, yang tentu saja membuat pria itu emosi.
Akhirnya Ilham membalas, perkelahian pun terjadi disana diantara kedua pria itu.
Sementara yang lain tampak menonton saja dan semuanya terlihat mendukung Ilham.
"Ayo Ham, hajar dia Ham!" ujar Billy.
Bughh.. bughh...
Dua hantaman beruntun dari Ilham kepada wajah dan punggung Max membuat Max terjatuh ke aspal dengan posisi tengkurap.
Bruuukkk..
"Akh!" Max memekik kesakitan.
"Hahaha, rasain tuh cowok cupu! Lu itu emang gak pantes jadi leader kita!" ledek Billy.
"Sial! Kalian lihat aja, gue bakal balas perbuatan kalian ini!" ancam Max.
"Kita gak takut, udah deh mending lu pergi sana!" ucap Ilham.
Max pun bangkit dengan susah payah, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara Ilham dan teman-temannya terus menertawakan Max walau pria itu sudah pergi menjauh.
******
"Ohh, jadi begitu ceritanya? Pantes aja kamu bisa diantar sama Tedy," ucap Willy.
Ya Aurora baru selesai menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya sebelum ini, dimana Max memaksanya untuk pergi dan Tedy datang menolongnya.
"Iya sayang, makanya kamu jangan cemburu dulu sama Tedy!" ucap Aurora.
"Hah? Siapa yang cemburu? Aku cuma kaget aja tadi ngeliat kamu bisa bareng Tedy," elak Willy.
"Halah ngeles aja kamu!" goda Aurora.
"Udah deh jangan begitu! Btw ini kamu gapapa kan? Ada yang luka gak sayang?" ujar Willy panik.
"Gak kok, gak ada. Tadi kan ada Tedy yang tolong aku," jawab Aurora.
"Syukurlah! Oh ya, thanks ya Ted!" ucap Willy.
"Sama-sama Wil," ucap Tedy sambil tersenyum.
"Terus, ini tangan kamu kenapa? Kamu kan udah janji mau ceritain semuanya setelah aku ceritain kenapa aku bisa ketemu Tedy," tanya Aurora.
"Iya iya, ini tuh tadi karena aku berantem sama Martin. Tapi bukan berarti aku kalah loh, aku sebenarnya bisa menang lawan dia, cuma masalahnya aku udah kehabisan tenaga karena aku sempat lawan anak buahnya dulu." jelas Willy.
"Huh iya aku tahu kamu gak mungkin kalah, kamu kan jagoan! Tapi, tangan kamu bisa patah gini berarti parah banget loh! Kenapa kamu gak pulang? Kok malah berantem?" ujar Aurora cemas.
"Aku kesel aja sama Martin, soalnya dia udah serang markas kita semalam." jawab Willy.
"Ish, tapi kenapa kamu gak bilang dulu sama aku? Kamu malah bilangnya pengen pulang, dasar pembohong!" ujar Aurora.
"Maaf ya sayang! Aku gak bilang karena takut kamu gak izinin," ucap Willy.
"Huft nyebelin!" cibir Aurora.
"Jangan cemberut dong sayang! Ini sekarang aku mau pulang, kamu temenin aku ya!" bujuk Willy.
Aurora mengangguk setuju.
"Yaudah aku anterin, tapi kamu harus nurut sama aku ya!" ucap Aurora.
"Iya cantik, pasti aku nurut sama kamu!" ujar Willy.
"Okay! Yaudah, yuk aku bantu kamu ke mobil!" ucap Aurora memegang tangan Willy.
"Makasih ya cantikku!" ucap Willy seraya mengelus wajah kekasihnya.
"Guys, gue pamit ya? Ingat loh pesan gue yang tadi!" ucap Willy pada teman-temannya.
"Siap Wil, hati-hati!" ucap mereka serentak.
Willy dan Aurora pun melangkah menuju mobil, sang supir wanita itu sudah membuka pintu sehingga mereka dapat masuk dengan mudah.
Kini mereka sudah berada di tengah jalan menuju rumah Willy, tampak Aurora masih terus memegangi lengan Willy dengan wajah cemas.
"Kamu gausah cemas terus sayang! Aku baik-baik aja kok!" ucap Willy.
"Iya, tapi tetep aja aku khawatir kamu kenapa-napa!" ucap Aurora.
Cup!
Willy tersenyum dan mengecup pipi Aurora dengan lembut.
"Makasih ya udah perduli sama aku!" ucap Willy.
"Kamu kan pacar aku, wajarlah kalau aku perduli dan perhatian sama kamu." ucap Aurora.
"Duh, emang kamu itu pacar yang the best deh!" ucap Willy.
Willy langsung memeluk tubuh Aurora dan mengecup wajahnya berkali-kali.
Ciiitttt...
Tiba-tiba saja sang supir menginjak rem dan membuat sepasang kekasih itu terkejut.
"Duh pak, gimana sih?!" tegur Aurora.
"Ma-maaf non! Itu tadi ada yang nyalip mobil kita, sekarang mereka malah berhenti tuh di depan." jawab supir itu panik.
"Apa??" Aurora terkejut dan langsung melihat ke depan, matanya terbelalak ketika mengetahui ada cukup banyak pemotor berhenti disana.
Bersambung....