My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 141. Gabung lagi



My love is sillie


Episode 141



"Hah? Kenapa??" Chalvin terkejut bukan main.


"Waktu itu geng the darks diincar sama orang-orang bayaran, mereka hajar satu persatu anggota kita, termasuk Thoriq dan Farrel. Sejak itu, orang tua mereka gak setuju kalau mereka balik lagi kesini," jelas Zafran.


"Apa??!" kaget Chalvin.


"Iya bro, makanya sekarang kita kehilangan anggota. Dan sampai saat ini, kita belum temuin pengganti mereka," ucap Zafran.


"Duh, berat juga ya?" ujar Chalvin.


"Ya begitulah bro, makanya sekarang kekuatan the darks itu rada berkurang. Kita aja gak bisa hadapin geng black jack tanpa Willy, kita selalu babak belur tiap mereka datangi kita," ucap Zafran.


"Hah? Black jack? Geng mana lagi itu? Geng baru?" tanya Chalvin amat kaget.


"Itu geng black punyanya si Ilham, mereka bikin geng baru yang lebih besar dan kuat. Sekarang mereka juga masih jadi musuh kita," jelas Zafran.


"Hah??" kaget Chalvin.


"Betul Vin, makanya kita lagi berusaha buat cari anggota baru di geng the darks. Supaya kita bisa mengimbangi kekuatan black jack, apalagi sekarang mereka juga dibacking sama Martin si mafia besar itu," ucap Leo.


"Berarti mereka kuat-kuat juga dong?" tanya Chalvin.


"Iya, itu karena pengaruh Martin. Kenapa Vin? Lo pengen coba lawan mereka?" ujar Leo.


"Eee gue..."


"Kalau iya lu mau, mending lu gabung aja deh sama kita lagi kayak dulu!" potong Leo.


"Nah betul tuh, gue setuju sama ucapan Leo! Lo balik aja ke the darks ya!" sahut Zafran.


"Justru emang itu yang mau gue sampein ke kalian, gue pengen balik kesini dan gabung sama kalian lagi," ucap Chalvin.


"Hah serius lo Vin?? Beneran lo mau gabung the darks lagi?" tanya Zafran yang langsung terkejut.


"Iya Zaf, makanya gue mau cari Willy karena gue pengen bicarain soal ini. Ya siapa tau aja gue bisa diterima lagi di geng the darks," jawab Chalvin.


Semua disana kompak terkejut bukan main.


"Wah ini sih berita menggembirakan banget buat kita-kita! Ya gak guys?" ujar Syakur yang langsung bangkit dari duduknya.


"Betul tuh! Kita seneng banget lo balik kesini Vin!" sahut Jeki.


"Kalian bisa aja, gue lah yang paling senang karena gue bisa diterima lagi di tempat ini. Bagi gue, the darks itu udah kayak keluarga dan susah buat gue lupain kalian semua!" ucap Chalvin.


Mereka yang ada disana merasa terharu mendengar ucapan Chalvin, memang benar bahwa sangat sulit untuk saling melupakan satu sama lain apabila sudah sangat lama bersama-sama.


"Tapi Vin, tetap aja lu harus bilang dulu sama Willy! Dia itu kan leader kita disini, jadi yang bisa terima lu di the darks ya cuma dia!" ucap Leo.


"Iya betul, bentar deh gue coba dulu telpon ke nomor si Willy," sahut Zafran.


"Eh gausah, nanti malah ganggu dia sekolah lagi! Udah biar nanti siang aja gue kesini lagi, siapa tahu Willy udah balik kan?" ujar Chalvin.


"Iya sih, terserah lo aja deh. Pastinya kita senang banget bro karena lu balik lagi ke the darks!" ucap Zafran.


"Hahaha, gue juga Zaf!" balas Chalvin.


******


"Kita kesini aja ya sayang?" ujar Randi.


"Oke!" Ayna mengangguk singkat.


Mereka duduk berdampingan di cafe itu, Randi terus menatap wajah gadisnya dan tersenyum.


"Kamu cantik banget sih!" goda Randi.


"Ah kamu bisa aja!" ucap Ayna.


Randi semakin mendekat, mengikis jarak diantara mereka dengan tangan yang terus mengusap rambut sang wanita.


"Ka-kamu mau apa? Jangan dekat-dekat Randi, malu!" ucap Ayna.


"Rileks sayang!" bisik Randi sensual.


"Ih kamu bilang tadi gak akan mau macam-macam ya sayang! Malu tau banyak orang!" sentak Ayna.


"Banyak darimana? Enggak ada tuh," ujar Randi.


"Tetap aja aku malu, kamu gausah kayak gini dong Randi sayang!" ucap Ayna dengan gugup.


Pria itu justru tersenyum dan menaruh tangannya di atas paha sang kekasih, mengusapnya lembut membuat Ayna merasa geli.


"Eemhh, Randi jangan nakal!" ucap Ayna berusaha menyingkirkan tangan Randi, tetapi gagal.


"Sssttt udah diem aja sayang! Kamu nyaman kan diginiin?" goda Randi.


"Gak nyaman, yang ada aku malah deg-degan takut ada yang lihat kita. Udah lah Randi, cepet lepasin tangan kamu!" sentak Ayna.


"Kalau aku gak mau gimana?" ucap Randi yang kini malah mengecup ceruk leher Ayna.


"Ahh.." de-sah Ayna tak tertahankan saat pria itu mengendus lehernya dengan mesra.


Tangan Randi bergerak semakin dalam, menyentuh bagian intim wanitanya dengan lembut yang membuat sang empu makin gelisah.


"Akh Ran, please!" lirih Ayna.


"Kamu suka kan? Nanti abis dari sini, kamu ke rumah aku ya? Supaya kita berdua bisa bebas ngapain aja," ucap Randi.


"Maksud kamu apa? Kamu mau ngapain ajak aku ke rumah kamu?" tanya Ayna.


"Gak ngapa-ngapain kok sayang, aku cuma pengen kenalin kamu sama rumah aku. Emang salah ya kalau aku bawa pacar aku ini ke rumah aku?" jawab Randi sambil tersenyum miring.


"Ya enggak sih, tapi beneran kan gak mau ngapa-ngapain? Awas loh ya kalau kamu mesum lagi disana!" ancam Ayna.


"Iya iya, gak bakal kok sayang," ucap Randi seraya mencubit hidung gadisnya.


Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri mereka dan membuat keduanya terkejut.


"Ehem ehem, misi pak bos!" sapanya.


Seketika Randi langsung mendongakkan wajahnya ke arah si pelayan, ia tersenyum tanpa menjauhkan tangannya dari inti Ayna.


"Ada apa sih? Saya kan belum panggil kamu, kenapa kamu udah datang?" tegur Randi.


"Eee..."


"Yeh malah bengong, ditanya sama bosnya itu dijawab bukan diam aja!" potong Randi.


"Maaf bos! Saya cuma mau tawarin makan atau minum aja gitu," ujar si pelayan.


"Hadeh, yaudah saya pesan coffe latte satu!" sentak Randi.


******


Sontak Aurora terkejut karena Willy dengan berani mengusir papanya demi bisa berduaan dengannya disana, sungguh tidak beradab.


"Ya ya ya, ini bapak juga mau ke depan kok. Sudah, kalian ke meja makan aja sana! Sarapannya udah disiapin sama ibu, jadi nak Aurora juga bisa sekalian sarapan!" ucap pak Gunawan.


"Ah eee i-i-iya pak, makasih!" ucap Aurora.


"Yaudah, bapak ke depan dulu ya?" ucap pak Gunawan lalu berlalu pergi.


Willy tersenyum dan kembali menatap gadisnya.


"Sayang, sekarang kan bapak udah ke depan. Jadi, kamu gak perlu malu lagi! Cium aku dong!" ucap Willy dengan manja.


"Hah? Cium? Cium pipi maksud kamu kan?" kaget Aurora.


"Ya bukanlah sayang, cium bibir yang aku mau. Atau enggak, aku yang cium kamu duluan nih," ujar Willy seraya memegang bibirnya.


"Ih gak mau!" tolak Aurora.


"Ohh gitu..." tanpa aba-aba, Willy menarik tengkuk Aurora dan mencium bibirnya cukup lama.


"Mmppphhh mmppphhh!!" Aurora coba berontak tetapi gagal.


Perlahan Willy mulai mendorong tubuh Aurora hingga menempel di tembok, memperdalam ciumannya sambil terus memaksa lidahnya untuk masuk.


Aurora yang tak mampu melawan, akhirnya membuka mulutnya dan memberi akses bagi Willy untuk bermain disana.


Merasa Aurora mulai kehabisan nafas, Willy pun melepas sejenak tautan mereka dan itu langsung dimanfaatkan Aurora untuk mengambil nafas.


"Haaahhh haaahhh.."


"Hahaha..."


"Ish malah ketawa, gak lucu tau! Aku sebel banget pokoknya sama kamu!" kesal Aurora.


"Hey, iya iya aku minta maaf!" ujar Willy sembari memeluk gadisnya itu dan mengusapnya lembut.


"Tadi itu aku terlalu naf-su sama kamu, jadinya aku lupa buat lepas ciumannya dan bikin kamu susah nafas. Maafin aku ya Aurora yang cantik jelita!" bujuk Willy.


Aurora hanya memutar bola mata malas, Willy pun menangkup wajahnya dan kembali mengecup bibir manis yang menjadi candu baginya itu.


Cup!


"I love you Aurora sayang!" ucap Willy.


"Willy, nak Aurora!" panggil Bu Ani.


Seketika Aurora dan Willy kompak terkejut melihat keberadaan Bu Ani serta Sasha disana.


"Hah ibu??" kaget Willy.


"Duh duh duh, kalian ini dilihat-lihat makin dekat dan mesra aja sih! Ibu jadi iri deh lihatnya, semoga kalian berdua langgeng terus ya!" ucap Bu Ani.


"Hehe, iya Bu aamiin! Insyaallah abis lulus aku bakal nikahin Aurora!" ujar Willy.


"Hah??" Aurora terkejut bukan main.


"Eh, kamu kenapa kayak gak senang gitu Aurora? Kamu gak mau dinikahin sama aku?" tanya Willy.


"Bu-bukan gitu Willy, tapi kan kamu udah janji buat nungguin aku lulus kuliah dulu," jawab Aurora.


"Iya juga sih," lirih Willy.


******


"Ah maling mana ada yang mau ngaku! Sekarang lo serahin duit itu, atau kita bakalan hajar lo berdua sampai masuk rumah sakit!" teriak si ketua geng mengancam Max.


"Bang Martin, gimana ini bang??" tanya Max panik.


"Kita hadapi mereka bersama, lo gak boleh jadi laki-laki pengecut!" sentak Martin.


"Ta-tapi bang.."


"Maju Max!" potong Martin.


Mau tidak mau, Max pun terpaksa ikut menyerang geng motor tersebut bersama Martin.


Kiara yang masih di dalam mobil, merasa bingung dan cemas melihat Martin serta Max berkelahi dengan geng motor itu. Ia khawatir jika salah satu diantara mereka akan terluka.


"Duh, aku harus gimana ya buat bubarin mereka? Apa aku telpon polisi aja?" gumam Kiara.


"Iya non, ada baiknya kita hubungi polisi non. Supaya tuan Martin juga bisa selamat," sahut sang supir.


"Eee i-i-iya deh pak, tapi bapak turun dong bantu tuan Martin lawan orang-orang itu!" ujar Kiara.


"Waduh! Saya bukan gak mau bantu tuan Martin non, kalau saya turun nanti non Kiara gimana?" ucap supir itu.


"Halah alasan aja kamu! Yaudah, saya mau telpon polisi dulu?" ucap Kiara.


"Siap non!" ucap si supir.


Kiara pun mulai menghubungi polisi.


Sementara itu, Martin terlihat mulai kehabisan tenaga karena harus melawan cukup banyak orang sekaligus disana.


Tak hanya Martin, bahkan Max pun sudah menjadi bulan-bulanan geng motor itu dan hampir pingsan karena tak mampu melawan lagi.


Bughh


Bughh


"Aakhhh ampun! Tolong hentikan gue gak kuat!" ucap Max memohon ampun pada mereka sambil terus menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Orang-orang itu akhirnya berhenti memukuli Max, lalu salah satu dari mereka menarik tubuh Max untuk berdiri menghadapnya.


"Heh! Lo gak mau mati di tangan kita kan?" ujarnya.


Max menggeleng dengan tubuh gemetar.


"Yaudah, lu nurut sekarang sama kita dan ikut kita atau gue habisin lu sama temen lu itu!" ancamnya.


"Oke oke, gue mau ikutin kemauan kalian. Sekarang lepasin gue dan jangan serang bang Martin lagi!" ucap Max mengalah.


"Bagus!" ucap pria itu singkat.


Akhirnya orang-orang itu berhenti menyerang Martin sesuai kemauan Max.


"Uhuk uhuk! Max, kenapa lo malah suruh mereka berhenti dan serahin diri lo? Apa lo mau mati, ha?" tanya Martin pada Max.


"Sorry bang! Gue justru gak mau lu mati gara-gara bantuin gue!" jawab Max.


Deg!


"Lo jangan ngeremehin gue Max! Gue sanggup hadapi mereka walau sendiri!" ujar Martin.


"Enggak bang, jangan maksa!" ucap Max melarang Martin agar tidak nekat.


******


"WOI!!!"


Mereka dikejutkan dengan suara teriakan yang datang secara tiba-tiba.


"Ngapain lo berdua disini? Mau mesum ya?!" tegur pria tersebut.


"Hah??" Thoriq dan Mia reflek berdiri.


"Siapa kalian? Ngapain berduaan di hutan kayak gini? Kalau mau mesum itu di hotel, yang modal dikit lah bro!" tegur si pria.


"Ki-kita gak mesum kok bang, kita kesasar. Tadi kita lagi naik kuda ini, terus gak sengaja sampai ke hutan ini. Untung kami ketemu sama abang, bisa kan kami minta bantuan?" jelas Thoriq.


"Kesasar? Jadi, kalian sewa kuda terus kesasar sampe sini?" tanya si pria.


"I-i-iya bang, emangnya kenapa?" Thoriq merasa heran dan curiga.


"Bohong! Alasan macam apa kayak gitu? Tempat kuda aja gak ada di dekat sini, jangan ngarang deh kalian!" tegur si pria.


"Ya mending kalian ngaku aja kalau mau berbuat mesum!" sahut pria yang lain.


"Apa sih bang? Mana ada kita mesum disini? Kalaupun iya, kenapa kita begituan siang-siang coba kan bisa malam biar enak?!" sangkal Thoriq.


"Iya juga ya.."


"Yaudah kita percaya sama alasan kalian, tapi emang kalian ini siapa dan tinggal dimana?" tanya pria itu pada Thoriq.


"Kenalin bang, saya Thoriq dan ini pacar saya namanya Mia!" ucap Thoriq seraya mengulurkan tangan ke arah pria itu.


"Gue Jamal, terus ini teman gue Ujang. Kita pemburu disini dan setiap hari kita selalu kesini buat tangkap buruan kita, gak nyangka juga kita bisa ketemu kalian sekarang," jawab pria bernama Jamal itu.


"Ohh, salam kenal ya bang Jamal, bang Ujang!" ucap Thoriq agak grogi.


Jamal dan Ujang hanya mengangguk pelan disertai senyum tipis, lalu mereka menyudahi sesi salaman itu dan kembali berbincang.


"Kalian mau keluar dari hutan ini kan?" tanya Jamal.


"I-i-iya bang, abang berdua bisa bantu kita keluar dari sini?" jawab Thoriq.


"Ya bisa lah, itu mah hal kecil buat kita. Tapi sebelumnya, gue minta kalian temenin gue dulu buat cari mangsa di sekitar sini!" ucap Jamal.


"Mangsa? Mangsa apa maksudnya bang?" tanya Thoriq tak mengerti.


"Ya hewan buruan lah, gimana sih lo?!" jawab Jamal ketus.


"Hehe.."


"Ta-tapi bang, kita gak ngerti caranya cari hewan buruan. Berburu aja kita gak pernah, ya kan sayang?" ucap Mia.


"Eee i-i-iya, betul itu bang!" sahut Thoriq dengan sedikit gugup.


"Lu berdua tenang aja, kita pasti kasih tau caranya nanti! Yang penting sekarang kalian ikut aja dulu sama kita!" ucap Jamal.


"Oke deh bang! Tapi, bener kan kalian bakal bantu kita buat keluar dari hutan ini?" ujar Thoriq.


"Iya, yah elah kagak percayaan amat! Gue mah udah hafal sama daerah sini," ucap Jamal.


Thoriq manggut-manggut saja, ia pun terpaksa mengikuti kemauan Jamal dan Ujang, meski ia sedikit merasa ragu.


Bersambung....