My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 83. Martin emosi



My love is sillie


Episode 83



Willy sampai di sekolah untuk menjemput Aurora dan mengantarnya pulang ke rumah.


Akan tetapi, Willy sangat heran ketika melihat Aurora tengah bersama Kiara di depan sana.


Willy pun menghampiri kedua gadis itu, menatap mereka dengan wajah terheran-heran.


"Hey! Kalian kok tumben banget berduaan begini disini? Biasanya kalian juga gak pernah akur, bikin aku jadi heran aja." ujar Willy.


"Eh Willy, kamu bicara apa sih? Kiara itu kan pacarnya sepupu aku, kak Martin. Jadi, buat apa kita harus gak akur kan?" ucap Aurora.


"Ya baguslah, aku senang lihat kalian berdua bisa akur kayak gini. Oh ya, emangnya si Martin belum datang buat jemput kamu Kiara?" ucap Willy.


"Eee belum, mungkin masih di jalan." ucap Kiara.


"Ohh, yaudah kita tungguin aja sampe Martin itu datang. Gak enak juga kalau ninggalin kamu sendirian disini, nanti kamu digodain sama cowok-cowok disini." ucap Willy.


"Gapapa lah Wil, kamu mau pulang duluan sama Aurora juga gapapa kok. Aku kan udah biasa tunggu mas Martin sendirian disini," ucap Kiara.


"Mas Martin? Sekarang kamu panggil dia udah gak pake kata tuan lagi?" tanya Willy heran.


"Eee aku..." Kiara tampak kebingungan menjawab pertanyaan Willy barusan.


"Wil, kamu apa sih? Kok nanyanya kayak gitu sama Kiara? Emang Kiara ngapain harus panggil kak Martin dengan sebutan tuan?" tanya Aurora.


"Gak kok, gak ada apa-apa. Tadi aku cuma asal bicara aja, maaf ya Kiara!" ucap Willy tersenyum.


"Ah iya, gapapa." ucap Kiara merasa lega.


"Yaudah, kamu udah makan siang belum sayang?" tanya Willy pada Aurora sembari membelai rambut gadis itu di hadapan Kiara.


"Belum nih, tapi tadi pas istirahat aku udah makan kok. Jadinya ya sekarang masih agak kenyang," jawab Aurora.


"Yeh istirahat mah jam berapa, itu udah lama tau. Kita makan siang dulu ya abis ini! Aku gak mau kamu sakit karena telah makan!" ucap Willy.


"Iya Willy, bawel banget sih!" ucap Aurora.


"Bukan bawel, justru aku perhatian sama kamu. Aku kan gak pengen pacar aku yang cantik jelita ini sakit walau sebentar!" ucap Willy.


"Ah bisa aja kamu mah!" ujar Aurora.


Willy pun merangkul pundak gadisnya sambil terus mengusap rambut serta wajah sang kekasih.


"Cantik amat sih kamu!" ucap Willy.


"Willy ih, jangan gombal terus dong! Gak enak tau ada Kiara disini, kamu kalo mau gombal itu tau tempat dong! Ini mah dimana-mana sukanya ngegombal aja," ucap Aurora.


"Ya gapapa dong, toh Kiara juga gak masalah. Ya kan Kiara?" ujar Willy sambil memeluk Aurora.


"Iya, gapapa kok. Kalau kalian mau pergi sekarang juga boleh, takutnya mas Martin masih lama datangnya." ucap Kiara.


"Enggak Kiara, kita berdua tunggu disini aja sampai kak Martin datang." ucap Aurora.


"Betul itu! Kondisinya sekarang lagi gak aman, nanti kamu malah diculik sama Max kayak Aurora kemarin. Jadi, kamu harus lebih hati-hati ya Kiara!" sahut Willy.


"Iya, aku ngerti kok." ucap Kiara.


Willy semakin mengeratkan pelukannya pada Aurora, bahkan ia juga menciumi seluruh bagian wajah gadis itu sampai lehernya.


"Wil, stop ah! Kamu jangan bikin tanda disitu!" ucap Aurora berbisik pelan.


"Kenapa sih? Aku suka sama wangi kamu, walau kamu keringetan tapi kamu tetap wangi dan cantik. Emang gak salah aku pilih kamu jadi pacar aku, kamu perfect banget sayang!" ucap Willy terus memuji gadisnya.


Aurora pun merasa sangat malu, pasalnya saat ini mereka tidak hanya berdua dan ada Kiara juga di dekat mereka.


"Willy ini kenapa ya? Apa dia sengaja ngelakuin ini supaya Kiara cemburu?" batin Aurora.


Tak lama kemudian, Martin pun tiba disana. Ia langsung menemui Kiara dan mengajak gadis itu pergi tanpa berlama-lama lagi.


***


Singkat cerita, Willy telah berada di sebuah restoran bersama Aurora untuk melakukan makan siang bareng disana.


Willy pun membantu Aurora duduk di sebelahnya, mereka berdua langsung memesan makanan tanpa melepas genggaman masing-masing.


"Wil, kenapa kamu ajak aku makan disini? Emang kamu punya uang?" tanya Aurora.


"Yeh kamu gimana sih? Yang bayar kan bukan aku, tapi kamu. Kamu kan tahu sendiri, aku mah belum kerja. Nah, kalau kamu itu kan anaknya orang kaya, jadi pasti duitnya banyak." jawab Willy.


"Ish, pacar macam apa sih kamu?! Masa malah minta dibayarin sama aku?" ujar Aurora.


"Hahaha, bercanda sayang. Kamu tenang aja, semua udah aku atur kok!" ucap Willy.


"Ih kamu mah bercanda terus!" cibir Aurora.


"Jangan kayak gitu sekarang deh sayang! Nanti kalau aku gak tahan dan ***** bibir kamu disini gimana?" ujar Willy.


"Apaan sih? Kamu tuh ya benar-benar mesum banget! Aku cuma cemberut aja kamu udah kayak gitu, emang dasar cowok!" ucap Aurora.


"Manusiawi dong sayang, abisnya bibir kamu enak banget. Kalau kita lagi berdua, pasti udah aku ***** habis bibir kamu itu. Gak akan aku kasih kesempatan kamu buat nafas," ucap Willy.


"Dih, kejam banget ya kamu!" ucap Aurora.


"Hahaha, kalau urusan ranjang aku memang begitu." ucap Willy sambil tertawa kecil.


Glekk..


Aurora menelan saliva nya dengan susah payah saat mendengar ucapan Willy barusan, apalagi ditambah dengan senyum smirk pria itu.


"Udah ya, jangan bahas soal itu!" pinta Aurora.


"Hehe, kamu pasti udah bayangin ya gimana aku kalau di ranjang..??" goda Willy.


"Ish apa sih?! Ngaco!" elak Aurora.


Gadis itu bangkit dari duduknya dan hendak pergi, namun ditahan oleh Willy yang mencekal lengannya dengan kuat.


"Mau kemana sih? Masa begitu aja kamu udah ngambek?" tanya Willy.


"Siapa yang ngambek? Aku tuh kebelet pengen pipis, sebentar doang kok." jawab Aurora.


"Ohh, aku kira kamu ngambek terus pengen pergi dari sini." ujar Willy.


"Enggak lah, yaudah ya aku ke toilet dulu? Kamu tunggu disini aja!" ucap Aurora.


Willy mengangguk pelan, sedangkan Aurora pergi dari sana menuju toilet dan meninggalkan Willy sendirian disana.


Setelah Aurora pergi, tiba-tiba saja seorang wanita muncul di dekatnya dan menghampirinya hingga membuat Willy terkejut.


"Hai Willy!" sapa wanita itu.


"Eh?" Willy terkejut bukan main, melihat Sasha ada di sampingnya tengah tersebut lebar.


"Sasha? Kamu ngapain disini?" tanya Willy heran.


"Aku kebetulan pengen makan siang disini, eh gak sengaja ngeliat kamu. Kamu kesini sendirian aja? Gak sama teman-teman kamu?" jawab Sasha.


"Aku sama Aurora, tapi dia lagi ke toilet sebentar. Kalau kamu gimana? Sendirian?" ucap Willy.


"Oh gitu, aku kira kamu sendiri. Ya kalau aku mah udah jelas lah Wil, aku kesini sendirian. Aku kan gak punya pacar kayak kamu," ucap Sasha.


"Aamiin!" ucap Sasha sambil tersenyum.


"Eh ya, kalau aku gabung disini sama kamu dan Aurora kira-kira dibolehin gak?" tanya Sasha pada Willy.


"Hah? Duh, maaf ya bukannya aku sombong atau apa! Tapi, kayaknya kamu gak bisa deh gabung sama kita disini." jawab Willy.


"Ohh..." ucap Sasha sambil merengut.


***


Setelah selesai makan, Willy masih terus berusaha membujuk kekasihnya yang ngambek itu.


Ya memang Aurora sempat marah pada Willy saat tahu bahwa ada Sasha di restoran tadi.


Akibatnya, hingga kini Aurora pun terus saja cemberut dan tak mau bicara pada Willy.


"Sayang, jangan kayak gini dong!" pinta Willy.


Aurora tak mendengarkan perkataan Willy, dia masih saja cemberut dan terdiam.


"Sayang.." lirih Willy.


"Lepasin aku!" bentak Aurora.


"Hey! Kamu itu kenapa sih? Kamu cemburu sama Sasha? Dia tuh cuma sahabat aku, dulu kita satu sekolah sebelum aku pindah ke sekolah kamu. Ayolah sayang, kamu jangan kayak gini ya!" ucap Willy membujuk kekasihnya.


"Aku gak cemburu, aku juga bebasin kamu kalau kamu mau berduaan sama Sasha. Tapi, syaratnya kamu harus jauhi aku dan jangan pernah datang di kehidupan aku lagi!" ucap Aurora.


"Apa sih sayang? Lebih baik aku gak dekat-dekat sama Sasha, dibanding aku harus jauhi kamu. Kamu itu wanita yang aku cintai, sedangkan Sasha cuma teman biasa aku. Ya jelas aku lebih pilih sama kamu lah cantik!" ucap Willy.


"Halah bohong! Kamu itu bisanya gombal terus, tapi gak pernah kasih bukti ke aku. Udah deh, jangan sok paling cinta sama aku!" ujar Aurora.


"Aku emang cinta banget sama kamu, sayangku. Aku gak akan biarin kamu pergi jauh-jauh dari kehidupan aku, karena aku bakal selalu kejar kamu sampai ke ujung dunia pun!" ucap Willy.


"Kamu sekarang lepasin tangan aku, atau aku teriak nih biar orang-orang dengar!" ancam Aurora.


"Eh eh, jangan dong sayang! Kamu emang pengen kalau aku digebukin sama warga? Jahat banget sih kamu, aku ini kan pacar kamu." ucap Willy.


"Bukan ya! Jangan ngaku-ngaku!" ujar Aurora.


"Yeh bukan darimana? Waktu itu kan kamu sendiri yang udah setuju, kalau kita ini ubah status dari pacar pura-pura jadi pacar beneran." ucap Willy.


"Ya tapi itu kan atas paksaan kamu, aku mah gak mau pacaran beneran sama kamu." ucap Aurora.


"Masa sih? Tapi, kalau dilihat-lihat kayaknya kamu itu sayang banget deh sama aku. Buktinya waktu itu kamu pernah perhatian banget sama aku, terus kayak seakan-akan kamu gak mau kehilangan aku." ucap Willy sambil tersenyum.


"Hah? Apaan sih? Gausah ngarang deh! Mana pernah aku kayak gitu?" elak Aurora.


"Kamu gausah ngelak, cantik! Aku bisa ingat semua itu di kepala aku," ucap Willy.


"Ya iyalah, kamu kan ngarang. Udah deh, jangan paksa aku terus!" ucap Aurora.


"Aku gak maksa, tapi aku yakin kalau kamu tuh emang mau sama aku. Sekarang kita ke markas the darks yuk! Kamu itu kan ratu the darks, jadi kamu harus kesana!" ucap Willy.


"Ih gak mau! Aku mau pulang aja, lagian aku belum ganti baju tau. Emangnya kamu sendiri gak mau pulang dulu?" ucap Aurora.


"Kalau aku udah pulang, nanti aku gak mungkin bisa keluar lagi buat temuin anak-anak. Jadi, aku mau langsung aja ke markas. Tapi, sebelumnya aku anterin kamu pulang dulu deh." ucap Willy.


"Gausah, aku mau ikut kamu aja!" pinta Aurora.


Willy memicingkan senyum, merasa senang lantaran gadisnya ingin ikut dengannya.


"Cie cie yang mau ikut sama aku.." goda Willy.


"Apa sih?!" protes Aurora tersipu.


***


Berbeda dengan keinginan Aurora, Willy justru mengantarkan Aurora pulang ke rumah dan bukan membawa gadis itu ke markas the darks.


Sontak saja Aurora langsung melakukan protes terhadap Willy, karena ia tentunya tak mau pulang ke rumah saat ini.


"Ish, kamu kok malah bawa aku pulang sih Wil? Aku kan udah bilang tadi, aku mau ikut sama kamu. Kamu itu tuli apa gimana sih, ha? Gak ngerti ya bahasa aku?" ucap Aurora.


"Heh! Kalo ngomong sama pacar itu yang sopan dikit, jangan kayak gitu!" tegur Willy.


"Apa sih? Jangan alihin pembicaraan deh!" ucap Aurora kesal.


"Ya ya ya, aku bawa kamu kesini karena aku pengen kamu ganti baju dulu sayang. Nanti abis itu, kita sama-sama ke markas the darks deh. Jangan marah dong cantik! Aku cium juga nih bibir kamu yang manis itu," ujar Willy.


"Haish, bilang aja kamu gak mau ajak aku ke markas the darks kan! Buktinya kamu aja gak ganti baju tuh, kenapa aku harus ganti?" ucap Aurora.


"Aku mah gapapa, kamu kan beda sayang. Nanti kalau dimarahin sama papa kamu gimana? Lebih baik mencegah daripada keburu dimarahin, jadi kamu masuk dulu ya sayang!" ucap Willy.


"Yaudah deh, tapi ayo kamu ikut masuk juga sama aku!" ucap Aurora menarik lengan Willy.


"Enggak dulu deh sayang, aku disini aja. Biar nanti begitu kamu kelar, kita bisa langsung pergi." ucap Willy sambil tersenyum.


"Huft, awas aja ya kalo kamu pergi duluan!" ucap Aurora.


"Gak kok cantik, tenang aja!" ucap Willy.


Akhirnya Aurora masuk ke dalam rumahnya, walau dengan perasaan jengkel akibat ulah Willy.


Sementara Willy tetap menunggu disana, ia mengamati Aurora sambil senyum-senyum sendiri.


"Tuh anak cantik amat sih!" ucapnya.


Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di dekatnya saat ia sedang asyik memandangi tubuh Aurora dari jauh.


Martin keluar dari mobil itu dan langsung menghampiri Willy dengan wajah emosi disertai tangan terkepal hebat.


"HEH! NGAPAIN LAGI LU DISINI B*NGSAT!" teriak Martin penuh emosi.


Bughh...


Martin memukul wajah Willy begitu saja, menarik kerah jaket pria itu dan memaksanya berdiri lalu menatapnya tajam.


"Lu dengar ya, lu jangan pernah injakin kaki lu di rumah ini lagi! Lu sama Aurora gak akan bisa bersatu, jadi lu gausah berharap kalau lu bisa miliki dia!" ucap Martin.


"Emangnya lu siapa? Lu gak berhak larang-larang gue kayak gini!" ucap Willy.


"Kurang ajar!" umpat Martin.


Bughh...


Martin memberi pukulan pada perut Willy, hingga pria itu tersungkur ke jalan.


"Bangun lu cupu!" ucap Martin.


Willy berusaha bangkit sembari memegangi perutnya, tapi lagi-lagi Martin memukul wajahnya.


Bughh...


Willy pun terkapar di aspal, Martin tersenyum penuh kemenangan merasa bahwa Willy sudah berhasil ia kalahkan.


"Ternyata lu gak sekuat yang gue kira, lu itu cuma manusia lemah! Gue abisin lu sekarang juga!" ucap Martin.


"Hiyaaa..." Martin berteriak dan hendak menyerang Willy kembali.


"MARTIN CUKUP!!!"


Bersambung....