
My love is sillie
Episode 86.
•
"Eenngghh ahh.." lirih Aurora.
Aurora hanya bisa pasrah memejamkan matanya, sentuhan lidah Willy di kulitnya membuat Aurora merasa nikmat.
Pria itu kini sampai di perut rata sang kekasih, kembali menjilatinya rakus dan meninggalkan bekas yang cukup banyak.
"Apa ini saatnya aku kehilangan kesucian yang sudah aku jaga selama ini?" batin Aurora.
Benar saja, Willy langsung melepas celana yang dikenakan Aurora hingga gadis itu hampir telanjang sempurna.
Disaat Willy hendak meneruskan aksinya membuka kain segitiga tersebut, tiba-tiba saja sebuah suara muncul mengagetkan dirinya.
Praaangg...
Batu yang cukup besar berhasil memecahkan kaca ruangan tersebut dan membuat sepasang kekasih yang hendak bercinta itu terkejut.
"Hah??" Willy dan Aurora kompak menoleh ke arah jendela untuk mencari tahu siapa pelakunya.
Mereka berdua menangkap sosok pria yang mengenakan topeng hitam tengah berdiri di luar sana, lalu berlari begitu saja dengan cepat.
"WOI SIAPA LU??!!" teriak Willy emosi.
Willy langsung berlari cepat mengejar pria di luar itu dengan tergesa-gesa, bahkan ia meninggalkan Aurora begitu saja disana.
"Wil, tunggu Willy! Kamu mau kemana?" teriak Aurora.
Gadis itu ingin mengejar Willy, namun ia sadar kondisinya saat ini sudah hampir telanjang dan hanya menyisakan pakaian dalamnya saja.
Aurora pun mengurungkan niatnya sesaat, ia mengenakan semula pakaiannya yang dibuang Willy ke lantai sebelum mengejar pria itu.
"Duh, ini gara-gara Willy mesum gak tahu tempat sih!" geram Aurora.
"Kira-kira orang tadi siapa ya? Apa dia sengaja mau gagalin kemesuman Willy?" gumam Aurora.
Setelah selesai berpakaian, Aurora langsung bergerak cepat mengejar Willy keluar dari tempat tersebut.
"Ah sial!" teriak Willy.
Aurora berhasil menemukan kekasihnya, ia pun menghampirinya dengan cepat sebelum Willy melangkah lebih jauh lagi.
"Wil, Willy tunggu!" ucap Aurora ngos-ngosan.
"Hah? Sayang, kamu ngapain kesini?" ucap Willy terkejut.
"Ya aku ngikutin kamu lah, gimana orang yang tadi, ketemu gak?" ucap Aurora.
"Enggak, dia berhasil kabur." ucap Willy.
"Yah gimana sih kamu? Harusnya tuh kamu kejar dia sampai dapat dong Wil! Gimana kalau dia tadi rekam kegiatan kita, terus dia punya niat jahat sama kita?" ucap Aurora.
"Mau gimana lagi? Aku udah berusaha kejar dia, tapi gak berhasil." ucap Willy.
"Ish, ini gara-gara kamu sih mesum gak tahu tempat! Aku kan udah bilang jangan, eh kamu malah maksa-maksa aku!" ucap Aurora.
"Iya iya, aku minta maaf! Aku gak tahu kalau bakal ada tuh orang tadi," ucap Willy.
"Yaudah, sekarang kita mau kemana?" tanya Aurora.
"Aku antar kamu pulang," jawab Willy sembari menggandeng tangan Aurora.
"Terus kamu?" tanya Aurora.
"Aku bakal susul yang lain ke rumah sakit, abis itu aku juga mau cari siapa pelaku yang barusan pergokin kita." jawab Willy.
"Huh, yaudah aku nurut aja sama kamu." ucap Aurora.
"Bagus! Ayo kita pergi sekarang!" ucap Willy.
Aurora mengangguk setuju, kemudian Willy pun menarik tangannya dan mulai melangkah pergi dari tempat itu.
******
Disisi lain, Thoriq sudah sembuh dari penyakitnya dan kini tengah bersiap untuk pulang ke rumah.
Ia terkejut lantaran terdapat Randi serta Tedy dan Arif di depan kamarnya saat ini.
"Loh kalian? Ngapain kalian bertiga disini? Seharusnya kalian itu gak kesini, gue gak mau nyokap bokap gue makin marah." ujar Thoriq.
"Maksud lu apa Riq? Kita tuh cuma mau jenguk lu, emangnya gak boleh? Masa seorang sahabat lagi sakit, terus kita diem aja?" ujar Tedy.
"Sabar Ted! Kita dengerin dulu!" ucap Randi.
"Sorry guys! Gue bukan gak pengen dijenguk sama kalian, tapi masalahnya sekarang itu nyokap bokap gue udah ngelarang gue buat gabung sama kalian lagi. Gue juga diminta jauh-jauh dari kalian semua, sorry banget ya!" jelas Thoriq.
"Hah? Lu seriusan Riq? Berarti lu mau keluar dari the darks?" tanya Tedy terkejut.
"Eee.."
"Iya benar! Anak saya Thoriq bukan lagi bagian dari kalian, jadi kalian jangan pernah temui atau libatin Thoriq lagi ke dalam urusan kalian!" ucap mama Thoriq yang muncul dari belakang.
"Mah, mama jangan begitu lah sama mereka! Mereka itu kan teman aku, lagian ini juga bukan salah mereka kok." ucap Thoriq.
"Udah ya Thoriq, kamu dengerin aja nasehat mama! Sekarang ayo kita pulang, kamu jangan pernah lagi dekat-dekat sama mereka!" ucap mama Thoriq.
"Tapi mah—"
"Gak ada tapi-tapi, udah ayo!"
Thoriq langsung ditarik pergi oleh mamanya, walau ia sebenarnya masih ingin berada disana bersama ketiga sahabatnya tersebut.
"Aaarrgghh!! Ini semua gara-gara peneror gak jelas itu! Kita harus kasih pelajaran ke mereka! Kita balas perbuatan mereka!" geram Tedy.
"Stop Ted! Lu gak denger apa kata Willy waktu itu? Kita serahin aja semuanya ke Willy, biar dia yang atur semuanya dan balas dendam ke si peneror itu!" tegur Randi.
"Tapi Ran, Willy gak bisa diandelin! Buktinya sampe sekarang kita masih belum dapat kabar dari dia tentang ini, dia itu udah terlalu bucin sama ceweknya!" ucap Tedy.
"Untuk kali ini gue setuju sama Tedy, Ran." sahut Arif.
Randi terdiam bingung, ia juga tidak tahu bagaimana caranya untuk membuat geng the darks bersatu kembali seperti dulu.
"Dah lah, gue mau bertindak sendiri aja!" ujar Tedy.
"Heh! Lu mau kemana? Kita ini punya ketua, kita gak bisa bertindak gitu aja tanpa seizin ketua kita. Jadi, lu tetap disini!" ucap Randi.
"Gak ada ketua-ketua lagi, gue mau bertindak atas nama persahabatan!" ucap Tedy.
Tedy pun pergi begitu saja dari sana meninggalkan Randi, begitu juga dengan Arif yang ikut menyusul Tedy pergi dari sana.
******
Willy dan anak-anak the darks lainnya kecuali Tedy serta Arif tengah berkumpul di markas mereka malam ini.
Tampak Willy sangat kecewa karena Thoriq memutuskan keluar dari gengnya, serta Tedy dan Arif yang memilih bertindak sendiri.
"Gue udah pernah bilang sama kalian sebelumnya, apapun yang mau kalian lakuin itu harus dikoordinasikan dulu disini! Tapi apa, sekarang kita malah jadi pecah kayak gini. Tedy sama Arif udah gak anggap gue sebagai pemimpin disini, mereka bertindak gitu aja tanpa seizin gue. Gue benar-benar kecewa sama orang kayak mereka! Lihat aja nanti, kalau terjadi sesuatu sama mereka, gue gak bakal mau bantu!" ucap Willy.
"Wil, lu gak bisa gitu dong! Biar gimanapun juga, di the darks itu ada peraturan tertulis bahwa kita harus saling membantu sesama anggota. Jadi, kita ya harus tetap bantu Tedy dan Arif dong!" ucap Zafran.
"Iya gue tahu, gue lebih ngerti daripada lu. Tapi, buat apa gue bantu orang-orang yang udah gak anggap gue lagi? Biarin aja mereka gerak sendiri, gue gak perduli lagi!" ucap Willy.
"Wah lu benar-benar aneh Wil! Mereka kayak gitu kan juga karena kesalahan lu!" ucap Syakur.
"Hah? Maksud lu apa?" tanya Willy.
"Lu gausah pura-pura gak tahu deh Wil! Selama ini lu kemana aja, ha? Lu sibuk ngebucin sama cewek lu, sampe lu lupa buat urus the darks! Tedy sama Arif itu cuma mau balas perbuatan orang-orang yang udah bikin anggota kita celaka, jadi mereka gak salah men!" jawab Syakur.
"Iya Wil, lu udah gak kayak dulu lagi. Asal lu tahu aja, geng the darks makin hancur sejak lu lebih sibuk ngebucin sama cewek lu dan jarang datang kesini!" sahut Zafran.
"Hooh, jadi jangan salahin kita kalau kita nantinya gak mau tunduk lagi sama lu! Toh lu aja seakan-akan gak perduli sama kita, lu cuma mikirin cewek lu aja. Kita yang udah lama kenal sama lu, malah diacuhin gitu aja!" ujar Brian.
"Tenang guys! Jangan sampai the darks jadi pecah kayak gini! Kita ini keluarga, dan kita harus terus bersatu!" ucap Randi.
"Iya, masih untung gue dibolehin buat kumpul disini lagi sama orang tua gue. Coba kalau nasib gue sama kayak Thoriq dan Farrel, mungkin gue udah gak ada disini lagi." ucap Leo.
"Terserah kalian aja mau bilang apa! Gue bakal cari Tedy dan Arif sekarang, terus gue abisin mereka! Pengkhianat kayak mereka gak pantas hidup!" ucap Willy.
"Hah??" semuanya terkejut mendengar itu.
Willy langsung bergerak cepat keluar dari markas the darks menuju motornya.
"Wil, tunggu Wil!" teriak Randi berusaha mengejar dan menahan Willy.
"Tahan Wil!" pinta Randi pada Willy.
"Lu mau ngapain tahan-tahan gue? Pengen jadi superhero? Mending lu masuk ke dalam, tenangin mereka semua supaya gak ada keributan lagi!" ucap Willy yang sudah berada di atas motornya.
"Wil, ayolah jangan gini! Gue gak mau lu dianggap sebagai ketua yang gak bener, jadi tolonglah tahan emosi lu!" ucap Randi.
"Yang gue lakuin ini demi kebaikan the darks, jadi jangan tahan gue! Gue gak mau the darks pecah dan jadi dua kubu, maka dari itu si pengkhianat harus dihabisi dari sekarang!" ucap Willy.
"Tapi Wil.."
"Gue pergi dulu!" potong Willy.
"Wil, Willy!!" teriak Randi.
Namun, Willy tak menggubris itu dan tetap pergi dari sana dengan motornya.
"Gue harus susul Willy!" ucap Randi.
Randi pun menaiki motornya, lalu pergi dengan cepat untuk mengejar Willy.
Sementara para anggota the darks yang lainnya hanya bisa terdiam disana.
******
"WOI ILHAM ANJING!!" teriak Tedy seraya menunjuk dan berjalan ke arah Ilham.
Tedy dan Arif berhasil mencegat Ilham di jalan raya saat pria itu sedang berkendara seorang diri.
Tampak kedua pria tersebut memegang sebuah balok di tangan masing-masing sambil tersenyum smirk ke arah Ilham.
"Kalian dua curut mau apa, ha?" ujar Ilham.
"Kita mau habisin lu saat ini juga b*ngsat!" jawab Tedy dengan lantang.
"Hahaha, silahkan aja kalo bisa!" tantang Ilham.
"SIKAAATTT!!" teriak Tedy penuh emosi.
Tedy dan Arif pun mulai maju menyerang Ilham dengan balok yang mereka pegang.
Ilham berusaha menangkis dan memberikan perlawanan terhadap mereka walau sulit.
Bughh... pukulan Tedy berhasil mengenai punggung Ilham dan membuat pria itu terdorong.
Bugghhh... kali ini giliran Arif yang berhasil memukul Ilham dengan baloknya.
Bruuukkk...
Ilham pun akhirnya terjatuh ke aspal, memegangi perutnya sambil terbatuk-batuk menahan rasa sakit.
"Hahaha, sekarang lu gak bisa apa-apa lagi. Kita berdua bakal abisin lu disini!" ujar Tedy.
"Dasar pengecut lu berdua! Satu lawan satu kalo berani anjing!" umpat Ilham.
"Kenapa? Suka-suka kita dong mau keroyok lu atau enggak, lagian dalam dunia jalanan itu gak ada aturan yang mengharuskan kita duel satu lawan satu." ucap Tedy tersenyum smirk.
"Emang anjing lu berdua!" umpat Ilham.
"Gausah banyak bacot lu! Terima aja ini! Hiyaaa.." teriak Arif penuh emosi.
"WOI BERHENTI!"
Arif yang hendak memukul Ilham pun mengurungkan niatnya saat mendengar suara teriakan tersebut.
Arif dan Tedy menoleh secara bersamaan ke asal suara, terdapat para anggota black jack yang datang dengan motor mereka di depan sana.
"Gawat Ted! Kita harus cabut dari sini sekarang Ted!" ucap Arif panik.
"Hahaha, takut ya? Dasar mental pecundang!" ledek Ilham.
"Aaarrgghh sialan!" geram Tedy.
Tedy membanting balok yang ia pegang itu ke jalan, lalu pergi menuju motornya diikuti oleh Arif.
"WOI JANGAN LARI LO!"
Anak-anak black jack berusaha mengejar kedua pria itu dan berhasil.
Bughh.. bruuukkk...
Satu tendangan di punggung Tedy berhasil membuat pria itu tersungkur ke jalan.
"Tedy?" ucap Arif cemas.
"Hahaha, mampus lo!" tawa Ilham dari belakang.
Bruuukkk...
Arif akhirnya juga tersungkur sama seperti Tedy, keduanya pun kini dikelilingi oleh para anggota black jack yang berjumlah sangat banyak itu.
"Hahaha, kacung kacung kayak kalian ini gak ada gunanya! Cuma bisa jadi pengecut yang sok jagoan! Sekarang terima nasib kalian, kita bakal bikin kalian mati!" ujar Billy.
"Cuih! Kita bukan kacung! Justru kalian semua yang kacung nya Ilham!" ucap Tedy meludah ke samping.
"Berani banget lu ngomong gitu di depan kita! Lu gak takut mati?" ucap Billy.
"Sampai kapanpun, kita gak akan pernah takut sama kalian! Walau kita harus mati saat ini, yang penting kita mati sebagai seorang kesatria!" ucap Tedy.
"Hahaha, kstaria mana yang tersungkur di jalanan kayak kalian? Tapi udah lah ya, gue biarin aja lu ngomong gitu sebagai ucapan terakhir lu." ucap Billy sambil tersenyum.
Billy dan yang lainnya pun tampak bersiap untuk memukuli Tedy serta Arif disana.
"SERAANGGG!!" teriak Billy.
Grrrr...
Ngeeengg...
Tiba-tiba sebuah motor yang melaju dari arah berlawanan datang menghampiri mereka.
"Awas!" teriak Billy berusaha menghindar.
Motor tersebut melaju melewati mereka, sehingga ia berhasil membuat Billy dan yang lainnya melebar menjauh dari Tedy serta Arif.
Beruntung juga Tedy dan Arif berhasil menghindar dari pemotor tersebut.
Ciiitttt...
Motor itu juga berhenti secara mendadak hingga bagian belakangnya terangkat sedikit, si pemotor membalikkan motornya dengan lincah dan menggeber motornya sampai mengeluarkan asap.
"Siapa tuh orang?" tanya Geri bingung.
"Entahlah, tapi yang pasti dia bagian dari the darks. Lihat aja jaketnya!" jawab Choky.
"Ah iya, emang sialan tuh orang!" umpat Geri.
"Kita majuin aja dia!" ujar Choky.
"Gas!"
Saat mereka hendak maju, motor tersebut sudah lebih dulu mendekat dan berputar-putar di sekitar mereka dengan lihainya.
Bersambung....