My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 49. Makan siang



My love is sillie


Episode 49



"Aduh sayang! Lu kok gitu sih? Gue ini kan pacar lu, tega amat lu begitu sama gue!" ujar Willy.


"Biarin. Suruh siapa lu mesum banget jadi cowok?! Kalau lu pengen gue jadi cewek baik-baik, yaudah lu juga harus berubah dong! Lu gak boleh lagi gabung ke geng the darks!" ucap Aurora.


"Hah? Kok gitu??" ucap Willy terkejut.


"Kenapa? Gak berani ya? Kalo gitu jangan larang larang gue buat jadi ratu jalanan! Lu itu gak berhak kayak gitu!" ucap Aurora.


Aurora hendak pergi dari sana, namun lagi-lagi Willy mencekal lengannya cukup erat.


"Akh!" Aurora kembali reflek bersuara ketika lengannya dicengkeram cukup kuat oleh Willy.


"Lu mau kemana sih? Lu gak boleh pergi sebelum lu nurut sama gue! Ini semua demi kebaikan lu Aurora, gue gak suka kalo lu jadi berandalan kayak gue!" tegas Willy.


Aurora sungguh bingung dengan sikap Willy saat ini, pria itu begitu keras melarangnya masuk ke dunia jalanan.


"Willy?" keduanya terkejut mendengar suara halus yang muncul di dekat mereka, sontak Willy mengalihkan pandangannya ke samping dan menangkap sosok gadis berdiri disana.


"Kiara? Kenapa?" tanya Willy heran.


"Eee gapapa kok, gue cuma mau bilang jangan kasar sama perempuan! Itu kasihan cewek lu kesakitan digituin!" jawab Kiara.


"Hah? Ohh Aurora? Dia mah udah biasa, gak mungkin kesakitan." ucap Willy nyengir.


"Dih, pala lu udah biasa! Mau gimanapun juga tetap sakit lah paok! Buruan lepasin tangan gue, denger tuh kata Kiara! Lu itu gak boleh kasar sama perempuan!" ucap Aurora.


"Hahaha, kalau perempuannya bandel kayak lu mah gapapa kali dikasarin. Abisnya gue kesel banget sama lu!" ucap Willy.


"Ish, emang gue ngapain coba?" tanya Aurora.


"Udah udah udah, kita bahas itu di jalan aja nanti! Eh Kiara, yaudah ya gue sama Aurora mau pergi duluan? Lu pasti dijemput sama si rentenir mesum itu kan?" ucap Willy.


"Ah iya, kalian hati-hati ya!" ucap Kiara singkat.


Willy mengangguk singkat, kemudian mengajak Aurora pergi dari sana meninggalkan Kiara.


Sementara Kiara tetap disana, ia terus memandang ke arah Willy sambil tersenyum tipis.


Pukkk...


Tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya dari belakang, sontak Kiara terkejut dan reflek menoleh ke belakang mencari siapa pelakunya.


"Hai Kiara! Kita ketemu lagi deh, kamu udah mau pulang kan?" ucap pria yang tak lain ialah Max.


"Eee iya nih Max, aku udah mau pulang. Emangnya kenapa ya?" ucap Kiara.


"Gimana kalo kita bareng aja? Kebetulan hari ini aku gak ada kesibukan lain, jadi kayaknya aku pengen anterin kamu aja deh sekalian ajak kamu keliling kota." ucap Max.


"Duh, gausah deh Max! Aku juga udah dijemput kok sama pacar aku, kamu pulang aja ya Max! Aku duluan, okay?" ucap Kiara tersenyum.


Max tersentak mendengar perkataan Kiara, ia diam saja disana tanpa bergerak sedikitpun.


Sementara Kiara sudah pergi lebih dulu meninggalkan Max dan sedikit lega karena berani mengatakan bahwa dirinya telah memiliki pacar.


"Pacar? Buset deh, cewek yang gue taksir kenapa udah punya pacar semua sih?!" ujar Max.


***


Aurora menghentikan langkahnya sejenak dan meminta Willy juga ikut berhenti.


Willy pun terkejut dan merasa kesal karena Aurora tiba-tiba berhenti disana.


"Haish, lu kenapa sih? Parkirannya masih di depan sana, ngapain lu berhenti segala? Bikin senam jantung aja!" ucap Willy kesal.


"Sorry! Gue kebelet pipis nih, gue mau ke toilet sebentar ya? Lu tunggu disini aja, nanti gue balik. Gak lama kok," ucap Aurora.


"Yah elah, kenapa gak daritadi sih?" ujar Willy.


"Ih namanya baru kerasa sekarang, kalau ditahan takut nanti bocor di jalan. Emang lu mau jok motor lu kena ompol gue?" ucap Aurora.


"Dih, ya jangan lah! Yang ada abis nanti jok gue bau kencing lu, yaudah sana ke toilet!" ujar Willy.


"Ahaha, tunggu sebentar ya! Atau kalo lu mau balik duluan juga gapapa, gue nanti bisa pulang sendiri naik taksi." ucap Aurora.


"Pala lu balik sendiri! Lu harus gue anterin lah! Gue tungguin sampe lu kelar, malah kalo bisa gue temenin ke toilet sekarang!" ujar Willy.


"Ih dasar otak mesum!" umpat Aurora kesal.


Aurora langsung berbalik dan pergi meninggalkan Willy menuju toilet di dekat sana, sedangkan Willy terkekeh saja melihat ekspresi kesal Aurora tadi.


"Hadeh, imut banget sih tuh cewek!" ujarnya.


Disaat Willy hendak duduk sembari menunggu Aurora, tiba-tiba saja Kiara kembali muncul di dekatnya dan membuat pria itu terkejut.


"Kiara? Eh kita ketemu lagi, haha kayaknya emang kita bakal sering ketemu ya sejak kamu ikut sekolah disini. Huh makin susah deh buat aku moveon dari kamu," ucap Willy.


"Maksud kamu apa, Wil? Bukannya kamu udah punya pacar? Kenapa kamu bilang, kalau kamu masih belum bisa moveon dari aku? Berarti, kamu selama ini masih mikirin aku dong?" tanya Kiara.


"Jujur aja, iya. Aku emang masih terus kepikiran sama kamu, Kiara." jawab Willy.


"Ya kamu tahu sendiri lah ya, biarpun kita cuma kenal sebentar tapi entah kenapa rasa sayang aku ke kamu itu udah besar banget." sambungnya.


"Begitu juga aku, Wil. Sampai saat ini aku masih sulit buat melupakan kamu," batin Kiara.


"Eee yaudah ya, kamu pulang aja gih sana! Kasihan tuh Martin udah nungguin di parkiran, dia nanti marah loh kalau tahu kamu malah samperin aku disini!" ucap Willy tersenyum menahan tangisnya.


"Iya Wil. Eee Aurora mana?" tanya Kiara.


"Dia lagi ke toilet sebentar, nanti juga balik lagi. Oh ya, titip salam ya buat Martin! Gue yakin dia bisa jagain lu kok!" ucap Willy.


Willy mengangguk pelan lalu berkata, "Iya, nanti aku sampein ke dia. Kamu juga bahagia terus ya sama Aurora! Jangan sakiti dia seperti tadi! Wanita itu suka kelembutan dan perhatian dari kekasihnya."


"Sure. Aku akan bersikap lembut ke Aurora, seperti ketika aku bersikap lembut sama kamu Kiara. Aku akan selalu ingat semua kenangan kita dulu!" ucap Willy yang sudah mulai berkaca-kaca.


Akhirnya satu tetes air mata mengucur membasahi wajah Willy.


"Kamu nangis Wil?" tanya Kiara terkejut.


"Ah eee enggak kok, ini kayaknya efek kelilipan tadi deh. Yaudah, kamu pulang aja sana! Have fun ya Kiara!" ucap Willy menahan air matanya.


"Okay, kamu juga." ucap Kiara.


Willy mengangguk dan masih terus menutupi matanya dengan tangan agar ia tak menangis.


Kiara perlahan mulai melangkahkan kakinya pergi dari sana, namun ia juga masih melirik ke arah Willy yang tengah memukul-mukul dinding disana dan nampak semakin bersedih.


"Willy, maafin aku ya! Jujur aku gak tega lihat kamu sedih begini, aku benar-benar nyesel udah tinggalin kamu!" batin Kiara.


Tanpa sepengetahuan mereka, rupanya Max mengintip dari jauh dan terkejut melihat Willy serta Kiara tampak dekat.


***


Di parkiran, Kiara langsung menuju mobil Martin yang sudah terletak disana sesuai dugaan Willy tadi.


Terlihat Martin tersenyum ke arahnya tanpa keluar dari mobil.


"Langsung masuk aja!" pinta Martin pada Kiara.


Kiara mengangguk pelan, lalu masuk ke dalam mobil Martin dan duduk tepat di sebelah pria itu.


"Gimana sekolah kamu? Lancar?" tanya Martin.


"Lancar kok tuan, malahan aku senang banget bisa sekolah lagi kayak gini. Terimakasih ya tuan, berkat tuan sekarang aku bisa merasakan yang namanya sekolah! Aku punya teman, terus aku juga gak bosan diam di rumah terus." jawab Kiara.


"Syukurlah, saya ikut senang kalau lihat kamu ceria begini! Disana gak ada yang godain kamu kan sayang?" ucap Martin memegang dagu Kiara dan menariknya sedikit.


"Eee gak ada kok, tuan. Tapi, disana ternyata ada Willy juga." jawab Kiara gugup.


"Apa? Willy? Gimana bisa anak berandalan itu sekolah disini? Memangnya dia punya uang apa buat bayar biayanya?" ujar Martin kaget.


"Aku gak tahu tuan, tapi itu yang terjadi." kata Kiara.


"Ah sial! Terus, apa dia berusaha buat deketin kamu lagi tadi?" tanya Martin.


"Enggak kok tuan, dia kan sekarang udah punya pacar." jawab Kiara menggeleng.


"Baguslah, semoga aja dia emang beneran udah moveon dari kamu dan gak akan deketin kamu lagi!" ucap Martin tersenyum.


"Iya tuan, semoga!" ucap Kiara.


"Yasudah, kamu mau kemana dulu sekarang?" tanya Martin.


"Terserah tuan aja, aku kan cuma penumpang disini. Jadi, suka-suka tuan mau bawa aku kemana. Aku mah nurut aja sama tuan," jawab Kiara.


"Yakin? Kalau saya bawa ke KUA gimana? Masih mau nurut gak?" tanya Martin memancing.


"Eee gak gitu juga, tuan. Aku kan baru aja lanjut sekolah lagi, masa tuan udah mau nikahin aku? Nanti yang ada aku berhenti sekolah lagi dong, gak bahagia lagi dong." jawab Kiara.


"Loh, memangnya kamu gak bahagia kalau menikah dengan saya Kiara?" tanya Martin kesal.


"Ah bukan gitu tuan, maksud aku—"


"Gausah ngeles! Semua kata-kata kamu tadi sudah cukup untuk menjawab itu," potong Martin.


"Tuan, jangan marah dulu! Aku bukannya gak bahagia nikah sama tuan, tapi aku kan baru sekolah lagi tuan." ucap Nadira coba menjelaskan.


"Ya ya ya, kita makan siang dulu yuk di restoran dekat sini! Kamu belum makan kan?" ucap Martin yang tiba-tiba jadi baik lagi.


"Iya tuan, belum." jawab Kiara.


"Oke, kamu lagi mau makan apa sekarang?" tanya Martin sembari mengusap kepala Kiara.


"Eee apa aja tuan, terserah." jawab Kiara.


"Duh, kebiasaan deh kamu. Kalau ditanya mau makan apa tuh jawab yang bener, bukan malah jawab terserah. Gimana saya bisa ngerti coba?" ujar Martin geleng-geleng kepala.


"Hehe, aku juga bingung tuan. Yaudah, apa aja yang tuan mau makan, aku ngikut." ucap Kiara nyengir.


"Jangan senyum begitu di depan saya! Nanti saya khilaf dan gak bisa kontrol diri, kamu bisa kehilangan perawan kamu loh!" ucap Martin.


"Hah? Masa cuma gara-gara senyum, aku bisa hilang perawan sih tuan?" ujar Kiara kaget.


"Ya bisa aja, soalnya senyum kamu itu manis banget dan selalu bikin saya tegang. Makanya jaga-jaga ya kalau mau senyum!" ucap Martin.


"Eee iya tuan.." ucap Kiara menurut.


Martin mulai melajukan mobilnya, Kiara tidak lagi tersenyum karena takut dengan kata-kata Martin tadi.


******


Sasha yang hendak menaiki motornya, merasa terkejut saat tiba-tiba tangannya ditarik dari belakang oleh seseorang.


Ya itu adalah Ilham, lelaki yang memang selalu berusaha mendekati Sasha dan ingin Sasha mau menerima cintanya.


"Sasha, tunggu!" ucap Ilham sedikit berteriak.


"Haish, lu mau apa sih?! Ngapain lu pake cegah gue segala?" tanya Sasha ketus.


"Santai aja dong Sya, jangan jutek gitu! Aku cuma mau ajak kamu makan siang bareng kok. Kamu mau ya Sasha? Aku yang traktir deh kali ini, terus terserah kamu mau makan apa." kata Ilham.


"Gue gak mau! Gue pengen pulang aja, jadi lu jangan paksa gue!" tolak Sasha.


"Eits, ayolah Sasha jangan kecewain gue! Cuma kali ini aja kok, please lah mau ya!" bujuk Ilham.


"Huh lu tuh emang nyebelin banget ya! Udah gue bilang gak mau, eh masih aja dipaksa. Harus berapa kali sih gue nolaknya, ha?" ujar Sasha kesal.


"Mau berapa kali pun lu tolak gue, tetap aja gue bakal paksa lu buat ikut sama gue!" ujar Ilham.


"Dih, tadi ngomongnya pake aku-kamu. Terus kenapa sekarang balik jadi lu-gue lagi? Gak berpendirian banget sih jadi orang!" cibir Sasha.


"Iya Sasha, maaf ya!" ucap Ilham tersenyum manis.


"Jadi gimana, kamu mau kan makan bareng sama aku?" sambungnya bertanya pada Sasha.


"Yaudah lah daripada lama, gue mau deh makan sama lu. Lumayan juga makan siang gratis, tapi tempatnya gue yang pilih ya?" ucap Sasha.


"Yes asik! Iya Sya, bebas kok kamu mau makan dimana aja sesuka kamu!" ucap Ilham bahagia.


"Okay! Kalo gitu lepasin tangan gue, dan sekarang kita cabut cari restoran yang enak di sekitar sini! Beneran kan terserah gue?" ucap Sasha.


"Iya Sasha.." ucap Ilham.


Sasha tersenyum lebar, lalu naik ke motornya setelah Ilham melepaskan genggamannya.


Ilham pun melakukan hal yang sama, ia naik ke motornya sembari memakai helm.


Tanpa berlama-lama lagi, mereka langsung sama-sama pergi dari sekolah dengan beriringan dan mencari restoran di sekitar sana.


Singkat cerita, mereka telah tiba di sebuah restoran yang sangat mewah dan mahal. Tentu Ilham tampak ketar-ketir melihatnya, ia tak menyangka Sasha akan membawanya kesana.


"Sya, kamu serius pilih restoran ini buat kita makan siang?" tanya Ilham agak was-was.


"Iya, kenapa? Tadi katanya terserah gue kan? Kok lu kelihatan panik gitu sih? Uang lu gak cukup buat kita makan siang disini?" ucap Sasha.


"Eee bukan gitu Sya, soal uang mah aku ada banyak kok. Aku kaget aja ternyata kamu suka makan disini," ucap Ilham nyengir.


"Yaudah, masuk aja yuk! Gue udah lapar nih, lu gak mau bikin gue kelaparan kan?" ucap Sasha.


"Iya iya..." Ilham menurut saja dengan perkataan Sasha, lalu turun dari motornya.


Mereka berdua pun melangkah sama-sama ke dalam restoran itu.


Bersambung....