
My love is sillie
Episode 59
•
Aurora menggelengkan kepalanya, lalu terkejut saat melihat Martin tiba bersama Kiara di depan matanya.
"Wil, kayaknya kita jangan lewat sana deh!" ujar Aurora menghentikan langkahnya.
"Kamu kenapa sih sayang? Kok jadi panik gitu?" tanya Willy yang masih saja mencium lengan gadisnya.
"Itu loh, kak Martin sama Kiara datang." jawab Aurora seraya menunjuk ke depan.
"Hah? Mana?" Willy langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh Aurora dan ikut terkejut.
"Waduh, gawat nih sayang! Kalau dia lihat kita berduaan disini, pasti dia bakalan semakin gak suka sama aku!" ucap Willy.
"Iya Wil, itu dia." kata Aurora.
"Yaudah, kalo gitu kamu duluan aja masuk ke dalam! Nanti aku nyusul begitu kamu udah masuk, okay?" usul Willy.
"Iya iya.." ucap Aurora mengangguk cepat.
Willy pun melepaskan tangan Aurora dengan berat hati, lalu membiarkan gadis itu masuk ke dalam.
Sementara Willy sendiri kini melangkah menghampiri Martin dengan penuh emosi.
Martin kini tengah berbincang dengan Kiara sembari menggenggam dua tangan gadis itu dan menyentuh wajahnya dengan lembut.
"Sayang, saya langsung pulang ya?" ucap Martin.
"Iya tuan, lagian kita juga udah sampe." ucap Kiara.
"Okay, tapi kamu jangan macam-macam ya disini! Kamu harus ingat kalau kamu punya aku!" ucap Martin mencengkram kedua bahu Kiara.
"Tentu tuan, aku tidak mungkin lupa kalau aku udah punya tuan." kata Kiara sambil tersenyum.
"Yaudah, kalo gitu aku—"
"Hey!" ucapan Martin terjeda lantaran Willy tiba-tiba muncul dan langsung menegur keduanya.
"Willy?" ucap Kiara terkejut dan melongok lebar.
"Hahaha, mau apa anda kesini? Tidak suka melihat saya dan Kiara bermesraan begini?" tanya Martin.
"Buat apa gue ngurusin kalian berduaan atau enggak. Gue itu kesini karena gue mau minta sama lu buat jangan ikut campur dengan masalah gue dan Aurora! Kalau lu masih tetap ikut campur, gue bakal bikin pelajaran buat lu!" ucap Willy.
"Jelas saya harus ikut campur, Aurora itu sepupu saya dan saya tidak mau dia terjerumus ke dalam lubang kejahatan akibat pengaruh dari anda! Dan satu lagi, saya juga tidak takut dengan ancaman yang anda ucapkan tadi!" ucap Martin.
"Oh ya, lu gak takut? Okelah, kalo gitu lu tunggu aja apa yang bakal gue lakuin ke lu dan juga Kiara. Kita lihat nanti, apa lu masih bilang begitu setelah gue bertindak nanti." ucap Willy tersenyum smirk.
"Apa yang mau anda lakukan?" tanya Martin.
"Lu tunggu aja, pastinya kali ini ancaman gue gak main-main. Kiara bakal kembali jadi milik gue, dan lu gak akan bisa apa-apa!" ucap Willy.
"Jaga bicara anda itu! Kiara adalah milik saya, bukan anda!" tegas Martin.
"Itu sekarang, tapi gak lama lagi Kiara bakal kembali ke pelukan gue. Kamu tenang aja ya Kiara, aku akan bebaskan kamu dari orang jahat ini!" ucap Willy.
"Wil, tolong jangan nekat!" pinta Kiara.
Willy tersenyum saja, kemudian berbalik dan melangkah pergi meninggalkan sepasang kekasih yang masih dilanda kecemasan.
"Hey Willy, jangan pergi kamu!" teriak Martin.
"Sudahlah tuan, tidak perlu dikejar! Biarkan saja Willy pergi!" ucap Kiara menahan Martin.
"Kurang ajar itu anak! Bisa-bisanya dia mengancam ingin mengambil kamu dari saya!" geram Martin.
"Sabar tuan! Mungkin saja Willy cuma menggertak tuan, supaya tuan tidak lagi ikut campur dalam masalah dia dan Aurora. Tuan gak perlu cemas ya, aku bakal tetap sama tuan kok!" ucap Kiara.
"Sebenarnya saya tidak takut sama dia, tapi kalau menyangkut kamu tentu saja saya cemas karena saya tidak mau kehilangan kamu." kata Martin.
"Iya tuan, aku ngerti kok." ucap Kiara tersenyum.
Martin menangkup wajah Kiara dan menempelkan dahinya pada kening sang kekasih, tampak Martin sangat-sangat cemas akan kehilangan sosok Kiara dari hidupnya.
******
Willy menghampiri Aurora yang menunggu di lobi dengan wajah cemas.
Aurora langsung menarik lengan Willy ke dekatnya dan menatapnya penuh kepanikan.
"Wil, lu ngapain sih pake samperin kak Martin segala? Lu mau cari gara-gara lagi sama dia, ha?" tanya Aurora sedikit kesal.
"Bukan aku yang cari gara-gara, tapi dia. Ngapain coba dia ikut campur urusan kita berdua? Kalau bukan karena dia komporin papa kamu, mungkin sekarang hubungan kita bakal baik-baik aja." jawab Willy.
"I-i-iya Wil, gue ngerti perasaan lu. Tapi, gak seharusnya lu samperin dia kayak gitu! Kalau dia malah makin menjadi-jadi gimana? Gue takut kak Martin tambah emosi nantinya," ucap Aurora.
"Udahlah Aurora, kamu gak perlu cemas begitu! Serahin aja semuanya sama aku, aku yakin Martin gak mungkin berani ikut campur lagi urusan kita!" ucap Willy.
"Apa yang mau lu lakuin?" tanya Aurora.
"Kamu gak perlu tau, biar aku aja yang urus semuanya. Aku yakin Martin gak mungkin berani melawan aku!" jawab Willy tegas.
"Ya semoga aja deh!" ucap Aurora.
Willy pun meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan erat.
Cupp!
Willy langsung mengecup punggung tangan Aurora dan juga kening gadis itu dengan lembut.
"Udah yuk, kita ke kelas!" ucap Willy.
"Wil, bisa gak sih kalo di sekolah lu jangan kayak gitu sama gue?!" ujar Aurora.
"Kayak gitu gimana?" tanya Willy pura-pura tidak mengerti.
"Ya itu tadi, gausah pake cium-cium gue segala!" jawab Aurora kesal.
"Emang kenapa?" tanya Willy memancing.
"Gue takut aja kalo ada guru yang lihat dan nanti kita bisa dihukum, emangnya lu mau dihukum sama guru?" ucap Aurora.
"Gapapa, asal dihukumnya berdua sama kamu." ujar Willy terkekeh kecil.
"Ish, gue sih ogah dihukum walau sama lu! Pasti capek tau, udah gitu nama kita juga bakal jelek di mata guru!" ucap Aurora.
"Bodoamat! Yang penting namaku di hati kamu tetap sama," ucap Willy tersenyum renyah.
"Udah udah, gausah ngomong terus! Ayo kita ke kelas sekarang!" pinta Aurora.
Aurora kini beralih menggandeng tangan Willy dan menarik pria itu agar mereka bisa pergi dari sana.
Willy pun tampak senang saat tangannya disentuh oleh Aurora, ia senyum-senyum saja sembari memandangi wajah Aurora dari samping dan sesekali mencoleknya.
"Ih jangan colek-colek!" geram Aurora.
"Hahaha..." Willy tertawa puas.
Kali ini gantian Willy merangkul pundak gadisnya, membawa Aurora ke dalam dekapannya seraya mengusap-usap puncak kepala gadis itu.
"Ish, rambut gue berantakan Willy!" ujar Aurora.
"Gapapa sayang, tetap cantik kok." kata Willy.
"Bukan masalah cantiknya, tapi gak enak tau kalo rambut gue acak-acakan." ucap Aurora.
"Yaudah, kita ke toilet dulu yuk biar aku benerin rambut kamu!" ucap Willy.
"Dih, jangan modus lu!" ucap Aurora.
"Modus apa sih? Orang mau dibenerin rambutnya malah dibilang modus, serba salah deh aku." ucap Willy.
"Aku maunya di toilet, lagian sekalian aku buang air juga. Kalau disini kan gak bisa, yakali aku buang air disini?" ucap Willy.
"Ah terserah lu aja deh!" ujar Aurora mengalah.
Willy tertawa kecil, lalu berbelok arah menuju toilet tanpa melepas dekapannya.
******
"Willy!" Kiara langsung memanggil nama Willy begitu melihat pria itu muncul dari dalam toilet.
Kiara tidak tahu jika ada Aurora di samping Willy, itu sebabnya ia masih bersikap biasa-biasa saja saat hendak menghampiri pria itu.
Barulah Kiara sadar bahwa Willy tidak sendiri, ada Aurora yang menemaninya disana.
Seketika ekspresi Kiara langsung berubah, ia menjadi gugup sendiri saat berhadapan dengan Willy dan juga Aurora.
"Eh Kiara, ada apa?" tanya Willy santai.
"Eee aku..." ucap Kiara gugup.
"Lu disuruh kak Martin ya buat gangguin hubungan kita berdua?" selak Aurora sedikit ketus.
"Hah? E-enggak kok, gak gitu." elak Kiara.
"Terus, mau ngapain lu samperin kita?" tanya Aurora masih jutek.
"Aku tadinya mau bicara sama Willy, tapi karena dia lagi sama kamu, yaudah gak jadi deh." jawab Kiara.
"Loh, kenapa gitu? Emangnya lu mau bicara apa sama Willy? Kok gak jadi gara-gara tau Willy lagi sama gue?" tanya Kiara penasaran.
"Bukan apa-apa, yaudah ya aku permisi dulu! Maaf aku udah ganggu kalian!" ucap Kiara menunduk.
Kiara langsung pergi dengan cepat meninggalkan mereka disana, walau Aurora terus berusaha meneriakinya dan menahan Kiara disana.
"Heh tunggu, jangan pergi dulu!" teriak Aurora.
Willy menahan lengan Aurora yang hendak pergi mengejar Kiara.
"Udah, jangan dikejar!" pinta Willy.
"Tapi Wil, gue heran aja sama tuh cewek. Kenapa coba dia gak jadi ngomong cuma gara-gara ada gue disini? Emang segitunya ya dia gak mau gue tau obrolan kalian?" ucap Aurora.
"Cie cie, kamu cemburu ya pasti? Tenang aja Rora, mungkin Kiara cuma mau bahas soal Martin! Kamu gausah cemburu gitu dong!" goda Willy seraya mencolek dagu gadisnya.
"Ish, siapa juga yang cemburu?! Gue cuma penasaran tau, lagian ngapain juga gue cemburu coba?!" elak Aurora.
"Ah masa?" ucap Willy terus menggoda Aurora.
"Tau ah! Lepasin tangan gue!" bentak Aurora.
"Hey! Kamu kok bicaranya kasar gitu sama aku? Gak sopan tau, aku ini kan calon suami kamu. Harusnya kamu itu hormat sama aku, bukannya bentak-bentak begitu!" ucap Willy.
"Hah? Siapa bilang lu calon suami gue? Gausah ngada-ngada deh!" ucap Aurora.
"Hahaha, itu fakta loh sayang. Kamu dan aku bakal menikah sesudah lulus sekolah nanti, jadi kamu sabar aja ya sayang!" ucap Willy terkekeh.
"Lu nikah aja sana sama tembok! Gue sih ogah nikah sama lu!" ucap Aurora kesal.
Gadis itu geram dan langsung menghentakkan tangannya lepas dari cengkraman Willy.
Aurora hendak pergi meninggalkan pria itu, namun lagi-lagi Willy berhasil menahannya.
"Hayo mau kemana?!" ujar Willy segera menangkap tubuh gadis itu dari belakang.
"Ah Willy, lepasin gue!" ucap Aurora meronta-ronta.
"Aku gak akan lepasin kamu, kita masuk ke kelasnya harus barengan sayang biar kelihatan romantis di mata orang-orang!" ucap Willy.
"Kenapa harus gitu coba?" tanya Aurora bingung.
"Iyalah, kita kan pacaran. Kalau gak gitu, nanti mereka pada gak percaya kalo kita pacaran. Terus, mereka malah ambil kesempatan buat deketin kamu." jawab Willy.
"Lu gausah takut Wil, gue juga gak bakal mau sama cowok-cowok disini." kata Aurora.
"Asik! Kamu so sweet deh sayang!" ucap Willy.
"Hah? Apaan sih?!" ujar Aurora terheran-heran.
*******
Disisi lain, Sasha lagi dan lagi dicegat oleh Ilham saat hendak masuk ke dalam kelasnya.
Ilham nampaknya masih terus berusaha untuk mendekati Sasha karena ia mencintai gadis itu.
"Sya, tunggu dong!" ucap Ilham.
"Ada apa sih?" tanya Sasha bingung.
"Kita ngobrol dulu yuk sebentar di kantin! Ada yang mau aku sampaikan sama kamu, ini penting!" ucap Ilham meraih dua tangan Sasha dan menggenggamnya.
"Harus banget?" tanya Sasha.
"Iya dong, biar kamu juga bisa tau apa yang pengen aku sampaikan sama kamu." jawab Ilham.
"Gue gak pengen tau tuh," ucap Sasha.
"Yah jangan gitu dong Sya! Please lah, sebentar aja kok kita ngobrolnya!" ucap Ilham membujuk Sasha.
"Haish, gak bisa nanti siang aja gitu?" ujar Sasha.
"Aku maunya sekarang, soalnya kalau nanti-nanti takutnya aku atau kamu lagi sibuk. Nah kalau sekarang kan kita sama-sama gak sibuk nih, jadi mending kita ngobrolnya sekarang aja!" ucap Ilham sambil tersenyum renyah.
"Kata siapa gue gak sibuk? Gue belum ngerjain pr tau, gue harus buru-buru ke kelas sebelum bel bunyi!" ucap Sasha.
"Hah? Masa seorang Sasha ngerjain pr di sekolah sih?" ujar Ilham terkejut.
"Lah emang kenapa? Gue kan juga manusia biasa, gue bisa lupa kalau ada pr. Udah deh, jangan deketin gue terus!" pinta Sasha.
"Oke deh, kali ini aku lepasin kamu. Soalnya aku tau gimana rasanya lupa ngerjain pr, pasti panik banget." kata Ilham.
"Yaudah, bye!" ucap Sasha melambai sekilas.
Sasha pun berbalik dan pergi meninggalkan Ilham dengan cepat, ia tidak mau berurusan dengan pria itu mengingat Ilham adalah musuh Willy.
"Sial banget! Kenapa sih susah banget rasanya ungkapin perasaan gue ke Sasha? Padahal gue udah siapin mental dari semalam, tapi si Sasha malah gak mau bicara sama gue." batin Ilham.
Disaat Ilham hendak pergi, ia justru bertabrakan dengan Aziz yang baru muncul dari kantin.
Bruuukkk...
"Duh, lu gimana sih?!" geram Ilham.
"Eh eh, kok malah nyalahin gue? Kan lu sendiri yang balik badan gak lihat-lihat, jadi jangan salahin gue dong!" ucap Aziz.
"Heh! Lu bodoh apa gimana sih? Jelas-jelas tadi lu sendiri yang tabrak gue!" ucap Ilham emosi dan menarik kerah seragam Aziz dengan kuat.
"I-i-iya Ham, ampun Ham! Gue minta maaf, gue tadi gak sengaja tabrak lu!" ucap Aziz ketakutan.
"Lu lihat kan sekarang? Baju gue jadi basah kayak gini gara-gara lu, jadi lu tahu kan apa yang harus lu lakuin sekarang?" ucap Ilham.
"Enggak Ham, gue gak tahu." ucap Aziz menggeleng.
"Lu bersihin noda di baju gue ini sampai benar-benar hilang, kalau enggak lu yang bakal gue hilangin dari dunia ini!" ucap Ilham.
"Waduh serem amat!" ucap Aziz gemetar.
"NGERTI GAK?!" bentak Ilham.
"I-i-iya iya, gue ngerti gue ngerti.." ucap Aziz.
Bersambung....