
My love is sillie
Episode 105
•
"Kalian ngapain masih disini sih? Sana kalian masuk gih ke dalam, gue mau ngobrol berdua sama Aurora!" ucap Willy meminta teman-temannya itu pergi.
"Siap bro siap! Yaudah, yuk guys kita pergi! Si Willy kayaknya mau mesra-mesraan sama Aurora disini," goda Akram.
"Hahaha, ah siap!" sahut yang lain.
Akhirnya mereka semua pergi dari sana meninggalkan Willy dan Aurora berduaan.
"Cantik, masuk yuk!" ucap Willy pada wanitanya.
"Kamu jelasin dulu, kenapa kamu malah datang ke sekolah?! Tangan kamu kan masih sakit sayang, harusnya kamu istirahat aja di rumah!" ujar Aurora.
"Aku gak tahan sayang, aku pengen ketemu kamu dan berduaan sama kamu. Kalau aku gak sekolah kan aku gak bisa ketemu sama kamu, cantik." ucap Willy sambil tersenyum.
"Halah gombal!" cibir Aurora.
"Hahaha, udah yuk kita masuk aja ke dalam! Nanti keburu bel masuk bunyi loh," ucap Willy.
"Kamu bisa jalan sendiri?" tanya Aurora.
"Enggak deh kayaknya, kamu bantu aku jalan dong sayang!" jawab Willy dengan manja.
"Huh manja banget sih kamu!" ujar Aurora.
"Manja sama pacar sendiri mah gapapa kali, apalagi kamu itu cantik plus manis banget." ucap Willy seraya mencolek pipi wanitanya.
"Udah ah, jangan gombal terus! Udah sini aku bantuin kamu jalan!" ucap Aurora merasa malu.
Aurora pun menyelipkan tangannya di sela-sela lengan pria itu, sedangkan Willy terus menatap wajahnya sembari mengusap puncak kepala Aurora dan mengecup pipinya.
Cup!
"Aku sayang banget sama kamu!" ucap Willy.
"Aku juga," balas Aurora.
"Heh Willy!" mereka berdua sama-sama terkejut dan menoleh ke asal suara.
"Tangan lu patah ya? Cupu amat sih!" ledek pria itu sambil melangkah mendekati Willy.
Willy tampak terpancing emosi mendengar perkataan pria itu, ia hendak maju tetapi ditahan oleh Aurora.
"Sabar sayang! Biar aku aja yang bicara sama dia, kamu tenang ya!" bisik Aurora.
Willy mengangguk pelan, membiarkan wanitanya itu maju mendekati si pria yang saat ini tengah berdiri di hadapannya.
"Max, lu mau ngapain lagi sih?" tanya Aurora.
"Kamu jangan tanya begitu sayang! Udah jelas dong aku pengen kamu jadi milik aku, kamu mending jauhin aja si Willy itu karena dia gak bisa jagain kamu!" ucap Max.
"Kata siapa gak bisa? Justru Willy yang selalu jagain gue, dia itu hebat!" ucap Aurora.
"Cih! Buktinya tangan dia patah tuh," cibir Max.
"Tangan dia patah karena ngelindungin gue, itu artinya dia bisa jagain gue!" ucap Aurora.
"Oh ya? Harusnya dia bisa jagain kamu tanpa melukai tangannya dong," ucap Max.
"Cukup Max! Gue gak mau debat lagi," ujar Aurora.
Aurora berbalik dan menggandeng lengan Willy untuk membawanya pergi dari sana.
Namun, Max justru mengejar mereka dan berhasil mencekal lengan Aurora dari belakang.
"Tunggu sayang!" ucap Max.
"Ih lepasin!" ucap Aurora berusaha berontak.
Willy pun makin tersulut emosinya, ia melepas paksa tangan Max dari lengan kekasihnya dan mendorongnya pelan.
"Lo jangan ganggu cewek gue lagi! Walau tangan gue begini, tapi kalo lawan lu doang gue masih bisa!" ucap Willy tegas.
Max tersenyum smirk dan berdiri tegak bersiap menghadapi Willy disana.
******
Sementara itu, Kiara baru tiba di sekolah bersama Martin yang selalu setia mengantarnya.
Mereka bertatapan sejenak di dalam mobil, tak lupa Martin mengusap puncak kepala Kiara dan mengecup lembut kening gadisnya itu.
Cup!
"Kamu yang pintar ya sekolahnya! Supaya kamu bisa cepat-cepat lulus dan aku bisa nikahin kamu secara resmi," ucap Martin.
"Ahaha, siap tuan! Yaudah, aku turun dulu ya? Tuan juga semangat kerjanya!" ucap Kiara.
"Pastinya dong sayang! Tapi sebelum itu, aku boleh minta sesuatu dari kamu?" ujar Martin.
"Apa?" Kiara bertanya dengan wajah penasarannya.
"Aku mau minta itu dong," jawab Martin seraya menekan dada besar milik Kiara.
"Hah? Tuan yakin?" tanya Kiara terkejut.
Martin mengangguk dan menunjukkan wajah memelas nya di hadapan Kiara sehingga membuat gadis itu kebingungan saat ini.
"Tapi tuan, ini kan di area sekolah. Kalau ada yang lihat gimana?" ucap Kiara.
"Jangan cemas sayang! Gak mungkin ada yang lihat aktivitas kita, kan kaca mobil ini gelap kalau dilihat dari luar. Jadi, kamu tenang aja dan sekarang coba buka kancing seragam kamu!" ucap Martin.
"I-i-iya tuan.." Kiara akhirnya menurut saja dengan permintaan Martin, ia pun melepas satu persatu kancing seragamnya hingga terlepas semua.
Martin yang tidak sabaran, langsung saja meraih tubuh mungil Kiara dan diangkat ke atas pangkuannya.
Pria itu juga menaikkan tank top putih yang dikenakan Kiara ke atas hingga terpampang lah gundukan kenyal yang masih dilapisi penutup tipis berwarna hitam itu.
"Ahh.." Kiara mengerang ketika Martin meremass dadanya dibarengi dengan kecupan di lehernya.
"Kamu nikmat sekali baby!" puji Martin.
Martin melepas tangannya sejenak dan menghentikan aktivitas itu, membuat Kiara sedikit kecewa.
Namun, rupanya Martin hanya ingin membalikkan tubuh Kiara sehingga kini gadis itu menghadap ke arahnya.
Ctek..
Martin melepas kaitan penutup itu dan kini terlihat jelas dua gundukan sekal milik Kiara.
Tanpa basa-basi, Martin langsung saja melahap keduanya seperti bayi kelaparan.
"Mmhhh nikmat!" racau Martin.
Nadira hanya bisa merem melek seraya menggigit bibir bawahnya menahan suara yang hendak keluar.
Martin terus menyedot cukup kuat, hingga susu disana keluar dan dilahap begitu saja oleh Martin dengan sangat rakus.
"Ahh ya tuan, hisap terus!" ujar Kiara yang kini menekan kepala Martin.
TOK TOK TOK...
Aktivitas panas itu terhenti lantaran seseorang dari luar mengetuk kaca mobil mereka.
"Tuan, gawat!" ucap Kiara panik.
"Tenang aja!" Martin menaruh tubuh Kiara kembali di kursinya dan meminta gadis itu merapihkan pakaiannya.
"Ya, ada apa pak?" tanya Martin pada satpam yang tadi mengetuk kaca mobilnya.
******
Ilham sengaja menunggu di depan lobi sekolahnya sembari memegang coklat yang baru ia dapatkan di minimarket sebelum berangkat kesana.
Ya tak biasanya memang Ilham berangkat sepagi ini, namun demi mengejar cintanya ia akan melakukan apapun.
Akhirnya sosok yang ditunggu olehnya pun tiba, ya dialah Sasha si mantan pembalap yang memang disukai oleh Ilham.
"Eh Ilham, lu tumben pagi-pagi gini udah dateng. Terus, ngapain lu malah berdiri aja disini bukannya masuk ke dalam? Ohh, pasti lu mau gantiin tugas pak Angga ya buat nyambut yang datang disini?" tanya Sasha.
"Ahaha, gak gitu Sasha.. aku berdiri disini cuma buat nunggu kamu," jawab Ilham.
"Hah? Nunggu gue? Mau ngapain?" tanya Sasha.
"Aku punya sesuatu buat kamu," jawab Ilham.
"Apa tuh?" tanya Sasha penasaran.
"Ini dia," jawab Ilham seraya menunjukkan coklat di tangannya kepada Sasha.
"Coklat? Ini buat gue?" tanya Sasha kaget.
"Iya dong cantik, itu coklat khusus dari aku untuk kamu. Aku belinya susah payah loh, terus harganya juga gak murah. Aku yakin rasanya pasti enak dan kamu pasti suka!" ucap Ilham.
"Thanks banget ya Ham! Lumayan lah gue bisa makan coklat gratis, kapan-kapan lu kasih gue yang lain juga ya!" ucap Sasha.
Tanpa rasa malu, Sasha mengambil coklat di tangan Ilham begitu saja disertai senyum manisnya.
Hal itu amat membuat Ilham bahagia, apalagi senyum Sasha memang selalu dinanti olehnya.
"Pasti Sya, apapun yang kamu minta pasti bakal aku beliin! Tapi, asalkan kamu mau jadi pacar aku." ucap Ilham.
"What??" Sasha terkejut bukan main.
"Iya Sya, kamu mau ya jadi pacar aku! Jangankan coklat, motor aja bisa aku beliin kok kalau kamu mau terima aku!" ucap Ilham.
"Sorry Ham! Tapi, gue gak bisa terima lu. Gue ini gak cinta sama lu, dan gue juga gak mau bikin lu sakit hati nantinya kalau gue terima lu dengan terpaksa." ucap Sasha.
"Kamu kenapa sih Sya? Apa karena kamu masih cinta sama Willy?" tanya Ilham.
"Itu salah satu alasannya, lu tau sendiri kan gue ini tergila-gila banget sama Willy?!" jawab Sasha.
"Ayolah Sya, kamu lupain aja Willy! Aku bisa jauh lebih baik dibanding dia, aku jamin deh kamu bakal bahagia sama aku!" ucap Ilham.
"Lo gak bisa jamin kebahagiaan seseorang!" ucap Sasha.
Ilham terdiam, Sasha menyerahkan kembali coklat itu kepada Ilham dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan Ilham disana.
"Gue kurang apa sih? Padahal gue udah ganteng, kaya juga. Tapi, Sasha masih aja nolak gue." gumam Ilham tampak bersedih.
******
"Mmhhh nikmat!" racau Martin.
Kiara hanya bisa merem melek seraya menggigit bibir bawahnya menahan suara yang hendak keluar.
Martin terus menyedot cukup kuat, hingga susu disana keluar dan dilahap begitu saja oleh Martin dengan sangat rakus.
"Ahh ya tuan, hisap terus!" ujar Kiara yang kini menekan kepala Martin.
TOK TOK TOK...
Aktivitas panas itu terhenti lantaran seseorang dari luar mengetuk kaca mobil mereka.
"Tuan, gawat!" ucap Kiara panik.
"Tenang aja!" Martin menaruh tubuh Kiara kembali di kursinya dan meminta gadis itu merapihkan pakaiannya.
"Ya, ada apa pak?" tanya Martin pada satpam yang tadi mengetuk kaca mobilnya.
Martin berusaha tersenyum santai dan menetralkan nafasnya yang memburu itu agar tak membuat satpam tersebut curiga.
"Maaf pak! Apa bapak masih lama berhenti disini? Jika iya, tolong taruh mobil bapak di tempat parkir aja ya pak! Disini itu bahu jalan, saya khawatir ada mobil yang ingin lewat nanti." jelas satpam itu.
"Ah iya pak, maaf ya tadi saya ngobrol sebentar sama sepupu saya! Ini saya mau jalan lagi kok, saya cuma antar dia ke sekolah." ucap Martin.
Terlihat Kiara juga sudah rapih disana.
"Ohh, iya pak iya.. kalau gitu saya permisi ya pak?" ucap satpam itu.
"Oke pak, siap!" ucap Martin merasa lega.
Setelah satpam itu pergi, Kiara kini melotot tajam ke arah Martin seperti menyimpan amarah.
"Tuh kan, ini semua gara-gara tuan tau! Coba aja tuan tadi dengerin kata-kata aku, pasti kita gak bakal dipergokin kayak tadi!" ujar Kiara.
"Iya iya, maafin saya ya cantik! Saya kan gak ngira kalau bakal ada satpam yang datengin kita, jangan marah gitu dong! Lagian satpam itu tadi juga gak lihat adegan kita, jadi kita aman sayang!" ucap Martin.
"Untuk kali ini masih aman, tapi kan hari sial gak ada di kalender. Pokoknya besok-besok tuan jangan minta begituan lagi kalo masih di area sekolah!" ucap Kiara.
"Siap sayang! Abisnya kamu gemesin banget sih, saya jadi susah nahannya!" ujar Martin.
"Halah dasar tuan aja yang mesum!" ujar Kiara.
"Hahaha..." Martin justru tertawa lepas disana.
Kiara yang kesal pun menghadiahi Martin dengan cubitan keras di pahanya hingga membuat pria itu mengerang kesakitan.
"Akkhh!! Aduh, sakit banget gila cubitan kamu!" rintih Martin.
"Biarin, makanya jangan ngeselin tuan! Udah ya, aku mau sekolah dulu?" ucap Kiara.
"Ya ya ya, akh sakit!" Martin masih terus mengusap pahanya dan meringis kesakitan.
Kiara tersenyum saja melihatnya, lalu turun dari mobil itu dan bersiap masuk ke dalam sekolahnya.
"Loh, itu kan Willy sama Aurora?" batinnya.
******
Tedy dengan tekad kuatnya, kini datang ke rumah besar milik orang tua Ayna untuk menemui gadis manis yang dicintainya itu.
Tedy memberanikan diri untuk melakukannya, biarpun ia tahu resiko yang harus diterimanya nanti pasti akan sangat berat.
"Huft, gue harus berani! Geri itu calon ipar gue, jadi gue harus baik-baikin dia!" gumam Tedy.
Pria itu turun dari motornya, berjalan mendekati pagar rumah Ayna sembari merapihkan rambutnya dan sesekali berkaca di spion.
"Permisi! Permi—"
"Tedy?" ucapan Ayna langsung memotong apa yang hendak dikatakan Tedy.
"Ehehe, good morning Ayna cantik!" ucap Tedy menyapa gadis itu dengan santai.
"Morning! Kamu ngapain kesini? Kamu gak tahu apa ada kakak aku di dalam?" tanya Ayna panik.
"Tahu kok," jawab Tedy sambil tersenyum.
"Ish, terus kalo kamu tahu kenapa kamu malah datang kesini? Mana main teriak-teriak aja lagi, gimana kalau kakak aku dengar?" tanya Ayna.
"Ya biarin aja dia dengar, aku gak masalah kok. Dia itu kan kakak kamu, jadi wajar aja kalau dia dengar. Lagian aku kesini cuma pengen bicara sama kamu kok, apa salah?" jawab Tedy santai.
"Emang gak salah, tapi tetap aja bagi kak Geri kedatangan kamu kesini tuh masalah besar. Dia kan gak suka kita dekat-dekat," ucap Ayna.
"Gapapa, nanti biar aku aja yang bicara sama kakak kamu." ucap Tedy.
"Emang kamu yakin berani sama kakak aku? Kalau sampai kalian ribut gimana? Aku gak mau salah satu dari kalian terluka, aku takut!" ujar Ayna.
"Gausah panik cantik! Kita gak akan berantem kok, aku kan cuma mau ngobrol." ucap Tedy.
"Terserah kamu deh, aku gak mau tahu ya kalau nanti misalnya kak Geri marahin kamu dan kalian adu mulut disini." ucap Ayna.
"Tenang aja Ayna cantik!" ucap Tedy.
"Hey Tedy!!" suara teriakan itu membuat mereka berdua terkejut dan menoleh bersamaan.
"Kak Geri?" Ayna menganga sedikit melihat kakaknya muncul disana.
"Harus berapa kali sih gue bilang sama lu? Lu itu gak boleh dekat-dekat sama dia, lu ngeyel banget sih jadi cewek!" geram Geri.
"Ger, gue datang kesini atas kemauan gue sendiri, bukan diminta adik lu." sela Tedy.
Sontak Geri menatap tajam ke arah Tedy, ia emosi dan tangannya pun sudah terkepal kuat menahan emosi di dalam dirinya.
Bersambung....