
My love is sillie
Episode 94
•
Setibanya di depan rumah Ayna, Randi pun menghentikan motornya dan menatap ke arah Ayna.
"Bener ini rumah kamu?" tanya Randi.
"Iya Ran, bener kok. Kemarin Tedy juga udah main kesini, kamu mau masuk dulu gak? Aku bisa kasih kamu minum sebagai ucapan terimakasih karena kamu mau antar aku pulang," ucap Ayna.
"Eee boleh sih, kebetulan aku haus." ucap Randi sambil tersenyum.
"Oke, sebentar ya!" Ayna pun turun dari motor Randi dan melepas helmnya.
"Ini helmnya, aku mau buka gerbang dulu!" ucap Ayna.
"Iya," jawab Randi singkat.
Gadis itu membuka gerbang dan mempersilahkan Randi untuk masuk.
"Yuk masuk!" ucap Ayna.
Randi mengangguk saja, kemudian turun dari motor dan melangkah menghampiri Ayna.
"Motornya gak dibawa sekalian?" tanya Ayna.
"Emang boleh?" Randi terlihat bingung.
"Ya boleh dong, kalau ditaruh disitu aja takut ilang. Maklumlah disini sepi kalau siang begini, justru ramainya pas malam." ucap Ayna.
"Oh, oke oke!" ucap Randi menurut.
Disaat Randi hendak membawa masuk motornya, tiba-tiba sebuah motor juga datang kesana dan berhenti di dekatnya.
Ayna tersenyum menghampiri pemotor tersebut, membuat Randi terheran-heran sekaligus penasaran siapa yang datang itu.
"Itu kan anak black jack, apa hubungan Ayna sama dia?" batin Randi.
"Kak Geri!" sapa Ayna.
Sontak Randi terkejut mendengar Ayna menyebut nama itu, apalagi saat pemotor tersebut melepas helmnya dan menunjukkan wajahnya.
"Geri? Sial!" batinnya.
Randi pun berusaha keras untuk bisa pergi dari sana, ia tentu tak mau jika sampai Geri melihatnya disana dan akan terjadi keributan.
"Duh Ayna, baru balik lu?" tanya Geri yang turun dari motor sambil tersenyum pada adiknya.
"Iya kak, tadi aku kesusahan buat pulang gara-gara gak dapat ojek." jawab Ayna sembari mencium tangan kakaknya.
"Eee itu siapa?" tanya Geri seraya menunjuk ke arah Randi.
"Ah iya, ayo kak kita temuin dia! Dia itu orang yang udah anterin aku pulang tadi, kalau gak ada dia mungkin aku masih belum sampe kesini." jawab Ayna.
Geri terdiam memandang ke arah Randi, ia sangat mengenali jaket yang dikenakan Randi adalah jaket milik the darks.
Ayna langsung menggandeng tangan Geri dan membawanya menuju tempat Randi berada, walau Geri masih terbujur kaku.
"Ayo kak kita kesana!" ucap Ayna.
"Iya iya.." ucap Geri menurut saja.
Sementara Randi masih berusaha menghindari wajahnya dari tatapan Geri, ia tak mau terjadi keributan nantinya.
"Randi!" sapa Ayna yang membuat Randi terkejut lalu reflek menoleh.
Geri spontan mengepalkan tangannya begitu menyadari Randi lah yang mengantar adiknya pulang ke rumah tadi.
Mereka kini sudah saling berhadap-hadapan, Ayna coba mengenalkan Randi kepada Geri begitupun sebaliknya.
"Ah iya Ayna.." ucap Randi sambil tersenyum.
"Ran, kenalin ini kakak aku, namanya Geri!" ucap Ayna.
"Ohh, iya iya.." ucap Randi manggut-manggut saja.
"Kak Geri, kenalin ini teman aku yang tadi antar aku pulang kesini, dia itu namanya Randi." ucap Ayna pada kakaknya.
"Ya, gue udah tahu." ucap Geri dingin.
"Kalian salaman dong!" pinta Ayna.
Geri hanya bisa menuruti kemauan Ayna adiknya itu, ia tak mau Ayna mengetahui jika sebenarnya Randi adalah musuhnya.
Geri pun mengulurkan tangannya ke arah Randi, "Gue Geri!" ucapnya dingin.
"Randi." Randi mengikuti apa yang dilakukan Geri dan mereka pun bersalaman selama beberapa detik.
"Yaudah, kalo gitu gue mau masuk dulu? Lu suruh aja teman lu ini pulang!" ucap Geri pada adiknya.
"Tapi kak, aku baru aja mau ajak Randi masuk ke dalam." ucap Ayna.
"Eh gausah Ayna! Aku mau langsung pulang aja, kebetulan ada urusan penting. Aku pamit ya? Permisi Ayna, kak Geri!" ucap Randi sambil tersenyum.
"Eee iya iya, kamu hati-hati ya Ran! Sekali lagi makasih udah anterin aku tadi!" ucap Ayna.
"Sama-sama," ucap Randi.
***
Setibanya di markas the darks, Randi langsung menemui Tedy untuk menyampaikan apa yang baru saja ia dapatkan di rumah Ayna tadi.
"Eh eh guys, ada kabar buruk nih! Terutama buat lu Ted," ucap randi.
"Hah? Kabar buruk apaan sih Ran?" tanya Tedy penasaran.
"Ini loh, gue tadi kan abis nganter Ayna pulang ke rumah tuh. Nah terus—"
"Apa? Lu nganterin Ayna? Maksudnya Ayna cewek inceran gue itu? Lu apa-apaan sih Ran? Tega banget lu tikung sohib lu sendiri, gak nyangka gue Ran!" potong Tedy.
"Dengerin dulu woi! Omongan gue belum selesai, masih ada terusannya." ucap Randi.
"Iya iya, emang apaan lagi yang mau lu omongin sama gue ha?" tanya Tedy.
"Ini loh Ted, jadi tadi pas gue anterin Ayna ke rumahnya, gue gak sengaja ketemu sama Geri disana. Dan lu pada tahu gak Geri ngapain disana?" ucap Randi.
Semuanya kompak menggeleng termasuk Tedy.
"Nah, si Ayna itu manggil Geri dengan sebutan kakak. Itu artinya Geri kakaknya si Ayna dan Ayna adiknya si Geri," jelas Randi.
"Geri siapa sih maksud lu? Geri anak black jack apa siapa?" tanya Tedy.
"Ya iyalah Tedy, emang Geri siapa lagi coba?" jawab Randi.
"Kali aja Geri jajanan itu," sarkas Tedy.
"Serah lu ajalah Ted! Intinya gue mau kasih tahu lu supaya jauhin tuh si Ayna, daripada nantinya lu kena masalah sama Geri!" ucap Randi.
"Hadeh, mana bisa gue jauhin dia Ran? Gue aja baru mau mulai deketin dia. Dapetin hatinya aja belum, masa udah ngejauhin aja? Gue tuh jarang jatuh cinta bro, jadi gue masih pengen berjuang untuk dapetin Ayna!" ucap Tedy.
"Aduh Ted! Lu kenapa susah amat dibilangin sih? Ini semua demi kebaikan lu bro!" ujar Randi.
"Iya Ted, yang dibilang Randi itu benar. Kalau lu maksa buat deketin Ayna, pasti kita bakal ada masalah besar sama geng black jack nantinya." ucap Zafran.
"Lagipun, udah pasti Geri gak akan kasih izin adiknya buat dekat-dekat sama lu Ted. Jadi, mending lu mundur biar aman!" sahut Leo.
"Ah kalian semua payah nih! Masa gak ada yang mau dukung gue? Emang kalian gak ngerti apa gimana perasaan gue sama Ayna? Gue itu cinta bro sama Ayna, gue sayang sama dia!" ujar Tedy.
"Kita ngerti Ted, tapi ini kan juga demi kebaikan lu. Kalau sampai lu kenapa-napa cuma gara-gara Ayna gimana?" ujar Arif.
"Udah lah Ted, ikutin aja saran kita ya!" pinta Randi.
"Gak bisa Ran! Susah buat gue lupain Ayna, karena dia udah masuk ke hati gue!" ucap Tedy.
"Ah yaudah lah, serah lu aja!" ujar Leo.
"Iya guys, biarin aja kalau emang si Tedy mau tetep deketin Ayna! Tapi, jangan pernah bawa-bawa kita ya kalau sampai terjadi sesuatu sama lu!" ucap Zafran.
"Santai aja! Gak akan mungkin terjadi apa-apa sama gue kok, kalian semua tenang aja!" ucap Tedy sambil tersenyum.
"Oke, hati-hati aja lu Ted!" ucap Randi.
Sementara yang lain tampak mulai berbincang mengenai hal lain.
"Eh Ran, gimana soal wilayah barat?" tanya Arif.
"Aman!" jawab Randi santai.
******
Malam Minggu telah tiba, Willy datang ke rumah Aurora untuk menjemput gadis itu dan membawanya menuju pesta di rumah Akram.
Willy sudah tampak rapih dengan pakaian khas yang dibalut dengan jaket the darks miliknya, namun ia masih terus menyisir rambutnya di depan kaca spion agar lebih tampan lagi.
Tak lama kemudian, Aurora pun muncul dari balik gerbang. Gadis itu tersenyum menatap ke arah Willy yang belum menyadari kehadirannya disana.
"Ehem ehem.." Aurora berdehem pelan seraya melangkah perlahan mendekati pria itu.
Sontak Willy terkejut, ia menoleh ke asal suara dan menemukan Aurora tengah berjalan ke arahnya. Seketika itu juga mata keduanya terbelalak, ia terpesona pada penampilan Aurora saat ini.
Aurora memang sangat cantik malam ini, ia mengenakan gaun berwarna biru dongker dan heels tangga yang sebelumnya jarang sekali dikenakan oleh gadis itu.
"Waw luar biasa! Kamu cantik sekali sayang, perfect!" ucap Willy memuji kecantikan gadisnya.
"Masa sih?" tanya Aurora memastikan.
"Yes baby, kamu cantik banget malam ini! Aku sampai gak ngenalin kamu loh tadi, karena kamu benar-benar beda!" jawab Willy.
Aurora tersenyum seraya menundukkan wajahnya, namun Willy langsung menarik dagu gadis itu ke atas dan mengecup bibirnya.
Cupp!
"Manis seperti biasa, tapi kali ini rasanya lebih kenyal dibanding sebelumnya." ucap Willy.
"Ah kamu mah kebiasaan deh! Kenapa sih hobi banget cium bibir aku begitu?" protes Aurora.
"Emangnya kenapa sayang? Kamu gak suka?" tanya Willy makin mendekatkan dirinya pada Aurora.
"Eee gak gitu, aku kan cuma.." ucapan Aurora terhenti lantaran Willy semakin mengikis jarak diantara keduanya.
"Wil, kamu apa-apaan sih? Jangan deket-deket ah!" ujar Aurora mendorong tubuh Willy.
"Iya sayang, terus kamu maunya gimana? Jauh-jauhan gitu sama aku?" tanya Willy.
"Ya enggak kayak gitu juga, maksudnya jangan terlalu dekat gitu loh! Apalagi tadi kamu sampai sengaja tempelin tubuh kamu ke dada aku, kan aku jadi gak nyaman." jelas Aurora.
"Tapi aku nyaman, soalnya dada kamu kenyal banget sayang." goda Willy.
"Ih dasar mesum!" cibir Aurora.
"Hahaha.." Willy hanya tertawa lepas disana.
"Oh ya, kamu masukin aja motor kamu ke dalam! Mobil aku juga udah siap tuh, tinggal dibawa aja sama kamu." ucap Aurora.
"Oke! Tapi, beneran gapapa nih aku pake mobil kamu?" tanya Willy merasa tidak enak.
"Gapapa lah, kan aku juga udah izin sama papa. Kamu bisa bawa mobil kan?" jawab Aurora.
"Ya bisa lah cantik! Jangankan bawa mobil, bawa kamu ke pelaminan juga aku bisa." ujar Willy.
"Aih, kamu itu gombal terus deh! Bisa gak sekali aja serius gitu?" protes Aurora.
"Gak bisa sayang, soalnya kamu cantik banget! Kamu itu emang pantas buat digombalin terus, aku sayang kamu!" ucap Willy sembari mengelus wajah Aurora dan tersenyum manis.
"Udah ya Wil, ayo kita berangkat sekarang takut telat!" pinta Aurora.
"Iya iya.." Willy menurut dan memasukkan motornya ke dalam sesuai perintah Aurora.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil, Willy tampak kesulitan untuk fokus menyetir lantaran Aurora begitu membuatnya terpesona.
"Wil, lihatnya tuh ke depan bukan ke aku!" tegur Aurora.
"Jangan salahin aku dong! Abis kamu cantiknya kebangetan sih!" ucap Willy sambil terkekeh.
Aurora menggeleng pelan disertai pipi yang sudah memerah.
***
Singkat cerita, mereka sudah tiba di rumah Akram yang cukup mewah itu.
Willy menuntun gadisnya masuk ke dalam rumah itu, menemui Akram selaku tuan rumah bersama para teman-temannya disana.
"Wih Willy, akhirnya datang juga lu Wil!" ucap Akram menyambut kedatangan Willy.
"Iya dong, gue mah pasti dateng. Sorry ya telat! Biasalah, nih cewek kalo dandan emang suka lama." ucap Willy sambil tersenyum.
"Ih kok jadi aku?!" protes Aurora.
"Hahaha, gapapa bos santai aja! Udah yuk silahkan masuk! Di dalam udah ramai kok, makanan sama minumannya juga udah tersedia." ucap Akram.
"Oke, thank you!" ucap Willy singkat.
Willy langsung menggandeng lengan Aurora dan membawanya masuk ke dalam sana.
Saat di dalam, Willy tampak mengambilkan minum untuk Aurora dan memberikannya disana.
"Sayang, nih minum dulu!" ucap Willy.
"Makasih sayang!" ucap Aurora tersenyum lebar.
Saat Aurora tengah minum, Willy tampak menatap sekeliling seperti mencari seseorang.
"Kiara kira-kira datang gak ya?" batin Willy.
Aurora yang sadar akan hal itu pun bertanya pada Willy dengan wajah keheranan.
"Wil, kamu cari siapa?" tanya Aurora.
"Eh eee gak kok, aku gak cari siapa-siapa. Aku cuma bingung aja kenapa pestanya masih belum dimulai?" jawab Willy berbohong.
"Ohh, mungkin karena belum pada dateng semua. Udah lah Wil, kamu minum aja dulu nih atau makan cemilannya tuh!" ucap Aurora.
"Iya sayang.." Willy mencolek pipi Aurora dan mengecupnya singkat.
"Nanti kita dansa ya? Aku mau bikin kamu gak akan bisa lupain malam ini!" bisik Willy di telinga gadisnya.
Deru nafas Willy membuat Aurora bergidik, apalagi pria itu juga sengaja mengecup bahunya yang terpampang jelas itu.
"Ahh Wil, kamu mah iseng banget sih!" ujar Aurora.
"Gapapa dong sayang, namanya juga sama pacar sendiri. Kamu itu wangi banget sih, kulit kamu mulus gini bikin aku tambah sayang!" ucap Willy yang terus mengusap kulit Aurora.
Aurora hanya bisa terdiam pasrah, walau sebenarnya ia agak risih dengan perlakuan Willy.
"Kalau lihat kamu begini, aku rasanya pengen cepat-cepat nikahin kamu deh sayang! Aku jadi gak sabar buat duduk berdua sama kamu di pelaminan nanti!" ucap Willy.
"Huft, paling kamu cuma ngincer malam pertamanya doang kan? Dasar mesum!" cibir Aurora.
"Apa sih sayang? Kamu fitnah deh!" elak Willy.
"Bukan fitnah, tapi kenyataan. Aku tahu kok apa yang ada di otak kamu itu!" ujar Aurora.
"Ah masa??" goda Willy.
"Huh dasar mesum!" cibir Aurora.
"Hahaha.." Willy tertawa lepas dan melangkah ke belakang tubuh Aurora.
Kini Willy melingkarkan tangannya di pinggang sang kekasih, terus menciumi leher serta pundak Aurora hingga membuat gadis itu melenguh pelan.
"Ahh.." Aurora spontan menutupi mulutnya saat hendak mengeluarkan desahann.
"Sayang, kamu benar-benar bikin aku bergairah! Aku gak kuat lagi sayang!" ucap Willy dengan mata terpejam.
"Cukup Willy ih!" bentak Aurora.
Tiba-tiba saja, Willy dibuat terkejut saat melihat Kiara datang bersama Max di depan sana.
"Hah? Itu kan Kiara, kok dia sama Max sih?" batin Willy.
Bersambung....