
My love is sillie
Episode 62
•
Willy dan Aurora sudah berada di rumah sakit tempat Thoriq serta Farrel dirawat.
Aurora turun dari motor Willy, hendak melangkah masuk ke dalam meninggalkan pria itu.
Akan tetapi, Willy lebih dulu mencekal lengannya dan meminta Aurora tetap disana.
"Eits, kamu mau kemana sih buru-buru amat? Sebentar dulu dong sayang, kamu tunggu aku jangan langsung masuk sendirian!" ujar Willy.
"Ya ampun Willy! Masa gue mau masuk duluan aja gak dibolehin sih? Lu kan bisa nyusul tau nanti, gausah marah-marah gitu!" ujar Aurora.
"Tetap aja gak bisa, pokoknya kamu harus bareng sama aku titik gak pake koma! Kalau kamu gak mau nurut, hp kamu bakal selamanya sama aku!" ancam Willy.
"Hadeh, terus aja ngancem terus! Emang lu itu ngeselin banget sih Wil! Padahal sampai sekarang juga gue belum bilang kalau gue mau jadi pacar lu, tapi lu masih aja anggap gue ini pacar lu. Gue heran deh sama lu, apa jangan-jangan lu itu punya gangguan jiwa ya?!" ucap Aurora kesal.
"Hahaha, iya sih sebenarnya aku emang gila. Lebih tepatnya aku gila karena kamu sayang," ucap Willy seraya mencolek dagu gadisnya.
"Udah udah, ayo buruan kita masuk! Kita kesini kan mau jenguk teman-teman lu, bukannya buat pacaran atau mesra-mesraan disini." ucap Aurora sedikit geram.
"Iya cantikku sayangku, kamu mah gak sabaran banget sih!" goda Willy.
Aurora hanya memalingkan wajahnya, sedangkan Willy membuka helm dari kepalanya dan kembali mencengkeram lengan Aurora dengan erat.
"Yuk kita masuk!" ucap Willy tersenyum.
Aurora mengangguk setuju dan masuk ke dalam rumah sakit mengikuti langkah kaki Willy.
Saat tiba di depan ruang rawat, Willy melihat hanya ada Randi serta tiga orang anggota the darks disana.
Willy pun heran kemana para anggota the darks yang lainnya dan mengapa mereka tidak terlihat disana.
"Hai guys!" Willy menyapa mereka berempat sembari melakukan tos.
"Eh Wil, lu pasti mau jenguk Thoriq sama Farrel ya?" ujar Randi.
"Iya nih, eh ya yang lain pada kemana nih kok sepi?" tanya Willy keheranan.
"Eee begini Wil, anak-anak the darks yang lain lagi urus Jeki sama Leo. Tadi kita dapat kabar kalau Jeki dan Leo dihajar orang misterius sampai pingsan, makanya sekarang anak-anak the darks lagi cek kesana." jawab Randi.
"Apa? Lagi-lagi kejadian ini terulang, siapa sih orang yang udah lakuin ini? Gue juga bingung, apa niat tuh orang mau habisin satu persatu anggota the darks? Salah apa kita?" geram Willy.
"Iya Wil, kita juga gak tahu." kata Randi.
Bughh...
"Aaarrgghh!!" teriak Willy sambil memukul dinding rumah sakit dengan keras dan mengakibatkan tangannya terluka sendiri.
"Willy! Lu apa-apaan sih? Gue tahu lu kesel, tapi lu jangan sakitin diri lu sendiri kayak gitu dong!" ucap Aurora langsung mendekati Willy dengan cemas.
"Sorry sayang! Aku merasa bersalah aja sama diri aku sendiri, karena sebagai ketua aku gagal melindungi anggota-anggota aku. Seharusnya aku bisa cegah ini semua terjadi!" ujar Willy.
"Lu jangan salahin diri lu sendiri, Wil! Ini bukan kesalahan lu kok," ucap Aurora.
"Iya Wil, Aurora benar. Kita semua kan gak ada yang mau kejadian ini terjadi, yang patut disalahkan itu pelaku yang udah keroyok anak-anak the darks sampai masuk UGD!" ucap Randi.
"Itu dia Ran, kita harus cari tau siapa pelakunya dan tangkap dia secepatnya sebelum jatuh korban berikutnya! Gue minta lu sama Tedy dan Arif buat ikut gue sekarang, kita susurin ibukota buat cari tuh pelakunya!" ucap Willy emosi.
"Siap Wil!" ucap Tedy dan Arif bersamaan.
"Eee Wil, terus gue gimana?" tanya Syakur.
"Lu jaga disini! Sekalian gue titip Aurora sama lu, jangan sampai dia kenapa-napa!" jawab Willy.
"Oke Wil!" ucap Syakur menurut.
"Yaudah, ayo Ran kita cabut sekarang! Gue yakin tuh orang-orang yang udah keroyok si Leo sama si Jeki pasti masih berkeliaran di jalan!" ucap Willy.
"Siap Wil!" ucap Randi.
Disaat Willy hendak pergi, Aurora justru menahan pria itu dan mencekal lengannya.
"Tunggu Wil!" ucap Aurora dengan panik.
"Iya, kenapa sayang?" tanya Willy lembut.
"Lu jangan pergi dong! Itu bahaya tau, kalo lu kenapa-napa gimana? Lagian gue juga gak mau disini berdua sama dia doang, mending lu disini aja ya!" jawab Aurora.
"Kamu cemas ya sama aku? Segitunya sih kamu, udah lah sayang gausah cemas gitu!" ucap Willy sembari mencolek pipi gadisnya.
"Wil, dengerin gue dong! Gue maunya lu tetap disini, bukan pergi cari pelaku pengeroyokan itu! Lu jangan maksa pergi deh, nurut aja sama gue ya!" ucap Aurora.
"Gapapa sayang, aku gak akan kenapa-napa kok. Kamu tenang aja ya cantik!" ucap Willy.
"Haish, lu susah amat sih dikasih taunya! Gue pokoknya gak izinin lu pergi!" tegas Aurora.
Willy tersenyum kemudian melirik ke arah Randi dan anak-anak the darks lainnya, ia bingung harus bagaimana sekarang ini.
"Gimana ini ya? Masalahnya aku harus cari tau siapa pelakunya, supaya gak ada anak the darks lagi yang jadi korban. Tolong kamu ngerti ya sayang, bolehin aku pergi!" ucap Willy.
"Gue ngerti kok, tapi kalo nanti terjadi sesuatu sama lu gimana?" tanya Aurora.
"Kamu tenang aja! Aku bakal baik-baik aja, kamu gak perlu cemas gitu sama aku!" jawab Willy.
"Yaudah, kalo gitu gue ikut ya?" ujar Aurora.
"Hah? Mau ngapain sayang? Kalau kamu ikut, itu malah lebih berbahaya tau. Enggak enggak, aku gak bolehin kamu buat ikut!" ucap Willy.
"Kenapa? Gue kan cuma mau temenin lu, kalo gue gak boleh ikut yaudah lu juga gak boleh pergi!" ujar Aurora mengeratkan pegangannya.
"Mending gini aja Wil, lu sama Aurora tetap disini. Biar kita bertiga aja yang keluar buat cari tuh pelakunya," usul Randi.
"Yeh jangan gitu lah! Kalo cuma lu bertiga, gimana bisa tangkap tuh pelaku? Kan si Thoriq udah bilang, mereka jumlahnya banyak. Gak mungkin kalian bisa tangkap mereka, yang ada nanti malah mereka bakal habisin kalian juga." ujar Willy.
"Iya juga sih, betul tuh yang dibilang Willy." kata Tedy.
"Terus, kita harus gimana Wil? Masa kita mau diem aja disini?" tanya Arif.
Willy menatap wajah Aurora dengan intens, Aurora langsung saja mengeratkan genggamannya pada lengan Willy seakan memberi isyarat bahwa ia tak mengizinkan Willy untuk pergi.
"Ayolah sayang, aku boleh pergi ya!" bujuk Willy.
"Gak! Pokoknya gue gak izinin lu buat pergi, kecuali lu mau bolehin gue ikut sama lu!" tegas Aurora.
"Hadeh, yaudah deh aku bolehin kamu ikut. Tapi, kamu harus nurut sama aku!" ucap Willy.
"Okay!" ucap Aurora setuju.
"Guys, ayo kita pergi sekarang! Kur, lu jaga disini ya jangan kemana-mana!" ucap Willy.
"Siap Wil!" ucap Syakur patuh.
"Tapi Wil, lu yakin mau ajak Aurora?" tanya Randi.
"Gue gak ada pilihan lain, udah lah kita cabut aja sekarang!" jawab Willy.
"Oke Wil!" ucap Randi mengangguk pelan.
******
Disaat Willy serta yang lainnya hendak pergi keluar dari rumah sakit, mereka justru berpapasan dengan ambulance yang baru tiba bersamaan juga para anggota the darks lainnya.
Sontak Willy pun melipir sejenak menghampiri anggotanya yang lain, ia penasaran mengenai kondisi Leo serta Jeki dan ingin tahu seperti apa keadaan mereka berdua saat ini.
"Oke Wil!" ucap Randi menurut.
Willy mendekat ke arah lima orang anak the darks yang baru tiba disana dengan wajah cemas.
"Zaf, gimana kondisi Leo sama Jeki?" tanya Willy.
"Mereka parah banget Wil, tadi gue sampe gak tega ngeliatnya. Gue yakin sih pelakunya itu benar-benar kejam dan benci banget sama kita!" jawab Zafran.
Willy menggeleng disertai rahang bergetar, lalu mengepalkan tangannya dan mengarahkan pandangan pada ambulance disana.
"Gue mau lihat kondisi mereka, abis itu baru kita sama-sama cari pelakunya!" ucap Willy.
"Siap Wil!" ucap Randi patuh.
Willy, Randi, dan Aurora melangkah mendekati ambulance tersebut untuk mencari tahu bagaimana kondisi Leo serta Jeki.
Tak lama kemudian, tubuh Leo dan Jeki pun dikeluarkan dari ambulance untuk dibawa masuk ke dalam rumah sakit.
Willy langsung syok berat begitu menyaksikan sendiri bagaimana kondisi mereka berdua, ia bahkan tidak tega untuk melihatnya terlalu lama dan meminta petugas segera membawa mereka.
"Pak, langsung dibawa aja ke dalam ya! Berikan mereka penanganan terbaik!" ucap Willy.
"Iya mas," ucap petugas itu menurut.
"Wil, kenapa lu langsung minta mereka bawa Jeki sama Leo? Kita kan belum lihat kondisi dia Wil," tanya Randi heran.
"Gue gak tega lihatnya Ran, mereka udah parah banget dan gue rasa mereka harus segera diperiksa!" jawab Willy.
"Sabar ya Wil! Mereka pasti bakal baik-baik aja!" ucap Aurora.
"Iya, yaudah yuk mending kita pergi sekarang dan cari tuh pelakunya!" ujar Willy.
"Gue setuju Wil, kita harus tangkap mereka dengan segera!" ujar Tedy.
Willy mengangguk setuju dan langsung merangkul Aurora bersiap untuk pergi mencari pelaku yang sudah memukuli teman-temannya.
Namun, Zafran bersama keempat anggota the darks lainnya yang baru datang langsung menghampiri Willy disana.
"Wil, kita berlima mau ikut dong." kata Zafran.
"Hah? Jangan deh jangan, biar gue sama Randi Tedy dan Arif aja yang pergi! Kalian berlima tetap disini, jangan ada yang keluar sendiri atau berdua!" ucap Willy.
"Tapi Wil, kita—"
"Kalian tenang aja! Serahin semuanya ke gue, gue janji bakal bawa tuh pelakunya dan tangkap dia!" potong Willy.
"Oke Wil!" ucap Zafran menurut.
"Yaudah, yuk guys kita cabut sekarang! Waktu kita semakin menipis, kita gak boleh biarin pelakunya itu berkeliaran gitu aja di jalan!" ucap Willy.
"Siap Wil!" ucap Randi.
Willy bersama yang lainnya pun pergi dari sana, ia membawa serta Aurora di sampingnya.
"Sayang, kamu yakin mau ikut?" tanya Willy.
"Iyalah Wil, gue gak bisa biarin lu pergi tanpa gue!" jawab Aurora yakin.
"Yaudah, tapi ingat ya kamu harus nurut sama aku dan gak boleh ngebantah!" ucap Willy.
"Iya Willy, bawel banget sih!" ujar Aurora.
"Yeh bukannya bawel, aku gak mau kamu kenapa-napa kalo gak nurut sama aku!" ucap Willy.
"Iya iya..." ucap Aurora pasrah.
******
Enam orang yang baru saja selesai menghabisi Leo serta Jeki, kini datang ke sebuah tempat menemui seseorang yang tak lain adalah bos mereka.
Ya orang itu adalah Asep, orang bayaran yang diminta Martin untuk menghabisi Willy serta anak-anak the darks lainnya satu persatu.
"Permisi bos! Kami ingin melapor kalau kami sudah berhasil menghabisi empat orang anak the darks, barusan dua orang yang lain menyusul masuk ke UGD." ucap salah seorang dari mereka.
"Bagus! Ini bayaran buat kalian, teruskan habisi seluruh anggota the darks tanpa ada yang tersisa! Termasuk juga Willy, buat mereka semua masuk ke UGD!" ucap Asep.
"Baik bos, terimakasih bayarannya!" ucap orang itu tersenyum senang.
"Yasudah, cepat kalian pergi dan lanjutkan lagi kerja kalian! Sisa bayaran kalian akan saya bayarkan begitu kalian berhasil menghabisi seluruh anggota the darks," ucap Asep.
"Baik bos!" ucap anak buahnya itu.
Setelahnya, keenam orang bayaran Asep pun melanjutkan pekerjaan mereka untuk mencari dan menghabisi para anggota the darks.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di dekatnya. Seorang pria dengan kacamata hitam turun dari mobil tersebut.
Asep tersenyum menghadap ke arah pria itu, menaruh dua tangannya di depan dan bersiap menyambut sang bos besar.
"Halo tuan Martin! Apa kabar tuan?" ucap Asep dengan ramah.
"Saya baik, bagaimana dengan kerjaan yang saya berikan sama kamu? Lancar kan?" ucap Martin.
"Tenang aja tuan, semuanya lancar dan beres kok! Barusan anak buah saya lapor, mereka sudah berhasil menghabisi empat orang anggota the darks dan masih akan terus berlanjut." ucap Asep.
"Baguslah, jangan pernah kecewakan saya! Habisi mereka semua sampai ke akar-akarnya, saya tidak ingin melihat nama the darks di jalanan lagi!" perintah Martin.
"Baik tuan!" ucap Asep mengangguk setuju.
"Hahaha, habislah kamu Willy!" batin Martin.
***
Enam orang anak buah Asep kini kembali melihat lima orang rombongan pemotor yang mengenakan jaket bertuliskan the darks.
Mereka pun mengira lima orang itu adalah anggota the darks dan langsung mengejar kelimanya untuk melanjutkan kerja mereka.
"Woi, anak the darks tuh!"
"Iya benar, ayo kejar mereka!"
Aksi kejar-kejaran pun terjadi, hingga akhirnya enam orang itu berhasil mencegat kelima pemotor yang mereka anggap anggota the darks.
"Hahaha, mau kemana kalian?"
"Si-siapa kalian?"
"Lu gak perlu tahu siapa kita! Sekarang kita bakal kirim lu semua ke UGD!"
"Hah? Apa salah kita?"
"Gausah banyak omong lu! Ayo guys, kita habisi mereka!"
"Siap!"
Tanpa berlama-lama lagi, enam orang itu pun langsung bergerak menyerang lima pria di depannya dengan membabi buta.
Tak butuh waktu lama bagi keenam orang itu untuk menghabisi lima pria yang mereka kira anggota the darks itu.
"Aaaakkkhh!!"
Setelahnya, enam orang itu pun pergi dari sana meninggalkan mereka berlima.
Bersambung....