My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 89. Ditendang



My love is sillie


Episode 89



Tedy telah sampai di gerbang depan rumah Ayna, gadis cantik yang sempat ia tolong kala itu.


Tedy memang sudah mendapat izin dari Ayna dan Ayna pun telah memberikan alamat rumahnya kepada Tedy.


Kini Tedy turun dari motor sembari merapihkan rambutnya.


Ia melangkah ke dekat gerbang, membawa setangkai bunga yang harum di tangannya.


"Duh, si cantik yang seksi itu mana ya? Gue kan udah bilang kalo gue udah nyampe, apa dia gak baca sms dari gue kali ya? Ah masa iya sih?" gumam Tedy.


Tedy terus melirik-lirik ke arah dalam rumah itu, suasananya cukup sepi seperti tidak ada orang.


Namun, tak lama Ayna akhirnya muncul disana dan menyapanya.


"Hai!" sapa Ayna sambil tersenyum.


"Hai juga!" balas Tedy begitu menyadari Ayna sudah mendekat ke arahnya.


"Yuk langsung masuk aja! Sekalian itu motor kamu dibawa ke dalam, takut ilang!" ucap Aurora.


"Ohh iya iya.." ucap Tedy menurut.


Tedy pun kembali ke motornya, sedangkan Aurora melebarkan pintu gerbang agar Tedy dan motornya bisa masuk ke dalam.


Begitu memasuki halaman rumah Ayna, Tedy nampak yakin bahwa di rumah itu memang sangat sepi dan penerangan nya pun kurang.


"Eee Ayna, rumah kamu ini emang sepi dan gelap begini ya? Banyak banget pohon-pohon rindang di sekitarnya, bikin serem aja. Emang sih seger, tapi kan suasananya jadi ngeri juga." ujar Tedy.


"Ahaha, kenapa? Kamu takut ya? Tenang aja, gak ada apa-apa kok!" ucap Ayna.


"Hah? Takut? Ya enggak lah, buat apa aku takut? Aku ini pemberani!" elak Tedy.


"Okay! Yaudah, yuk masuk aja! Kebetulan papa mama aku lagi kerja, jadi di dalam cuma ada asisten rumah tangga aku." ucap Ayna.


"Ohh, yah kirain cuma kamu doang." ujar Tedy pelan.


"Hah? Apa?" ucap Ayna penasaran.


"Eh enggak kok enggak, hehe.." ucap Tedy.


"Oh oke, kalo gitu ayo masuk!" ucap Ayna.


"Iya cantik," ucap Tedy sambil tersenyum singkat.


Mereka kini melangkah ke dalam rumah gadis itu, Tedy nampak terus melihat ke sekelilingnya karena suasana disana benar-benar bikin merinding.


"Haish, rumahnya udah kayak di hutan aja. Untung penghuninya secantik bidadari, jadi paling enggak gue bisa sedikit lega lah. Kalaupun nanti gue nikah sama dia, toh dia bakal gue bawa ke rumah gue, jadi gue gak akan tinggal disini." batin Tedy.


Sesampainya di dalam, Ayna langsung mempersilahkan Tedy untuk duduk di sofa nya.


"Eee Tedy, kamu duduk aja dulu ya! Aku mau ke dapur dulu temuin pembantu aku. Eh ya, kamu mau dibuatin minum apa nih?" ucap Ayna.


"Apa aja boleh, tapi kalo bisa sih yang dingin. Maklumlah, cuaca di luar tadi panas. Tapi, pas masuk kesini langsung adem banget rasanya. Apalagi lihat senyum kamu yang manis itu," ucap Tedy sambil tersenyum.


"Duh, kamu itu orangnya suka gombal ya? Daritadi perasaan sering banget gombalin aku, emangnya senyum aku semanis itu ya sampai kamu bilang gitu?" ujar Ayna.


"Tentu saja," jawab Tedy mantap.


Ayna menggeleng pelan disertai senyum manisnya, sedangkan Tedy ikut tertawa kecil merasa senang melihat gadis di depannya tersenyum.


******


"AAKKKHHH!!" pekik Willy sembari memegangi area segitiga miliknya yang terasa sakit.


Aurora berhasil melepaskan ikatan di tangannya itu, ia langsung berdiri menghampiri Willy dan menatapnya dengan tajam penuh emosi.


Baru saja tadi Willy hendak memerkosa gadisnya, namun Aurora tak semudah itu menyerahkan apa yang sudah ia jaga selama ini.


"Awhh akh! Kamu kok tega banget sih tendang punya aku kayak gitu?" ujar Willy kesakitan.


"Biarin aja! Suruh siapa kamu mesum banget jadi cowok?!" geram Aurora.


"Awhh sshh tapi sakit tau sayang! Kamu kira-kira dong tendangnya, jangan kekencangan! Iya iya, aku minta maaf deh sama kamu! Aku ngaku aku salah, aku hampir aja kelepasan." ucap Willy.


"Yaudah, sekarang aku mau pulang. Aku gak mau berduaan sama kamu dulu untuk saat ini, soalnya kamu nyeremin." ucap Aurora.


"Ya ya ya, aku antar ya sayang?" ucap Willy.


Aurora menepis tangan Willy yang hendak menyentuhnya.


"Gausah, aku bisa sendiri!" ucap Aurora.


"Hey! Masa gitu sih? Ayolah sayang, aku antar kamu ya cantik?!" pinta Willy.


"Aku gak mau! Jangan paksa aku!" tegas Aurora.


"Okay! Tapi, kamu hati-hati ya cantik! Aku anterin kamu sampe depan hotel, biar aku bisa pastikan kalau kamu baik-baik aja." ucap Willy.


"Terserah!" ucap Aurora singkat.


Aurora langsung berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan Willy.


"Hey sayang! Tunggu dong hey!" teriak Willy.


"Awhh akkhh!!" pekiknya.


Akhirnya Willy mengejar Aurora dengan terus memegangi area segitiga miliknya yang masih terasa sakit akibat tendangan gadis itu.


Willy berhasil mengejar Aurora saat gadis itu hendak menaiki lift, ia langsung saja masuk ke dalam lift itu dan menggandeng lengan Aurora.


"Huh, jangan buru-buru dong sayang! Kamu gak lihat nih punyaku masih sakit?" ucap Willy.


"Aku gak perduli! Itu kan juga kesalahan kamu sendiri, siapa yang suruh tadi kamu mesum banget kayak gitu sama aku?" ucap Aurora ketus.


"Iya iya, aku minta maaf ya!" ucap Willy.


"Aku gak mau maafin kamu, sebelum kamu janji kalau kamu gak akan begitu lagi!" ucap Aurora.


"Emang kenapa sih sayang? Salahnya dimana coba kalau aku mau miliki kamu seutuhnya? Aku kan takut aja kalau nantinya kamu berpaling ke lain hati dan ninggalin aku," ujar Willy.


"Tapi, gak gitu juga caranya Willy. Aku janji kok gak akan tinggalin kamu, justru kalau kamu udah ambil kesucian aku, aku yang jadi was-was kamu bakal tinggalin aku." ucap Aurora.


"Terus, berarti aku gak boleh dong tidur berdua sama kamu?" tanya Willy.


"Ya jelas gak boleh lah!" jawab Aurora tegas.


***


Singkat cerita, Aurora tiba di rumahnya dengan taksi yang ia tumpangi.


Aurora turun dari taksinya, melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah murung.


"Huft, gue masih gak nyangka Willy tega ngelakuin itu sama gue. Emang sih gue maklumin dia marah gara-gara masalah tadi pagi, tapi kan dia gak seharusnya kayak gitu juga sama gue!" gumam Aurora.


Tin tin...


"Aurora, kamu kok tumben udah pulang ke rumah sebelum papa datang? Biasanya juga kamu kalau pulang selalu malam-malam bareng sama Willy, terus sekarang dimana Willy?" tanya Johan.


"Willy gak ada pah, tadi aku pulang sendiri naik taksi." jawab Aurora.


"Hah? Emangnya kenapa kamu gak pulang bareng Willy? Kalian ada masalah?" tanya Johan.


"Gak ada kok, aku cuma mau pulang sendiri aja. Lagian Willy juga ada urusan lain tadi, jadi dia gak bisa anterin aku pulang." jawab Aurora berbohong.


"Ohh, papa kirain kalian lagi ada masalah. Tapi, benar kan kalau kamu sama Willy gak ada masalah?" ucap Johan memastikan.


"Bener kok pah, masa aku bohong?" ucap Aurora.


"Yaudah, yuk kita sama-sama masuk ke dalam! Kamu pasti belum makan siang kan?" ucap Johan merangkul putrinya itu.


Aurora menggeleng tanda bahwa ia belum makan.


"Nah kan, papa tahu kebiasaan kamu. Tapi, biasanya kamu juga makan siang bareng sama Willy, kenapa sekarang enggak?" ucap Johan.


"Ya itu dia pah, kan Willy lagi ada urusan penting. Makanya aku gak sempat makan siang dulu deh, jadinya aku pulang duluan." ucap Aurora.


"Kalo gitu ayo kita masuk dan makan siang! Di dalam pasti bibik udah siapin makanan yang enak buat kita, kamu mau kan?" ucap Johan.


"Mau dong pah, masa iya aku gak mau makan siang? Aku juga udah lapar banget nih, soalnya tadi di sekolah cuma makan sedikit." ucap Aurora.


"Salah kamu sendiri, kenapa makannya cuma sedikit? Harusnya yang banyak dong!" ucap Johan.


"Pengennya sih gitu pah, tapi aku gak enak makan karena Willy marah sama aku tadi." ucap Aurora.


"Hah? Willy marah sama kamu? Emangnya ada masalah apa sayang?" tanya Johan.


"Eh eee gak kok pah, gak ada apa-apa cuma masalah kecil aja." jawab Aurora sambil tersenyum.


"Yakin masalah kecil? Buktinya kamu sampai gak bisa makan, cerita aja kali sama papa!" ujar Johan.


"Iya pah iya, jadi Willy tuh marah gara-gara tadi pagi aku diantar ke sekolah sama kak Martin. Terus, aku juga gak ngabarin ke dia." jelas Aurora.


"Ohh, Willy cemburu sama nak Martin? Apa gimana?" tanya Johan.


"Bukan pah, tapi karena Willy sama kak Martin kan emang gak bisa akur. Aku juga gak ngerti kenapa mereka bisa sampe kayak gitu, apalagi tadi Willy marah banget begitu sama aku." jawab Aurora.


"Berarti nak Willy emang beneran gak suka ya sama nak Martin? Begitupun sebaliknya, ini sih susah buat nyatuin mereka." ucap Johan.


"Iya pah, makanya aku bingung." ucap Aurora.


"Yaudah, gausah sedih! Papa kan ada disini, papa juga bisa bantu kamu buat baikin nak Willy." ucap Johan.


"Iya pah, makasih!" ucap Aurora sambil tersenyum.


******


Disisi lain, Willy tiba di markas the darks dengan wajah murung dan kedua tangan terus memegangi bagian segitiga miliknya.


Sontak saja kelakuan Willy itu mengundang gelak tawa bagi teman-temannya disana, mereka semua terkejut melihat Willy kesakitan seperti itu.


"Hahaha, lu kenapa Wil? Pertigaan lu kecengklak apa gimana?" sarkas Leo.


"Ah sialan lu pada! Bukannya pada kasihan sama ketuanya yang lagi sakit, eh malah diketawain! Teman macan apa kalian?" ucap Willy sembari duduk di tempatnya dengan perlahan.


"Hahaha, kita tuh sebenernya kasian sama lu Wil. Tapi, lucu aja ngeliat lu jalan kayak tadi sambil megangin pertigaan lu itu." ujar Zafran.


"Nah iya tuh, betul kata Zafran!" sahut Jeki.


"Dah dah dah, jangan pada ketawa terus! Sakit kuping gue dengernya, orang lagi kesakitan malah pada ketawa! Emang gak ada adabnya lu pada!" geram Willy.


"Hehe, santai Wil kalem! Jangan ngegas gitu dong!" ujar Arif sambil nyengir.


"Wil, emangnya lu kenapa sih? Kok bisa sampai kesakitan kayak gitu?" tanya Randi penasaran.


"Kalau gue cerita gue abis ditendang sama Aurora gara-gara gue mau perkosa dia, beuh bisa dicengin abis gue sama mereka semua! Enggak deh, mending gue ngarang aja!" batin Willy.


"Eee begini loh, jadi tadi gue ketemu preman di jalan yang lagi malakin ibu-ibu. Nah, gue niatnya mau nolongin tuh. Eh tapi preman itu malah tendang pertigaan gue, jadinya gue kesakitan kayak gini deh." bohong Willy.


"Semoga aja mereka percaya deh!" batinnya.


"Ohh, gue pikir lu abis main sama pacar lu. Terus, karena sangking sangenya sampe bengkok tuh punya lu." ujar Arif diakhiri dengan tawaan.


"Hahaha, hahaha.." sahut yang lain.


Willy memalingkan wajahnya sambil geleng-geleng kepala, ia benar-benar merasa malu kali ini.


"Ah udah udah, cukup! Ini waktunya kita serius, karena kita masih banyak masalah! Emang kalian mau kita terus-terusan menderita kayak gini?" ucap Willy dengan lantang.


"Ya enggak lah Wil, kita maunya maju dan semakin berkuasa di jalanan. Tapi, mau gimana lagi? Sekarang kita udah kalah saing sama geng-geng motor di luar sana, mereka kuat-kuat dan punya backingan hebat." ucap Zafran.


"Itu bukan alasan, karena kita geng the darks dan kita adalah raja jalanan! Supaya kita bisa rebut kembali tahta itu, ya kita harus sering turun ke jalan buat memperluas wilayah kita!" ucap Willy.


"Nah, ini dia nih yang gue tunggu-tunggu dari lu Wil. Akhirnya lu balik juga ke Willy yang dulu! Kalau begini sih, gue yakin kita bisa kembali jadi raja jalanan lagi kayak dulu!" ucap Arif.


"Iya tuh, gue juga seneng banget dengar lu ngomong gitu Wil!" sahut Zafran.


"Mantap dah emang ketua kita yang satu ini!" ucap Leo sambil tersenyum renyah.


"Yaudah, ayo kita semua pikirin rencana yang terbaik untuk menguasai jalanan lagi! Pokoknya rencana kita harus berhasil!" ujar Willy.


"Siap Wil!" ucap mereka semua serentak.


******


Ilham dan para anggota black jack, tiba di sebuah tempat latihan silat sesuai arahan dari Choky.


Sesampainya disana, mereka kompak turun dari motor dan berjalan menghampiri si guru silat.


"Nah guys, ini dia tempatnya." ucap Choky.


"Terus, mana orangnya yang kata lu sakti itu?" tanya Ilham.


"Eee..." Choky terlihat celingak-celinguk mencari sosok guru silat untuk dikenalkan pada teman-temannya itu.


"Ada apa?" tiba-tiba saja seseorang muncul di sebelah mereka, membuat Ilham dan yang lainnya terkejut bukan main.


"Nah, ini dia orangnya. Halo bang Feri! Gue Choky yang suka nongkrong di depan sana," ucap Choky sambil tersenyum.


"Ya ya ya, gue tahu kok lu siapa. Terus, ngapain lu ajak teman-teman lu ke tempat gue? Mereka mau pada daftar silat sama gue?" ujar pria bernama Feri alias bang Feri itu.


"Enggak bang, kita kesini karena ada yang mau kita bicarain sama lu. Apa boleh kita bicara di tempat yang agak sepi?" ucap Choky.


"Oke! Ayo kita kesana!" ucap Feri.


"Siap bang! Guys, ayo kita ikutin bang Feri!" ucap Choky.


Ilham serta teman-temannya mengangguk saja, lalu melangkah mengikuti bang Feri.


Mereka kini duduk di sebuah kursi panjang yang tersedia, bang Feri pun terlihat penasaran mengenai apa yang ingin disampaikan oleh Ilham dan teman-temannya itu.


"Jadi, apa yang mau lu-lu pada omongin sama gue? Penting atau enggak?" tanya Feri.


"Eee kita..." Choky menghentikan ucapannya saat Ilham menepuk pundaknya dari samping.


Bersambung....