My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 75. Supaya cepat selesai



My love is sillie


Episode 75



"Aurora Aurora, kamu kenapa sih mau pacaran sama cowok kayak gitu? Padahal kan ada aku disini, jelas-jelas aku lebih tampan dan rupawan daripada dia." ujar Max.


"Dasar gila! Udah Wil, kita gausah ladenin dia! Ayo kita pergi aja!" ucap Aurora.


"Tunggu sayang! Ini kan kita lagi ketemu sama Max, pas banget sekalian aja kita obrolin soal itu ke dia." ucap Willy.


"Oh iya ya, benar juga kamu.." ucap Aurora.


Aurora pun beralih menatap wajah Max di depannya dengan muka serius.


"Kamu mau bicara apa sama aku, Aurora sayang?" tanya Max sedikit menggoda.


"Dih najis, jangan panggil sayang-sayang ke gue! Wil, marahin dong si Max!" ucap Aurora.


"Eee gak bisa dong sayang, ini kan di sekolah. Kalo aku marahin dia terus ribut sama dia, yang ada aku bisa dikasih hukuman tambahan sama kepala sekolah." ucap Willy.


"Haish, takut amat sih kamu!" cibir Aurora.


"Hehe.." Willy nyengir saja sambil merapihkan rambutnya.


"Hahaha, lucu sekali kalian ini... tapi, gue gak punya waktu buat ladenin kalian berdua. Cepat katakan saja apa yang mau kalian bicarakan sama gue?!" ucap Max tampak kesal.


"Kenapa sih Max? Lu cemburu ya, kesel lihat gue mesra-mesraan sama Aurora di depan lu?" ledek Willy sembari merangkul Aurora.


"Gausah banyak bacot lu, langsung aja ke intinya!" bentak Max.


Aurora menahan Willy yang hendak berbicara pada Max, ia ingin dirinya saja yang mengatakan semua itu agar Willy tak terbawa emosi.


"Biar aku aja," pinta Aurora.


"Okay, silahkan baby!" ucap Willy tersenyum.


Aurora menghela nafas, kemudian beralih menatap Max dan membuat pria itu bingung.


"Oke Max, gue juga gak mau terlalu lama basa-basi. Jadi, lu langsung jawab aja pertanyaan gue ini ya!" ucap Aurora.


"Apa?" ucap Max penasaran.


"Bener gak kalo lu kemarin bicara berdua sama kepsek dan minta ke kepsek buat tambahin hukuman Willy? Dari yang gue denger, lu terus-terusan desak kepala sekolah supaya bisa menambah waktu skorsing Willy." tanya Aurora.


Max langsung merubah ekspresinya, ia terkejut dan heran karena Aurora bisa mengetahui apa yang ia lakukan kemarin.


"Kamu kenapa tanya gitu? Buat apa sih aku bicara begitu sama kepala sekolah? Gak ada untungnya loh buat aku, kamu jangan main tuduh gitu aja dong!" jawab Max berbohong.


"Gue gak nuduh, gue kan cuma nanya. Info ini juga gue dapat dari orang kok," ucap Aurora.


"Siapa orangnya? Kamu jangan langsung percaya gitu aja sama kata-kata dia, Aurora! Bisa jadi dia salah lihat, atau malah dia emang pengen jebak aku loh." ujar Max.


"Udah deh, gausah bertele-tele! Tinggal jawab aja yang jujur ke kita berdua, lu kan yang udah hasut pak kepsek buat skors gue?!" ucap Willy emosi.


"Willy tahan! Biar aku aja yang bicara," ucap Aurora.


"Maaf sayang, aku gak tahan sama sikap dia yang playing victim itu!" ucap Willy.


"Iya, tapi kamu sabar ya!" ucap Aurora.


"Okay!" ucap Willy menurut.


"Hahaha, playing victim apa sih Willy? Gue gak playing victim kok, emang gue gak ngelakuin itu." elak Max.


"Max udah deh, cukup! Mending lu ngaku aja ke kita yang sebenarnya! Karena orang yang kita kenal, udah ngeliat lu secara langsung pas lagi bicara sama kepala sekolah. Kalau lu gak mau ngaku, kita bisa kok cek cctv di depan ruangan kepala sekolah nanti." ujar Aurora.


Max tersentak kaget mendengar kata-kata Aurora, ia baru sadar bahwa memang ada cctv di depan ruangan kepala sekolah dan bisa saja itu menjadi kehancuran baginya.


"Kenapa Max? Lu takut ya? Makanya, udah deh lu ngaku aja sama kita sekarang!" ujar Aurora.


"Tau lu, disuruh ngaku susah amat sih!" sahut Willy.


Max tetap terdiam membisu, ia dan teman-temannya pun tak bisa berkata apa-apa di hadapan Aurora dan Willy saat ini.


"Udah sayang, mending kita seret aja dia langsung ke hadapan kepala sekolah! Kita paksa dia buat ngaku nanti disana, aku udah gak sabar lagi kalo kayak gini!" geram Willy.


"Sabar Wil, jangan main seret seret aja! Kalau dimarahin guru BK gimana?" ucap Aurora.


"Gapapa sayang, yang penting dia ini mau ngaku sama kita kalau dia yang udah hasut kepala sekolah buat hukum aku!" ujar Willy.


Willy dengan emosinya langsung menarik paksa lengan Max untuk dibawa menuju ruang kepala sekolah.


"Eh eh eh, lu apa-apaan sih? Lepasin gak tangan gue!" ujar Max.


"Lu gausah banyak bantah! Ikut ayo sama kita, lu harus tanggung jawab!" tegas Willy.


"Heh Willy! Lu gak bisa seenaknya gitu dong paksa-paksa Max buat akui apa yang dia gak lakukan, itu sama aja lu cari ribut sama kita!" ucap Lintang dengan emosi.


"Apa? Gue cari ribut sama kalian? Dengar ya, yang mulai duluan itu si Max bukan gue. Kalau aja dari awal dia gak ngerusuh sama gue, mungkin ini gak akan terjadi. Tapi nyatanya apa, si Max ini emang selalu cari gara-gara sama gue!" ucap Willy.


"Ah emang dasar lu aja yang pengen cari ribut sama kita! Lu lepasin tangan Max atau kita bakal hajar lu disini!" ujar Lintang.


"Gue gak bakal lepasin dia, dia ini harus ikut sama gue!" ucap Willy.


"Bener-bener lu ya!!" geram Lintang.


Bughh...


Lintang dan Tarjo menendang ke arah tangan Willy dengan keras sehingga lengan Max kini dapat terlepas dari genggaman Willy.


Willy yang tak terima, langsung menyerang mereka dengan ganas di lorong sekolah itu tanpa perduli apa yang akan terjadi nantinya.


"Aaaaa Willy berhenti...!! Cukup Willy, udah!" teriak Aurora ketakutan saat melihat Willy berkelahi.


Bugghhh... // Willy melayangkan pukulan demi pukulannya ke arah mereka hingga tepat mengenai perut Lintang.


Bruuukkk...


Lintang terjatuh ke lantai, kini hanya tersisa Max dan Tarjo yang masih melawan Willy dengan susah payah.


Aurora terus mencoba menghentikan perkelahian itu, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Jujur ia sangat khawatir kejadian ini akan dilihat oleh guru ataupun kepala sekolah.


"Duh, ini gimana ya? Willy udah dong, aku gak mau kamu celaka!" ucap Aurora.


Ketiganya kompak menoleh ke asal suara, rupanya ada pak Gatot selaku guru kesiswaan disana yang muncul menghampiri mereka.


Aurora pun dibuat dag-dig-dug dengan kejadian pak Gatot, ia sangat khawatir Willy akan dikenai hukuman tambahan akibat berkelahi di lingkungan sekolah.


"Kalian semua ini kayak anak kecil aja, pake berantem segala! Sudah, ayo kalian ikut saya ke ruang kesiswaan!" ucap pak Gatot.


"Willy.." Aurora tampak cemas.


"Gapapa, kamu ke kelas aja ya! Aku bisa urus semuanya sendiri," ucap Willy memegang wajah Aurora.


"Ta-tapi—"


"Sssttt nurut aja!" Willy memotong ucapan Aurora seraya menempelkan telunjuknya di bibir gadis itu.


Akhirnya Aurora mengangguk pelan, ia membiarkan Willy pergi bersama Max serta teman-temannya mengikuti pak Gatot menuju ruangannya.


******


Willy, Max serta teman-temannya kini sudah berada di dalam ruang kesiswaan bersama pak Gatot yang tampak marah.


Mereka pun tampak tertunduk lesu tak berani menatap wajah pak Gatot yang sedang emosi karena akan sangat berbahaya bagi mereka.


"Kalian berempat ini mau apa sih, ha? Mau jadi jagoan? Pake berantem segala di sekolah, apa gak malu kalian jadi tontonan orang-orang tadi?" tanya pak Gatot penuh emosi.


"Maaf pak! Tapi, saya sebenarnya gak mau ribut sama mereka. Ya cuma mereka aja yang duluan nyerang saya, jadi saya terpaksa lawan mereka disana tadi." jawab Willy.


"Heh! Jangan memutarbalikkan fakta lu ya! Jelas-jelas lu duluan yang cari masalah sama kita, buat apa tadi lu mau paksa Max ikut sama lu?!" ucap Lintang.


"Gue kan ajak dia baik-baik, biar semua masalah kita kelar. Tapi, dia malah gak mau." ucap Willy.


"Halah baik-baik apanya! Orang tadi lu langsung main tarik tangan Max gitu aja!" ujar Lintang.


"Hey sudah sudah! Jangan malah pada ribut lagi disini! Saya itu pusing tau harus urusin masalah beginian yang gak kelar-kelar, apalagi kamu Willy. Kamu itu kan lagi diskors, kenapa kamu pake dateng segala kesini?" ujar pak Gatot.


"Saya cuma mau antar pacar saya tadi pak, sekalian meluruskan masalah antara saya dan pihak sekolah. Saya masih gak terima dengan hukuman skorsing ini, karena saya pun juga gak pengen kejadian kemarin terjadi. Saya ini korban loh pak, muka saya sampe bonyok waktu itu gara-gara diserang mereka!" ucap Willy.


"Dan lagipun, waktu itu kan saya sudah menjalankan hukuman dari kepala sekolah untuk membersihkan seluruh toilet dan musholla di sekolah ini. Tapi, tiba-tiba besoknya kepala sekolah malah bilang kalau saya diskors. Jelas ajalah pak saya gak terima!" sambungnya.


"Itu sudah resiko kamu Willy, suruh siapa kamu punya banyak musuh di luar sana?! Udah gitu mereka pake nyerang ke sekolah ini lagi," ujar pak Gatot.


"Enggak pak, saya yakin ini bukan karena itu. Saya tahu banget pasti ada seseorang yang menghasut pak kepala sekolah buat kasih hukuman tambahan ke saya berupa skorsing, dan orang itu adalah si Max ini." ucap Willy.


"Apa-apaan lu? Sembarangan aja nuduh gue! Gue gak tahu apa-apa," elak Max.


"Diam dulu Max!" tegur pak Gatot.


Max menurut dan menundukkan kepalanya kembali.


"Willy, atas dasar apa kamu menuduh Max yang melakukan itu?" tanya pak Gatot.


"Barusan ada seseorang yang bilang sama saya, kalau dia lihat sewaktu Max lagi bicara dengan kepala sekolah dan Max meminta pada pak kepsek buat tambahin hukuman skorsing saya." jawab Willy.


"Siapa orang yang lihat Max bicara dengan kepala sekolah? Kamu kasih tahu ke saya, supaya saya bisa panggil dia kesini!" ucap pak Gatot.


"Tidak usah pak, nanti Max malah jadi dendam dan bakalan riweh urusannya. Kenapa kita gak cek aja cctv di depan ruangan kepala sekolah? Biar semuanya kelihatan jelas," ucap Willy.


"Di cctv itu kan gak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Max, bagaimana caranya saya bisa tahu kalau memang benar Max melakukan itu?" ucap pak Gatot.


"Eee kan bisa kita lihat dulu benar apa enggak Max temuin kepala sekolah," ucap Willy.


"Baiklah, mari kalian ikut dengan saya ke ruang cctv! Kita buktikan apakah memang Max menemui kepala sekolah kemarin!" ucap pak Gatot.


"Baik pak!" ucap Willy.


Willy pun melirik ke arah Max sejenak dan tersenyum smirk.


"Lu gak bisa ngelak lagi Max!" batin Willy.


***


Mereka sudah tiba di ruang cctv, rekaman pun telah diputar dan memperlihatkan Max yang tengah berbicara dengan kepala sekolah disana.


"Nah kan pak, emang benar kalau si Max ini temuin kepala sekolah kemarin! Berarti teman saya itu gak bohong pak, dia emang lihat langsung semuanya." ucap Willy.


"Tapi pak, kan belum terbukti kalau saya emang menghasut pak kepala sekolah buat kasih hukuman skorsing ke Willy. Jadi, saya ini gak bersalah pak!" ujar Max.


"Heh! Mending lu ngaku aja deh, biar semua urusannya cepat kelar!" ucap Willy.


"Ini bakalan selesai, kalau lu pergi dari sini dan terima aja hukuman skorsing itu!" ucap Max.


"Gue terima kok, asalkan ini memang keputusan asli pihak sekolah tanpa ada campur tangan orang lain yang gak suka sama gue. Dan gue yakin, ini semua ulah lu Max!" ucap Willy.


"Hey, sudah cukup! Kalian jangan bertengkar disini, semuanya bisa dibicarakan baik-baik!" ucap pak Gatot menengahi mereka.


"Kita gak bertengkar kok pak, cuma berselisih aja." ucap Willy.


"Yasudah, ayo kita keluar dari sini! Kita langsung temui saja kepala sekolah dan tanyakan apa yang dibicarakan Max kemarin, supaya semuanya juga bisa cepat selesai." ucap pak Gatot.


"Saya setuju!" ucap Willy.


Berbeda dengan Willy, sikap Max justru menunjukkan bahwa ia khawatir kalau semuanya akan terbongkar.


"Heh! Kenapa lu diam aja? Ayo ikut sama kita ke ruang kepsek, atau lu takut kalau semuanya bakal kebongkar?! Kalau emang iya, berarti lu beneran yang udah hasut kepala sekolah dong!" ujar Willy.


"Siapa bilang gue takut? Gue berani kok, tapi ini kan udah mau bel masuk, kalo gue ketinggalan pelajaran gimana?!" ucap Max.


"Halah alasan aja lu! Padahal selama ini juga lu gak pernah ikutin pelajaran, gausah banyak alasan deh! Bilang aja kalo lu takut dan gak berani ikut sama kita ke ruang kepsek!" ucap Willy.


"Iya Max, untuk kali ini gapapa kamu telat masuk kelas. Supaya masalah kalian juga bisa selesai, sudah ayo cepat kita pergi!" ucap pak Gatot.


"Udah ayo jangan banyak omong!" ucap Willy.


Willy langsung menarik paksa tangan Max untuk dibawa pergi, namun Max tak terima dan menyingkirkan tangan Willy darinya.


"Gausah tarik tarik tangan gue! Gue bisa jalan sendiri!" geram Max.


"Yaudah, cepetan lu jalan dan jangan banyak alasan!" ucap Willy.


Max pun berjalan mendahului Willy sembari menyenggol baju Willy dengan kasar dan sedikit membuat Willy emosi.


"Bener-bener tuh orang!" umpatnya pelan.


Bersambung dulu....