My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 35. Aurora vs Sasha



My love is sillie


Episode 35



Willy melihat jam, ia khawatir kalau Aurora akan terlambat jika masih terus berada disana.


"Aurora, lu gak ke sekolah? Ini udah mau jam tujuh loh, kalau lu terlambat gimana?" tanya Willy dengan muka cemasnya.


"Ah iya benar juga tuh nak, kamu sekolah gih sana sebelum telat!" sahut bu Ani.


"Iya, soal Willy kamu gak perlu khawatir! Ada om sama tante kok yang bakal jagain dia! Lagian, kamu kan bisa datang lagi begitu pulang sekolah. Om dan tante senang sekali kalau kamu mau datang lagi nantinya," ucap pak Gunawan.


"Iya om, pasti aku nanti datang lagi buat cek kondisi Willy. Yaudah ya om, tante, aku mau pamit sekolah dulu. Makanannya dihabisin aja, kalau kurang boleh minta ke depan!" ucap Aurora.


"Ahaha, gak kurang kok ini udah cukup sayang." kata Bu Ani tersenyum renyah.


"Oh ya, kamu kenapa pamitnya cuma sama om dan tante? Willy kok gak dipamitin juga?" ujar Gunawan.


"Eee..." Aurora terlihat gugup dan mulai memerah.


"Loh kenapa toh? Cuma pamit aja kok, gak pake cium tangan. Nanti kalau kamu mau cium tangan Willy juga, pas kamu udah jadi istri dia." ujar pak Gunawan.


"Bapak apaan sih! Kalo ngomong ya dijaga gitu loh!" ujar Willy menegur bapaknya.


"Hahaha... kok kamu malah marah-marah sih Wil? Memangnya kamu gak mau punya istri sebaik dan secantik nak Aurora? Bapak aja yang udah punya ibu kamu, masih pengen nambah lagi." kata pak Gunawan.


"Oh gitu ya pak? Masih mau nambah lagi ya?" ujar Bu Ani emosi.


"Enggak kok Bu, itu bercanda doang tadi. Biar ini loh si Willy sama nak Aurora itu gak terlalu canggung," ucap pak Gunawan.


"Udah lah Aurora, omongan bapak tadi jangan didengar ya!" ucap Willy pada Aurora.


"Iya Wil, kalo gitu aku pergi sekolah dulu ya? Kamu istirahat yang cukup, jangan sampai telat makan!" ucap Aurora pamit pada Willy.


"Oke!" jawab Willy singkat.


"Heh kok cuma oke aja sih Willy! Kamu kasih kata-kata yang lain dong, misalnya hati-hati di jalan atau semangat sekolahnya gitu buat Aurora! Gimana sih kamu ini!" tegur pak Gunawan.


"Pak, bapak jangan ngada-ngada deh!" ujar Willy.


"Yaudah ya om, tante, Willy, aku harus pergi sekarang! Permisi!" ucap Aurora tersenyum.


"Iya nak Aurora," ucap Bu Ani.


"Hati-hati ya!" sahut pak Gunawan.


"Iya om, tante." kata Aurora pelan.


Aurora pun keluar dari dalam sana, sedangkan pak Gunawan beralih menatap Willy dan menasehati putranya itu untuk lebih tegas lagi.


"Aduh Willy, kamu itu gimana sih?! Ayo dong kamu tegas sedikit dan sampein ke Aurora kalau kamu itu ada rasa sama dia! Jangan malah sok cuek kayak tadi, nanti dia keburu direbut orang!" ujar pak Gunawan.


"Pak, bapak tuh kenapa sih? Siapa bilang aku ada rasa sama Aurora?" ujar Willy.


"Halah masih aja ngeles kamu, padahal bapak tahu kalau kamu punya rasa sama Aurora. Kelihatan kok dari cara kamu tatap mata dia, udah deh kamu jujur aja Willy!" ucap pak Gunawan.


"Pak, udah jangan ditekan terus Willy nya! Biarin dia istirahat dulu, lagian masalah Willy suka atau enggak itu biar jadi urusan Willy aja pak!" ucap Bu Ani mengingatkan suaminya.


"Iya Bu iya, bapak ngerti kok!" ucap pak Gunawan.


Bu Ani menggeleng pelan, lalu beralih menatap Willy dan meminta putranya itu kembali beristirahat setelah selesai makan.


***


Aurora yang baru keluar, langsung disambut oleh Sasha dan sedikit terkejut karena gadis itu tak menyangka jika ada Sasha di depannya.


Sasha terlihat emosi, ia menatap tak suka ke arah Aurora dan merasa kalau Aurora tidak seharusnya ada disana.


"Heh, lama banget sih lu! Gue juga pengen jenguk Willy!" geram Sasha.


"Ohh lu mau jenguk Willy? Berarti lu telat datangnya, coba lu datang lebih pagi pasti lu bisa jenguk dia. Sekarang mah udah gak bisa, kalo lu maksain buat jenguk nanti telat loh!" ucap Aurora.


Sasha melihat jam di ponselnya, waktu sudah semakin sedikit baginya untuk bisa sampai di sekolah tepat waktu.


"Ish, ini semua gara-gara lu!" ujar Sasha.


"Kok jadi gue? Lu nya aja yang kesiangan datang kesini, udah ah mending gue berangkat sekolah daripada debat gak jelas!" ujar Aurora.


Aurora melintas begitu saja melewati Sasha dengan senyuman kemenangan, tak lupa ia juga sedikit mengibaskan rambutnya dan membuat para lelaki disana terpesona.


Wangi tubuh Aurora tercium jelas di hidung Thoriq serta anak-anak the darks, mereka sampai tidak fokus dan ingin mengikuti kemana Aurora pergi tapi ditahan oleh Randi.


"Heh! Mau kemana lu pada?" ujar Randi.


"Hehe, kita kebablasan Ran." ucap Thoriq nyengir.


Randi menggelengkan kepalanya, lalu mendekati Sasha yang masih kebingungan disana.


"Sya, lu mau ke sekolah sekarang?" tanya Randi.


"Eee sebenarnya sih gue pengen jenguk Willy dulu, tapi kalo gue telat ke sekolah nanti bisa-bisa gue gak dibolehin masuk." jawab Sasha.


"Nah, mending lu sekolah deh. Mau gue antar gak?" ucap Randi menawarkan diri.


"Gausah, gue bawa motor kok. Titip salam aja ya buat Willy, bilang kalau gue gak bisa jenguk dia sekarang! Tapi, nanti siang sepulang sekolah pasti gue bakal langsung datang kesini!" ucap Sasha.


"Oke Sya, nanti gue sampein ke Willy kok. Lu hati-hati ya di jalan, jangan ngebut bahaya!" ucap Randi mengingatkan Sasha.


"Iya, kalo gitu gue pergi ya?" ucap Sasha.


Randi mengangguk pelan, memberi jalan bagi Sasha untuk pergi dari sana.


Gadis itu tak lupa berpamitan pada seluruh anak the darks yang ada disana, sebelum berlanjut pergi keluar dari rumah sakit.


Thoriq menghampiri Randi, ia tersenyum menggoda Randi karena tahu bahwa pria itu memiliki rasa pada Sasha.


"Cie cie, gue lihat-lihat ada yang suka nih sama Sasha. Hahaha udah buruan bro, lu langsung tembak aja tuh cewek sebelum diambil orang!" goda Thoriq.


"Apaan sih? Gausah ngada-ngada deh lu!" ujar Randi mengelak.


"Yaelah pake ngelak lagi, gue gak bisa dibohongin sama lu Ran! Kelihatan kok dari muka lu, lu itu suka sama si Sasha!" ujar Thoriq.


"Sok tahu lu!" ujar Randi.


Randi menjauh dari Thoriq, duduk di kursi dan mengelus dagunya berpikir apakah mungkin dirinya memang menyukai Sasha atau itu hanya sekedar firasat Thoriq saja.


"Randi Randi, mau sampai kapan lu pendam terus tuh perasaan? Nanti udah direbut orang aja baru nyesel!" sindir Thoriq.


Randi hanya melirik sekilas ke arah Thoriq, kemudian kembali membuang muka dan menghela nafasnya.


"Emang iya gue suka sama Sasha?" batin Randi.


******


Gadis itu sudah memiliki keputusan bulat untuk memulai hidup barunya bersama Martin, ia juga akan melupakan Willy walaupun ia tahu itu sangat sulit untuk dilakukan.


"Tuan Martin kemana ya? Kok tumben masih pagi begini udah gak kelihatan?" gumamnya.


Akhirnya Kiara memutuskan pergi ke belakang rumah, mencari keberadaan Martin sembari mengelilingi sekitaran rumah karena ia tak menemukan pria itu di dalam sana.


Kiara bertanya pada salah satu pembantu di rumah itu untuk bertanya dimana Martin, karena ia sudah buntu dan tidak tahu kemana lagi harus mencari dan menemukan Martin.


"Bik, tahu tuan Martin ada dimana gak?" tanya Kiara kepada pembantu itu.


"Oh non Kiara mau cari tuan Martin? Tadi bibik lihat tuan Martin lagi santai di pinggir kolam non," jawab pembantu itu.


"Di kolam? Yaudah bik, makasih ya!" ucap Kiara.


"Sama-sama, non." kata pembantu itu.


Kiara lanjut melangkah pergi menuju kolam renang, sedangkan pembantu tadi juga masuk ke dalam rumah melanjutkan pekerjaannya.


Sesampainya di kolam, Kiara melihat Martin yang sedang duduk santai sembari menikmati minuman jeruk disana.


"Tuan Martin.." ucap Kiara memanggil Martin.


Perlahan pria itu menoleh, tersenyum tipis ke arah Kiara lalu kembali menatap ke depan.


"Mau apa kamu?" tanya Martin dingin.


"Tuan, aku udah putuskan kalau aku mau lupain Willy dan fokus sama kehidupan baru aku disini." jawab Kiara.


"Kamu yakin?" tanya Martin memastikan.


"Yakin tuan, yakin sekali!" jawab Kiara mantap.


Martin bangkit dan tersenyum ke arah Kiara, ia meraih dua tangan gadis itu lalu menariknya ke dalam pangkuan.


"Baiklah, kalau begitu saya pegang omongan kamu. Itu artinya kamu sudah siap kan berikan tubuh indah kamu untuk saya? Saya sudah menanti waktu ini cukup lama loh," ujar Martin.


Kiara terdiam merenung, memikirkan apakah ia harus memberi apa yang Martin minta atau tidak.


Namun, Martin sudah mulai melancarkan aksinya dengan mengendus leher Kiara dan menekan area dada gadis itu.


"Wangi sekali!" ujar Martin.


"Tuan, soal itu kita bahas lain kali ya! Aku belum siap kalau harus ngelakuin hal itu sekarang," ucap Kiara menatap wajah Martin.


"Oke deh, aku tunggu sampai kamu siap! Tapi, untuk sekedar nyusu seperti biasanya boleh dong? Saya butuh asupan kamu nih," ucap Martin.


"Eee tapi kan punya aku belum ada susunya, tuan." kata Kiara kebingungan.


"Hahaha, biasanya juga saya nyusu di kamu gak keluar airnya kan? Itu gak masalah kok, yang penting itu saya bisa rasain pabriknya. Kalau soal susu, nanti kan lambat laun juga bakal keluar sendiri." jawab Martin.


"Iya sih, yaudah terserah tuan aja. Asalkan tuan jangan sampai kebablasan ya, karena aku belum siap!" pinta Kiara.


"Tidak akan, kamu tenang aja karena saya ini bisa tahan diri kok!" ucap Martin tersenyum.


Kiara mengangguk pelan dan mulai memberi akses bagi Martin untuk menjelajahi area dadanya serta lehernya.


Martin pun beraksi, membuka baju yang dikenakan Kiara secara perlahan sembari terus mengusapnya memberi kenikmatan kepada Kiara.


Gadis itu merem melek merasakan sensasi yang diberikan oleh Martin, hingga ia tak sadar kalau penutup yang dikenakannya sudah terlepas.


******


Sepulang sekolah, Aurora pun kembali datang ke rumah sakit bersama supirnya. Ya Aurora memang selalu diantar jemput ketika berangkat dan pulang sekolah, biarpun ia tidak mau itu.


Saat Aurora hendak masuk ke dalam rumah sakit, tiba-tiba saja Sasha juga muncul disana dan langsung turun dari motor mencegat Aurora agar tidak bisa masuk ke dalam.


"Lu mau kemana, ha? Ngapain pake datang kesini lagi?!" ujar Sasha dengan lantang.


"Apaan sih lu! Gue mau jenguk Willy, tadi pagi gue udah janji buat datang kesini lagi." kata Aurora.


"Ohh kalo gitu mending lu putar balik dan pergi sana, pulang aja deh lu!" ujar Sasha.


"Hah? Lu gak salah bilang gitu ke gue? Dengar ya Sasha, lu itu gak punya hak buat larang gue ketemu Willy! Orang tua Willy aja senang gue ada disini, kenapa jadi lu yang repot!" protes Aurora.


"Lu susah dibilangin ya, mau lu apa sih sebenarnya? Emang kurang puas lu tadi pagi udah jenguk Willy disini?" ujar Sasha.


"Lu itu sebenarnya kenapa sih? Kayaknya dari pertama kita ketemu, lu gak suka banget sama gue. Apa salah gue sama lu? Kalau lu pengen jenguk Willy juga, yaudah masuk aja kita jenguk dia bareng-bareng!" ucap Aurora.


"Gue gak sudi barengan sama lu! Udah lu pulang aja sana, jangan caper deh! Mentang-mentang ada om Gunawan sama tante Ani, terus lu mau cari muka gitu di depan mereka!" ujar Sasha.


"Siapa yang mau cari muka? Gue tulus kok jenguk Willy, aneh lu dasar!" ucap Aurora.


"Halah udah ngaku aja deh! Gue tahu kalau lu punya rasa kan sama Willy!" ucap Sasha.


"Kalau iya kenapa? Masalah buat lu?" tanya Aurora dengan nada menantang.


Sasha justru tersenyum dan mendekati Aurora, ia menunjuk gadis itu dengan jari telunjuk yang ia tempelkan di dada Aurora.


"Lu itu gak pantas buat Willy!" tegas Sasha.


"Emang lu siapa bisa nilai gue pantas atau enggak buat Willy? Pacarnya? Saudaranya? Bukan kan? Lu tuh cuma teman yang gak dianggap sama Willy, jadi jangan sok atur-atur dia deh!" ucap Aurora.


Plaaakk...


Sasha menampar Aurora dengan keras karena emosi yang sudah tidak bisa dikontrol lagi.


"Awhh!!" Aurora meringis memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan itu.


"Sakit kan? Makanya jangan macam-macam sama gue! Cepat deh lu pergi dari sini, atau gue bakal sakitin lu lagi!" ucap Sasha.


Setelahnya, Sasha pergi meninggalkan Aurora begitu saja dengan perasaan puas.


Sementara Aurora dihampiri oleh supirnya yang langsung turun dari mobil begitu melihat Aurora ditampar oleh Sasha.


"Non, non Rora gapapa?" tanya supir itu.


"Gak kok pak, aku baik-baik aja. Cuma ini agak perih sedikit gara-gara tamparannya keras banget tadi, tapi gak kenapa-napa kok." jawab Aurora.


"Mau saya ambil obat di mobil non?" tanya sang supir.


"Gausah pak, aku mau masuk aja ke dalam. Bapak tunggu disini ya!" ucap Aurora.


"Baik non! Tapi, emangnya non gak takut sama ancaman cewek tadi?" tanya supir itu.


"Enggak lah pak, ngapain takut? Lagian aku kesini kan baik-baik gak ada niat jahat, yaudah ya pak aku ke dalam dulu!" jawab Aurora santai.


"I-i-iya non.." ucap supir itu menurut.


Bersambung....