
My love is sillie
Episode 38
•
"Gue mohon Wil, lu jangan—mmppphhh.."
Ucapan Aurora terpotong lantaran Willy langsung mencium bibirnya dengan kasar dan menuntut sembari menekan tengkuk gadis itu.
"Enak juga nih bibir!" batin Willy.
Willy terus memperdalam ciumannya dan tak memberi ruang bagi Aurora untuk bergerak, perlahan-lahan pagutannya berubah dari kasar menjadi lembut.
Kedua tangan Willy juga berupaya menyentuh area tubuh Aurora yang membuatnya bergairah, entah atas dasar apa Willy membuka kancing seragam Aurora dan menelusup kan tangannya ke dalam.
"Mmppphhh.." Aurora berusaha menahan Willy agar tak bertindak lebih jauh, tapi lagi-lagi gagal.
Ya tenaga Aurora dengan Willy tentunya berbeda, gadis itu kalah jauh dan tak bisa berbuat apa-apa selain hanya pasrah.
"Sadar Wil! Lu gak boleh keterusan! Emang ini enak, tapi sekarang lu lagi di rumah dan ada ibu sama bapak disini. Ayolah lu harus bisa tahan ini!" batin Willy.
Akhirnya melepas pagutannya, Aurora langsung mengambil nafas dalam-dalam karena Willy tadi tak memberinya ruang untuk bernafas.
"Haaahhh.. Haaahhh..."
Sementara Willy juga sudah melepaskan dua tangan Aurora, ia menyeka bibirnya yang basah lalu tersenyum smirk ke arah Aurora.
"Enak banget bibir lu, Rora! Sayang aja lu gak mau balas ciuman gue," ucap Willy tanpa rasa bersalah.
"Wil, lu itu apa-apaan sih?! Kenapa lu lakuin itu ke gue? Lu mau bikin gue kehabisan nafas, ha?" tanya Aurora tampak emosi.
"Kok malah marah-marah sih? Gue barusan kasih lu sesuatu yang enak loh, harusnya lu bilang makasih gitu dong!" ujar Willy.
Aurora mencubit paha Willy dengan keras dan menyakitkan.
"Ihh nyebelin banget sih lu! Lu udah ambil first kiss gue tahu gak?! Dasar kurang ajar!" geram Aurora.
"Awhh aduh sakit sakit! Lu kok kasar banget sih jadi cewek?! Sakit tau!" ujar Willy.
"Eh ya, btw beneran itu tadi first kiss lu? Kok gue gak percaya sih? Gue pikir lu udah pernah ciuman sebelumnya," sambungnya bertanya pada Aurora.
"Ya iyalah, bibir gue tuh masih suci sebelum ternodai sama bibir lu! Dasar laki-laki gak bener!" geram Aurora emosi.
"Waw berarti beruntung banget dong gue bisa ambil first kiss lu!" ucap Willy tersenyum.
"Ish emang dasar lu ya! Nyebelin banget sih! Lain kali lu kayak gitu lagi, gue laporin lu ke polisi!" ucap Aurora.
"Jangan lah Rora! Lagian gue begitu sebagai bentu pengajaran pertama tahu gak? Bukan karena gue mau atau punya niat buat lecehin lu," ujar Willy.
"Hah? Pengajaran apaan?" tanya Aurora heran.
"Iyalah, katanya mau jadi cewek nakal kan? Nah itu makanya gue cium bibir lu, karena cewek nakal itu kan biasanya suka ciuman atau bahkan yang lebih parah." jelas Willy.
"Halah alasan aja lu! Bilang aja lu emang tertarik sama bibir gue!" ujar Aurora.
"Itu juga salah satu alasannya, dari awal kita ketemu emang bibir lu selalu minta buat dicium gitu." kata Willy sambil nyengir.
"Lu bener-bener gila ya!" ujar Aurora.
"Hahaha... oh ya, itu seragam lu gak mau dibetulin? Apa mau dibiarin kebuka gitu aja?" tanya Willy.
"Hah?" Aurora terkejut dan langsung menunduk melihat kondisi tubuhnya saat ini.
Terlihat kalau seragam yang ia kenakan sudah tidak terkancing seperti sebelumnya akibat ulah Willy tadi, ia pun reflek berbalik dan mengancingkan kembali seragamnya.
Sementara Willy hanya tersenyum memandangi punggung Aurora, ia sungguh tak menyesal sudah melakukan itu kepadanya tadi.
"Baru bibir aja udah enak banget, gimana bagian lainnya ya?" gumam Willy dalam hati.
"Willy, Aurora..." Bu Ani sudah tiba membawakan minuman untuk mereka.
Aurora pun kembali membalikkan tubuhnya ke arah Bu Ani sambil tersenyum, ia juga sudah memasang kancing seperti semula walau ada satu bagian yang putus karena ulah Willy.
******
Randi, Thoriq serta anak-anak the darks lainnya tengah melakukan konvoi bersama-sama di jalan sekitar markas baru mereka.
Ada pula Sasha serta Aziz yang ikut dengan mereka berkeliling Jakarta mengenakan motor, walau sebenarnya Aziz tidak ingin melakukan itu karena takut mengalami sesuatu.
"Sya, anterin gue pulang aja dong!" pinta Aziz.
"Lu tuh kenapa sih Ziz? Kalo lu mau pulang, tadi tuh harusnya lu pesen aja ojek atau taksi! Kan gue udah bilang begitu sama lu, tapi lu malah ngeyel mau ikut sama gue. Jadi, jangan salahin gue sekarang!" ujar Sasha ketus.
"Galak amat sih lu, Sya! Gue kan cuma minta dianterin pulang," ucap Aziz.
"Gue gak bisa anterin lu sekarang, gue masih mau riding sama teman-teman the darks. Udah deh lu diem aja, atau gue turunin lu disini!" ujar Sasha.
"Eh eh jangan dong! Masa gue ditinggal sendiri, yang ada gue nyasar nanti!" ujar Aziz.
"Ah lebay banget lu! Yaudah, kalo lu gak mau ditinggal diem aja duduk yang anteng jangan banyak omong!" ucap Sasha.
"Iya iya.." ucap Aziz menurut lalu diam.
Disaat mereka tengah asyik berkeliling, tiba-tiba saja muncul sekelompok pemotor yang datang dari arah belakang dan mendekat ke arah mereka sembari berteriak-teriak.
"Woi minggir kalian!" teriaknya.
"Waduh Sya! Mereka siapa Sya?" ujar Aziz panik.
"Haish, gue mana tau Ziz?!" ucap Sasha.
"Kalian tenang ya! Mereka itu anak black jack, musuh the darks. Kita ngebut sekarang dan berpendar, gue yakin mereka cuma incar anak-anak the darks kok!" titah Randi.
"Tapi Ran, lu gimana nantinya?" tanya Sasha.
"Gue sama yang lain baik-baik aja kok! Udah, lu selamatin diri dulu!" jawab Randi.
"Oke oke..!!" ucap Sasha menurut.
Akhirnya Sasha berpisah dengan geng the darks, dan betul saja anak-anak black jack hanya mengejar Randi serta yang lainnya.
Kini Sasha berhenti sejenak ke pinggir dengan rasa cemasnya, ia tak tega tentunya jika harus meninggalkan anak-anak the darks begitu saja.
"Sya, lu kenapa berhenti sih? Buruan jalan lagi, gimana nanti kalau mereka kejar kita?!" ujar Aziz.
"Ziz, lu itu cowok apa bukan sih? Penakut banget! Gue gak mungkin tinggalin mereka gitu aja, udah mending lu cabut sana biar gue kejar mereka lagi!" ucap Sasha.
"Hah? Jangan dong Sya, bahaya tau!" ujar Aziz.
"Gue gak perduli, udah sekarang lu cepet turun! Gue harus kejar mereka sebelum kehilangan jejak!" tegas Sasha mengusir Aziz dari motornya.
"Aduh Sasha! Please lah, lu jangan nekat kayak gitu! Biar gimanapun, gue ini sahabat lu dan gue gak mungkin bisa biarin lu pergi sendiri ke dalam bahaya itu!" ucap Aziz.
"Terus lu maunya gimana, Aziz?" tanya Sasha.
"Kita pulang aja ya," jawab Aziz.
"Hadeh, kalo lu bukan temen gue pasti udah gue hajar lu disini!" ujar Sasha.
"Yeh jangan gitu lah Sasha! Udah ayo kita pulang sekarang! Mereka pasti baik-baik aja kok!" ucap Aziz meminta Sasha segera melaju.
"Ih iya iya kita pulang, tapi gue mau telpon polisi dulu buat bantu mereka." kata Sasha.
Sasha memutar bola matanya, mengambil ponsel lalu menghubungi polisi untuk meminta bantuan.
******
Sementara itu, bu Ani merasa heran melihat perubahan sikap dari Aurora yang tampak berbeda dibanding sebelumnya.
Aurora terlihat lebih canggung dan gugup saat berada di dekat Willy, apalagi terlihat seragam gadis itu tampak berantakan saat ini.
"Aurora, diminum dong minumannya sayang!" ucap Bu Ani pada Aurora.
"Eee iya tante, aku minum kok." jawab Aurora kemudian mengambil gelas dari meja dan meminumnya.
"Nah gitu dong sayang!" ujar Bu Ani tersenyum.
Willy yang masih berada di dekat Aurora hanya tersenyum memandangi wajah gadis itu saat sedang meminum minumannya, entah mengapa Willy sepertinya sangat tertarik pada Aurora.
"Nih cewek bener-bener bikin gue tergoda, gue jadi makin penasaran sama dia!" batin Willy.
Bu Ani juga menyadari bahwa putranya tampak tertarik dengan Aurora, ia pun tersenyum dan ikut senang kalau memang Willy tertarik pada Aurora.
"Ehem ehem.." Bu Ani berdehem pelan.
Sontak Willy terkejut dan spontan mengalihkan pandangan ke arah lain, begitupun Aurora yang tampak bingung dan menaruh kembali gelas minumannya di meja.
"Ada apa ya Bu? Kok ibu ehem ehem begitu?" tanya Willy sedikit panik.
"Ah enggak kok, tenggorokan ibu gatal tadi. Udah, kamu lanjutin aja ngeliatin Aurora nya!" ujar bu Ani.
"Hah? Kok ngeliatin aku, tante?" ucap Aurora agak terkejut.
"Eee lu gausah dengerin kata-kata ibu barusan ya! Ibu emang suka begitu," ucap Willy tersenyum.
Aurora mengangguk saja lalu menundukkan kepalanya, ia masih canggung saat harus menatap wajah Willy karena kejadian tadi.
"Yaudah ya, ibu mau ke belakang dulu? Kalian lanjut aja ngobrolnya!" ujar Bu Ani.
"Oke Bu!" ucap Willy tampak bersemangat.
"Tunggu tante! Aku sekalian mau pamit aja deh, aku takut dicariin sama orang tua aku." ucap Aurora pamit pada bu Ani.
"Yah kok pamit sih sayang? Gak bisa nanti-nanti dulu gitu? Minuman kamu kan belum habis, nanti aja ya pulangnya." ucap Bu Ani.
"Eee mungkin nanti aku baru kesini lagi tante," ucap Aurora.
"Benar kata ibu, lu disini dulu sampai minuman kamu habis! Gue juga masih mau ngobrol sama lu, temenin gue ya sebentar lagi!" ucap Willy.
"Tapi Wil, lu itu kan baru pulang dari rumah sakit, lu harus istirahat dong!" ucap Aurora.
"Ya justru itu, lu temenin gue supaya gue bisa istirahat." kata Willy.
"Nah, Willy aja minta kamu tetap disini. Udah ya nak Aurora, kamu disini dulu sebentar aja! Ibu juga harus beberes sebentar, tolong jagain Willy ya cantik!" ucap Bu Ani.
"Eee iya deh tante, aku tetap disini." kata Aurora.
"Terimakasih ya sayang! Kalo gitu tante ke belakang dulu, kalian lanjut aja ngobrolnya oke!" ucap Bu Ani tersenyum renyah.
Bu Ani pun beranjak dari sofa, lalu pergi dari sana meninggalkan Willy dan Aurora.
Kepergian Bu Ani itu dimanfaatkan oleh Willy untuk kembali mendekati Aurora dan menarik dagunya.
"Hey! Lu kok bisa cantik banget sih?" ujar Willy.
"Wil, apaan sih lu! Tolong dong jangan kayak gini!" ujar Aurora tampak ketakutan.
"Kenapa? Lu gak suka?" tanya Willy.
"Ya jelas lah! Lagian lu kenapa jadi kayak gini sih?" ujar Aurora keheranan.
"Gue emang udah begini dari dulu Aurora, kenapa? Lu nyesel ya udah kenal sama gue?" ucap Willy.
Aurora terdiam melebarkan matanya, sedangkan Willy tersenyum smirk lalu mengecup pipi Aurora.
Cupp!
******
Kiara terlihat masih bersedih mengingat kejadian saat ia bertemu dengan Willy.
Martin yang ada di sampingnya, terus menoleh ke arahnya dan mencoba menghiburnya.
"Sayang, kamu udah dong jangan sedih terus kayak gitu! Saya kan udah bilang, saya gak mau lihat kamu bersedih gara-gara mikirin cowok lain!" ucap Martin mengusap air mata Kiara.
"Maaf tuan! Tapi, kan ini ulah tuan sendiri yang malah ajak aku buat ketemu sama Willy. Padahal aku lagi berusaha buat lupain dia loh," ucap Kiara.
"Iya, emang ini semua salah saya. Maafkan saya ga Nadira, karena saya udah bikin kamu jadi teringat kembali dengan Willy! Ya sebenarnya saya ini hanya ingin kamu dapat melihat Willy untuk yang terakhir kalinya," ucap Martin.
"Gapapa tuan, aku ngerti kok maksud tuan. Ya setidaknya setelah ini tuan jangan melakukan hal itu lagi! Karena aku gak mau usaha aku buat lupain Willy jadi sia-sia," ucap Kiara.
"Tenang aja!" ucap Martin tersenyum.
Martin mengusap rambut Kiara sambil sesekali melirik ke arah gadis itu, satu tangannya masih ia gunakan untuk menyetir mobilnya.
Tiba-tiba saja, Kiara melihat ada perkelahian di depan sana dan reflek meminta Martin untuk menghentikan mobilnya.
"Tuan, stop dulu tuan!" teriak Kiara panik.
"Hah?" Martin terkejut dan menginjak remnya.
Ciiitttt...
"Ada apa sih sayang?" tanya Martin bingung.
"Itu loh tuan, di depan ada yang berkelahi." jawab Kiara sambil menunjuk ke arah depan.
Martin pun mengalihkan pandangannya ke depan, melihat rombongan anak motor yang sedang berkelahi.
"Ahaha, biarin aja sayang mereka mah anak geng motor yang suka tarung di jalan." kata Martin.
"Tapi tuan, bukannya itu bahaya ya buat mereka? Kalau mereka kenapa-napa gimana? Apa gak sebaiknya kita bubarin mereka dulu?" tanya Kiara cemas.
"Gak perlu sayang, biarin mereka bertarung sesuka hati mereka! Saya ini orangnya gak suka ikut campur urusan orang lain," jawab Martin.
"Oh gitu, yaudah deh aku ngikut aja sama tuan." ucap Kiara.
Martin mengangguk singkat, kemudian mendekatkan wajahnya pada Kiara dan menatap gadis itu dari jarak dekat.
Perlahan Martin mulai mengelus wajah Kiara dengan telapak tangannya, menyelipkan rambut Kiara di sela-sela telinganya.
"Boleh saya cium bibir kamu?" tanya Martin.
"Kenapa tuan harus bertanya lebih dulu? Biasanya juga tuan langsung mencium aku tanpa bilang, iya kan?" ucap Kiara keheranan.
"Formalitas aja, supaya kamu gak kaget dan pukul-pukul dada saya kayak biasanya." ujar Martin.
"Ahaha, tuan bisa aja. Yaudah, terserah tuan mau ngapain sekarang!" ucap Kiara.
"Really?" tanya Martin memastikan.
Kiara mengangguk memberi izin, tentu saja Martin cukup senang dan langsung menerkam bibir gadis itu dengan lembut.
Bersambung....