My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 146. Lapor polisi



My love is sillie


Episode 146



"Kelihatannya lu takut banget sama Willy, lu udah pernah tarung sama dia terus kalah ya?" ledek Ilham.


Braakkk...


"Lo jaga kata-kata lo anjir!!" bentak Rimba emosi sembari menggebrak meja disana.


"Bro sabar bro, rileks! Lo kenapa jadi emosi kayak gini? Lo lupa kalau lo sekarang lagi ada di markas kita?" ujar Ilham tersenyum miring.


Rimba melirik ke sekeliling, terlihat para anggota black di sekitarnya menatapnya dengan tajam.


"Lo harus jaga sikap disini bro, kalau gak mau kita hajar sampai lu masuk UGD!" ucap Ilham sekali lagi mengingatkan Rimba.


"Oke, gue minta maaf!" ucap Rimba mengalah.


"Hahaha, takut juga ya lo ternyata sama ancaman kita?" kekeh Ilham.


"Ya iyalah Ham, dia kan cuma sendiri disini. Kalau dia ngelawan, bisa jadi ayam geprek dia!" timpal Billy.


"Hahaha..." anggota black jack lainnya pun ikut tertawa.


"Jangan ketawain gue kayak gitu kalian! Kita ini kan mau kerjasama, gak boleh lah saling mengejek!" ucap Rimba.


"Ya ya, makanya lain kali lu jaga sopan santun kalau ada di wilayah kita!" ucap Ilham.


"Siap salah! Gue minta maaf!" ucap Rimba.


"Oke kita maafin, tapi awas ya kalo lain kali lu begitu lagi!" ucap Ilham.


Rimba menunduk saja tanpa bicara apapun.


Drrttt


Drrttt


Ponsel milik Ilham berdering, dia pun bangkit dan mengangkatnya sejenak.


Sementara Rimba serta para anggota black jack yang lain hanya terduduk diam disana.


"Heh! Kira-kira siapa yang telpon Ilham?" tanya Rimba pada mereka.


Namun, mereka hanya menaikkan kedua bahu.


"Kenapa kalian gak coba nguping dan dengerin pembicaraan Ilham di telpon? Siapa tahu dia ada bisnis lain kan?" usul Rimba.


Mereka semua pun saling pandang.


"Gak mungkin si Ilham begitu, dia kalau ada apa-apa pasti kasih tahu kita kok. Mungkin sekarang dia butuh privasi, kita gak perlu juga tau urusan pribadi dia!" ucap Billy.


"Iya, lagian kenapa lu kepo banget sih? Gausah ikut campur urusan orang!" timpal Choky.


"Galak amat, gue kan cuma nebak-nebak! Abisnya si Ilham terima telpon pake menjauh segala," ucap Rimba.


"Halah udah lu diem aja deh!" ujar Billy.


"Kurang ajar ya lu emang! Untung gue orangnya sabar, jadi gue gak mau ladenin kalian semua!" kesal Rimba.


"Hahaha, bilang aja lu takut sama kita-kita! Udah deh lu gausah banyak bicara!" ucap Billy.


Tak lama kemudian, Ilham kembali setelah selesai menerima telponnya. Ia sedikit heran melihat ketegangan diantara teman-temannya itu.


"Ada apa nih? Kenapa lu semua pada tegang kayak gitu?" tanya Ilham.


"Tanya aja tuh sama si ketua thunder yang sok jago!" jawab Billy.


"Hah??!" Ilham spontan menoleh ke arah Rimba dengan wajah kaget.


"Ada apa lagi sih ini? Lo masih mau cari ribut di tempat kita?" tanya Ilham pada Rimba.


"Apaan sih? Gue kagak cari ribut, orang-orang lu aja tuh yang lebay!" elak Rimba.


"Heh! Sembarangan lu nuduh kita, padahal lu sendiri yang kepo!" ucap Billy tak terima.


"Udah udah, gausah ribut! Barusan gue dapat info, katanya Chalvin balik lagi ke the darks," ucap Ilham.


"Apa??" kaget mereka semua.


******


Aurora hanya memutar bola mata malas, Willy pun menangkup wajahnya dan kembali mengecup bibir manis yang menjadi candu baginya itu.


Cup!


"I love you Aurora sayang!" ucap Willy.


"Willy, nak Aurora!" panggil Bu Ani.


Seketika Aurora dan Willy kompak terkejut melihat keberadaan Bu Ani serta Sasha disana.


"Hah ibu??" kaget Willy.


"Duh duh duh, kalian ini dilihat-lihat makin dekat dan mesra aja sih! Ibu jadi iri deh lihatnya, semoga kalian berdua langgeng terus ya!" ucap Bu Ani.


"Hehe, iya Bu aamiin! Insyaallah abis lulus aku bakal nikahin Aurora!" ujar Willy.


"Hah??" Aurora terkejut bukan main.


"Eh, kamu kenapa kayak gak senang gitu Aurora? Kamu gak mau dinikahin sama aku?" tanya Willy.


"Bu-bukan gitu Willy, tapi kan kamu udah janji buat nungguin aku lulus kuliah dulu," jawab Aurora.


"Iya juga sih," lirih Willy.


"Lagian ngapain sih kamu mau buru-buru nikahin nak Aurora? Takut diambil orang lain ya?" ujar Bu Ani sambil terkekeh kecil.


"Itu salah satu alasannya Bu, soalnya Aurora ini kan cantiknya bukan main. Aku gak mau lah ada cowok lain yang embat dia," jawab Willy.


"Ngomong apa sih kamu? Mana ada yang berani rebut aku dari kamu? Yang ada mereka nanti bakal dihajar dan dibikin masuk ke UGD sama kamu," ucap Aurora.


"Hahaha, iyalah itu yang bakal aku lakuin kalau sampai ada yang deketin kamu!" kekeh Willy.


"Udah udah, ngobrolnya disambung sambil makan aja! Ini udah mau siang loh, nanti kalian telat sekolah gimana?" potong Bu Ani.


"Oh iya, keasyikan ngobrol sama cewek cantik sih Bu jadi lupa waktu!" ucap Willy sambil menatap wajah Aurora.


Seketika Aurora kembali tersipu mendengar ucapan yang dilontarkan Willy.


"Cie cie mukanya merah cie," goda Willy.


"Apa sih kamu? Malu tau ada ibu sama teman kamu!" sentak Aurora.


"Gausah malu, mereka mah gak akan masalahin itu kok. Ya kan Bu? Sasha?" kekeh Willy.


"Eee..." Sasha tampak gugup dan bingung.


"Hahaha, udah lah kalian jangan mesra-mesraan terus! Yuk kita sarapan mumpung masih ada waktu!" ujar Bu Ani.


"Tau nih Willy, malah godain aku terus!" cibir Aurora.


"Tapi kamu senang kan digodain sama aku?" kekeh Willy sembari mendekap tubuh gadisnya.


"Apa sih ih?!" Aurora memukul serta mendorong tubuh Willy darinya.


Willy terkekeh saja dengan tingkah menggemaskan pacarnya itu, rasanya ingin sekali ia terkam Aurora saat ini jika tidak ada Bu Ani dan Sasha.


Akhirnya mereka pun sama-sama melangkah ke meja makan, yang mana disana sudah tersedia makanan pemberian Sasha.


******


"Kenalin bang, saya Thoriq dan ini pacar saya namanya Mia!" ucap Thoriq seraya mengulurkan tangan ke arah pria itu.


"Gue Jamal, terus ini teman gue Ujang. Kita pemburu disini dan setiap hari kita selalu kesini buat tangkap buruan kita, gak nyangka juga kita bisa ketemu kalian sekarang," jawab pria bernama Jamal itu.


"Ohh, salam kenal ya bang Jamal, bang Ujang!" ucap Thoriq agak grogi.


Jamal dan Ujang hanya mengangguk pelan disertai senyum tipis, lalu mereka menyudahi sesi salaman itu dan kembali berbincang.


"Kalian mau keluar dari hutan ini kan?" tanya Jamal.


"I-i-iya bang, abang berdua bisa bantu kita keluar dari sini?" jawab Thoriq.


"Ya bisa lah, itu mah hal kecil buat kita. Tapi sebelumnya, gue minta kalian temenin gue dulu buat cari mangsa di sekitar sini!" ucap Jamal.


"Mangsa? Mangsa apa maksudnya bang?" tanya Thoriq tak mengerti.


"Ya hewan buruan lah, gimana sih lo?!" jawab Jamal ketus.


"Hehe.."


"Ta-tapi bang, kita gak ngerti caranya cari hewan buruan. Berburu aja kita gak pernah, ya kan sayang?" ucap Mia.


"Lu berdua tenang aja, kita pasti kasih tau caranya nanti! Yang penting sekarang kalian ikut aja dulu sama kita!" ucap Jamal.


"Oke deh bang! Tapi, bener kan kalian bakal bantu kita buat keluar dari hutan ini?" ujar Thoriq.


"Iya, yah elah kagak percayaan amat! Gue mah udah hafal sama daerah sini," ucap Jamal.


Thoriq manggut-manggut saja, ia pun terpaksa mengikuti kemauan Jamal dan Ujang, meski ia sedikit merasa ragu.


"Sayang, kamu yakin?" bisik Mia.


"Kamu tenang aja!" balas Thoriq singkat.


Mia mengangguk menurut dengan apa yang diucapkan Thoriq, memang tak ada pilihan lain bagi mereka selain mengikuti dua orang pemburu tersebut agar bisa lepas dari hutan itu.


"Bang, kita mau berburu hewan apa sih? Daritadi cuma muter-muter doang gak jelas," ujar Thoriq.


"Heh! Makanya lu bantu cari hewan yang bisa kita buru dong!" sentak Jamal.


"Hah??" kaget Thoriq.


"Kenapa lu kaget gitu? Perjanjian awalnya kan emang kayak begitu, gimana sih lu?" ujar Jamal.


"Iya bang, gue tuh cuma akting aja biar tambah seru," ucap Thoriq.


"Alah ngeles aja lu!" kesal Jamal.


Tak lama kemudian, terlihat seekor rusa yang melintas di depan mereka dengan sangat cepat.


"Eh bang, tuh ada binatang tuh!" ujar Thoriq.


"Hah? Wah dapet rusa, akhirnya setelah sekian lama! Yaudah, ayo kalian ikut kita tangkap tuh rusa!" ucap Jamal.


"Ta-tapi bang..."


"Udah gausah tapi-tapi!" potong Jamal.


******


Semua disana kompak terkejut bukan main.


"Wah ini sih berita menggembirakan banget buat kita-kita! Ya gak guys?" ujar Syakur yang langsung bangkit dari duduknya.


"Betul tuh! Kita seneng banget lo balik kesini Vin!" sahut Jeki.


"Kalian bisa aja, gue lah yang paling senang karena gue bisa diterima lagi di tempat ini. Bagi gue, the darks itu udah kayak keluarga dan susah buat gue lupain kalian semua!" ucap Chalvin.


Mereka yang ada disana merasa terharu mendengar ucapan Chalvin, memang benar bahwa sangat sulit untuk saling melupakan satu sama lain apabila sudah sangat lama bersama-sama.


"Tapi Vin, tetap aja lu harus bilang dulu sama Willy! Dia itu kan leader kita disini, jadi yang bisa terima lu di the darks ya cuma dia!" ucap Leo.


"Iya betul, bentar deh gue coba dulu telpon ke nomor si Willy," sahut Zafran.


"Eh gausah, nanti malah ganggu dia sekolah lagi! Udah biar nanti siang aja gue kesini lagi, siapa tahu Willy udah balik kan?" ujar Chalvin.


"Iya sih, terserah lo aja deh. Pastinya kita senang banget bro karena lu balik lagi ke the darks!" ucap Zafran.


"Hahaha, gue juga Zaf!" balas Chalvin.


"Eh guys, gimana kalau kita rayain gabungnya Chalvin di the darks?" usul Leo.


"Hah rayain gimana maksud lo?" tanya Tedy.


"Ya rayain, kita bikin party buat menyambut kembalinya Chalvin di the darks. Acaranya nanti malam di markas besar, gimana pada setuju gak?" jelas Leo.


"Wah gue sih setuju! Udah lama kita gak party, markas besar juga jarang kita datangin. Pasti asik tuh kalo diadain pesta disana!" ucap Syakur.


"Gue juga setuju sama usul Leo!" sahut Jeki.


"Wih mantap pada setuju! Gimana nih Zaf? Lo setuju juga gak?" ujar Leo.


"Eee gue sih setuju aja..." Zafran sengaja menggantung ucapannya.


"Tapi, tetap kita harus minta izin dulu sama Willy. Kita gak boleh ngadain acara apapun itu tanpa konfirmasi dulu sama ketua kita," lanjutnya.


"Zafran benar, kalian sebagai anggota harus menghormati ketua kalian!" ujar Chalvin.


"Iya Zaf, Vin, kita semua ngerti kok. Cuma si Willy itu yang gak bisa ngertiin kita, dia sebagai leader kok malah jarang datang kesini," ucap Arif.


"Betul! Sekalinya kesini pasti bawa cewek, terus malah fokus pacaran," timpal Syakur.


"Hus kalian gak boleh ngomongin leader kalian sendiri di belakang kayak gitu! Gimana kalau Willy tahu dan gak terima?" tegur Chalvin.


"Tau nih, kebiasaan banget emang mereka!" timpal Zafran menggelengkan kepala.


"Ya gimana lagi Vin? Emang faktanya begitu," ucap Syakur.


******


Sementara itu, Martin terlihat mulai kehabisan tenaga karena harus melawan cukup banyak orang sekaligus disana.


Tak hanya Martin, bahkan Max pun sudah menjadi bulan-bulanan geng motor itu dan hampir pingsan karena tak mampu melawan lagi.


Bughh


Bughh


"Aakhhh ampun! Tolong hentikan gue gak kuat!" ucap Max memohon ampun pada mereka sambil terus menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Orang-orang itu akhirnya berhenti memukuli Max, lalu salah satu dari mereka menarik tubuh Max untuk berdiri menghadapnya.


"Heh! Lo gak mau mati di tangan kita kan?" ujarnya.


Max menggeleng dengan tubuh gemetar.


"Yaudah, lu nurut sekarang sama kita dan ikut kita atau gue habisin lu sama temen lu itu!" ancamnya.


"Oke oke, gue mau ikutin kemauan kalian. Sekarang lepasin gue dan jangan serang bang Martin lagi!" ucap Max mengalah.


"Bagus!" ucap pria itu singkat.


Akhirnya orang-orang itu berhenti menyerang Martin sesuai kemauan Max.


"Uhuk uhuk! Max, kenapa lo malah suruh mereka berhenti dan serahin diri lo? Apa lo mau mati, ha?" tanya Martin pada Max.


"Sorry bang! Gue justru gak mau lu mati gara-gara bantuin gue!" jawab Max.


Deg!


"Lo jangan ngeremehin gue Max! Gue sanggup hadapi mereka walau sendiri!" ujar Martin.


"Enggak bang, jangan maksa!" ucap Max melarang Martin agar tidak nekat.


"Udah lo diem aja! Kalau lo masih maksa, kita abisin lu dan kirim lu ke kuburan!" ancam salah satu anggota geng tersebut.


"Gue gak takut sama ancaman lu! Kalian itu pengecut, beraninya keroyokan!" tantang Martin.


"Ohh nantangin? Mau mati lu? Iya?" mereka kembali mendekati Martin.


Dan disaat mereka hendak memukul Martin, tiba-tiba suara teriakan mengacaukan niat mereka.


"Berhenti!!!"


Suara itu berasal dari Kiara, sang kekasih Martin yang sudah turun dari mobil dan mendekati mereka disana.


"Kiara? Kamu ngapain malah turun dari mobil? Harusnya kamu tetap di dalam!" ujar Martin.


"Enggak tuan, aku gak bisa diam aja lihat tuan dihajar sama mereka!" tegas Kiara.


"Tapi Kiara, ini bahaya buat kamu! Sebaiknya kamu masuk dan tunggu saya kembali!" perintah Martin.


"Aku gak mau masuk kalau gak sama tuan, biarin aku disini tuan!" ucap Kiara.


"Hahaha, ada cewek sok jago nih! Lo mau ngapain sih ikut-ikutan segala? Pengen cari mati, iya?" ujar si ketua geng.


"Nama kamu siapa? Dan kenapa kamu ganggu Max disini?" tanya Kiara.


"Hah? Ngapain lu nanya nama gue? Ohh gue tau nih, pasti lu naksir ya sama gue dan pengen jadi pacar gue?" kekeh si ketua geng.


"Bukan begitu, justru aku tanya nama kamu supaya bisa aku laporin ke polisi yang sebentar lagi bakal datang kesini," ucap Kiara mengancam.


"Hah apa??" kaget si ketua geng.


Bukan hanya dia yang kaget, namun Martin beserta Max juga ikut kaget mendengar ucapan Kiara barusan.


"Lo beneran lapor polisi?" tanya si ketua geng.


"Iya, dan sekarang polisi sedang menuju kesini. Mereka bakal tangkap kalian semua!" jawab Kiara.


Sontak kumpulan geng motor itu langsung saling menunduk, mereka terlihat takut begitu Kiara menyebut tentang polisi.


"Duh gimana nih? Gue belum mau masuk penjara, gue masih pengen bebas!" lirih si ketua geng.


Bersambung....