My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 63. Menginap satu malam



My love is sillie


Episode 63


•


Ilham tengah berada di jalanan dan hendak pulang ke rumah setelah setengah hari bersekolah.


Pria itu tampak bersedih mengingat Sasha masih belum mau menerima dirinya sebagai kekasih.


"Apa sih yang kurang dari gue sebenarnya? Kenapa Sasha selalu aja tolak gue dan gak mau dekat sama gue?" batin Ilham.


Disaat ia sedang melamun, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan membuatnya sedikit kaget.


Drrttt..


Drrttt...


Akhirnya Ilham memutuskan untuk melipir sejenak ke pinggir dan mengecek ponselnya.


"Si Darrel? Ngapain ya?" gumamnya.


Karena penasaran, Ilham pun mengangkat telpon dari salah seorang anggota geng black jack itu untuk memastikan ada apa.


📞"Halo! Ada apa lu telpon gue?" tanya Ilham.


📞"Halo Ham! Uhuk uhuk.." jawab Darrel sambil terbatuk-batuk.


📞"Loh, lu kenapa? Kok batuk-batuk gitu?" tanya Ilham cemas.


📞"I-i-iya Ham, gue sama yang lain barusan abis dikeroyok orang gak dikenal. Mereka serang kita secara membabi buta, terus tinggalin kita gitu aja di jalan." jelas Darrel.


📞"Hah? Kalian dimana sekarang? Terus kondisi kalian gimana? Baik-baik aja kan?" tanya Ilham.


📞"Gue gak terlalu parah sih, Ham. Tapi, ini yang lain ada yang sampe pingsan dan patah kaki." jawab Darrel.


📞"Astaga! Yaudah, lu shareloc sekarang biar gue langsung otw kesana bareng sama ambulance ya!" pinta Ilham.


📞"Oke Ham, thank you!" ucap Darrel.


📞"Yo."


Tuuutttt tuuutttt...


Ilham memutus telponnya, tak lama pesan berisi shareloc pun muncul.


"Ini dia lokasinya, gue harus kesana sekarang! Tapi, kira-kira siapa ya orang yang udah keroyok mereka? Apa mungkin si Willy dan teman-temannya?" gumam Ilham.


"Ah udah lah, itu gue urus nanti aja! Sekarang gue harus selamatin mereka, sebelum mereka tambah tak berdaya!" sambungnya.


Ilham akhirnya kembali melaju dengan cepat menuju lokasi tempat teman-temannya berada, ia nampak cemas dan panik karena kelima temannya dikeroyok oleh orang tak dikenal.


******


Hari sudah semakin malam, namun Willy serta teman-temannya belum berhasil menemukan para pelaku yang sudah mengeroyok Leo dan Jeki siang tadi.


Akibatnya, Willy memutuskan berhenti sejenak ke pinggir untuk memikirkan semuanya.


"Wil, kenapa berhenti?" tanya Randi heran.


"Gue gak tahu lagi harus cari kemana, hari juga makin malam dan kayaknya susah buat cari mereka." jawab Willy.


"Mungkin aja mereka udah sembunyi Wil, karena tahu kalau kita bakal cari mereka." ujar Randi.


"Bisa jadi, makanya daritadi kita gak bisa temuin mereka." ucap Willy.


"Terus, kita harus ngapain sekarang Wil?" tanya Randi.


"Kita balik aja dulu, terserah kalian mau pulang atau mau jenguk yang lain di rumah sakit. Gue mau anterin Aurora pulang, nanti gue balik lagi ke rumah sakit buat temenin Thoriq dan yang lain." ujar Willy.


"Oke Wil!" ucap Randi mengangguk setuju.


Mereka pun berpisah jalan, Randi bersama Tedy dan Arif pergi bersama menuju rumah sakit. Sedangkan Willy masih tetap disana.


"Sayang, kita pulang yuk! Kamu udah kecapekan banget tuh kayaknya," ucap Willy.


"Gue gak mau pulang ah Wil, gue takut dimarahin bokap gue!" ucap Aurora.


"Loh, kenapa harus dimarahin?" tanya Willy heran.


"Ya soalnya gue pulang malam-malam begini, jadi mending sekalian aja gue gak pulang." jawab Aurora.


"Hey! Kalo kamu gak pulang, terus kamu mau tidur dimana malam ini?" tanya Willy.


"Di rumah lu aja gimana? Gue kan belum pernah tuh main ke rumah lu," usul Aurora.


"Hah? Kamu serius dong cantik! Masa kamu mau tidur di rumah aku? Kita kan masih belum nikah, gak mungkin kita tidur serumah." kata Willy terheran-heran.


"Gak harus nunggu nikah kali, lagian cuma tidur mah gak masalah dong. Emang di rumah lu cuma ada satu kamar? Terus gak ada orang lain disana?" ujar Aurora.


"Ya kamar sih ada satu kosong, ada ortu aku juga. Tapi, kamu yakin mau tidur di rumah aku?" ucap Willy masih ragu.


"Yakin! Kenapa harus gak yakin?" ujar Aurora.


"Yaudah, tapi kita sekarang cari tempat makan dulu ya! Lu kan belum makan malam, pasti lapar tuh!" ucap Willy.


"Terserah lu aja!" jawab Aurora.


Willy tersenyum, menyalakan mesin motornya dan mulai melaju kembali dengan kecepatan sedang.


"Ini gue kenapa jadi grogi gini ya pas Aurora bilang mau tidur di rumah gue? Gue jadi keinget dulu sewaktu Kiara tidur di rumah gue," batin Willy.


Sama seperti Willy, entah mengapa Aurora juga ikut merasa gugup saat ini.


"Keputusan gue benar gak ya? Gue jadi ragu, takutnya Willy nyangka gue cewek gak bener lagi karena udah minta buat tidur di rumahnya. Tapi, gak mungkin juga kalo gue balik ke rumah karena pasti papa bakal marah besar." batin Aurora.


******


Bu Ani dan pak Gunawan masih menunggu putra mereka pulang, walau sebenarnya mereka sudah sama-sama mengantuk sejak tadi.


"Hoahhmm..." pak Gunawan sampai menguap lebar dan merentangkan dua tangannya ke samping.


"Bu, mau sampai kapan kita nunggu Willy pulang? Udah lah Bu, ayo kita tidur duluan aja! Itu anak mah pulangnya lama, kalo ditungguin yang ada kita bisa begadang." kata pak Gunawan.


"Aduh sabar napa sih pak! Kita tunggu dulu sebentar lagi, pasti Willy bakalan pulang kok!" ucap Bu Ani kesal sendiri.


"Iya iya.." ucap pak Gunawan pasrah.


Namun, nampaknya pak Gunawan sudah tak mampu menahan kantuknya lagi. Ia memejamkan mata dan bersandar pada sofa lalu mulai tertidur.


Sementara Bu Ani masih saja terjaga celingak-celinguk menanti putranya pulang, walau sebenarnya ia juga sudah mengantuk.


"Duh Willy, kamu kemana sih?" gumamnya.


Bu Ani melirik ke arah suaminya, ia geleng-geleng kepala melihat pak Gunawan sudah tertidur dengan mulut terbuka dan menimbulkan suara-suara yang cukup mengganggu.


"Haish, si bapak ini malah tidur. Udah gitu pake ngorok segala lagi, dasar nyebelin!" ujar Bu Ani.


Bu Ani yang kesal pun menaruh bantal di wajah pak Gunawan sampai menutupi mulutnya untuk mencegah timbulnya suara dengkuran itu lagi.


"Nah begini lebih enak," ucap Bu Ani tersenyum.


***


Sementara itu, Willy dan Aurora sudah tiba di depan rumah. Mereka langsung turun dari mobil, tak lupa Willy juga membantu Aurora melepas helmnya sambil mencuri-curi kesempatan untuk mengecup pipi gadis itu.


Cupp!


"Ish, lu ngeselin ya Wil! Dasar modus!" cibir Aurora.


"Hahaha, anggap aja itu bayaran pertama karena kamu mau tidur di rumah aku." sarkas Willy.


"Ih masa ada bayarannya sih?" ujar Aurora.


"Haish, bilang aja lu emang pengen cium-cium muka gue kan! Dasar mesum lu!" umpat Aurora.


"Hey, jangan kasar gitu dong ngomongnya! Aku ini cuma pengen manjain bibir aku aja, soalnya dia suka banget kalo cium wajah kamu!" ujar Willy.


"Au ah bodoamat!" ujar Aurora kesal.


"Yaudah, kita masuk yuk!" ucap Willy menggandeng tangan Aurora.


"Eee nyokap bokap lu masih pada bangun gak, Wil? Gue takut ganggu deh," ujar Aurora.


"Gak tahu deh, kayaknya sih masih. Tapi, supaya lebih jelas yaudah ayo kita masuk aja ke dalam!" ucap Willy.


Aurora mengangguk pelan, lalu mulai melangkah bersama Willy mendekat ke arah pintu rumah itu.


Willy pun mengetuk pintu rumahnya tanpa melepas genggaman tangannya pada Aurora.


TOK TOK TOK...


"Assalamualaikum, ibu bapak!" teriak Willy.


"Wil, lepasin tangan gue lah! Gak enak tau kalo dilihat nyokap atau bokap lu nanti!" pinta Aurora.


"Gausah, biarin aja begini!" ucap Willy.


"Haish, lu ngeselin banget sih Wil!" umpat Aurora.


"Hehe.." Willy nyengir saja.


Ceklek...


Pintu pun terbuka, Willy langsung tersenyum saat melihat ibunya muncul.


"Waalaikumsallam, akhirnya kamu pulang juga sayang! Ibu udah nungguin kamu loh daritadi," ucap Bu Ani tersenyum bahagia.


"Iya Bu, maaf ya Bu udah bikin ibu nunggu lama!" ucap Willy sembari mencium tangan ibunya.


"Assalamualaikum Bu," Aurora juga ikut maju dan mencium tangan Bu Ani disana.


"Waalaikumsallam, eh eh ada nak Aurora ternyata? Ya ampun cantik sekali kamu sayang!" ucap Bu Ani mengusap kedua pundak gadis itu.


"Ahaha, makasih ibu!" ucap Aurora tersenyum.


"Oh iya Bu, Aurora mau izin buat tidur disini malam ini. Dia soalnya takut buat pulang ke rumah karena udah larut malam, boleh kan Bu?" ucap Willy.


"Iya ibu, aku mau minta izin menginap di rumah ibu satu malam ini. Tapi, kalau misal gak dibolehin juga gapapa kok Bu." sahut Aurora.


"Ya pasti boleh dong cantik, ibu malah senang kalau kamu mau tidur disini. Tapi, apa kamu sudah bilang dulu sama orang tua kamu?" ucap Bu Ani.


"Eee itu..."


"Kan tadi udah dibilang Bu, Aurora takut dimarahin sama papanya kalau pulang malam-malam begini. Jadi, otomatis dia belum bilang dong sama papanya." potong Willy.


"Loh loh, kalo gitu gak bisa dong sayang. Kamu harus izin dulu sama papa kamu ya kalau mau tidur disini!" ucap Bu Ani.


"Tapi bu, kalau Aurora minta izin sama papanya yang ada dia malah dimarahin dong. Ibu emang gak kasihan apa sama dia? Udah lah Bu, biarin aja Aurora tidur disini malam ini!" ucap Willy.


"Willy, ibu gak bisa biarin Aurora ada disini tanpa izin dari orangtuanya. Nanti kalau terjadi sesuatu, bisa-bisa ibu atau bapak yang disalahkan." ucap Bu Ani menjelaskan.


Willy pun melirik ke arah Aurora dengan bingung, Aurora juga tampak menundukkan wajahnya.


"Eee yaudah deh Bu, kalo gitu aku mau cari tempat penginapan di sekitar sini aja. Permisi ya Bu, Willy!" ucap Aurora.


"Eh eh, jangan sayang!" ucap Willy menahan Aurora.


"Kamu tetap disini ya! Gak mungkin aku biarin kamu pergi malam-malam begini," ucap Willy dengan tegas.


"Tapi Wil—"


"Udah tenang aja! Biar aku coba bicara sama ibu deh," potong Willy.


Aurora mengangguk saja, sedangkan Willy beralih menatap ibunya untuk membujuk sang ibu.


"Bu, tolonglah Bu!" ucap Willy.


"Yaudah, ibu bolehin deh nak Aurora tidur disini malam ini. Tapi, kamu harus kasih kabar dulu ke papa kamu ya Aurora!" ucap Bu Ani.


"Gimana sayang?" tanya Willy ke Aurora.


"Eee iya deh Bu, nanti aku coba kirim pesan ke papa kalau malam ini aku nginep disini." jawab Aurora.


"Kamu yakin?" tanya Willy memastikan.


"Tenang aja Wil! Biar gue yang kasih tahu ke papa semuanya," jawab Aurora sambil tersenyum.


"Oke deh!" Willy mengangguk pelan.


***


Ceklek...


Saat tengah malam tiba, Willy masuk ke kamar tamu yang ditempati oleh Aurora untuk tidur itu.


Willy awalnya hanya iseng ingin menjahili gadis itu dan membuatnya jengkel, namun justru ia dibuat kaget saat melihat Aurora masih terjaga.


"Loh Willy? Lu ngapain masuk kesini? Lu lupa ya kalau di kamar ini ada gue?" tanya Aurora heran.


"Eee..." Willy terlihat gugup dan coba memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu.


Aurora segera bangkit dari ranjangnya, menaruh ponsel di atas nakas lalu mendekat ke arah Willy sambil tersenyum manis.


"Lu mau ngapain sih Wil?" tanya Aurora lagi.


"Gak kok, gue cuma pengen ngecek lu aja udah tidur apa belum. Dan ternyata benar dugaan gue, lu masih bangun aja sampai sekarang. Kenapa sih lu gak tidur? Ini udah malam tau," ujar Willy.


"Ohh, iya nih gue gak bisa tidur. Soalnya daritadi gue terus kepikiran sama papa, pasti papa bakal marah besar deh sama gue besok." kata Aurora.


"Emangnya kamu belum kabarin ke papa kamu kalau kamu mau nginep disini? Tadi kan ibu udah suruh kamu buat kasih kabar ke papa kamu," tanya Willy keheranan.


"Udah kok, tapi abis itu gue langsung nonaktifin sim card gue yang satu." jawab Aurora.


"Hadeh, pantes aja kamu panik. Yaudah, kamu mending tidur deh sayang biar besok gak kesiangan berangkat sekolahnya!" ucap Willy.


"Eee kayaknya besok gue izin dulu deh, gue ngeri aja sama papa. Lagian gue juga kan gak bawa seragam cadangan, ini aja gue pake baju nyokap lu yang untungnya gak terlalu kegedean." ucap Aurora.


"Terserah kamu deh, intinya sekarang kamu tidur ya cantikku! Ini itu udah malam, kamu harus istirahat yang cukup!" ucap Willy.


"Iya iya bawel! Lu sendiri aja belum tidur kok, ngapain lu nasehatin gue?" ujar Aurora.


Willy langsung meraih dua tangan Aurora dan mendekap tubuh gadis itu, ia singkirkan rambut yang menutupi wajah gadisnya lalu tersenyum seraya menciumi seluruh area wajah Aurora.


Cupp! Cupp! Cupp!


"Kamu mau tidur sekarang, atau aku tidurin nih?" ancam Willy.


"Tidurin dong kalo bisa," ucap Aurora yang malah menantang dan menggoda Willy.


"Ohh, kamu nantang aku nih?" ujar Willy.


"Eh eh eh, enggak Wil enggak. Lu jangan begitu lah! Ini kan di rumah lu sendiri tau, ada nyokap sama bokap lu juga. Gimana kalau mereka lihat atau dengar nanti?" ucap Aurora.


"Hahaha, panik kan kamu? Makanya kamu tidur sekarang sana, jangan begadang!" tegas Willy.


"Iya Willy, tapi lepasin gue dulu dong!" ucap Aurora.


Willy justru tersenyum dan malah mengeratkan dekapannya, ia pun langsung melumatt bibir Aurora sembari mendorong tubuhnya hingga terbaring di atas ranjang.


Mereka terus saling memagut dengan Willy yang saat ini menindih tubuh Aurora, tak ada penolakan dari gadis itu karena ia pun turut menikmatinya.


Bersambung....