
My love is sillie
Episode 134
•
"Oh iya, nak Sasha nya kemana sekarang?" tanya Bu Ani kebingungan.
"Ada di depan kok Bu," jawab Willy.
"Loh kenapa gak diajak masuk kesini juga?" tanya Bu Ani.
"Iya maaf Bu, aku lupa. Tadi kan juga Sasha udah di dalam, ngapain disuruh masuk lagi?" ujar Willy.
"Yaudah, biar ibu yang ke depan. Kamu ajak aja Aurora ke meja makan ya!" ucap Bu Ani.
"Siap Bu! Yuk sayang!" ucap Willy.
Aurora mengangguk sambil tersenyum, Willy merengkuh pinggangnya dan mulai melangkah menuju meja makan.
"Wil, emang Sasha masih sering datang ke rumah kamu ya?" tanya Aurora.
"Eee gak juga sih, baru kemarin sama hari ini. Emangnya kenapa? Kamu cemburu?" jawab Willy.
"Ah eee enggak lah ngapain?!" elak Aurora.
"Masa sih? Kelihatan loh dari wajah kamu, pasti kamu cemburu kan? Udah sayang, ngaku aja kali kalo kamu cemburu!" ucap Willy.
"Apa sih?! Kamu gausah kege'eran deh, aku gak cemburu! Aku tuh cuma tanya dan penasaran aja, ngapain gitu Sasha masih datang ke rumah kamu. Aku gak ada maksud lain," ucap Aurora.
"Iya iya sayangku, aku percaya aja deh sama kamu mah!" ucap Willy seraya memeluk kekasihnya.
"Jangan peluk-peluk ah gak enak tau kalo diliat ibu atau bapak kamu!" ujar Aurora berontak.
"Gapapa, tenang aja!" ucap Willy sambil tersenyum.
"Iya nak Aurora, gak perlu malu di depan bapak mah." keduanya sama-sama kaget mendengar suara seorang lelaki yang muncul dari arah dapur mendekati mereka.
"Hah bapak??!" Aurora tersentak kaget, ia coba melepas pelukan Willy tetapi gagal karena pria itu malah menahannya.
"Ih Willy lepas, malu tau ada bapak kamu!" ujar Aurora coba berontak.
"Kamu kenapa sih? Bapak aku perasaan biasa-biasa aja gak marah, ya kan pak?" ucap Willy dengan santai.
"Iya, udah gapapa nak Aurora namanya juga anak muda. Dulu bapak sama ibunya Willy juga begitu kok," ucap pak Gunawan.
Aurora terbelalak mendengarnya.
"Pantas aja anaknya begini," batin Aurora.
Melihat Aurora terdiam, Willy malah dengan santainya mengecup pipi gadis itu di hadapan sang ayah.
Cup!
"Ih Willy!" protes Aurora.
"Abisnya kamu kenapa diem aja? Terpesona ya sama ketampanan aku?" goda Willy yang tak berhenti mengendus leher Aurora.
"Willy, kamu jangan kayak gini di depan bapak kamu! Aku gak enak tau!" bisik Aurora.
"Iya iya, aku bicara sama bapak dulu ya?" ucap Willy kemudian beralih menatap pak Gunawan. Aurora yang mendengar itu dibuat sangat kaget.
"Wil, kamu mau ap—"
"Pak, bapak gak mau kemana gitu pak? Aurora malu katanya kalau ada bapak," ucapan Aurora terpotong oleh perkataan tidak sopan Willy kepada bapaknya sendiri.
Sontak Aurora terkejut karena Willy dengan berani mengusir papanya demi bisa berduaan dengannya disana, sungguh tidak beradab.
"Ya ya ya, ini bapak juga mau ke depan kok. Sudah, kalian ke meja makan aja sana! Sarapannya udah disiapin sama ibu, jadi nak Aurora juga bisa sekalian sarapan!" ucap pak Gunawan.
"Ah eee i-i-iya pak, makasih!" ucap Aurora.
"Yaudah, bapak ke depan dulu ya?" ucap pak Gunawan lalu berlalu pergi.
******
"Aku percaya sama kamu, tolong kamu bawa aku keluar ya dari sini!" ucap Mia.
"Iya, sekarang coba deh kamu cek hp kamu! Siapa tahu kita bisa minta bantuan dari orang pemilik kuda," suruh Thoriq.
"Iya sayang," Mia menurut dan membuka ponselnya.
"Hah??!" gadis itu terkejut hebat mendapati ponselnya tidak memiliki sinyal sama sekali.
"Ke-kenapa sayang? Ada masalah??" tanya Thoriq penasaran.
"Sayang, ini gak ada sinyal di hp aku. Gimana caranya kita minta bantuan coba?" jawab Mia.
"Waduh, sial banget dong kita! Kenapa mesti gak ada sinyal sih?" ujar Thoriq.
"Ya mana aku tahu! Mungkin karena kita lagi ada di hutan kayak gini, jadi susah sinyal. Coba aja kamu cek hp kamu barangkali ada!" ujar Mia.
"Aku gak bawa handphone sayang, tadi hp nya aku tinggal di tempat kuda. Aku pikir lebih baik aku gak bawa hp, supaya fokus sama kamu. Eh ternyata malah kayak gini," ucap Thoriq.
"Yah terus gimana dong sayang?" tanya Mia.
"Kita turun dulu yuk sayang! Supaya kudanya juga bisa istirahat," jawab Thoriq.
Mia mengangguk setuju, lalu mereka pun turun dari kuda dan duduk bersandar di bawah pohon besar setelah mengikat kuda itu.
"Sabar ya sayang!" ucap Thoriq lirih.
"Aku sabar kok sayang, tapi aku gak mau kita terus terjebak disini sampai malam. Kita harus cepat-cepat keluar, sebelum hari mulai gelap!" ucap Mia dengan sangat panik.
"Iya iya, aku bakal pikirin cara supaya kita bisa keluar disini. Sekarang kamu tenang dulu, jangan panik ya sayang!" ucap Thoriq.
Mia mengangguk lesu, membenamkan wajahnya di bahu sang kekasih. Thoriq tersenyum merasakan wajah Mia di bahunya, ia pun mengusap wajah Mia dengan lembut dan sesekali mengecupnya.
Cup!
"Kamu tenang ya cantikku! Aku disini bakal jagain kamu, kita berdua juga pasti bisa kok keluar dari hutan ini!" ucap Thoriq.
"Iya sayang, aku percaya kamu!" ucap Mia.
"WOI!!!"
Mereka dikejutkan dengan suara teriakan yang datang secara tiba-tiba.
"Ngapain lo berdua disini? Mau mesum ya?!" tegur pria tersebut.
"Hah??" Thoriq dan Mia reflek berdiri.
"Siapa kalian? Ngapain berduaan di hutan kayak gini? Kalau mau mesum itu di hotel, yang modal dikit lah bro!" tegur si pria.
"Ki-kita gak mesum kok bang, kita kesasar. Tadi kita lagi naik kuda ini, terus gak sengaja sampai ke hutan ini. Untung kami ketemu sama abang, bisa kan kami minta bantuan?" jelas Thoriq.
"Kesasar? Jadi, kalian sewa kuda terus kesasar sampe sini?" tanya si pria.
"I-i-iya bang, emangnya kenapa?" Thoriq merasa heran dan curiga.
******
Pria itu memajukan bibirnya, kembali mengecup singkat bibir ranum Ayna dan mengusap rambutnya.
Cup!
"Bibir kamu enak banget, aku kayaknya kecanduan sama bibir kamu deh!" goda Randi.
"Bisa aja kamu, udah ah sana jauh-jauh!" usir Ayna.
"Hahaha.." Randi tertawa kecil sembari memundurkan langkahnya menuju ranjang empuk milik Ayna.
Ayna pun mulai mengganti pakaiannya di hadapan Randi, terlihat gadis itu malu-malu saat melakukannya, sedangkan Randi sendiri justru mengamati dengan serius.
Setelah selesai, kini keduanya kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Tak terjadi apapun di dalam kamar itu, karena Randi juga tidak berani melakukan hal buruk pada Ayna.
"Sayang, kamu gak marah kan karena tadi aku masuk kamar kamu gitu aja?" tanya Randi.
"Enggak kok sayang, buat apa aku marah? Lagian mana bisa sih aku marah sama kamu?" jawab Ayna.
"Ish dasar mesum!" cibir Ayna.
"Hahaha, bercanda kok sayang. Tapi, kalau emang dibolehin sih gapapa. Aku ngerasa nyaman ada di kamar kamu kayak tadi," ucap Randi.
"Boleh boleh aja, asalkan gak ada kak Geri mah. Udah ah jangan bahas itu terus, yuk kita jalan ke luar!" ujar Ayna.
"Kamu mau pergi kemana emang sayang?" tanya Randi seraya mendekap tubuh gadisnya.
"Umm, kemana aja asalkan sama kamu deh." jawab Ayna sembari menaruh wajahnya di dada sang kekasih.
Randi tersenyum lebar, mencium pipi Ayna serta mengusap rambutnya.
Mereka pergi dari rumah itu, Randi sengaja membawa Ayna ke cafe nya lebih dulu untuk sekedar sarapan.
"Kita kesini aja ya sayang?" ujar Randi.
"Oke!" Ayna mengangguk singkat.
Mereka duduk berdampingan di cafe itu, Randi terus menatap wajah gadisnya dan tersenyum.
"Kamu cantik banget sih!" goda Randi.
"Ah kamu bisa aja!" ucap Ayna.
Randi semakin mendekat, mengikis jarak diantara mereka dengan tangan yang terus mengusap rambut sang wanita.
"Ka-kamu mau apa? Jangan dekat-dekat Randi, malu!" ucap Ayna.
"Rileks sayang!" bisik Randi sensual.
"Ih kamu bilang tadi gak akan mau macam-macam ya sayang! Malu tau banyak orang!" sentak Ayna.
"Banyak darimana? Enggak ada tuh," ujar Randi.
"Tetap aja aku malu, kamu gausah kayak gini dong Randi sayang!" ucap Ayna dengan gugup.
Pria itu justru tersenyum dan menaruh tangannya di atas paha sang kekasih, mengusapnya lembut membuat Ayna merasa geli.
"Eemhh, Randi jangan nakal!" ucap Ayna berusaha menyingkirkan tangan Randi, tetapi gagal.
"Sssttt udah diem aja sayang! Kamu nyaman kan diginiin?" goda Randi.
******
"Eh Zaf, dia siapa? Gue baru kali ini ngeliat dia di markas the darks, apa dia teman lo?" tanya Arif pada Zafran.
"Yah elah bro, dia itu si Chalvin mantan anak the darks juga. Dulu Chalvin yang jadi wakil ketua di geng kita, sebelum akhirnya dia putusin buat keluar dan tinggal di luar negeri," jelas Leo.
"Nah, udah dijelasin tuh sama si Leo. Lo ngerti kan sekarang Rif?" timpal Zafran.
"Hehe, iya iya ngerti gue. Sorry ya bang, gue anak baru soalnya!" ucap Arif.
"Santai aja! Gue kan udah lama gak kumpul disini, ternyata banyak anak-anak baru ya yang masuk the darks?" ujar Chalvin.
"Iya gitu deh," jawab Zafran menganggukkan kepala.
"Oh ya, omong-omong ini si Willy kemana dah? Gue pengen ketemu dan ngobrol lagi sama dia," tanya Chalvin sambil celingak-celinguk.
"Dia mah datang kesini nya gak nentu, kadang siang sehabis pulang sekolah, tapi kadang juga malam-malam baru datang. Kalau pagi-pagi begini, dia pasti masih asyik pacaran sama ceweknya," jawab Zafran.
"Betul tuh, si Willy udah jarang banget kumpul sama kita! Ya mungkin dia lagi dimabuk cinta, wajar sih ceweknya cakep banget udah kayak bidadari khayangan," sahut Leo.
"Hahaha, masa sih? Gue jadi penasaran sama ceweknya si Willy yang sekarang," ujar Chalvin.
"Tunggu aja bro, dia kadang suka kesini bareng ceweknya. Ya tapi gue juga gak tahu kapan sih," ucap Zafran.
"Okelah!" ucap Chalvin singkat.
"Eh ya, ini perasaan gue doang atau emang geng the darks makin sepi? Si Randi, Thoriq sama Farrel pada kemana dah?" tanya Chalvin heran.
"Eee Thoriq sama Farrel udah keluar dari the darks bro," jawab Zafran.
"Hah? Kenapa??" Chalvin terkejut bukan main.
"Waktu itu geng the darks diincar sama orang-orang bayaran, mereka hajar satu persatu anggota kita, termasuk Thoriq dan Farrel. Sejak itu, orang tua mereka gak setuju kalau mereka balik lagi kesini," jelas Zafran.
"Apa??!" kaget Chalvin.
"Iya bro, makanya sekarang kita kehilangan anggota. Dan sampai saat ini, kita belum temuin pengganti mereka," ucap Zafran.
"Duh, berat juga ya?" ujar Chalvin.
"Ya begitulah bro, makanya sekarang kekuatan the darks itu rada berkurang. Kita aja gak bisa hadapin geng black jack tanpa Willy, kita selalu babak belur tiap mereka datangi kita," ucap Zafran.
"Hah? Black jack? Geng mana lagi itu? Geng baru?" tanya Chalvin amat kaget.
"Itu geng black punyanya si Ilham, mereka bikin geng baru yang lebih besar dan kuat. Sekarang mereka juga masih jadi musuh kita," jelas Zafran.
"Hah??" kaget Chalvin.
******
"Hiyaaa...!!"
Sontak Kiara tampak histeris ketika geng motor tersebut menyerang Max secara membabi buta, ia sangat khawatir terjadi sesuatu pada pria itu.
"Tuan, bagaimana ini? Max diserang sama mereka, kita harus bantu dia!" ujar Kiara cemas.
"Hey hey, tenang Kiara sayang! Saya akan turun temui mereka dan bubarkan mereka, kamu diam aja disini jangan kemana-mana ya!" ujar Martin.
"Iya tuan, cepetan tuan turun dan bantu Max ya! Aku takut dia terluka parah!" ucap Kiara.
Martin mengangguk pelan, dia turun dari mobil untuk membantu Max yang sedang berkelahi dengan geng motor disana.
Max tampak kewalahan, hampir saja dia terkena pukulan jika Martin tak datang.
"Hey hentikan!!" teriaknya.
Sontak mereka menghentikan pertarungan itu, wajah Max sudah berdarah sedikit akibat pukulan dari orang-orang itu.
"Bang, tolongin gue bang! Mereka gak jelas banget tiba-tiba serang gue, padahal gue gak kenal dan gak ngerasa punya urusan sama mereka. Ketemu juga baru kali ini," ucap Max ngos-ngosan.
"Heh! Lo gausah ikut campur, ini masalah kita sama tuh orang!" bentak si ketua geng.
"Masalah apaan? Gue aja gak kenal sama kalian, jangan ngarang deh!" elak Max.
"Bener-bener lu ya, udah bawa kabur uang kita terus sekarang pura-pura gak kenal segala!" geram si ketua geng.
"Hah??!" Max terkejut bukan main, dia benar-benar bingung setelah dituduh seperti itu.
"Bawa kabur uang kalian? Apa benar begitu Max?" tanya Martin menatap ke arah Max.
Max terdiam, dia tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Itu tidak benar Martin, gue gak pernah bawa kabur uang mereka! Gue aja baru kali ini ketemu sama mereka, gimana bisa gue ambil uang mereka?!" elak Max.
Martin sama sekali tidak menemukan kebohongan dari sorot mata Max, dia bisa tahu kalau lelaki itu sedang jujur.
"Ah maling mana ada yang mau ngaku! Sekarang lo serahin duit itu, atau kita bakalan hajar lo berdua sampai masuk rumah sakit!" teriak si ketua geng mengancam Max.
"Bang Martin, gimana ini bang??" tanya Max panik.
"Kita hadapi mereka bersama, lo gak boleh jadi laki-laki pengecut!" sentak Martin.
"Ta-tapi bang.."
"Maju Max!" potong Martin.
Mau tidak mau, Max pun terpaksa ikut menyerang geng motor tersebut bersama Martin.
Kiara yang masih di dalam mobil, merasa bingung dan cemas melihat Martin serta Max berkelahi dengan geng motor itu. Ia khawatir jika salah satu diantara mereka akan terluka.
"Duh, aku harus gimana ya buat bubarin mereka? Apa aku telpon polisi aja?" gumam Kiara.
Bersambung....