My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 100. Sama-sama masuk RS



My love is sillie


Episode 100



Johan yang tengah duduk santai sembari menikmati secangkir kopi pun dibuat terkejut saat Aurora menuruni tangga dengan terburu-buru.


"Hey Aurora!" tegur Johan.


Sontak Aurora menghentikan langkahnya, ia menatap ke arah Johan dan tampak bingung.


"Sini kamu!" pinta Johan.


"Eee i-i-iya pah.." ucap Aurora menurut.


Aurora pun bergerak menghampiri papanya, ia menghentikan langkahnya tepat di samping Johan sambil terus tersenyum ke arahnya.


"Ada apa pah?" tanya Aurora.


"Kamu mau kemana? Baru pulang kok udah mau pergi lagi? Mana cantik banget kayak gini lagi," ujar Johan tampak penasaran.


"Apa sih pah? Ini loh aku mau ketemu sama teman, gapapa kan pah?" ucap Aurora.


"Ohh, teman apa teman nih? Bilangnya ketemu teman, eh ternyata malah nyamperin nak Willy." ledek Johan.


"Eee kalau misal aku gak sengaja ketemu sama Willy di luar, ya pasti aku bakal temuin dia dong." jawab Aurora sambil tersenyum.


"Ya ya ya, yasudah kamu boleh pergi kok! Perlu papa antar sayang?" ucap Johan.


"Enggak usah pah, aku bisa pergi sendiri naik motor." ucap Aurora menolak tawaran papanya.


"Loh kok naik motor sih? Pake mobil aja ya, minta antar sama pak supir. Kamu kan udah cantik begini sayang, kalau naik motor nanti malah berantakan lagi loh." ujar Johan.


"Gapapa pah, aku udah biasa kok naik motor." ucap Aurora.


"Gak gak, kamu naik mobil aja! Ayo papa antar kamu sampai ke depan!" ucap Johan langsung berdiri dan menggenggam tangan putrinya itu.


"I-i-iya pah iya.." ucap Aurora menurut.


Mereka pun pergi bersama-sama keluar dari rumah, walau sebenarnya Aurora malas sekali harus naik mobil yang bukan hobinya.


Ceklek...


Saat Johan membuka pintu, mereka berdua terkejut lantaran di depan sana sudah berdiri seorang lelaki yang tersenyum menghadap ke arah mereka.


"Halo om, halo Aurora cantik! Selamat siang!" ucap pria itu menyapa keduanya.


"Hah?" Aurora dan Johan kompak terkejut melihat kehadiran lelaki itu disana.


"Kamu siapa? Memangnya kamu mengenal saya atau putri saya?" tanya Johan heran.


Lelaki itu justru hanya tersenyum sembari terus memandangi wajah keduanya.


"Max? Kamu ngapain sih kesini?" ucap Aurora bertanya dengan nada ketus.


"Hai Aurora! Aku kesini cuma mau ngobrol kok sama kamu, bisa kan?" ucap pria yang tak lain ialah Max itu.


"Kamu kenal sama dia, Aurora?" tanya Johan kepada putrinya.


"Iya pah, dia teman sekolah aku, namanya Max." jawab Aurora.


Sontak Johan terkejut mendengarnya.


"Apa? Max? Dia ini yang kamu ceritakan pernah culik kamu dulu?" tanya Johan terkejut.


"Eee i-i-iya pah, itu benar! Max yang dulu pernah culik aku, dia emang jahat pah!" jawab Aurora.


"Kurang ajar kamu ya! Mau apa kamu datang kesini? Jangan pernah ganggu putriku lagi!" geram Johan sembari menarik kerah jaket Max.


"Pah, sabar dulu pah! Papa jangan emosi begitu!" ucap Aurora berusaha menahan papanya.


"Gapapa Aurora, orang seperti dia ini harus diberi pelajaran!" ujar Johan.


"Jangan pah, jangan! Aku gak mau ada keributan disini!" pinta Aurora.


Johan pun mengalah dan melepaskan tangannya dari Max, namun ia masih terus menatap Masa dengan tajam dan membuat Max menunduk.


"Kenapa kamu masih disini? Sudah sana pergi dan jangan pernah kembali!" ujar Johan.


"Nanti dulu om, saya kesini kan mau bicara sama Aurora." ucap Max.


"Masih berani ya kamu! Dasar gak tahu malu!" geram Johan sembari memukul wajah Max.


Bughh...


"Hah??" Aurora terkejut melihat apa yang dilakukan papanya itu pada Max, ia hanya bisa menutupi mulutnya dengan telapak tangan karena kaget.


******


Sontak Martin langsung bangkit dari duduknya, namun Kiara mencoba menahannya.


"Tuan, jangan emosi ya tuan!" pinta Kiara.


Cup!


Martin mengecup bibir Kiara sekilas dan mengusapnya sambil tersenyum.


"Jangan khawatir! Saya bisa kendalikan semuanya, kamu sekarang masuk ke kamar ya! Jangan sampai Willy lihat kamu!" ucap Martin.


"I-i-iya tuan.." ucap Kiara.


Martin pun bergerak cepat menuju ke depan rumahnya, sedangkan Kiara tetap disana dengan perasaan cemasnya.


"HEY WILLY! HENTIKAN!!" teriak Martin dengan lantang.


Suara teriakan Martin itu membuat Willy berhenti memukuli Tomy serta para penjaga di rumah itu.


Willy tersenyum lebar melihat kehadiran Martin disana, ia bangkit dan menatap wajah Martin dengan penuh emosi.


"Akhirnya lu muncul juga pengecut! Gue gak akan biarin lu lepas kali ini!" ucap Willy.


"Mau kamu apa? Kenapa kamu selalu cari masalah dengan saya?" tanya Martin.


"Hah? Situ gak salah bicara? Kan situ yang sering cari masalah sama gue dan anak-anak the darks, contohnya kemarin saat lu datang ke markas gue dan bantai mereka. Itu maksudnya apa, ha? Mau jadi jagoan lu?" ujar Willy.


"Ohh soal itu, jadi kamu dendam sama saya? Kamu kesini karena mau balas itu semua? Yasudah, saya ladeni kemauan kamu itu." ucap Martin.


Martin menggulung lengan panjangnya seakan bersiap menghadapi Willy.


"Ayo maju Willy! Saya beri kesempatan kamu untuk menyerang saya lebih dulu, supaya kamu punya kesempatan untuk menang!" tantang Martin.


"Anjing!" umpat Willy.


Willy langsung maju begitu saja dan menyerang Martin secara brutal.


Pukulan demi pukulan dilayangkan olehnya hingga membuat Martin cukup kesulitan.


Bughh...


Akhirnya satu pukulan Willy berhasil mengenai dada Martin.


Bughh...


Namun, Martin berhasil membalasnya dengan sebuah tendangan keras ke arah perut Willy.


Willy pun terdorong ke belakang dan hampir terjatuh, beruntung ia masih bisa bertahan.


"Aaarrgghh!!" Willy menggeram kesal.


Pertarungan kembali terjadi, tapi nampaknya Willy sudah mulai kehabisan nafas akibat perkelahian yang sudah sempat ia lakukan sebelumnya dengan geng black jack dan anak buah Martin.


Martin pun dengan mudahnya berhasil mencengkeram tangan Willy dan membanting tubuh pemuda itu ke jalan.


Bruuukkk...


"Aakhhh!!" Willy memekik kesakitan, dirinya sudah tak mampu melakukan perlawanan lagi.


"Segitu saja kemampuan kamu Willy? Ini yang ingin menantang saya, ha?" ujar Martin.


"Akh! Aaaaa.." Willy terus saja merintih seraya memegangi lengannya yang terasa sakit.


"Saya akan habisi kamu! Rasakan ini!" Martin mendekati Willy dan berniat menginjak punggung pemuda itu.


"Hentikan!!" suara teriakan seorang wanita membuat Martin menghentikan gerakannya.


Itu adalah Kiara yang muncul disana dan langsung menghampiri Martin.


"Kiara, apa yang kamu lakukan disini? Saya sudah bilang masuk ke kamar, kenapa kamu malah ikut datang kesini?" tanya Martin.


"Maaf tuan! Tapi, aku mohon tuan jangan lukai Willy lagi! Dia sudah kalah, jadi sebaiknya tuan biarkan dia pergi!" pinta Kiara.


"Kamu masih perduli sama dia?" tanya Martin.


"Enggak tuan, aku cuma gak mau punya kekasih seorang pembunuh. Biarkan Willy pergi, tuan kan sudah menang!" jawab Kiara.


"Baiklah, kamu boleh pergi Willy! Tapi ingat, jangan pernah menginjakkan kaki lagi di rumah saya ini!" ucap Martin pada Willy.


Willy menggeleng pelan, lalu bangkit dibantu oleh para penjaga disana.


******


Sepulang dari rumah Randi, Thoriq berniat menjemput kekasihnya agar mereka bisa pergi berdua seperti biasanya.


Akan tetapi, Thoriq justru dikejar-kejar oleh segerombolan geng motor yang dirinya pun tak tahu siapa mereka.


Thoriq yang panik akhirnya menancap gas dengan kecepatan tinggi, ia berusaha menghindari kejaran mereka karena tak ingin masuk UGD lagi.


"Woi minggir lu pengecut!" teriak mereka.


Thoriq tak memperdulikan itu, ia terus fokus melaju kencang menjauh dari kejaran mereka.


"Duh, gue harus selamat!" batin Thoriq.


Bruuukkk...


Nasib sial menimpa Thoriq, motornya berhasil ditendang oleh salah satu dari mereka hingga oleng dan terjatuh ke aspal.


"Aduh! Awhh!!" Thoriq meringis kesakitan.


"Hahaha, bangun lu pengecut! Sini hadapin kita!" ucap orang yang tadi menyerangnya.


Thoriq bangkit secara perlahan, ia melihat lima orang tengah berdiri menghadapnya dengan tongkat baseball di tangan mereka.


Wajah mereka tertutup helm, sehingga Thoriq tak mampu mengenali siapa mereka.


Namun, terpampang jelas di jaket mereka terdapat logo khas geng motor thunder yang sempat berselisih dengan the darks.


"Kalian mau apa? Gue udah bukan anggota the darks lagi, jadi kalian salah sasaran kalau mau hajar gue!" ucap Thoriq.


"Kita gak perduli, intinya lu pernah jadi bagian the darks dan sekarang pasti lu masih berhubungan sama mereka!" ucap orang itu.


"Ya iyalah, mereka kan teman gue." ujar Thoriq.


"Yaudah, lu terima aja nasib lu kali ini bakal kita bantai sampai mampus!" ucap orang itu.


"Sial!" Thoriq mengumpat pelan.


Akhirnya kelima orang itu mulai menyerang Thoriq menggunakan tongkat baseball yang mereka miliki.


Untunglah kemampuan beladiri Thoriq cukup mumpuni, apalagi dia sempat menjadi panglima tempur geng the darks.


Bughh...


Namun, tetap saja Thoriq tak cukup kuat untuk menghadapi lima orang sekaligus.


Dirinya pun beberapa kali terkena pukulan dari tongkat baseball itu.


"Eh eh, ada yang berantem tuh!"


"Oh iya, yuk kita usir mereka!"


Para warga yang kebetulan berada di dekat kejadian, berupaya membubarkan kerumunan orang yang tengah mengeroyok Thoriq disana.


"Woi jangan lari kalian!!" teriak warga.


"Hah? Cabut guys!" salah seorang anggota geng thunder itu memerintahkan yang lainnya untuk kabur.


Kelima orang itu pun pergi dari sana meninggalkan Thoriq yang tergeletak dipenuhi luka.


"Akh! Sialan mereka!" umpat Thoriq sembari memegangi luka di tubuhnya.


Para warga itu pun mendekati Thoriq dan berusaha menolongnya.


"Eh mas, situ gapapa?" tanya salah seorang warga.


"Ah iya pak, saya baik kok. Terimakasih ya pak, semuanya!" jawab Thoriq.


"Ya sama-sama mas, ayo kita bantu berdiri!" para warga itu dengan berbaik hati mulai membantu Thoriq untuk bangkit.


Thoriq pun dibawa ke pinggir dan didudukkan pada kursi yang tersedia, tak lupa juga para warga itu memberinya air minum.


"Ini mas, diminum dulu!" ujar seorang warga.


"Makasih pak!" ucap Thoriq mengambil air minum itu dan meminumnya sampai habis.


"Mau diantar ke rumah sakit gak, mas? Itu lukanya kayaknya lumayan parah," tanya warga itu.


"Ah gak perlu pak! Saya nanti bisa periksa sendiri, terimakasih ya pak!" ucap Thoriq.


"Sama-sama, mas. Kalo gitu kita semua mau bubar dulu ya? Semoga cepet sembuh mas!" ucap warga itu.


"Iya pak, sekali lagi terimakasih ya!" ucap Thoriq.


Warga-warga itu pun pergi meninggalkan Thoriq sendirian.


***


Thoriq baru menjalani pemeriksaan di rumah sakit terdekat ditemani oleh Mia, kekasihnya.


Mia pun juga membantu Thoriq melangkah keluar dari ruang pengobatan itu.


"Kamu bener udah mendingan?" tanya Mia.


"Iya cantik, makasih ya udah bantuin aku kesini! Maaf banget aku malah ngerepotin kamu, harusnya kan kita sekarang lagi senang-senang!" ucap Thoriq.


"Gapapa, aku gak ngerasa direpotin sama kamu kok. Lihat kamu sehat dan gak terluka aja udah bikin aku senang," ucap Mia.


"Makasih ya cantikku!" ucap Thoriq seraya mengecup kening kekasihnya.


Cup!


Mia tersenyum dan menggandeng lengan kekasihnya, mereka berniat pulang ke rumah.


Tanpa diduga, Thoriq justru bertemu dengan Willy saat hendak keluar dari sana.


"Loh Willy? Lu ngapain disini?" tegur Thoriq.


"Hah? Thoriq?? Lu kenapa itu?" tanya Willy.


"Ini Wil, gue tadi abis dikeroyok sama orang di jalan. Mereka pake jaket geng thunder, jadi pasti mereka itu anak-anak thunder." jawab Thoriq.


"Hah? Berarti mereka udah pada keluar dari penjaga dong?" ujar Willy terkejut.


"Sepertinya begitu, dan kayaknya mereka dendam sama the darks karena waktu itu kan lu udah bikin mereka masuk penjara. Sialnya, mereka masih kenal sama gue dan malah hajar gue, padahal gue udah bukan bagian the darks lagi." ucap Thoriq.


"Sorry ya Riq! Gara-gara gue, lu jadi korban lagi sekarang." ucap Willy merasa bersalah.


"Santai aja! Gue juga gak kenapa-napa kok, eh ya btw itu tangan lu kenapa dibungkus gitu? Sakit?" ucap Thoriq.


"Gitu deh, tapi sekarang udah baikan. Ini gue mau ke markas temuin anak-anak," ucap Willy.


"Buset dah Wil! Yakin lu pengen ke markas dalam keadaan kayak gini? Emangnya lu bisa bawa motor?" tanya Thoriq.


"Gak pake motor juga lah, kan bisa pesan taksi nanti di depan." jawab Willy.


"Oalah, gimana kalau lu bareng gue aja? Kita sama-sama naik mobilnya cewek gue yang cantik jelita ini," ujar Thoriq sembari merangkul Mia.


"Wih jadi ini cewek lu?" tanya Willy.


"Iyalah, emang lu doang yang bisa punya cewek? Gue juga bisa dong!" jawab Thoriq penuh bangga.


"Hahaha, mantap dah bro!" ujar Willy.


"Eh ya, kenalin dia namanya Mia! Nah sayang, dia ini Willy teman aku di geng motor dulu." ucap Thoriq.


Mia dan Willy pun saling berkenalan dan bersalaman selama beberapa detik.


"Salam kenal ya!" ucap Willy tersenyum.


"Iya," ucap Mia singkat.


"Eee sayang, boleh kan kalau Willy ikut bareng kita? Kasihan dia tangannya lagi sakit tuh," tanya Thoriq pada kekasihnya.


"Boleh kok, bareng aja!" jawab Mia.


"Nah, udah dibolehin tuh Wil. Udah lu ikut aja sama kita ayo!" ujar Thoriq.


"Oke deh, thanks ya Mia, Thoriq!" ucap Willy.


"Sama-sama, bro." ucap Thoriq sambil nyengir.


Mereka bertiga pun akhirnya pergi bersama-sama dari rumah sakit itu, Thoriq berniat mengantar Willy sampai markas the darks karena tidak tega melihat kondisi sahabatnya itu.


"Jujur aja, gue kangen banget main bareng lu lagi Wil kayak dulu!" batin Thoriq.


Bersambung....