My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 95. Berdansa



My love is sillie


Episode 95



Saat di dalam, Willy tampak mengambilkan minum untuk Aurora dan memberikannya disana.


"Sayang, nih minum dulu!" ucap Willy.


"Makasih sayang!" ucap Aurora tersenyum lebar.


Saat Aurora tengah minum, Willy tampak menatap sekeliling seperti mencari seseorang.


"Kiara kira-kira datang gak ya?" batin Willy.


Aurora yang sadar akan hal itu pun bertanya pada Willy dengan wajah keheranan.


"Wil, kamu cari siapa?" tanya Aurora.


"Eh eee gak kok, aku gak cari siapa-siapa. Aku cuma bingung aja kenapa pestanya masih belum dimulai?" jawab Willy berbohong.


"Ohh, mungkin karena belum pada dateng semua. Udah lah Wil, kamu minum aja dulu nih atau makan cemilannya tuh!" ucap Aurora.


"Iya sayang.." Willy mencolek pipi Aurora dan mengecupnya singkat.


"Nanti kita dansa ya? Aku mau bikin kamu gak akan bisa lupain malam ini!" bisik Willy di telinga gadisnya.


Deru nafas Willy membuat Aurora bergidik, apalagi pria itu juga sengaja mengecup bahunya yang terpampang jelas itu.


"Ahh Wil, kamu mah iseng banget sih!" ujar Aurora.


"Gapapa dong sayang, namanya juga sama pacar sendiri. Kamu itu wangi banget sih, kulit kamu mulus gini bikin aku tambah sayang!" ucap Willy yang terus mengusap kulit Aurora.


Aurora hanya bisa terdiam pasrah, walau sebenarnya ia agak risih dengan perlakuan Willy.


"Kalau lihat kamu begini, aku rasanya pengen cepat-cepat nikahin kamu deh sayang! Aku jadi gak sabar buat duduk berdua sama kamu di pelaminan nanti!" ucap Willy.


"Huft, paling kamu cuma ngincer malam pertamanya doang kan? Dasar mesum!" cibir Aurora.


"Apa sih sayang? Kamu fitnah deh!" elak Willy.


"Bukan fitnah, tapi kenyataan. Aku tahu kok apa yang ada di otak kamu itu!" ujar Aurora.


"Ah masa??" goda Willy.


"Huh dasar mesum!" cibir Aurora.


"Hahaha.." Willy tertawa lepas dan melangkah ke belakang tubuh Aurora.


Kini Willy melingkarkan tangannya di pinggang sang kekasih, terus menciumi leher serta pundak Aurora hingga membuat gadis itu melenguh pelan.


"Ahh.." Aurora spontan menutupi mulutnya saat hendak mengeluarkan desahann.


"Sayang, kamu benar-benar bikin aku bergairah! Aku gak kuat lagi sayang!" ucap Willy dengan mata terpejam.


"Cukup Willy ih!" bentak Aurora.


Tiba-tiba saja, Willy dibuat terkejut saat melihat Kiara datang bersama Max di depan sana.


"Hah? Itu kan Kiara, kok dia sama Max sih?" batin Willy.


Menyadari kekasihnya terdiam, Aurora langsung membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Willy dengan penuh kebingungan.


"Kamu kenapa sayang? Lihat apa?" tanya Aurora.


"Eh, gak kok." elak Willy.


"Masa sih?" Aurora tak percaya dengan ucapan Willy, ia berusaha mencari tahu apa yang sedang dilihat oleh Willy tadi.


Namun, Willy langsung menarik wajah Aurora ke arahnya dan tak membiarkan gadis itu melihat Kiara bersama Max.


"Ish, kamu apa-apaan sih Wil? Aku kan mau tahu kamu lihat apa tadi," protes Aurora.


"Gak ada apa-apa sayang, udah lah kamu jangan bandel deh!" tegas Willy.


"Ah kamu mah nyebelin!" cibir Aurora.


Willy tersenyum dan mengajak Aurora menjauh dari sana agar lebih aman.


Aurora pun menurut saja dengan Willy, walau sebenarnya ia masih penasaran.


***


Sementara itu, Kiara dan Max juga tengah menikmati minuman disana.


Sama seperti Willy tadi, Kiara tampak terus berusaha mencari keberadaan pria itu.


"Willy dimana ya?" batin Kiara.


Max mendekati Kiara, memberikan segelas minuman kepada gadis itu.


"Kiara, ini minuman buat kamu!" ucap Max.


"Eh iya, makasih ya Max!" ucap Kiara.


"Kamu cari siapa sih? Daritadi aku perhatiin kamu celingak-celinguk terus, apa ada seseorang yang lagi kamu tunggu?" tanya Max penasaran.


"Gak ada kok, aku gak cari siapa-siapa. Itu cuma perasaan kamu aja kali," elak Kiara.


"Ohh," Max mengangguk kecil lalu meminum minumannya sampai habis.


"Kita kesana yuk!" ajak Max.


Max langsung menggandeng lengan Kiara dan membawa gadis itu mendekat ke arah Lintang alias sahabatnya yang juga membawa seorang gadis cantik bersamanya.


"Eh Tang!" Max menyapa sahabatnya itu sambil berdiri di dekatnya.


"Wah Max, dateng juga lu ternyata! Gue pikir lu gak bakal datang karena gak ada pasangan," ejek Lintang.


"Gigi lu gak ada pasangan! Ini gue kan bawa cewek, mata lu picek apa gimana sih?!" ujar Max.


"Hehe, iya iya gue bercanda doang Max. Eh tapi, kok lu bisa bawa Kiara sih Max? Bukannya kata lu Kiara ini udah punya cowok?" tanya Lintang bingung.


"Bisa lah, gue gitu loh." jawab Max.


"Ehem ehem.." Kiara berdehem dan membuyarkan obrolan kedua pria itu.


"Eh iya Kiara cantik, lu makin cantik aja deh malam ini pake gaun itu!" ujar Lintang.


"Heh! Mata dijaga!" tegur Ina kekasih dari Lintang.


"Ahaha, dengerin tuh kata cewek lu Tang! Jangan suka genit sama cewek orang!" ujar Max.


"Yeh gausah sok ngajarin gue lu! Lu sendiri malah bawa cewek orang ke pesta ini," cibir Lintang.


"Gue mah beda dong, kan gue gak maksa. Kiara sendiri yang mau pergi sama gue, ya kan Kiara cantik?" ucap Max sembari merengkuh pinggang Kiara dan tersenyum ke arahnya.


"Iya benar, tapi bukan berarti aku duain pacar aku. Aku mau kesini bareng kamu, karena kata kamu orang yang datang ke pesta ini kan harus bawa pasangan." ucap Kiara.


"Hahaha, kasihan deh lu gak dianggap sama cewek yang lu bawa sendiri!" ledek Lintang.


"Berisik lu!" bentak Max seraya mengusap wajah sahabatnya itu.


"Udah udah, tuh si Akram udah naik ke panggung kayaknya pesta mau dimulai!" ucap Ina.


"Oh iya, benar juga!" ucap Lintang.


Mereka pun sama-sama menatap ke panggung untuk mendengarkan Akram berbicara.


Namun, Kiara masih terus berusaha menemukan Willy di sekitar sana.


"Ini kenapa aku jadi nyariin Willy terus sih?" batin Kiara.


******


Geri menemui Ayna di kamarnya, pria itu masuk begitu saja ke dalam kamar adiknya dengan wajah emosi.


Ayna yang tengah berbaring di ranjang pun terkejut, ia spontan bangkit menatap wajah kakaknya dan terduduk di pinggir ranjang.


"Kak, kalau masuk ke kamar orang tuh ketuk pintu dulu lah!" tegur Ayna.


"Lu gausah nasehatin gue deh! Gue kesini cuma mau bilang sama lu dan ngingetin lu satu hal," ucap Geri tegas.


"Ngingetin soal apa?" tanya Ayna penasaran.


"Teman lu yang namanya Randi itu, dia musuh gue. Jadi, lu jangan pernah dekat-dekat lagi sama dia apalagi sampai punya hubungan! Selamanya gue gak ridho kalau adik gue berhubungan sama musuh gue sendiri!" jelas Geri.


"Ya ampun kak! Dia emang musuh kakak, tapi kan gak ada hubungannya sama aku. Lagian apa salahnya kalau aku temenan sama dia sih kak? Jangan egois dong!" ucap Ayna.


"Lu gausah ngebantah! Kalau lu masih ngeyel pengen dekat sama tuh orang, gue bakal kurung lu di kamar seharian!" bentak Geri.


"Ih kakak gak bisa atur-atur hidup aku kayak gitu dong! Aku berhak berteman dengan siapapun yang aku mau!" ucap Ayna.


Geri mendekat dan menangkup wajah Ayna seraya menatapnya tajam.


"Lu beneran nih mau lawan gue? Emang lu berani sama gue, ha? Lu pengen tahu sisi jahat gue?" ancam Geri.


"Mmppphhh lepasin!!" Ayna berusaha memukul-mukul tangan Geri dan melepaskan wajahnya, tetapi gagal.


"Gue gak bakal lepasin, sebelum lu nurut sama gue buat jauh-jauh dari si Randi!" ujar Geri.


"Kak, apa salahnya sih emang? Lagian aku sama Randi itu gak ada hubungan apa-apa, kita cuma sebatas teman aja kok kak." ucap Ayna.


"Lu ngeyel banget ya!" kesal Geri.


Bruuukkk...


Geri menghempaskan tubuh Ayna ke atas ranjang begitu saja hingga gadis itu merintih perih.


"Akh sshh!" pekik Ayna kesakitan.


"Lu disitu aja sampai gue balik! Mulai hari ini lu gak boleh kemana-mana tanpa seizin gue, paham?!" bentak Geri.


"Kak, jangan gini dong ah! Kakak itu gak berhak atur-atur hidup aku!" ucap Ayna.


"Gue jelas berhak dong, kan gue abang lu! Kalo lu gak mau gue atur, mending lu keluar dari rumah ini sekarang juga!" bentak Geri.


Ayna terdiam memalingkan wajahnya.


"Kenapa lu diam aja ha?!" ucap Geri.


"Iya kak, aku nurut sama kakak. Yaudah, kakak pergi aja sana!" ucap Ayna.


"Oke! Gue kunciin lu dari luar, kalo mau kemana-mana telpon gue dulu!" ujar Geri.


Ayna mengangguk saja mengikuti perkataan kakaknya.


******


Para anggota geng the darks tengah berkumpul di markas mereka seperti biasa.


Tedy masih terus memandangi layar ponselnya berharap ada pesan balasan dari Ayna yang muncul.


Arif serta Leo pun geleng-geleng kepala saja melihat tingkah laku Tedy yang begitu bucin kepada adik dari musuh mereka itu.


"Heh Ted! Lu masih ngarepin tuh cewek aja? Sampai kapan sih lu mau ngebucin terus sama dia? Ayolah bro, mending lu moveon deh dan lupain dia dari hidup lu! Karena gue yakin banget, si Geri gak mungkin setuju adiknya punya hubungan sama anak the darks!" ucap Arif.


"Ah berisik lu Rif! Kalau lu temen gue, harusnya lu dukung gue dong bukan malah jatuhin gue!" ucap Tedy sewot sendiri.


"Yeh si anak dikasih taunya ngeyel amat sih! Gue bilang kayak gitu tuh karena gue perduli sama lu Ted, sebagai sahabat gue gak mau kalau lu sakit hati nantinya!" ujar Arif.


"Bener tuh Ted, lu dengerin lah apa kata Arif barusan!" sahut Leo.


"Udah lah bro, percuma lu berdua bicara sama si Tedy. Dia itu kan lagi bucin banget sama Ayna, jadi dia gak mungkin dengerin kata-kata kalian!" ujar Zafran.


"Iya sih emang, tapi gue masih mau coba aja dulu, barangkali si Tedy bisa berubah dan mau dengerin kata-kata gue." ucap Arif.


"Guys, gue bukan gak mau dengerin kalian. Tapi, kalian tahu sendiri kan gimana susahnya ngilangin rasa cinta yang tumbuh di dalam hati ini? Gue cinta banget sama Ayna bro!" ucap Tedy.


"Ah masa? Lu cinta apa lu nafsuu sama dia?" cibir Leo.


"Hahaha.." semua disana kompak tertawa heboh.


"Ah sialan lu pada!" ujar Tedy kesal.


"Yaudah, kita gausah bahas ini terus! Masih banyak yang harus kita urus demi kemajuan the darks, paham?!" ucap Randi menengahi.


"Paham Ran!" jawab mereka serentak.


Tak lama kemudian, segerombolan geng black jack muncul dan berhenti tepat di hadapan mereka.


Sontak seluruh anggota the darks yang ada disana langsung berdiri menghadap geng black jack itu.


"Sial! Anak black jack bro," ujar Arif.


"Santai!" ucap Zafran menenangkan.


Lalu, seluruh anggota black jack itu turun dari motor mereka masing-masing dan melangkah mendekat ke arah Randi serta yang lainnya.


Anak-anak the darks itu kompak terkejut saat menyadari Martin ada di depan gerombolan geng black jack.


"Hah? Itu kan si Martin, ngapain dia sama anak black jack?" ujar Jeki.


"Entahlah, mungkin dia udah gabung sama mereka." tebak Randi.


"Sialan!" umpat Jeki.


"Selamat malam! Kalian semua apa kabar?" Martin menyapa dengan ramah.


******


Willy dan Aurora tengah berdansa ria dibawah alunan musik yang merdu.


Mereka berdua saling bertatapan, Aurora mengulum senyum saat kekasihnya dengan sengaja membelai rambutnya.


"Kamu cantik sekali Aurora! Aku beruntung banget bisa dapetin wanita secantik kamu!" ucap Willy.


"Ah kamu terlalu lebay! Justru aku yang beruntung karena aku bisa taklukkan hati ketua geng yang ganas dan liar ini, udah gitu dia juga tampan lagi." balas Aurora.


"Aih, paling bisa kamu goda aku ya?" ujar Willy.


"Hahaha, kan emang benar kalau kamu tampan. Lagian apa salahnya sih aku muji kamu? Toh kamu juga sering banget bilang aku cantik, ya kan?" ucap Aurora dengan tingkah gemasnya.


"Iya sayang, kamu gak salah kok. Kamu itu gak pernah salah di mata aku. Sekarang kamu merem deh sayang!" pinta Willy.


"Hah? Buat apa?" tanya Aurora keheranan.


"Udah merem aja!" ujar Willy.


"Iya iya.." Aurora menurut dan mulai memejamkan matanya tanpa menghentikan gerakan kakinya.


Cupp!


Tiba-tiba Willy mendaratkan kecupan singkat di bibir mungil gadisnya, membuat Aurora sedikit menggeram kesal dan langsung membuka matanya.


"Ih kamu tuh ya suka banget ambil kesempatan dalam kesempitan!" ujar Aurora kesal.


"Ahaha, maaf sayang! Aku gak bisa tahan lagi, abisnya bibir kamu menggoda banget. Dia kayak minta buat dicium tau sayang," ucap Willy.


"Ish, mana ada?!" ujar Aurora.


Willy terkekeh kecil dan merapatkan tubuhnya dengan Aurora, membuat gadis itu terkejut lalu menatapnya tajam.


"Kamu apa-apaan sih? Orang-orang aja gak ada yang dansa serapat ini tau," ujar Aurora heran.


"Gapapa, aku mau peluk kamu aja." ucap Willy sensual.


Willy terus melancarkan aksinya dengan menghirup aroma tubuh Aurora, ia terpejam saat lidahnya menari-nari di leher jenjang sang kekasih.


"Emhh.." lenguh Aurora ketika Willy menggigit sedikit kulit lehernya.


"Ayolah, kapan obat itu beraksi?!" batin Willy.


Willy mengangkat kepalanya dan tersenyum memandang wajah Aurora, gadis itu hanya membalas senyuman Willy dan berusaha menetralkan nafasnya.


Tiba-tiba saja, Aurora merasa pusing pada bagian kepalanya. Ia pun reflek memegangi dahinya dan sedikit meringis.


"Awhh sshh!!" rintih Aurora.


"Kenapa sayang?" tanya Willy sok cemas.


"Gak tahu nih, aku tiba-tiba pusing." jawab Aurora.


"Mau istirahat?" tanya Willy.


Aurora mengangguk pelan, Willy pun membawa tubuh gadis itu ke pinggir dan mendudukkannya di atas kursi yang kosong.


"Yes akhirnya muncul juga efeknya!" batin Willy.


"Sayang, nih minum lagi ya!" tawar Willy.


Aurora lagi-lagi hanya mengangguk pasrah, ia meminum habis minuman itu tanpa tahu bahwa Willy sudah menaruh sesuatu disana.


Terlihat pria itu menatap ke arah Akram dan memberi simbol o melalui jarinya yang kemudian dibalas dengan kedipan oleh Akram.


"Kamu milik aku malam ini cantik!" batin Willy.


Bersambung....