
My love is sillie
Episode 101
•
Aurora tiba di rumah Willy, ia diantar oleh sang supir yang memang diminta oleh Johan untuk mengantarnya bepergian.
Namun, tanpa sadar rupanya Aurora diikuti oleh Max dari belakang. Ya Max masih belum bisa melepaskan Aurora begitu saja kepada Willy.
Aurora pun turun dari mobil, ia langsung bergerak menuju teras rumah Willy dan mengetuk pintu berharap Willy yang membukanya.
TOK TOK TOK...
"Permisi, assalamualaikum!" ucap Aurora.
Ceklek...
"Waalaikumsallam, eh nak Aurora cantik?" ucap bu Ani yang muncul dari balik pintu.
"Halo Bu!" Aurora menyapa ibu dari Willy itu dan mencium punggung tangannya sambil tersenyum.
"Duh, kamu pasti mau cari Willy ya?" tanya Bu Ani.
"Eee iya Bu, Willy nya ada kan?" ucap Aurora.
"Gak ada sayang, justru daritadi ibu juga cari-cari dia. Semalam waktu mau pergi, dia bilang katanya mau ke rumah kamu buat ajak ke pesta. Eh sampe sekarang belum balik juga," ucap Bu Ani.
"Hah? Jadi, Willy gak pulang dari semalam Bu?" tanya Aurora terkejut.
"Iya nak, ibu juga heran kenapa dia belum pulang. Memangnya kamu sama Willy gak pulang bareng sayang?" ucap Bu Ani.
"Bareng kok Bu, kita emang baru pulang tadi pagi karena semalam itu ketiduran di tempat pesta. Tapi, abis anterin aku pulang tuh aku langsung suruh Willy buat pulang kok Bu." jelas Aurora.
"Aduh! Terus, kenapa ya Willy belum pulang juga sampai sekarang? Dia kemana coba?" ucap bu Ani mulai panik.
"Eee udah coba ditelpon belum Bu?" tanya Aurora.
"Udah sayang, ibu udah telpon sama kirim pesan ke hpnya. Tapi, sampai sekarang gak dibalas juga itu pesan. Telpon ibu juga gak diangkat sama dia, makanya ibu heran nak." jawab Bu Ani.
"Yaudah, aku coba cari Willy dulu ya Bu? Kalau udah ketemu, nanti aku kabarin ibu." ucap Aurora.
"Ibu ikut ya sayang?" ucap Bu Ani.
"Jangan deh Bu! Biar aku aja yang cari Willy, ibu tetap disini aja! Siapa tahu nanti Willy pulang, ya kan?" ucap Aurora.
"Iya juga sih, yaudah deh ibu nurut sama kamu. Tolong kamu cari Willy sampai ketemu ya Aurora cantik!" ucap Bu Ani sembari mengusap wajah Aurora.
"Iya Bu, kalo gitu aku pamit ya Bu? Assalamualaikum," ucap Aurora.
"Waalaikumsallam, hati-hati sayang!" ujar Bu Ani.
Aurora mencium tangan Bu Ani, kemudian berbalik dan pergi lagi dari sana.
Ia langsung meminta sang supir untuk bergegas mengantarnya mencari Willy walau tak tahu kemana.
Namun, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di depannya tepat setelah ia pergi dari rumah bu Ani.
Sontak saja sang supir langsung mengerem secara mendadak dan hampir membuat Aurora terbentur.
"Awhh! Pak, gimana sih? Kenapa ngerem mendadak coba?" ucap Aurora menegur supirnya dengan raut kesal.
"Maaf non! Itu di depan ada yang cegat kita," ucap supir itu menunjuk ke depan.
Aurora pun mengarahkan pandangannya ke depan, tampaklah sosok pria tampan yang baru turun dari mobilnya dan tersenyum ke arahnya.
Aurora sangat mengenali sosok itu, ya dialah Max teman sekolahnya.
"Max??" ucap Aurora terkejut disertai mulut terbuka lebar.
******
📞"Oke bang! Siap siap, gue percaya sama lu bang!"
Tuuutttt tuuutttt...
Telpon terputus begitu saja setelah Ilham selesai bicara, pria itu tersenyum lebar lalu berbalik menatap teman-temannya disana.
Billy serta yang lainnya pun tampak penasaran dengan tingkah Ilham, mereka ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa Ham? Bang Martin bilang apa sama lu?" tanya Billy penasaran.
"Barusan bang Martin bilang ke gue, katanya dia udah berhasil kalahin Willy." jawab Ilham.
"Hah? Serius lu? Bang Martin gak ngibul kan?" ujar Billy amat terkejut.
"Ya enggak lah, dia juga bilang kalau dia berhasil bikin tangan Willy luka. Nanti kita coba cek secara langsung ke markas the darks, kita lihat sendiri supaya kita gak penasaran!" ucap Ilham.
"Nah, gue setuju tuh! Gue takut aja ternyata bang Martin cuma dikibulin sama Willy," ujar Billy.
"Menurut gue gak mungkin sih, tangan Willy cedera itu kan karena dipatahin sama bang Martin. Jadi, mana mungkin Willy bisa kibulin bang Martin?" ucap Choky.
"Betul juga, tapi tetap aja kita harus cek langsung kondisi si Willy biar pasti! Gue mau lihat dia menderita dengan mata kepala gue sendiri!" ucap Billy cukup antusias.
"Oke, langsung aja kita kesana sekarang! Kita mulai dari Willy di markas the darks, kalo gak ada baru kita susurin seluruh rumah sakit di Jakarta!" ucap Ilham.
"Gas!" jawab mereka serentak.
Tanpa berlama-lama lagi, Ilham dan para anggota black jack itu langsung menaiki motor mereka masing-masing untuk berangkat menuju markas the darks.
Sesampainya disana, mereka hanya memantau dari jauh untuk memastikan bahwa Willy memang benar-benar terluka.
Ilham pun menatap tajam ke arah markas the darks, dilihatnya seluruh anggota the darks tengah berkumpul disana bersama Willy yang tangannya diperban.
"Itu dia si Willy, ternyata benar guys tangannya dipatahin sama bang Martin!" ucap Ilham.
"Iya Ham, sekarang gue percaya sama kata-katanya bang Martin!" ucap Billy.
"Hahaha, rasain tuh Willy! Ternyata ilmu kebalnya gak mempan sama bang Martin," sahut Dean.
"Baguslah, jadi kita bisa sedikit lega sekarang karena punya bang Martin! Kita juga udah tahu kalau kekuatan bang Martin itu di atas Willy, dan geng black jack pasti bakal jadi lebih kuat!" ucap Ilham tersenyum smirk.
"Betul Ham! Akhirnya setelah sekian lama, kita berhasil juga temuin orang yang lebih daripada Willy!" ucap Choky.
"Berarti kita udah gak butuh Max lagi kan, Ham? Kita hempas aja dia dari black jack!" ujar Billy.
"Itu udah pasti, Max bakal gue tendang secepatnya!" jawab Ilham.
"Hahaha, mantap!" mereka tertawa bersama-sama.
******
Thoriq hendak pamit kepada para teman-temannya alias anggota geng the darks itu.
Ya saat ini Thoriq serta Mia kekasihnya memang masih berada di markas the darks seusai mengantar Willy.
"Guys, yaudah ya gue pamit dulu? Gawat kalau sampai nyokap bokap gue pada tahu gue disini, yang ada gue bisa dipindahin ke luar negeri!" ujar Thoriq pamit pada seluruh orang disana.
"Oke Riq! Tapi, kapan-kapan lu main kesini lagi ya! Jujur aja markas agak sepi dan kurang gimana gitu tanpa lu!" ucap Zafran.
"Hahaha, bisa aja lu semua ah! Udah lah gausah pada sedih-sedih gitu, santai aja! Meski gue bukan anggota the darks lagi sekarang, tapi gue bakal tetap anggap kalian semua saudara kok!" ucap Thoriq.
"Thank you Riq! Lu itu emang sahabat sejati kita!" ucap Randi berdiri menghampiri Thoriq.
Thoriq manggut-manggut saja, lalu mereka pun satu persatu ikut berdiri dan bergantian memeluk Thoriq.
"Riq, jaga diri lu baik-baik ya! Jangan sampai kejadian tadi terulang lagi!" ucap Willy.
"Siap pak ketu! Kalian semua juga harus hati-hati, geng thunder udah berkeliaran lagi!" ujar Thoriq.
"Iya Riq, itu pasti!" ucap Willy sambil tersenyum.
Mereka semua bersalaman dengan Thoriq dan juga Mia.
Setelah itu, Thoriq dan kekasihnya itu pun pergi dari sana untuk menikmati waktu berdua.
Sementara Willy dan yang lainnya kembali duduk di tempat mereka masing-masing.
"Eh Wil, gue masih bingung deh. Kok lu bisa sih kalah sama si Martin? Tangan lu juga sampe luka kayak gitu, emang dia hebat banget ya?" tanya Zafran pada Willy.
"Hahaha, gak sehebat itu. Gue kalah karena gue udah kecapekan aja, sebelumnya kan gue ngelawan geng black jack sama penjaga di rumah Martin dulu. Jadi, pas ketemu si Martin tenaga gue udah kekuras deh." jawab Willy.
"Oalah, kalo gitu lu harus minta rematch Wil biar adil! Kali ini stamina lu juga harus sama kuat sama si Martin biar seimbang!" usul Zafran.
"Nah iya tuh, gue gak terima kalau lu kalah karena stamina Wil!" sahut Jeki.
"Santai aja! Begitu tangan gue sembuh nanti, gue pasti bakal balas si Martin! Emang sih gue belum pernah bisa kalahin dia, tapi gue yakin kekuatan gue di atas dia kok!" ucap Willy.
"Cakep tuh Wil! Gue suka gaya lu yang kayak gini!" ujar Zafran memuji ketuanya.
Mereka terus berbincang disana dengan riang dan gembira.
******
Thoriq dan Mia masih berada di dalam mobil, kini Mia lah yang menyetir karena ia tak mau Thoriq memaksakan diri disaat terluka seperti ini.
Tentu saja Thoriq memanfaatkan itu untuk menjahili kekasihnya, berkali-kali ia mencolek pinggang serta dada gadis itu.
"Ih sayang, jangan colek-colek dong!" tegur Mia.
"Ahaha, emang salah ya sayang? Aku cuma mau manjain kamu tau, supaya kamu nyetirnya gak bosan. Abisnya daritadi kamu cuma diam aja, padahal ada aku disini." ujar Thoriq.
"Maaf Riq! Aku kan kalo lagi nyetir tuh harus diam dan fokus, aku takut nabrak tau! Kemampuan nyetir aku itu belum sehebat kamu, jadi aku gak berani main-main kalo lagi nyetir!" ucap Mia.
"Nah itu kamu mengakui kalau kemampuan menyetir aku hebat, terus kenapa kamu gak bolehin aku yang nyetir sekarang? Aku gabut tau kalau cuma disuruh diam kayak gini, aku pengen seenggaknya ngobrol sama kamu!" ujar Thoriq.
"Kamu kan lagi sakit sayang, yaudah kamu ngapain kek gitu biar gak gabut! Kalau mau ngobrol ya silahkan, tapi tangannya diem aja jangan colek-colek aku!" ucap Mia.
"Iya iya, aku gak colek-colek kamu lagi kok.." ucap Thoriq menurut sambil tersenyum.
"Tapi, boleh ya aku pegang dada kamu? Itu kelihatannya gede banget, jadi penasaran pengen pegang." sambungnya.
"Hah??" Mia terkejut bukan main mendengar permintaan kekasihku.
"Kenapa sayang? Aku penasaran tau, ayolah kamu bolehin aku dong buat pegang dada kamu yang besar itu!" rengek Thoriq.
"Jangan sekarang ah Riq! Nanti aja kalau kita udah sampe di rumah kamu, tapi itu juga kalo gak ada ortu kamu." ucap Mia terkekeh kecil.
"Umm, kalo gitu sekarang kita ke apartemen aku aja! Disana sepi dan gak ada orang," usul Thoriq.
"Ih gak mau ah! Nanti kamu malah berbuat lebih dari sekedar pegang lagi, aku takut khilaf!" ucap Mia menolak.
"Yaudah, makanya disini aja!" pinta Thoriq.
Tanpa menunggu persetujuan dari Mia, Thoriq langsung saja meremass gundukan milik kekasihnya itu yang sebelah kiri dengan satu tangannya.
"Akh! Ih Thoriq, aku lagi nyetir!" ujar Mia terkejut.
Tangan Mia berusaha menyingkirkan tangan Thoriq dari dadanya, tetapi gagal.
Remasan Thoriq semakin menguat, membuat gadis itu harus menahan dirinya.
"Ahh sayang, udah ah cukup!" pinta Mia.
"Kamu menikmati kan sayang? Udah ya, kita ke apartemen aku aja!" ujar Thoriq.
"Ish, aku gak akan kejebak sama kamu!" ucap Mia.
Thoriq menggeleng sambil tersenyum lebar, kemudian mendekat ke arah gadisnya dan dengan berani menelusupkan tangannya ke dalam dada gadis itu lalu memegangnya secara langsung.
"Akh!" pekik Mia.
******
Geri menghempaskan tubuh Ayna begitu saja di atas ranjangnya, membuat gadis itu sedikit meringis menahan sakit.
"Ahhss.." ringis Ayna. "Kak, kakak kenapa kasar banget sih sama aku?" tanyanya.
"Suruh siapa lu susah banget dibilanginnya?! Gue kan udah bilang, jangan dekat-dekat sama anak the darks! Tapi apa? Lu malah bandel dan masih aja deketin mereka, emang ngeyel banget sih lu jadi anak!" bentak Geri.
"Apa sih kak? Itu tadi Tedy datang sendiri kesana, aku juga gak tahu kalau dia ada disana. Kakak gak bisa salahin aku terus dong, karena itu bukan kesalahan aku!" ucap Ayna membela diri.
"Yaudah iya, gue maafin lu. Tapi, jangan pernah lu dekat-dekat sama Tedy ataupun anak-anak the darks yang lainnya itu lagi! Paham gak lu sama kata-kata gue?" ujar Geri.
"Iya kak, paham kok." jawab Ayna.
"Kalo gitu gue keluar dulu, lu disini aja dan jangan kemana-mana sampai gue balik!" ucap Geri.
"Tapi kak, jangan dikunci ya!" pinta Ayna.
"Enak aja! Jelas gue harus kunciin lu disini dong! Kalau enggak gitu, nanti lu malah kabur lagi dan ketemu sama si Tedy!" ujar Geri.
"Huh kakak nyebelin! Terus aku masa diem aja disini sih kak?" ucap Ayna.
"Ya iya Ayna sayang, lu disini aja jangan kemana-mana! Kalau lu mau apa-apa kan udah tersedia, makanan banyak tuh tadi lu beli di minimarket kan?" ucap Geri.
"Haish, iya iya aku nurut aja sama kakak! Tapi, kakak jangan lama-lama ya perginya! Aku kan bosen disini terus," ucap Ayna.
"Gak lama kok cantik, tuh kan kalau lu nurut begini kan gue jadi makin sayang sama lu." ucap Geri dengan lembut sembari mengusap wajah gadis itu.
"Halah!" cibir Ayna.
"Yaudah, gue pergi dulu ya? Ingat pesan gue tadi!" ucap Geri.
"Iya kak," ucap Ayna pelan.
Geri menundukkan kepalanya dan mengecup dua pipi Ayna secara bergantian, lalu terakhir di hidungnya yang mancung.
Cup!
Setelahnya, Geri pun melangkah keluar dari kamar itu sembari mengacak-acak rambut adiknya.
Ayna terdiam saja dengan wajah cemberut, sungguh ia membenci momen seperti ini.
Bersambung....