My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 130. Bawa kabur uang



My love is sillie


Episode 130



"Betul tuh Ham! Apalagi lo ganteng dan banyak duitnya, pasti cewek-cewek sana udah pada ngantri buat dapetin cinta lo. Buat apa lo berharap sama cewek yang salah?" sahut Choky.


"Tapi, gue cintanya sama Sasha. Gue cuma mau sama dia, gak yang lain. Kalian bantu gue kek buat dapetin cinta Sasha, nanti gue kasih kalian bonus deh," ucap Ilham.


"Bantuin kayak gimana Ham?" tanya Billy.


"Gue mau bikin Sasha jatuh cinta sama gue, kalian bisa kan bantu gue?" jawab Ilham.


"Eee ya yaudah deh, kita mau. Tapi, caranya gimana?" tanya Choky.


"Begini nih..."


"Hey!!"


Ucapan Ilham terjeda karena tiba-tiba seseorang berteriak keras ke arah mereka, semuanya pun kompak menoleh menatap asal suara dengan wajah bingung.


"Gue Rimba, ketua geng thunder. Gue kesini buat bahas perjanjian kerjasama kita kemarin, gue udah gak sabar pengen abisin si Willy!" ujar Rimba.


Ilham serta yang lainnya langsung bangkit dan berdiri tegak lalu menghampiri Rimba yang ada di depan sana sendirian.


"Kenapa lo datang sendiri? Mana anak-anak thunder yang lain?" tanya Ilham keheranan.


"Mereka ada urusan lain, lagian kalau cuma membahas rencana kerjasama kita cukup gue aja yang datang kesini. Gimana? Kalian bisa kan terima kehadiran gue disini?" jelas Rimba.


"Santai aja bro! Yuk duduk sini, kita bicara santai sambil minum-minum!" ajak Ilham.


"Oke!" Rimba mengangguk pelan lalu ikut duduk bersama yang lain.


"Dimana leader kalian? Siapa tuh namanya? Martin ya?" tanya Rimba.


"Ah iya, bang Martin belum datang. Mungkin agak siangan dia baru kesini," jawab Ilham.


"Ohh, tapi lo semua ngerti kan yang harus dibahas?" tanya Rimba.


"Santai aja!" jawab Ilham.


"Kalau begitu, kita harus gimana nih dan rencana kalian buat abisin geng the darks kayak apa? Pasti udah ada kan rencananya?" tanya Rimba.


"Eee sebenarnya kita juga belum tahu sih, kita masih nunggu bang Martin. Karena kita gak berani buat rencana tanpa sepengetahuan dia, biar gimanapun dia kan leader kita," jawab Ilham.


"Yah berarti percuma dong gue datang kesini, karena gak ada si Martin?" ujar Rimba.


"Sabar bro! Mungkin sebentar lagi bang Martin bakal datang kesini," ucap Ilham menenangkan.


"Iya bro, lo tunggu aja dulu sambil minum!" sahut Billy.


Rimba mengangguk-angguk saja, lalu meminum minuman yang sudah disediakan oleh anggota black jack untuknya.


"Gue mau tanya deh sama lo, sebenarnya masalah lo sama anak the darks tuh apa?" tanya Rimba.


"Hah? Lo nanya begitu ke gue bro? Asal lu tahu ya, black jack dan the darks itu musuh bebuyutan! Kita gak akan pernah damai sama mereka sampai kapanpun, karena Willy udah bikin kita sengsara!" jelas Ilham dengan keras.


"Oh begitu, pantas aja lo kelihatan emosi banget. Gue suka nih yang begini, anak-anak the darks emang harus dikasih pelajaran supaya mereka gak semena-mena terus sama kita!" ucap Rimba.


"Iya tuh, kita harus abisin mereka!" timpal Billy.


"Gue punya saran buat kumpulin seluruh geng di Jakarta, gue bakal minta bantuan ke mereka untuk menghabisi anak-anak the darks," usul Rimba.


"Hah??!" kaget Ilham.


******


"Sayang, aku juga bawain sandwich loh buat kamu. Gimana dong?" ucap Aurora tiba-tiba.


Willy kembali menatap gadisnya, melihat kotak bekal yang dibawa sang kekasih di tangannya itu kemudian mengambilnya.


"Mmhhh ini pasti enak sih sandwich buatan pacar aku tersayang!" ujar Willy.


"Iyalah, itu aku buat sendiri loh spesial untuk kamu. Tapi, kamu malah udah dibawain sarapan sama orang lain. Berarti sandwich aku gak bakal kemakan dong," ucap Aurora tampak bersedih.


"Hey, kamu jangan sedih gitu dong sayang! Aku makan kok sandwich kamu, rugi lah kalo gak dimakan mah!" bujuk Willy seraya menangkup wajah Aurora.


"Gak dimakan juga gapapa, kan bisa aku bawa balik," ketus Aurora.


Cup!


Willy mengecup bibir Aurora secara tiba-tiba, Sasha yang melihatnya amat terkejut tak menyangka jika Willy berani melakukannya disana.


"Jangan ngambek lah! Aku pasti makan kok sandwich kamu ini, sekarang kita masuk dulu yuk!" ucap Willy sambil tersenyum.


Entah mengapa Aurora luluh, dia pun mengiyakan ajakan Willy dan tidak jadi marah pada kekasihnya itu.


Mereka langsung melangkah masuk ke dalam, sedangkan Sasha masih terdiam di tempatnya dan menatap ke arah mereka dengan tatapan tak suka.


"Ish, Willy malah jadi mesra-mesraan sama Aurora! Padahal niat gue kesini kan karena gue pengen deket lagi sama Willy, eh tapi si perusuh malah datang!" batin Sasha.


Willy dan Aurora tak sengaja berpapasan dengan Bu Ani yang baru selesai menyiapkan sarapan.


"Loh loh, ada nak Aurora??" ujar Bu Ani.


"Ah iya Bu, assalamualaikum!" Aurora langsung menyala Bu Ani dan mencium tangan sang ibu dari kekasihnya itu.


"Dari kapan kamu kesini? Kok ibu gak dengar sih?" tanya Bu Ani.


"Barusan aja Bu, tadi yang buka pintunya itu Sasha. Terus baru deh Willy datang dan bolehin aku masuk," jelas Aurora.


"Oh iya, nak Sasha nya kemana sekarang?" tanya Bu Ani kebingungan.


"Ada di depan kok Bu," jawab Willy.


"Loh kenapa gak diajak masuk kesini juga?" tanya Bu Ani.


"Iya maaf Bu, aku lupa. Tadi kan juga Sasha udah di dalam, ngapain disuruh masuk lagi?" ujar Willy.


"Yaudah, biar ibu yang ke depan. Kamu ajak aja Aurora ke meja makan ya!" ucap Bu Ani.


"Siap Bu! Yuk sayang!" ucap Willy.


Aurora mengangguk sambil tersenyum, Willy merengkuh pinggangnya dan mulai melangkah menuju meja makan.


"Wil, emang Sasha masih sering datang ke rumah kamu ya?" tanya Aurora.


"Eee gak juga sih, baru kemarin sama hari ini. Emangnya kenapa? Kamu cemburu?" jawab Willy.


"Ah eee enggak lah ngapain?!" elak Aurora.


******


Randi terkekeh geli melihat ekspresi gemas gadisnya saat ini, perlahan ia mengusap wajah Ayna dan menyelipkan rambut gadis itu di telinga lalu mengecup bibirnya singkat.


Cup!


"Iya sayang, aku janji gak akan apa-apain kamu sebelum kita menikah!" bisik Randi sensual.


"Oke, aku percaya sama kamu! Tapi, awas aja ya kalo kamu macam-macam!" ancam Ayna.


"Mana berani aku macam-macam sama kamu sayang? Kita kan baru pacaran sehari, masa iya aku udah lancang aja?" ujar Randi.


"Terus tadi itu apa? Kamu kan sentuh-sentuh puncak aku," kesal Ayna.


"Eee iya itu tadi aku gak tahan aja sayang, abisnya punya kamu kenyal banget sih. Mending sekarang kamu cepat deh ganti baju, biar aku bisa tahan diri!" ucap Randi.


"Iya iya, kamu tunggu aja di kasur gih! Kalau kamu mau tiduran juga boleh kok," ucap Ayna.


"Oke sayang!" ucap Randi menurut.


Pria itu memajukan bibirnya, kembali mengecup singkat bibir ranum Ayna dan mengusap rambutnya.


Cup!


"Bisa aja kamu, udah ah sana jauh-jauh!" usir Ayna.


"Hahaha.." Randi tertawa kecil sembari memundurkan langkahnya menuju ranjang empuk milik Ayna.


Ayna pun mulai mengganti pakaiannya di hadapan Randi, terlihat gadis itu malu-malu saat melakukannya, sedangkan Randi sendiri justru mengamati dengan serius.


Setelah selesai, kini keduanya kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Tak terjadi apapun di dalam kamar itu, karena Randi juga tidak berani melakukan hal buruk pada Ayna.


"Sayang, kamu gak marah kan karena tadi aku masuk kamar kamu gitu aja?" tanya Randi.


"Enggak kok sayang, buat apa aku marah? Lagian mana bisa sih aku marah sama kamu?" jawab Ayna.


"Makasih ya sayang! Berarti kapan-kapan boleh dong aku masuk kamar kamu lagi?" ujar Randi.


"Ish dasar mesum!" cibir Ayna.


"Hahaha, bercanda kok sayang. Tapi, kalau emang dibolehin sih gapapa. Aku ngerasa nyaman ada di kamar kamu kayak tadi," ucap Randi.


"Boleh boleh aja, asalkan gak ada kak Geri mah. Udah ah jangan bahas itu terus, yuk kita jalan ke luar!" ujar Ayna.


"Kamu mau pergi kemana emang sayang?" tanya Randi seraya mendekap tubuh gadisnya.


"Umm, kemana aja asalkan sama kamu deh." jawab Ayna sembari menaruh wajahnya di dada sang kekasih.


Randi tersenyum lebar, mencium pipi Ayna serta mengusap rambutnya.


Mereka pergi dari rumah itu, Randi sengaja membawa Ayna ke cafe nya lebih dulu untuk sekedar sarapan.


"Kita kesini aja ya sayang?" ujar Randi.


"Oke!" Ayna mengangguk singkat.


******


Disaat Max hendak masuk ke mobil, tiba-tiba saja rombongan geng motor muncul mengelilinginya dan meneriakinya.


"WOI SINI LO ANJENG!!"


Kiara yang melihat serta mendengar itu tampak ketakutan, dia menoleh ke arah Martin bermaksud meminta bantuannya.


"Tuan, bagaimana ini? Orang-orang itu siapa?" tanya Kiara khawatir.


"Saya gak tahu, mungkin mereka musuh Max. Sudahlah, kita kan tidak ada urusannya dengan mereka! Jadi, kamu gak perlu takut!" jawab Martin.


"Tapi tuan, kalau mereka melukai Max gimana? Kita kan ada disini juga, masa kita mau diam aja?" tanya Kiara.


"Tenang ya! Kita pantau aja dulu, siapa tahu mereka cuma mau ngobrol sama si Max," jawab Martin menenangkan gadisnya.


"I-i-iya tuan," ucap Kiara mengangguk singkat.


Sementara itu, Max terlihat heran dengan kedatangan gerombolan geng motor di depannya itu. Ia menatap mereka satu persatu, namun tetap tak ada yang ia kenali.


"Kalian siapa? Kenapa kalian hadang gue? Apa masalah kalian sama gue?" tanya Max.


"Gausah banyak omong lo! Serang dia!!" teriak si ketua geng.


"Hiyaaa...!!"


Sontak Kiara tampak histeris ketika geng motor tersebut menyerang Max secara membabi buta, ia sangat khawatir terjadi sesuatu pada pria itu.


"Tuan, bagaimana ini? Max diserang sama mereka, kita harus bantu dia!" ujar Kiara cemas.


"Hey hey, tenang Kiara sayang! Saya akan turun temui mereka dan bubarkan mereka, kamu diam aja disini jangan kemana-mana ya!" ujar Martin.


"Iya tuan, cepetan tuan turun dan bantu Max ya! Aku takut dia terluka parah!" ucap Kiara.


Martin mengangguk pelan, dia turun dari mobil untuk membantu Max yang sedang berkelahi dengan geng motor disana.


Max tampak kewalahan, hampir saja dia terkena pukulan jika Martin tak datang.


"Hey hentikan!!" teriaknya.


Sontak mereka menghentikan pertarungan itu, wajah Max sudah berdarah sedikit akibat pukulan dari orang-orang itu.


"Bang, tolongin gue bang! Mereka gak jelas banget tiba-tiba serang gue, padahal gue gak kenal dan gak ngerasa punya urusan sama mereka. Ketemu juga baru kali ini," ucap Max ngos-ngosan.


"Heh! Lo gausah ikut campur, ini masalah kita sama tuh orang!" bentak si ketua geng.


"Masalah apaan? Gue aja gak kenal sama kalian, jangan ngarang deh!" elak Max.


"Bener-bener lu ya, udah bawa kabur uang kita terus sekarang pura-pura gak kenal segala!" geram si ketua geng.


"Hah??!" Max terkejut bukan main, dia benar-benar bingung setelah dituduh seperti itu.


"Bawa kabur uang kalian? Apa benar begitu Max?" tanya Martin menatap ke arah Max.


Max terdiam, dia tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.


******


Mia mengangguk saja dan menuruti semua perkataan Thoriq.


Lalu, mereka mulai saling melu-mat satu sama lain dengan panas dan intens. Tangan Thoriq juga bergerak pelan menyentuh bukit kembar Mia.


Sangking asyiknya berciuman, mereka sampai tak sadar kalau kuda yang mereka tunggangi sudah bergerak melewati batas.


Akhirnya mereka menyudahi momen panas itu, seketika Mia dan Thoriq panik menyadari mereka tersesat.


"Hah? Kita dimana sayang??!" ujar Mia panik.


Thoriq mengedarkan pandangannya ke sekeliling hutan itu, dalam sekejap saja mereka sudah masuk kesana tanpa disadari.


"Duh, gimana ini sayang? Aku gak mau tersesat disini cuma sama kamu!" rengek Mia.


"Tenang cantik! Selama ada aku di sebelah kamu, aku pasti bakal jagain kamu!" ucap Thoriq.


"Iya iya, tapi sekarang gimana ini caranya kita buat keluar dari hutan ini? Aku gak mau ya lama-lama ada disini, aku pengen keluar!" ujar Mia.


"Sabar ya sayang! Kita cari jalan keluar di sekitar sini, aku janji sama kamu kalau kita pasti bisa keluar dari tempat ini!" ucap Thoriq.


"Aku percaya sama kamu, tolong kamu bawa aku keluar ya dari sini!" ucap Mia.


"Iya, sekarang coba deh kamu cek hp kamu! Siapa tahu kita bisa minta bantuan dari orang pemilik kuda," suruh Thoriq.


"Iya sayang," Mia menurut dan membuka ponselnya.


"Hah??!" gadis itu terkejut hebat mendapati ponselnya tidak memiliki sinyal sama sekali.


"Ke-kenapa sayang? Ada masalah??" tanya Thoriq penasaran.


"Sayang, ini gak ada sinyal di hp aku. Gimana caranya kita minta bantuan coba?" jawab Mia.


"Waduh, sial banget dong kita! Kenapa mesti gak ada sinyal sih?" ujar Thoriq.


"Ya mana aku tahu! Mungkin karena kita lagi ada di hutan kayak gini, jadi susah sinyal. Coba aja kamu cek hp kamu barangkali ada!" ujar Mia.


"Aku gak bawa handphone sayang, tadi hp nya aku tinggal di tempat kuda. Aku pikir lebih baik aku gak bawa hp, supaya fokus sama kamu. Eh ternyata malah kayak gini," ucap Thoriq.


"Yah terus gimana dong sayang?" tanya Mia.


"Kita turun dulu yuk sayang! Supaya kudanya juga bisa istirahat," jawab Thoriq.


Mia mengangguk setuju, lalu mereka pun turun dari kuda dan duduk bersandar di bawah pohon besar setelah mengikat kuda itu.


"Sabar ya sayang!" ucap Thoriq lirih.


Bersambung....