
My love is sillie
Episode 18
•
Martin melepas tangan Kiara dan terdiam sejenak lalu memalingkan pandangannya dari Kiara.
"Maaf kalau tuan tidak senang dengan kata-kata saya, saya cuman-" ucapan Kiara terpotong.
"Cuman pengen tinggal deket Willy?" tanya Martin.
"Enggak tuan, saya cuma mau bisnis tuan lancar lagi. Soalnya kemarin saya denger pas tuan lagi telponan, katanya bisnis tuan lagi ada masalah kan?" kata Kiara.
"Iya bener, tapi itu udah diurus kok sama anak buah aku. Jadi kamu gak usah terlalu mikirin itu! Kita akan tetap tinggal disini, kan kamu sendiri yang bilang mau tinggal deket makam ibu kamu." kata Martin.
"Iya sih tuan, tapi saya gak mau ngeliat tuan pusing..!!" kata Kiara.
"Aku gapapa kok, kamu gausah khawatir ya! Pasti semuanya bakal beres..!!" kata Martin.
"Yaudah tuan, aku nurut aja sama tuan." kata Kiara.
"Aku seneng kamu peduli sama aku dan bisnis aku, tapi aku gak mau kamu ketemu lagi sama Willy! Kamu itu cuma boleh sama aku..!!" batin Martin.
Martin pun mengajak Kiara masuk ke kamarnya dan menyuruh nya langsung tidur.
*******
Eki (anak buah pak Dion) bersama dua sahabatnya mulai melakukan pencarian terhadap orang yang sudah memukuli Ilham. Mereka mendatangi lokasi kejadian itu, disana ada Thoriq dan beberapa anggota the darks.
Mereka pun menghampiri nya dan bertanya pada Thoriq.
"Apa kalian tau kejadian tawuran antar geng motor disini?" tanya Eki.
"Emangnya kenapa? Anda ini siapa?" Thoriq justru berbalik bertanya pada Eki.
"Kita ini ditugaskan untuk mencari siapa orang yang udah bikin den Ilham koma! Kalian pasti tau kan kejadian itu." jawab Eki.
"Iya kita tau, terus kenapa?" tanya Thoriq.
"Kasih tau ke kita, siapa orang itu..!!" kata Eki.
"Willy." kata Thoriq.
"Dimana dia sekarang..??" tanya Eki.
"Penjara." jawab Thoriq.
"Penjara mana?" tanya Eki.
"Cari tau aja sendiri..!!" jawab Thoriq.
"Kurang ajar, berani kamu sama saya?" kata Eki.
"Berani lah kenapa harus gak berani..??!!" kata Thoriq.
Eki langsung memukul wajah Thoriq, anggota the darks yang lain pun membalas menyerang Eki beserta 2 temannya. Akhirnya, mereka terlibat perkelahian.
*******
Willy sudah sampai di rumah bersama kedua orang tuanya dan Sasha.
"Om, Tante, Wil. Aku izin pamit yaa, Abang aku udah bawel nih nanyain aku terus." kata Sasha.
"Iya Sas, makasih ya lu udah bantuin gua." kata Willy.
"Sama-sama Wil." kata Sasha.
"Iya nak Sasha, Tante juga terimakasih sama kamu. Karena kamu udah mau bantu Tante, kalo gak ada kamu pasti kita kerepotan." kata Bu Ani.
"Tante bisa aja, aku kan cuma bantu nganterin aja." kata Sasha.
"Justru itu nak Sasha, kalo gak ada yang nganterin, kita bakal kerepotan nyari kendaraan. Kan tau sendiri bapak nya Willy ini pulang ke rumah jalan kaki. Gak bawa mobil kek motor kek." kata Bu Ani.
"Yee si ibu, kan bapak udah bilang kalo bisnis bapak itu gagal. Gimana caranya mau bawa mobil, motor aja gak bisa beli." kata pak Gunawan.
"Yaudah Tante, om, aku langsung pulang ya. Assalamualaikum.." kata Sasha.
"Waalaikumsallam.." jawab Willy, Bu Ani dan Pak Gunawan serentak.
Sasha menoleh karena teriakan Willy itu, lalu Willy menghampiri Sasha dan memegang tangan nya.
"Maaf ya aku gak bisa nepatin janji aku buat ajak kamu jalan-jalan hari ini." kata Willy.
"Gapapa Wil, kan kamu lagi ada masalah tadi." kata Sasha.
"Makasih ya, kamu emang temen aku yang paling baik..!!" kata Willy.
"Temen? Aku maunya lebih dari itu Wil." batin Sasha.
"Iya Wil sama-sama." kata Sasha.
"Kamu hati-hati ya,,!! Jangan ngebut-ngebut bawa mobil nya! Inget, ini jalan raya bukan sirkuit balap..!!" kata Willy.
"Hahaha.. Apa sih kamu Wil, lagian aku itu mantan pembalap motor. Bukan mobil!" kata Sasha.
"Ya sama aja kan suka ngebut." kata Willy.
"Beda dong, kalo bawa mobil mah aku kalem. Tadi kamu liat sendiri kan." kata Sasha.
"Itu kan karena ada orang tua aku aja. Coba kalo gak ada." kata Willy.
"Enggak kok, emang aku gitu kalo bawa mobil." kata Sasha.
"Iya iya deh aku percaya, tapi tetep harus hati-hati..!!" kata Willy.
"Iya Wil, makasih." kata Sasha.
Sasha pun masuk kedalam mobil dan melambaikan tangan ke Willy lalu pergi dari rumah nya.
******
Orang tua Randi datang ke kantor polisi, mereka ingin membebaskan Randi dan membawanya pulang.
Randi terkejut melihat orang tua nya yang begitu khawatir kepadanya, mereka memeluk nya sambil menangis dan meminta maaf karena baru datang.
"Mah, pah, udah gak usah nangis! Malu noh diliat sama polisi." kata Randi.
"Tapi mamah bener-bener ngerasa jadi orang tua yang gagal buat kamu. Mamah terlalu sibuk dengan urusan mamah sendiri sampai mamah lupa dengan kamu sayang." kata Bu Yasmin.
"Iya Randi, papah juga ngerasa begitu. Papah jarang sekali luangin waktu buat kamu, papah berfikir kamu akan bahagia dengan fasilitas yang papah berikan. Tapi ternyata papah salah, harusnya papah berikan waktu buat kamu." kata pak Darma.
"Pah, mah, aku seneng banget kalian sekarang udah ngerti apa yang aku mau. Aku bener-bener bahagia banget papah sama mamah mau datang kesini. Tapi, kenapa kalian bisa tiba-tiba berubah begini?" tanya Randi.
"Tadi pas mamah sama papah mau berangkat kerja, teman kamu datang ke rumah. Dia ngasih tau kami semuanya. Mamah langsung terketuk dan datang kesini buat kamu." kata Bu Yasmin.
"Teman aku? Siapa namanya mah?" tanya Randi.
"Kalo gak salah, tadi dia bilang namanya itu Willy." jawab Bu Yasmin.
"Willy mah? Serius?" tanya Randi.
"Iya bener Ran, dia bilang sendiri kok tadi." jawab pak Darma.
"Tapi kan Willy baru keluar beberapa menit yang lalu. Gak mungkin banget dia langsung ke rumah mamah sama papah. Siapa ya yang udah nemuin mamah sama papah? Apa Farrel?" batin Randi.
"Kamu kenapa Randi?" tanya pak Darma.
"Eh, enggak kok pah." jawab Randi.
"Yasudah, ayo kita pulang! Mamah mau luangin waktu buat kamu hari ini..!!" kata Bu Yasmin.
"Terus kerjaan mamah gimana..??" tanya Randi.
"Itu biar dihandle sama asisten mamah. Yang terpenting buat mamah sekarang adalah kamu! Mamah gak mau kamu sedih lagi..!!" jawab Bu Yasmin.
"Iya bener, papah juga gak mau kamu anggap kita ini gak sayang sama kamu..!!" kata pak Darma.
"Makasih ya pah, mah." kata Randi tersenyum.
"Ya Allah terimakasih engkau telah mengabulkan doa hamba, hamba sangat senang kedua orang tua hamba sudah berubah. Dan siapa pun orang yang kau utus itu, aku juga sangat berterima kasih padanya." batin Randi.
Randi bersama kedua orang tuanya pun pergi dari kantor polisi dan pulang ke rumah mereka.
Bersambung...