My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 72. With Aurora again



My love is sillie


Episode 72.



"Ehem ehem.." Willy berdehem pelan.


Asep langsung berdiri dan terkejut hebat saat melihat Willy disana, Willy pun tersenyum smirk mendekati Asep dengan tatapan tipisnya.


"Kenapa? Kok kaget gitu sih lihat gue? Kenal ya sama gue?" tanya Willy.


"Mau apa kamu kesini? Memangnya kamu tahu siapa saya?" ujar Asep gemetar.


"Oh jelas, gue tahu banget. Lu yang namanya kang Asep kan? Lu otak dibalik pengeroyokan anggota the darks belakangan ini, iya kan?" ujar Willy.


Asep terdiam memalingkan wajahnya, ia nampak cemas saat Willy mengatakan itu.


"Dengar ya Asep, semua anak buah lu udah berhasil gue tangkap. Mereka sekarang gak bisa bantu lu lagi, jadi sekarang lu jelasin ke gue apa maksud lu lakuin ini semua!" ucap Willy.


"Saya cuma melakukan permintaan pelanggan," ucap Asep.


"Siapa pelanggan itu?" tanya Willy.


"Saya tidak bisa memberitahukan itu kepada kamu, karena itu privasi. Sebaiknya kamu pergi dan jangan temui saya lagi!" ucap Asep.


"Gue bakal pergi, tapi setelah lu kasih tahu ke gue siapa pelanggan lu itu." ujar Willy.


"Kamu gak bisa paksa saya, cepat pergi sebelum saya mulai emosi!" ucap Asep tegas.


"Oh ya? Bagaimana kalau gue bayar lu dua kali lipat dari yang dibayar sama tuh orang, gue cuma minta lu kasih tahu dia siapa." ucap Willy.


"Mana uangnya?" tanya Asep mulai tergiur.


Willy pun tersenyum tipis, lalu mengambil segepok uang dari balik jaketnya yang sudah ia siapkan sebelumnya.


"Ini," ucap Willy.


Asep dengan bersemangat langsung hendak mengambil uang tersebut, namun ditahan oleh Willy.


"Eits, lu kasih tahu dulu siapa yang udah nyuruh lu dan janji ke gue kalau lu gak akan perintahin anak buah lu buat nyerang geng the darks lagi!" ucap Willy.


"Oke, saya janji!" ucap Asep.


"Kalo gitu, siapa yang udah nyuruh lu?" tanya Willy.


"Dia tuan Martin, dia itu salah satu pengusaha terkenal di kota ini. Saya gak tahu banyak tentang dia, tapi yang pasti dia kelihatannya benci banget sama kamu." jawab Asep.


Willy terdiam mendengar jawaban Asep, mulai ada rasa emosi yang membara di hatinya.


"Benar dugaan gue selama ini, Martin yang udah bayar orang buat bantai anak-anak the darks. Kurang ajar tuh orang!" batin Willy.


"Heh! Mana uangnya?" ujar Asep.


"Oke, ini uang buat lu. Tapi, lu harus cabut dari sini dan jangan pernah lagi perintahkan anak buah lu buat serang geng the darks!" pinta Willy.


"Siap!" ucap Asep.


"Satu lagi, lu juga harus menjauh dari Martin! Gue gak mau dengar kabar ada anggota geng gue yang diserang lagi sama orang," ucap Willy.


"Siap!" ucap Asep manggut-manggut.


"Yaudah, sana pergi!" ujar Willy.


Asep tersenyum lebar saat uang tersebut sudah berada di tangannya.


"Siap, terimakasih!" ucap Asep.


Asep pun melangkah pergi dari sana dengan perasaan gembira, ia mencium amplop coklat itu dan meninggalkan Willy disana.


Tak lama kemudian, Randi beserta anggota the darks yang lain pun bergerak menghampiri Willy dan tampak keheranan.


"Wil, itu orangnya kenapa lu lepasin? Dia kan yang udah suruh orang-orang tadi buat serang kita, harusnya lu kasih pelajaran dulu dong ke dia!" ujar Tedy kebingungan.


"Iya Wil, kenapa lu lepasin dia? Apa lu udah dapat info lain lagi dari dia?" sahut Randi.


"Tenang guys! Dia itu juga cuma orang bayaran, jadi yang patut kita kasih pelajaran tuh orang yang udah bayar dia." ucap Willy.


"Hah? Emangnya siapa yang bayar dia, Wil?" tanya Randi penasaran.


"Martin, si mafia sok jago itu. Kita harus cari dia, dan abisin dia!" jawab Willy.


"Yah elah, tuh orang kenapa sih ngelakuin ini semua ke kita?!" ujar Tedy.


Willy menggeleng pelan, kemudian memerintahkan teman-temannya untuk segera pergi menuju markas black jack.


******


Setelah selesai menghajar Ilham serta teman-temannya di markas, kini Willy pulang ke rumah dengan kondisi wajah penuh lebam.


Namun, siapa yang sangka jika Willy harus berpapasan dengan Aurora yang juga datang ke rumahnya saat ini.


Sontak Willy langsung tersenyum lebar melihat gadisnya muncul disana, ia turun dari motor lalu bergegas mendekati sang kekasih.


"Eh kesayangan aku ternyata dateng kesini, kangen ya sama aku sayang?" ujar Willy.


Aurora melepas helmnya, kemudian menatap heran ke wajah Willy dengan perasaan kesal plus malu-malu.


"Apaan sih?!" ujar Aurora.


"Hahaha, udah gausah ngelak sayang! Aku tau kamu kangen sama aku, makanya kamu datang kesini. Baru juga satu hari gak ketemu, udah kangen aja kamu sayang." ucap Willy.


"Cukup ya Willy! Kamu—" ucapan Aurora terjeda saat ia melihat wajah Willy yang lebam.


Aurora yang panik, langsung turun dari motornya dan memegangi wajah Willy yang terluka akibat pukulan anggota black jack tadi.


"Loh, ini muka kamu kenapa lagi Wil? Kok lebam begini? Kamu abis berantem lagi ya? Sama siapa?" tanya Aurora cemas.


"Tenang aja sayang! Ini cuma luka kecil kok, gak ada yang perlu kamu khawatirkan." ucap Willy.


"Luka kecil kalau dibiarin juga lama-lama bisa infeksi, aku bantu obatin ya di dalam?" ucap Aurora sangat mencemaskan Willy.


"Boleh deh kalo kamu yang obatin mah, sekalian aku bisa curi-curi kesempatan kalau berduaan sama kamu di dalam." ucap Willy sambil nyengir.


"Haish kamu ini!" cibir Aurora.


"Kamu gemesin deh kalo lagi panik kayak gini, bikin aku pengen cubit pipi kamu sambil cium-cium." ujar Willy.


Aurora langsung memalingkan wajahnya ke samping akibat rasa malunya.


Willy semakin gemas melihatnya, ia pun mulai mencubit kedua pipi gadis itu bersamaan.


"Akh sakit tau! Kamu kalo nyubit itu kira-kira dong, jangan kekencangan juga! Nanti kalo pipi aku melar gimana?" protes Aurora.


"Gapapa sayang, kan jadi tambah gemesin. Aku bisa cubit-cubit terus deh pipi kamu yang kenyal ini," ucap Willy sambil tersenyum.


"Udah udah Wil, ayo kita masuk dan obatin luka kamu itu! Aku takut kalau gak diobati nanti malah tambah sakit tau, terus muka kamu juga bisa infeksi." kata Aurora.


"Kamu kayaknya udah cocok deh jadi istri aku, kita nikah aja yuk besok!" ucap Willy.


"Hah? Kamu dipukul sama siapa sih Wil, kok bisa tambah ngaco gini ngomongnya?" ujar Aurora.


"Yeh ini bukan gara-gara dipukul, emang aku itu pengen nikah sama kamu sayang." kata Willy.


"Ya tapi gak besok juga dong, emang kamu pikir nikah segampang itu apa!" ucap Aurora.


"Berarti kamu mau dong nikah sama aku?" tanya Willy yang terus menggoda gadis itu.


"Jangan bicarain itu dulu! Aku kan udah bilang, luka kamu harus segera diobatin!" ucap Aurora.


"Halah pake ngeles segala! Tinggal jawab aja mau gitu, apa susahnya sih?!" ujar Willy.


"Iya iya, aku mau. Puas kan?" ucap Aurora.


Aurora menggeleng cepat, berusaha menjauh walau tidak bisa karena Willy langsung mendekap tubuhnya erat sembari mengecup pipi dan kening Aurora berkali-kali.


******


Singkat cerita, Aurora dan Willy sudah berada di dalam rumah. Mereka duduk berdampingan pada sofa yang tersedia sembari mengobati luka Willy.


Bu Ani pun turut datang menghampiri mereka, membawakan minuman untuk Aurora dan juga Willy.


"Sayang, ini minumannya ya.." ucap Bu Ani.


"Ah iya Bu, makasih!" ucap Aurora tersenyum tipis.


"Makasih Bu! Bapak masih di luar ya, Bu?" tanya Willy pada ibunya.


"Iya Willy, paling bentar lagi bapakmu itu pulang. Emangnya kenapa kamu tanyain bapak kamu? Mau minta duit sama dia?" ucap Bu Ani.


"Ya enggak lah Bu, formalitas aja." ujar Willy.


"Hadeh, terus itu muka kamu kenapa lagi? Kok lebam-lebam begitu, abis berantem sama siapa sih?" tanya Bu Ani cemas.


"Gapapa Bu, biasalah namanya juga anak laki." jawab Willy sambil tersenyum.


"Biasa biasa apanya? Kamu gak lihat itu nak Aurora sampai cemas begitu sama kamu? Kamu kasihan dong sama nak Aurora, dia udah dua kali obatin luka kamu begini loh!" ucap Bu Ani.


"Loh, justru aku malah suka kalau diobatin kayak gini sama Aurora. Makanya aku pengen luka terus aja biar bisa terus kayak gini," ujar Willy.


"Hus Willy jangan ngomong gitu!" tegur Aurora.


"Tau kamu Willy, kalo ngomong itu difilter dulu dong!" sahut Bu Ani.


"Iya iya, aku minta maaf Bu!" ucap Willy.


"Yaudah, kalo gitu ibu mau ke kamar aja ya? Maaf ya nak Aurora, ibu gak bisa bantu kamu! Ini kepala ibu rasanya pusing banget daritadi," ujar Bu Ani.


"Iya Bu, gapapa kok. Aku juga bisa ngobatin Willy sendirian kok, ibu istirahat aja di kamar!" ucap Aurora tersenyum.


"Makasih ya nak Aurora, kamu udah mau perduli sama anak ibu yang nakal ini!" ucap Bu Ani.


"Sama-sama Bu," ucap Aurora singkat.


"Yah elah Bu, ngapain sih pake sebut aku anak nakal segala? Aku ini anak berbakti loh, jarang yang kayak aku gini. Ibu itu harusnya gak boleh bicara kayak gitu tentang aku!" ujar Willy.


"Halah, udah kamu gausah protes! Ibu mau ke kamar dulu, kalian jangan macam-macam loh disini!" ucap Bu Ani.


"Mana mungkin kita macam-macam sih Bu? Eh tapi gapapa deh, biar nanti digrebek warga terus kita langsung dinikahin deh." ujar Willy.


"Ih!" Aurora tampak geram dan langsung mencubit pinggang Willy dengan kuat.


"Akh awhh sakit! Duh sayang, kamu kok cubit aku kayak gitu sih? Sakit tau sayang!" rintih Willy sembari mengusap pinggangnya.


"Suruh siapa nyebelin gitu?" ujar Aurora.


"Tau kamu Willy, digrebek kok seneng!" ujar Bu Ani geleng-geleng kepala.


"Hehe.." Willy tersenyum menunjukkan gigi-giginya.


Setelah ibunya pergi ke kamar, Willy menggeser posisi duduknya mendekati Aurora dan meraih satu tangan gadis itu.


"Ih kamu ngapain sih Wil? Aku lagi mau obatin kamu loh ini, jangan gerak dulu!" ujar Aurora.


"Iya, kamu obatin aja terus! Aku cuma pengen pegang tangan kamu kok, soalnya halus banget berasa lagi megang kain sutra." ucap Willy terus menempelkan telapak tangan Aurora di wajahnya.


Aurora menggeleng pelan, namun ia tak bisa melakukan perlawanan dan membiarkan saja Willy berbuat sesuka hatinya.


"Diam ya Wil, kamu harus diobatin!" ucap Aurora.


"Iya sayang.." ucap Willy menurut.


******


Malam harinya, Willy membawa Aurora pergi ke tempat makan malam di dekat rumahnya.


Mereka saat ini berada di tukang nasi goreng pinggir jalan langganan Willy.


"Ini nasi goreng kesukaan aku, rasanya mantap loh kamu wajib coba!" ucap Willy.


"Eee tapi, ini tempat jualannya kok disini sih? Kenapa gak buka toko aja kayak restoran gitu? Kan rasanya enak, pasti bakal banyak yang beli." tanya Aurora.


"Ya emang mungkin modalnya cuma cukup buat jualan di tempat ini, lagipun juga disini bersih kok gak ada sampah atau kotoran. Tuh lihat, yang makan aja banyak kan." ujar Willy.


"Iya sih, aku jadi penasaran pengen coba makan nasi goreng yang kata kamu enak. Seenak apa sih emang nasi gorengnya?" ujar Aurora.


"Jelas lebih enak dibanding nasi goreng yang ada di restoran-restoran itu, tunggu aja nanti kamu juga bisa rasain sendiri!" ucap Willy.


"Iya deh," ucap Aurora singkat.


Willy pun berbalik menghadap ke penjual dan memesan nasi goreng serta minuman untuknya dan juga Aurora.


"Bang, nasgornya dua ya sama teh hangat juga dua." ucap Willy.


"Siap Willy! Asik nih udah ada gandengan yang baru, kemarin-kemarin masih sendirian terus kalo makan disini." ujar si penjual.


"Iya dong bang, yakali seorang Willy jomblo lama-lama?" ucap Willy sembari merangkul pundak Aurora dan tersenyum lebar.


"Hahaha, asiap!" ujar si penjual.


Penjual itu pun mulai membuatkan pesanan Willy tadi, sedangkan Willy masih terus disana menatap Aurora dan menggoda gadis itu.


"Ternyata benar-benar langganan ya, sampai udah akrab gitu sama penjualnya." ujar Aurora.


"Iyalah sayang, menambah teman itu kan bagus." ucap Willy sambil mencolek dagu Aurora.


"Eh ya, kamu dateng ke rumah aku emangnya gak dimarahin sama papa kamu? Nanti kalau kamu dicariin lagi gimana? Apalagi sama si Martin itu, dia kan gak suka banget sama aku." tanya Willy.


"Tenang aja! Papa udah kasih izin kok buat aku berteman sama kamu lagi, kalau urusan kak Martin aku mah gak perduli." ucap Aurora.


"Kok berteman sih?" tanya Willy.


"Hah? Terus apa kalau bukan berteman?" ucap Aurora tak mengerti.


"Ya pacaran dong sayang, masa cuma berteman?" ujar Willy.


"Iya iya, nanti aku ganti jadi pacaran." ujar Aurora.


"Nah gitu dong, makin cakep deh kamu!" ucap Willy menggoda gadisnya.


Tak lama kemudian, dua piring nasi goreng telah siap dan dibawa ke atas meja oleh si penjual.


"Ini dia Willy, nasi gorengnya sudah jadi. Silahkan neng, cobain nasi goreng saya!" ujar penjual itu.


"Oke bang, thank you!" ucap Willy tersenyum.


"Makasih bang!" ucap Aurora.


"Sama-sama, selamat menikmati!" ucap penjual itu.


Willy dan Aurora pun mulai sama-sama menikmati nasi goreng milik mereka masing-masing.


"Gimana sayang? Enak kan?" tanya Willy.


"Iya, ini enak banget sih!" jawab Aurora.


"Tuh kan, apa aku bilang?" ujar Willy.


"Iya iya.." Aurora tersenyum dan lanjut menikmati nasi gorengnya.


"Oh ya, besok kamu anterin aku sekolah kan?" tanya Aurora pada Willy.


"Uhuk uhuk.." Willy tersedak dan membuat Aurora panik saat itu juga.


Bersambung....