
My love is sillie
Episode 125
•
Hari telah berganti, pagi ini Sasha kembali datang ke rumah Willy berniat membawakan sarapan untuk pria itu dan juga keluarganya.
Ia turun dari motor, berjalan pelan menuju pintu depan rumah Willy dan mulai mengetuknya perlahan sembari mengucap salam.
TOK TOK TOK...
"Permisi, assalamualaikum!" ucap Sasha.
"Waalaikumsallam!" terdengar suara balasan dari dalam, Sasha pun berhenti mengetuk pintu.
Tap
Tap
Tap
Ceklek...
Pintu terbuka, Bu Ani kini muncul di hadapannya dan tersenyum senang begitu melihat Sasha lah yang datang kesana.
"Waalaikumsallam, eh nak Sasha? Kamu datang lagi ternyata?" ujar Bu Ani.
"Ahaha, iya nih tante. Kayaknya aku udah nyaman banget deh sama keluarga ini," ucap Sasha seraya mencium tangan Bu Ani.
"Duh bisa aja, yaudah masuk yuk nak Sasha!" ucap Bu Ani mengajak gadis itu masuk.
"Iya tante, terimakasih!" ucap Sasha singkat sembari melangkahkan kakinya ke dalam.
Sasha tampak celingak-celinguk mencari Willy, dia khawatir Willy sudah berangkat lebih dulu karena sedari tadi tak ada tanda-tanda dari pria itu.
"Eee tante, Willy nya kemana ya? Dia kok gak kelihatan daritadi?" tanya Sasha.
"Ohh, Willy masih di kamar. Bentar lagi juga dia keluar, udah yuk kamu duduk dulu!" jawab bu Ani.
"Ah iya tante, makasih!" ucap Sasha kemudian duduk di sofa dan meletakkan rantang bawaannya di meja.
"Loh, ini apa nak Sasha?" tanya Bu Ani menunjuk ke rantang tersebut.
"Umm, aku sengaja bawain sarapan buat tante sama om Gunawan, Willy juga sih." jawab Sasha.
"Oalah, aduh kamu pake repot-repot segala sih! Ya tapi untung juga sih, soalnya ibu lagu gak masak. Terimakasih ya nak Sasha!" ucap Bu Ani.
"Iya tante, diterima ya! Ini masakan mama saya, sengaja dilebihin biar bisa dibawa kesini," ucap Sasha.
"Wah terimakasih banyak loh nak Sasha!" ucap Bu Ani.
"Sama-sama tante," ucap Sasha singkat.
"Eee sebentar ya nak Sasha, tante mau ke belakang dulu tuang makanannya ke piring. Nak Sasha belum sarapan kan? Kita sekalian aja ya sarapan bareng?" ucap Bu Ani.
"Saya udah sarapan kok tante, lagian ini kan saya bawain buat tante sekeluarga, masa saya malah ikutan makan juga?" ujar Sasha.
"Loh gapapa nak Sasha, kita makan bareng-bareng biar makan asyik. Nanti Willy juga ada kok, dia tante suruh sarapan di rumah tiap pagi biar gak pingsan di sekolah," ucap Bu Ani.
"Iya deh tante, aku ngikut aja." Sasha akhirnya mau meskipun ia sebenarnya sudah kenyang.
"Yaudah, sebentar ya nak Sasha? Tante ke belakang dulu siapin sarapannya, nak Sasha tunggu disini aja nanti Willy juga datang kok!" ucap Bu Ani bangkit dari sofa.
"I-i-iya tante, aku nunggu disini. Tapi, lebih enak sih aku bantuin tante siapin sarapan. Aku gak enak lah cuma diam aja disini tante," ucap Sasha.
"Eh jangan! Kamu itu kan tamu, masa kamu mau ikut siapin sarapan? Udah kamu disini aja nak Sasha!" ujar Bu Ani.
"Iya deh tante," ucap Sasha menurut.
TOK TOK TOK...
"Assalamualaikum!" Bu Ani dan Sasha kompak terkejut mendengar suara wanita yang muncul di luar sana.
"Siapa ya?" ujar Bu Ani.
"Biar saya aja yang buka tante, kan tante katanya mau ke dapur siapin makanan?" ucap Sasha.
"Bener nih gapapa?" tanya Bu Ani.
"Iya tante, kan cuma buka pintu aja," jawab Sasha.
"Yaudah deh, tante ke belakang dulu ya sayang?" ucap Bu Ani.
Sasha mengangguk, kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Dengan perlahan ia membukanya sembari membalas salam dari wanita di luar sana.
Ceklek...
"Waalaikumsallam," Sasha terperangah kaget melihat kehadiran Aurora disana, kedua wanita itu sama-sama terdiam tak mampu berbicara.
"Haish, ngapain sih nih cewek dateng kesini?" batin Sasha.
******
Disisi lain, Ilham dan para anggota black jack tengah berkumpul di markas mereka membahas mengenai serangan ke kubu the darks.
Saat ini mereka memang sudah memiliki kekuatan yang melimpah, dengan kerjasama antara black jack dan thunder membuat kekuatan mereka bertambah pesat untuk bisa mengalahkan the darks.
"Gimana nih Ham? Kapan kita mau serang markas the darks? Gue rasanya udah gak sabar buat abisin mereka semua, terus gue bikin mereka tunduk di bawah kita!" geram Billy.
"Iya Ham, gue juga udah gak sabar pengen lihat si Willy nangis-nangis!" sahut Choky.
"Sabar lah guys! Kita tunggu perintah dari bang Martin, kan dia sekarang leader kita. Kalau kalian pengen bergerak sendiri, siap-siap aja kalian dibantai sama bang Martin!" ujar Ilham.
"Duh, bang Martin juga kemana sih? Kok dari kemarin dia gak datang temuin kita ya? Apa dia lupa sama rencana kita ini?" tanya Geri.
"Ya gak mungkin lah bang Martin lupa, siapa tahu bang Martin lagi ada urusan lain. Udah lah guys, kalian sabar aja dulu!" jawab Ilham.
"Eh ya, lo tumben banget dateng ke markas pagi-pagi gini. Biasanya lo juga langsung berangkat sekolah," ujar Billy keheranan.
"Emangnya kenapa? Gak boleh gue kesini sebelum sekolah? Gue kan pengen ngobrol-ngobrol dulu sama kalian," ucap Ilham.
"Yah elah sensi banget sih lo! Gue kan cuma nanya, soalnya gak biasanya lo datang kesini sebelum berangkat sekolah," ujar Billy.
"Ya ya, gue lagi suntuk soalnya," jawab Ilham.
"Hah? Suntuk kenapa tuh?" tanya Billy.
"Gue gak nyangka, ternyata mantan leader black jack juga bisa suntuk," celetuk Geri.
"Hahaha," sahut yang lainnya tertawa kompak.
"Diam lo pada! Gue tuh lagi suntuk, kalian malah pada ketawa bukannya hibur gue!" kesal Ilham.
"Hehe, sorry Ham! Emangnya lo suntuk kenapa sih?" tanya Choky penasaran.
"Cewek incaran gue, dia masih aja gak mau terima gue buat jadi pacarnya. Dia malah terus berharap sama si Willy yang udah punya pacar, kan gue jadi kesel bro. Apa sih emang hebat Willy sampai Sasha tergila-gila sama dia?!" jelas Ilham.
"Oalah, jadi ini masalah cewek toh? Udah lah Ham, lo gausah kejar-kejar lagi tuh cewek! Mending lo fokus aja sama kita, black jack!" usul Billy.
"Meski begitu, gue juga tetap butuh yang namanya cewek bro buat tempat curhat. Lagian hidup itu butuh pendamping, mau sampai kapan gue sendiri terus kayak gini?" ujar Ilham.
"Iya juga sih, tapi cewek itu kan gak cuma si Sasha. Gue yakin, di luaran sana banyak cewek yang mau sama lo kok!" ucap Billy.
"Betul tuh Ham! Apalagi lo ganteng dan banyak duitnya, pasti cewek-cewek sana udah pada ngantri buat dapetin cinta lo. Buat apa lo berharap sama cewek yang salah?" sahut Choky.
"Tapi, gue cintanya sama Sasha. Gue cuma mau sama dia, gak yang lain. Kalian bantu gue kek buat dapetin cinta Sasha, nanti gue kasih kalian bonus deh," ucap Ilham.
"Bantuin kayak gimana Ham?" tanya Billy.
"Gue mau bikin Sasha jatuh cinta sama gue, kalian bisa kan bantu gue?" jawab Ilham.
"Begini nih..."
"Hey!!"
******
Randi kini tiba di rumah Ayna, ia mendapat kabar bahwa saat ini Geri sedang tidak ada di rumah dan itu membuat Randi semangat untuk segera datang kesana.
Sontak Randi langsung turun dari motor, menekan bel seraya memanggil sang kekasih agar segera keluar. Ia tampak tak sabar ingin bertemu dengan Ayna di pagi hari yang cerah ini.
Tak lama kemudian, Ayna keluar dengan mengenakan kaos putih dan celana pendek yang membuat Randi salah fokus. Matanya justru menyorot ke pegunungan milik Ayna.
"Hai Randi sayang! Kamu kok cepet banget sih nyampenya? Ngebut ya?" ujar Ayna.
"Iya dong, aku kan gak sabar pengen ketemu kamu. Jadi begitu kamu kasih kabar kalau Geri gak ada di rumah, aku langsung gas kesini," ujar Randi.
"Ih ya ampun segitunya! Harusnya kamu pelan-pelan aja sayang, jangan ngebut! Nanti kalau kamu jatuh gimana?" ucap Ayna.
"Iya, maafin aku ya sayang!" ucap Randi.
"Yaudah, yuk masuk!" Ayna membukakan pintu gerbang dan memberi jalan bagi Randi untuk masuk ke rumahnya.
Tentu Randi langsung bergerak, ia memasuki halaman rumah kekasihnya dan menaruh motornya di dekat mobil Ayna.
"Kita ke dalam aja, ngobrol sambil minum-minum!" ajak Ayna.
"Oke!" Randi mengangguk setuju, memang itulah yang dia inginkan saat ini.
Mereka pun melangkah bersama-sama.
Di dalam, Ayna meminta Randi duduk di sofa berdampingan dengannya. Namun, lagi-lagi tatapan Randi mengarah pada belahan yang menggugah selera itu.
"Sayang, kamu seksi banget deh. Aku gak bisa fokus ngobrol nih jadinya," ucap Randi.
"Hah? Ohh, maaf ya sayang! Kalo gitu aku ganti baju dulu ya di kamar?" ucap Ayna.
"Terserah kamu deh, aku ngikut aja," ucap Randi.
"Eee kamu tunggu disini sebentar gapapa kan? Nanti aku balik lagi kok gak lama, cuma ganti baju sama celana biar kamu bisa nyaman ngobrolnya sama aku," ucap Ayna.
"Oke sayang! Tapi, ngomong-ngomong ini minumannya mana ya?" ujar Randi.
"Oh iya, sebentar ya aku tanyain ke bibik dulu?" ucap Ayna seraya bangkit dari sofa.
"Eh gausah," ucap Randi menahan Ayna.
"Loh kenapa? Bukannya kamu haus dan tadi nanyain minuman?" tanya Ayna heran.
"Iya sih, tapi itu bibik kamu udah kesini kok," jawab Randi menunjuk ke seorang wanita dewasa yang tengah berjalan mendekatinya.
"Hah? Eh iya, yaudah berarti aku bisa ganti baju sekarang kan?" ucap Ayna.
"Ya ya, aku tunggu disini ya cantik?" ucap Randi.
Ayna mengangguk pelan, lalu mulai melangkah menuju kamarnya meninggalkan Randi yang sedang meminum minumannya.
Setibanya di kamar, Ayna langsung membuka kaosnya dan memilih baju ganti dari dalam lemari. Ia sejujurnya bingung harus memakai baju apa di depan Randi.
"Duh, aku pake baju apa ya? Mau yang lengan panjang tapi gak nyaman, kalo lengan pendek juga takut Randi marah lagi," gumam Ayna.
Disaat ia sedang asyik memilih pakaian, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang dan menciumi bahunya yang terbuka. Sontak Ayna terkejut lalu spontan menoleh ke belakang.
"Hah Randi?? Ka-kamu ngapain sih? Aku kan minta kamu tunggu di bawah," ujar Ayna panik.
"Aku penasaran aja, kamu kok lama banget sih ganti bajunya? Makanya aku susul kamu kesini, eh ternyata kamu belum ganti baju," ucap Randi.
Deg!
******
Max yang hendak menuju sekolah, terpaksa berhenti sejenak ke pinggir karena mendadak motornya tidak bisa dinyalakan.
Ia pun tampak panik, turun dari motor dan berusaha memeriksa kondisi motornya walau ia sendiri tak mengerti.
"Hadeh, ada-ada aja nih motor. Jam segini bengkel mana coba yang buka?" gerutu Max.
Ia terus celingak-celinguk mencari barangkali ada bengkel yang bisa ia datangi, namun di sekitar sana tak terdapat bengkel sama sekali.
"Huft, terpaksa deh gue dorong. Semoga aja ada bengkel deh di depan sana!" ucap Max.
Akhirnya pria itu terpaksa mendorong motornya perlahan karena tak ada pilihan lain, ia tak mungkin berdiam diri disana sebab waktu terus berjalan dan bisa saja ia terlambat datang ke sekolah.
Saat tengah asyik mendorong motor, tanpa sengaja Max justru bertemu dengan Martin serta Kiara yang kebetulan juga hendak menuju sekolah seperti Max.
"Max, kamu ngapain dorong-dorong motor begitu?" tanya Kiara pada Max.
"Eh Kiara? Ini motor aku gak tahu kenapa tiba-tiba gak bisa dinyalain, kayaknya ada sesuatu yang rusak deh. Makanya aku dorong nih motor buat dibawa ke bengkel, tapi aku juga gak tahu bengkel paling dekat itu dimana," jelas Max.
"Oh gitu, kasihan banget sih kamu! Sebentar deh, kayaknya tuan Martin punya kenalan orang bengkel deh, mungkin dia bisa bantu kamu," ucap Kiara.
"Boleh tuh Kiara, ya supaya aku juga gak perlu capek dorong-dorong nih motor," ujar Max.
"Iya, sebentar ya aku bicara dulu sama tuan Martin?" ucap Kiara.
Max mengangguk, Kiara pun beralih menatap Martin yang kebetulan ada di sampingnya. Ia berbicara mengenai kemungkinan Martin membantu Max.
"Tuan, aku—"
"Iya saya sudah dengar, tadi kan kamu bicara di sebelah saya. Ini saya mau hubungi montir kenalan saya buat bantu Max," potong Martin.
"Terimakasih ya tuan! Ternyata tuan itu baik banget sih, aku jadi makin sayang deh!" ucap Kiara.
"Kalau saya gak baik, kamu gak mungkin ada disini. Bisa jadi kamu lagi jalan kaki menuju sekolah, karena saya gak mau antar kamu," ujar Martin.
"Ahaha, tuan bisa aja! Jadi gimana nih, montirnya bisa kesini apa enggak?" ucap Kiara.
"Eee bisa kok, kamu bilang aja sama si Max buat tunggu karena sebentar lagi montirnya bakal datang!" jawab Martin.
"Iya tuan," ucap Kiara singkat.
Lalu, Kiara pun kembali menatap Max untuk menyampaikan apa yang dikatakan Martin tadi.
"Max," panggil Kiara.
"Ah iya Kiara? Kenapa?" tanya Max.
"Montirnya udah dalam perjalanan, kamu tunggu aja sebentar ya!" jawab Kiara.
"Oh gitu, iya iya makasih ya Kiara! Sampaikan terimakasih aku juga ke Martin ya!" ujar Max.
"Iya Max," ucap Kiara singkat.
"Sama-sama Max, sekarang kamu naik aja ke mobil saya dan kita berangkat bareng ke sekolah!" sahut Martin.
"Hah? Yang bener nih Martin?" ujar Max terkejut.
"Iya, biar kamu gak telat juga. Sudah ayo masuk, motor kamu pasti akan kok disini!" ajak Martin.
"Iya Martin, makasih ya!" ucap Max tersenyum senang.
"Sama-sama," balas Martin singkat.
Disaat Max hendak masuk ke mobil, tiba-tiba saja rombongan geng motor muncul mengelilinginya dan meneriakinya.
"WOI SINI LO ANJENG!!"
Bersambung....