My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 34. Langsung akrab



My love is sillie


Episode 34.



"Willy!" ucap pak Gunawan serta Bu Ani bersamaan memanggil nama putra mereka.


Ya saat ini keduanya telah berada di dalam ruangan tempat Willy dirawat, mereka melangkah ke dekat Willy sambil tersenyum dan penuh kekhawatiran.


Willy memandang tak percaya ke arah kedua orangtuanya itu, ia bingung bagaimana bisa mereka sampai disana.


"Bapak? Ibu? Gimana caranya bapak sama ibu bisa ada disini?" tanya Willy heran.


Bu Ani tersenyum mendekati putranya, ia sedikit membungkuk menatap lebih dekat ke wajah Willy dan mengusap wajahnya perlahan.


"Nak, ibu benar-benar gak tega lihat kondisi kamu yang seperti ini sayang! Kenapa ini bisa terjadi sama kamu, nak?" ucap Bu Ani bersedih.


"Iya Wil, bilang ke bapak siapa yang udah bikin kamu sampai jadi begini! Biar bapak cari dia dan kasih pelajaran buat dia! Gini-gini bapak itu dulunya mantan ketua geng juga," ucap pak Gunawan.


"Pak, Bu, udah ya bapak sama ibu gak perlu cemas begitu sama Willy! Aku baik-baik aja kok pak, Bu! Jadi, gak ada yang perlu dibalas kan atau ditangisi sekarang!" ucap Willy.


"Tapi Wil, kenapa kamu gak mau kasih kabar ke bapak atau ibu kalau kamu masuk ke rumah sakit ha? Asal kamu tahu ya, bapak sama ibu ini sampai kelimpungan loh cari-cari kamu! Kita khawatir banget sama kamu Willy! Harusnya kamu gak boleh lah kayak gitu sama kita!" tegas Gunawan.


"Pak, udah lah jangan marah-marah dulu sama Willy! Dia itu kan lagi sakit, kita bahas nanti aja ya!" pinta Bu Ani.


"Bu, tapi bapak harus kasih tahu dulu ke Willy supaya kejadian kayak gini gak terulang lagi!" ucap pak Gunawan tegas.


"Dengar ya Willy, kalau ada sesuatu yang terjadi sama kamu, itu hal paling pertama yang harus kamu lakukan adalah kasih kabar ke orang tua kamu! Jadi, kami gak khawatir dan bingung harus cari kamu kemana!" sambungnya.


"Untung aja tadi pagi Aziz sama Ratih datang ke rumah dan kasih tahu ke kita, coba kalau enggak? Mungkin sampai sekarang juga kita belum bisa temuin kamu!" tegas pak Gunawan.


Willy pun tahu siapa yang sudah memberitahu kedua orangtuanya itu mengenai lokasinya.


"Ohh jadi mereka yang udah kasih tahu bapak sama ibu kalau gue ada disini. Sialan, emang gak bisa diajak kerjasama tuh mereka!" batin Willy.


Sementara pak Gunawan sendiri menutup mulutnya, ia baru menyadari kalau dirinya sudah mengatakan hal yang seharusnya tak ia katakan.


"Pak, jadi Aziz sama Ratih yang kasih tahu ke bapak sama ibu?" tanya Willy.


"Iya Wil. Sudahlah kita tidak usah bahas soal itu! Memangnya kenapa kalau mereka kasih tahu ke bapak sama ibu? Justru itu bagus loh, jadinya kita bisa tahu kalau kamu dirawat disini." ucap pak Gunawan.


"Iya pak, aku gak masalah kok. Lagian bapak sama ibu udah terlanjur datang kesini juga, makasih ya bapak sama ibu udah perduli sama aku! Padahal aku udah banyak bikin ibu dan bapak sakit hati," ucap Willy merasa tidak enak.


"Kamu gak pernah begitu kok sayang! Ibu justru bangga sama kamu! Bagi ibu, kamu itu anak yang baik dan ibu sayang sekali sama kamu! Jangan pernah begitu lagi ya sayang! Ibu khawatir banget loh sama kamu, jangan sembunyi atau pergi-pergi lagi dari ibu!" ucap Bu Ani menangis.


"Iya Bu, aku janji gak akan bikin ibu sedih lagi kok! Cukup ya Bu, jangan nangis lagi! Kalau ibu nangis, aku jadi ikutan sedih tau." kata Willy.


Bu Ani mengangguk pelan, menyeka air matanya sembari terus mengusap rambut Willy yang sedang terbaring di dekatnya.


"Bu, pak, aku minta maaf ya sama ibu dan bapak! Aku pergi karena aku gak mau bikin ibu sama bapak sedih setelah tahu aku dikeluarkan dari sekolah," ucap Willy terisak.


"Gapapa sayang, kamu gak perlu minta maaf soal itu! Ibu sama bapak gak salahin kamu kok kalau kamu dikeluarkan dari sekolah, sudah ya kamu tidak perlu bersedih lagi!" ucap Bu Ani.


"Iya Willy, bapak nanti bisa carikan sekolah lain untuk kamu. Jadi, kamu tidak perlu sedih dan menyesal seperti itu!" ucap pak Gunawan.


"Makasih ya pak, Bu!" ucap Willy singkat.


Mereka bertiga akhirnya berpelukan disana dengan Willy yang masih terbaring lemas.


"Ibu sayang banget sama kamu!" ucap Bu Ani.


"Bapak juga," sahut pak Gunawan.


******


Malam harinya, Kiara datang ke ruang kerja Martin membawakan kopi untuk lelaki tersebut sembari menemani Martin yang sedang bekerja.


Ceklek...


"Tuan, aku bawain kopi buat tuan. Aku tahu tuan pasti capek banget, makanya aku buatin kopi ini. Tuan minum dulu ya biar enakan!" ucap Kiara sembari meletakkan cangkir kopi di atas meja.


"Makasih Kiara! Kamu memang pengertian banget sama saya!" ucap Martin tersenyum senang.


"Iya tuan, sama-sama. Sekarang boleh gak aku ikut temenin tuan disini?" tanya Kiara.


"Jelas boleh dong! Saya jadi makin semangat kerjanya kalau ada kamu disini, yuk sini duduk di pangkuan saya!" jawab Martin.


"Eee kenapa harus di pangkuan tuan? Saya duduk disini aja ya?" ucap Kiara.


"Jangan disitu dong kejauhan! Udah paling bener kamu di pangkuan saya sini, gak ada penolakan ya sayang!" ujar Martin.


"I-i-iya tuan.." ucap Kiara menurut.


Lalu, Kiara pun melangkah ke dekat Martin dan perlahan mulai duduk di atas paha pria tersebut.


Kiara terus menunduk saat Martin mulai mengendus lehernya, kedua tangan gadis itu juga ia satukan ke bawah seakan menutupi daerah miliknya.


"Sayang, jadi gimana keputusan kamu? Apa kamu sudah bisa melupakan Willy dan mau buka hati kamu buat saya?" tanya Martin seraya menyingkirkan rambut bagian belakang Kiara.


"Eee aku belum tahu, tuan. Aku masih butuh waktu buat berpikir. Lagipun, melupakan seseorang yang pernah singgah di hati kita itu gak mudah tuan." jawab Kiara.


"Baiklah, saya akan setia menunggu jawaban kamu. Kalau begitu, sekarang kamu jangan sedih lagi ya! Ada saya disini yang akan selalu temani kamu apapun keadaannya," ucap Martin.


Kiara mengangguk pelan, Martin menarik dagunya lalu memberi kecupan lembut di bibirnya.


Cupp!


"You are so sweet, baby!" ujarnya.


Kiara hanya membalas dengan sebuah senyuman tipis, entah mengapa perlakuan manis Martin tidak sama sekali menyentuh hatinya, hingga kini Kiara masih belum bisa melupakan Willy.


"Kenapa aku selalu sulit buat lupain kamu Willy? Padahal kamu sendiri udah melupakan aku dan memiliki wanita lain," gumam Kiara dalam hati.


******


Keesokan paginya, Aurora kembali datang ke rumah sakit menjenguk Willy dan membawakan sarapan untuknya seperti kemarin.


Aurora tiba disana mengenakan seragam sekolah yang sudah lengkap, karena memang ia seharusnya pergi ke sekolah pagi ini.


Gadis itu disambut dengan senyuman manis di wajah Thoriq yang kebetulan sudah berada disana jauh sebelum Aurora datang.


"Morning guys!" ucap Aurora menyapa mereka.


"Morning cantik!" balas anak-anak the darks itu.


"Ahaha, Willy kondisinya gimana? Dia udah membaik kan?" tanya Aurora.


"Lu tenang aja Rora! Willy semakin membaik kok, apalagi sejak orangtuanya datang kesini kemarin." jawab Thoriq.


"Oh ya? Bagus dong! Terus, sekarang orang tua Willy masih ada di dalam?" tanya Aurora.


"Ada kok, lu mau ketemu sama mereka?" ucap Thoriq.


"Wah! Serius lu? Kebetulan banget kita lagi lapar nih, daritadi mau cari sarapan tapi pada malas-malasan nih." ujar Thoriq.


"Iya tuh, pas banget lu datang terus bawain sarapan buat kita!" sahut Randi.


"Yaudah, ini kalian bagi-bagi aja ya!" ucap Aurora memerintahkan supirnya memberikan makanan yang sudah ia bawa itu kepada anak-anak the darks.


"Siap Rora! Thanks banget ya!" ujar Thoriq.


Aurora tersenyum kemudian berkata, "Oke! Kalo gitu gue masuk dulu ya?"


"Silahkan Rora!" ucap Thoriq memberi jalan.


Aurora pun melangkah masuk ke dalam ruangan itu dan menemui Willy disana, ia juga ingin berkenalan dengan kedua orang tua Willy yang turut hadir disana.


***


"Permisi!" ucap Aurora pelan sembari mendekat ke arah Willy dan kedua orangtuanya.


Sontak pak Gunawan serta Bu Ani menoleh ke asal suara, mereka terheran-heran ketika melihat seorang wanita masuk kesana.


"Loh, kamu siapa ya?" tanya Bu Ani bingung.


"Eee halo tante! Halo om! Kenalin aku Aurora, aku teman Willy." jawab Aurora mengenalkan diri kepada pak Gunawan dan Bu Ani.


"Aurora? Kamu teman Willy dimana ya? Sekolah?" tanya Bu Ani kebingungan.


"Eee aku..."


"Aurora ini yang udah tolong aku Bu, pak. Dia bayarin biaya rumah sakit ini, makanya aku bisa dapat perawatan dan sekarang aku udah membaik." potong Willy.


"Apa? Jadi, kamu yang sudah tolong anak saya?" ujar Bu Ani terkejut.


"Eee iya tante, aku emang mau bantu Willy aja." jawab Aurora gugup.


Bu Ani mulai berkaca-kaca menatap ke arah Aurora, dan tanpa aba-aba lebih dulu Bu Ani langsung saja memeluk Aurora dengan erat.


"Terimakasih ya nak! Kamu sudah bantu Willy dengan bayarin biaya rumah sakit ini, tante benar-benar senang karena Willy bisa bertemu dengan wanita sebaik kamu nak!" ucap Bu Ani.


"Sama-sama tante," ucap Aurora.


Willy dan pak Gunawan ikut tersenyum, entah mengapa Willy merasa senang melihat ibunya tampak akrab dengan Aurora.


Setelahnya, bu Ani melepas pelukannya dan beralih memegang dua lengan gadis itu masih sambil menangis terisak.


"Kamu memang anak yang baik! Makasih banyak ya Aurora!" ucap Bu Ani tersenyum.


"Tante gak perlu bilang makasih terus sama aku! Aku kan ikhlas bantu Willy, lagian sebagai sesama manusia kan kita udah harus saling tolong menolong." kata Aurora.


"Makasih ya nak Aurora! Om senang bisa kenal sama kamu, selain cantik kamu juga baik hati!" ucap pak Gunawan.


"Aamiin om!" ucap Aurora tersenyum.


Pak Gunawan bergerak maju mendekati Aurora sembari membuka tangannya.


"Eh eh, bapak mau ngapain toh?" ujar Bu Ani.


"Kok ngapain sih Bu? Tadi kan ibu peluk nak Aurora tuh, nah sekarang bapak juga mau peluk dia dong. Apa salah?" jawab pak Gunawan dengan santai.


"Oh gitu, dasar sableng!" ujar Bu Ani menampar wajah pak Gunawan dengan pelan.


Aurora dan Willy sama-sama terkekeh melihat kelakuan dua orang tua itu.


"Eh ya, aku juga bawain sarapan buat kamu loh Wil. Katanya kamu suka sama masakan aku, jadi aku bawain lagi deh." kata Aurora.


"Wah enak tuh kayaknya! Buat Willy doang nih?" ujar pak Gunawan.


"Eee iya maaf om! Soalnya aku gak tahu kalau disini ada om sama tante juga. Tapi, ini aku buatnya banyak kok. Mungkin cukup buat om sama tante juga," ucap Aurora.


"Gapapa sayang, kata-kata bapak mah gausah didengar!" ucap Bu Ani.


"Ahaha, gapapa Bu." ucap Aurora tertawa kecil.


Setelahnya, Aurora pun menyiapkan makanan untuk Willy serta kedua orangtuanya disana.


Mereka sangat akrab seperti sebuah keluarga, padahal pak Gunawan dan Bu Ani baru saja bertemu dan kenal dengan Aurora beberapa menit lalu.


***


Di luar, Sasha heran melihat anak-anak the darks sedang menikmati sarapan bersama di depan ruangan Willy dirawat.


Sasha pun menghampiri mereka semua disana, gadis itu hanya datang seorang diri karena ia tidak suka mengajak Aziz apalagi Ratih.


"Riq, ini pada makan besar apa gimana?" tanya Sasha keheranan.


"Eh lu Sya. Ini tadi si Aurora datang bawain makanan buat kita semua, kalo lu mau juga masih ada tuh sisanya." jawab Thoriq.


"Ohh, gausah gue udah sarapan tadi. Gue mau ketemu aja sama Willy, dia udah bangun kan?" ujar Sasha.


"Udah kok, tapi di dalam udah ada tiga orang. Jadi, lu tunggu dulu ya Sya!" ucap Thoriq.


"Loh tiga orang? Siapa aja?" tanya Sasha terkejut.


"Eee ada om Gunawan, Bu Ani terus Aurora juga di dalam sana." jawab Thoriq sedikit gugup.


"Apa? Aurora? Jadi, dia di dalam sama nyokap bokap Willy?" tanya Sasha kaget.


"Iya Sya, emang kenapa ya? Masalah?" ujar Thoriq.


Sasha hanya terdiam memalingkan wajahnya, tampak raut tak suka terpampang disana karena ia memang cemburu ketika Aurora sudah akrab dengan kedua orang tua Willy.


"Ish, ngapain sih tuh cewek pagi-pagi gini udah dateng aja kesini? Dasar kegatelan!" batin Sasha.


Randi yang sedang duduk di kursi, berdiri kemudian menghampiri Sasha dan meminta gadis itu duduk disana.


"Sya, lu duduk aja!" ucap Randi.


"Eh udah gausah Ran! Lu kan lagi makan, jadi lu yang lebih berhak buat duduk. Gue mah berdiri aja disini gapapa kok," ucap Sasha tersenyum.


"Jangan lah! Gue kan bisa lesehan kayak yang lain, udah lu duduk jangan berdiri aja nanti kecapekan loh!" ucap Randi.


"Oke deh, thanks ya!" ucap Sasha.


Randi tersenyum tipis, lalu beralih duduk di lantai seperti teman-temannya yang lain.


Sementara Sasha kini duduk di kursi yang sebelumnya diduduki oleh Randi.


"Cie, lu suka ya sama si Sasha?" bisik Thoriq.


"Apaan sih!" elak Randi.


Bersambung....