
My love is sillie
Episode 121
•
Ceklek...
"Hai Willy, morning!" Willy terkejut hebat mendengar dan melihat seorang wanita berdiri di depannya sambil tersenyum manis.
"Sasha? Ngapain lu dateng ke rumah gue? Perasaan gue gak ngundang lu deh," tanya Willy.
"Emang enggak, tapi gue mau ketemu sama lu sekalian kasih ini buat lu," jawab Sasha sembari menyodorkan tas tenteng ke arah Willy.
"Eh apa ini?" tanya Willy penasaran.
"Ini gue sengaja buatin kue, semoga lu suka ya! Soalnya ini percobaan pertama gue," jelas Sasha.
"Hah? Wah enak nih, thanks banget ya!" ucap Willy langsung mengambil tentengan itu.
"Sama-sama, dimakan ya!" ucap Sasha.
"Pasti. Masa iya gue gak makan pemberian lu? Kan jarang-jarang lu bikinin gue kue kayak gini," ucap Willy sambil tersenyum tipis.
"Hehe, iya nih Wil, gak tahu kenapa gue tiba-tiba pengen belajar bikin kue. Ya semoga aja lu suka sama rasanya ya!" ucap Sasha.
Willy mengangguk lalu berkata, "Yaudah, masuk yuk! Ibu gue kebetulan juga pengen ketemu sama lu katanya."
"Oh ya? Gue juga kangen sih sama nyokap lu, udah lama kan kita gak ketemu," ucap Sasha.
"Nah pas tuh, ayo masuk!" Willy mengajak Sasha masuk ke rumahnya, ia menyingkir memberi jalan bagi gadis itu untuk bisa melangkah.
"Oke!" Sasha menurut saja, dia memang ingin kembali dekat dengan keluarga Willy, meskipun tak bisa memiliki lelaki itu.
"Eh, nak Sasha??" Bu Ani amat kaget melihat kehadiran Sasha disana, ia dan pak Gunawan sampai langsung berdiri menyambut gadis tersebut.
"Assalamualaikum, pagi om, tante!" sapa Sasha dengan ramah, ia mencium tangan kedua orang tua Willy itu sambil mengembangkan senyumnya.
"Waalaikumsallam sayang, duh tante benar-benar gak nyangka ternyata kamu yang datang! Baru aja tadi tante minta Willy buat ajak kamu lagi kesini, eh kamu malah udah datang duluan," ucap Bu Ani.
"Ahaha, iya nih tante. Kebetulan aku lagi belajar buat kue gitu, makanya aku datang kesini buat kasih kue buatan aku. Siapa tahu tante, om sama Willy suka sama kue itu," jelas Sasha.
"Oh ya? Wah pasti enak kalau bikinan kamu mah sayang!" ujar Bu Ani.
"Ah ibu bisa aja," ujar Sasha malu-malu.
"Yaudah, duduk yuk sayang! Sini sekalian sarapan bareng kita juga!" ucap Bu Ani.
"I-i-iya tante, terimakasih!" ucap Sasha.
Sasha pun duduk di samping Willy, suasana seperti ini yang memang dirindukan olehnya dan ingin terus terjadi.
"Huh senang banget rasanya!" batin Sasha.
Bu Ani terlihat membuka bungkus kue yang diberikan Sasha, lalu menyajikannya di atas meja untuk segera dinikmati.
"Nah, ini dia kuenya. Yuk kita makan sama-sama!" ucap Bu Ani.
"Waduh, dari bentuk sama baunya aja udah kelihatan enak. Pasti rasanya juga gak kalah enak nih, jadi gak sabar mau coba!" ujar pak Gunawan.
"Yaudah om, dicoba aja kuenya! Kalau emang enak, aku ikut senang deh dengarnya," ucap Bu Ani.
"Iya iya.." pak Gunawan mengambil sepotong kue tersebut dan melahapnya. "Mmhhh benar kan ternyata, enak banget rasanya!" sambungnya.
Willy langsung ikut mencobanya, dan benar saja memang kue itu sangat enak.
******
Disaat Mia hendak pergi, Geri dan Choky kompak mencekal lengan gadis itu sehingga Mia tidak bisa kemana-mana.
"Eits, mau kemana cantik??" ujar Choky.
"Ish lepasin gue! Tolong!!" teriak Mia.
Thoriq yang tengah duduk santai, tak sengaja mendengar suara teriakan wanitanya.
"Mia??!" Thoriq langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju asal suara dengan wajah panik, dia benar-benar khawatir saat ini.
Dilihat lah Mia yang saat ini tengah berkutat dengan dua orang pria di depan sana, membuat Thoriq menggeram penuh emosi.
"Sial!" umpatnya pelan.
Tanpa basa-basi lagi, Thoriq bergegas mendekati mereka agar bisa menolong kekasihnya.
"Ih lepasin, kalian jangan kurang ajar ya sama gue!" Mia terus berontak minta dilepaskan.
"Hahaha, gak akan sayang!" ujar Geri.
Bughh...
Mereka terkejut saat tiba-tiba satu tendangan mengarah tepat ke punggung Geri hingga pria itu terhuyung dan hampir jatuh.
"Akh! Sial! Siapa itu?!" umpat Geri.
Choky dan Mia menoleh ke si penendang, mereka melihat sosok Thoriq berdiri disana.
"Lo lagi ternyata," ucap Choky.
"Heh! Jangan pernah kalian berani ganggu cewek gue! Atau kalian akan gue abisin satu persatu!" geram Thoriq.
"Ohh, jadi gadis manis yang seksi ini cewek lu? Waw kalo gitu boleh dong kita berdua cicipi dia?!" ucap Choky sengaja menggoda Thoriq.
"Kurang ajar! Mati lu sialan!" Thoriq yang kesal akhirnya maju menyerang Choky.
Pertarungan mereka terjadi disana, banyak orang yang menyaksikan itu tapi hanya bisa diam tak berani melakukan apapun.
Mia juga terlihat panik, dia sangat khawatir melihat kekasihnya tengah bertarung saat ini. Ditambah Geri juga bangkit dan ikut menyerang Thoriq.
"Thoriq, hati-hati!" teriak Mia.
Pukulan demi pukulan terus dilayangkan Thoriq ke arah Geri dan juga Choky, sampai akhirnya mereka berdua berhasil dilumpuhkan.
Bruuukkk...
Thoriq menatap tajam ke tubuh Geri dan Choky yang sedang tersungkur di jalan, dia hendak memukul mereka kembali karena sangking emosinya.
Namun, Mia menahannya dengan cepat. "Cukup Thoriq! Hentikan!!" teriak gadis itu.
Akhirnya Thoriq mengurungkan niatnya, dia menoleh menatap gadisnya yang kini mendekat ke arahnya.
"Sayang, udah ya jangan diterusin! Aku gak mau kamu jadi pembunuh," pinta Mia.
"Mereka gak bisa didiemin aja sayang, mereka harus dikasih pelajaran!" geram Thoriq.
"Iya aku tahu, tapi udah cukup kamu gak boleh terus-terusan kayak gini!" ucap Mia.
"Okay, aku nurut sama kamu! Tapi, kamu gak kenapa-napa kan?" tanya Thoriq cemas.
"Aku baik kok, kamu gausah khawatir sama aku!" jawab Mia sambil tersenyum.
"Yaudah, kita pulang yuk!" Thoriq memeluk dan mengajak Mia untuk pulang.
Mia mengangguk saja menuruti kemauan kekasihnya.
******
Randi tersenyum, tangannya terus bergerak mengusap lembut wajah mulus Ayna. Baru kali ini dia benar-benar terpesona pada wanita.
"Ohh, jadi ini yang lu lakuin di belakang gue, Ran?" Randi dan Ayna kompak terkejut mendengarnya.
"Hah? Tedy??" Randi terkejut bukan main saat melihat Tedy sahabatnya ada disana.
Tedy mendekat, menatap Randi dan Ayna dengan tajam secara bergantian. Tangannya mengepal kuat, dia benar-benar emosi menyaksikan sahabatnya sendiri tengah bermesraan dengan wanita yang dia cintai.
"Kenapa lu lakuin ini ke gue, Ran? Lo udah gak anggap gue sebagai sohib lu lagi?" tanya Tedy.
"Ted, jangan salah paham dulu! Gue bisa jelasin semuanya sama lu, gue gak—"
"Ah cukup! Gue gak butuh penjelasan apa-apa dari lu, karena semuanya udah jelas!" potong Tedy.
"Belum Ted, ini cuma salah paham. Semuanya gak seperti yang lu pikirin," ucap Randi.
"Sekeras apapun lu berusaha bilang ini salah paham, tetap gue gak akan percaya. Gue lihat sendiri gimana kalian berdua saling pandang dan mesra-mesraan disini," ucap Tedy.
Ayna mengambil alih dan maju mendekati Tedy.
"Kalau aku sama Randi mesra-mesraan, emangnya kenapa? Masalah buat kamu? Apa kita berdua gak boleh ngelakuin itu?" tanya Ayna.
"Jelas masalah dong, aku ini suka sama kamu dan aku mau kamu jadi pacar aku! Tapi, si biadab ini malah nikung aku dari belakang!" jawab Tedy.
"Aku gak suka sama kamu, aku juga bukan pacar kamu! Jadi, terserah aku dong mau pilih siapa!" tegas Ayna.
Deg!
Tedy tersentak kaget mendengar ucapan Ayna barusan, dia sungguh sakit hati karena ternyata gadis yang dicintainya itu tak memiliki rasa apapun terhadapnya.
"Please Tedy, kamu jangan berlagak jadi pacar aku! Aku itu cuma anggap kamu teman," ucap Ayna.
"Ayna, kamu kok tega banget sih sama aku?" ujar Tedy.
"Tega apanya sih? Aku gak cinta sama kamu, masa iya aku harus maksa buat jadiin kamu pacar aku?!" ucap Ayna heran.
"Terus, kenapa setiap kita ketemu kamu selalu bikin aku salah tingkah? Sikap baik kamu ke aku itu seakan kamu kasih harapan sama aku, tapi nyatanya kamu cuma anggap aku teman," ucap Tedy tampak bersedih.
Randi merasa tak tega melihat sahabatnya itu patah hati, dia coba mendekati Tedy dan menaruh tangannya di pundak Tedy.
Akan tetapi, dengan cepat Tedy justru menepis tangan Randi darinya. "Jangan pegang-pegang gue! Gue gak sudi disentuh sama lu!" ujarnya.
******
Willy mengantar Sasha ke sekolahnya, tentu atas perintah Bu Ani yang khawatir Sasha akan kenapa-napa jika pergi sendiri.
Meskipun Sasha tetap menaiki motornya, namun Willy juga terus menjaga gadis itu dari dekat agar tidak terjadi sesuatu padanya.
"Udah sampe, thanks ya Wil karena lu mau anterin gue ke sekolah!" ucap Sasha.
"Sama-sama, anggap aja sekalian gue mau lihat kondisi bekas sekolah gue ini," ucap Willy.
"Hahaha, sekolah ini jadi sepi tanpa lu Wil! Kerasa beda aja gitu feel-nya," ucap Sasha.
"Ah masa? Kan pasti banyak murid-murid baru disini, emangnya mereka gak bisa bikin feel disini jadi asyik juga?" tanya Willy.
"Enggak Wil, tetap aja suasananya beda karena gak ada lu. Andai aja dulu lu gak dikeluarin dari sekolah ini, pasti gue masih bisa senang-senang bareng lu disini," jawab Sasha.
Willy turun dari motornya, menghampiri Sasha dan menangkup wajah gadis itu. Ia menatapnya dari jarak dekat, menimbulkan perasaan tak karuan di jantung Sasha saat ini.
"Lo gak perlu sedih gini, lu harus terbiasa tanpa gue Sasha! Lagian bukannya masih ada si Aziz ya? Dia kan sohib kita juga tuh," ujar Willy.
"Ih apaan?! Aziz mah gak ada asyik-asyiknya tau, yang ada dia malah selalu bikin gue kesel!" cibir Sasha.
"Ahaha, btw gue jadi kangen sama si Aziz. Kemana ya tuh anak, kok belum nongol juga daritadi?" ujar Willy sembari celingak-celinguk.
"Mana gue tau! Dah ah, gue mau masuk dulu! Lo kalo masih pengen disini nungguin Aziz terserah aja, tapi gue gak bisa nemenin lu!" ucap Sasha.
"Ngapain juga gue nungguin Aziz? Gue kan harus sekolah, ya gue pasti pergi lah dari sini. Udah, lu semangat aja belajarnya dan jangan ngeluh terus!" ucap Willy sambil mengusap wajah Sasha.
Sasha tersenyum lebar sembari menjauh dari Willy, dia perlahan mulai memundurkan langkahnya.
"Gue sekolah dulu ya? Sampai ketemu lagi!" ucap Sasha melambaikan tangannya.
"Oke, bye!" balas Willy singkat.
Setelah Sasha masuk ke dalam, Willy terdiam sejenak di tempatnya menatap bangunan sekolah yang dia rindukan itu.
"Huh kangen banget rasanya sama sekolah ini! Banyak kenangan gue disini dulu," gumam Willy.
"Heh!" Willy tersentak ketika seseorang menegurnya dari samping, dia menoleh dan melihat Ilham muncul di dekatnya.
"Ngapain lu disini? Lo kan udah bukan murid sini, apa jangan-jangan lu pengen bikin rusuh ya?!" tegur Ilham dengan mata melotot.
"Gue ngerusuh? Sembarangan aja lu kalo ngomong!" elak Willy.
"Ya terus lu mau apa?!" bentak Ilham yang semakin mendekati Willy dan menggeram emosi.
******
Akhirnya Aurora turun dari mobilnya, dia berjalan menghampiri Max dengan wajah datar. Sedangkan Max disana tampak tersenyum lebar ke arahnya.
"Halo sayang, selamat pagi! How are you?" ucap Max menyapa dengan ramah.
"Gausah basa-basi, langsung ke intinya aja! Lo mau apa cegat mobil gue disini?" ketus Aurora.
"Santai dong sayang! Kamu mah bawaannya emosi mulu tiap kali ketemu aku," ujar Max.
"Lo bisa gak sih sehari aja jangan ganggu gue?! Gue kan udah bilang, gue itu punya pacar dan lu sendiri tau itu! Kenapa lu masih gak bisa terima kenyataan sih?" Aurora bertambah kesal dengan ulah Max saat ini.
"Gak bisa sayang, gak tahu deh kenapa aku selalu aja kepikiran kamu. Ayolah, kamu mau ya jadi pacar aku dan putusin aja si Willy!" ucap Max.
"Dasar gila! Sampai kapanpun, gue gak akan pernah mau jadi cewek lu!" tegas Aurora.
Max tersenyum tipis, melangkah perlahan untuk mendekati Aurora.
Disaat pria itu hendak memegang tangan Aurora, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di dekat mereka.
"Aurora??!" mereka berdua kompak menoleh ke arah lelaki yang baru turun dari mobil itu.
"Hah? Siapa itu?" lirih Max.
Aurora benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini, mulutnya menganga ketika menyadari pria tersebut sudah berada di dekatnya.
"Hai Aurora! Benar kan ini kamu? Aku Fabio, kamu masih ingat kan sama aku?" ucap pria itu.
"Eee..."
"Asal kamu tahu, aku kangen banget loh sama kamu! Aku senang kita akhirnya bisa ketemu disini, setelah bertahun-tahun kita berpisah. Apa boleh aku peluk kamu?" potong pria bernama Fabio itu.
Fabio langsung mendekat dan mengambil ancang-ancang untuk memeluk Aurora.
Namun, tindakannya itu dihentikan oleh Max yang menahan bahunya.
"Jangan sembarangan lu!" ujarnya.
"Maaf! Anda siapa ya?" tanya Fabio pada Max.
"Gue pacarnya Aurora, gue gak bakal biarin lu sentuh cewek gue sedikitpun!" jawab Max asal.
Sontak Aurora langsung terbelalak menatap Max.
"Ohh, jadi kamu sekarang udah punya pacar baru ya Rora? Dan cowok berandalan ini pacar kamu?" Fabio terkekeh sembari menatap tubuh Max dari atas sampai bawah.
"Kurang ajar lu!" Max emosi, dia langsung mengarahkan tinjunya ke wajah Fabio.
"Hentikan!!" Aurora berteriak cukup keras untuk menghentikan perkelahian itu.
Bersambung....