
My love is sillie
Episode 58
•
Mereka bertiga pun duduk di sofa, tak lama setelah itu Sundari muncul kembali membawakan minuman untuk mereka.
"Permisi tuan! Ini saya buatkan minum sama cemilan, silahkan dinikmati!" ucap Sundari.
"Makasih ya bik!" ucap Johan.
"Sama-sama tuan, kalo gitu saya permisi dulu mau balik kerja!" ucap Sundari.
"Iya bik, silahkan!" ucap Johan.
"Ayo diminum dulu Martin, Kiara!" pinta Johan.
"Iya om," ucap Martin dan Kiara bersamaan.
"Papa!" tiba-tiba saja Aurora muncul mendekati mereka dengan wajah emosi.
Sontak Johan, Martin serta Kiara langsung menoleh ke arah gadis itu.
"Aurora?" ucap Johan terkejut.
Kiara kini tahu bahwa Aurora yang sedari tadi dibicarakan oleh Martin dan Johan adalah Aurora kekasih dari Willy.
"Akhirnya kamu pulang juga, kemana aja sih kamu? Kenapa gak kasih kabar ke papa?" ujar Johan.
"Maaf pah! Tadi aku sama Willy abis jenguk teman dia yang masuk rumah sakit, jadi aku lupa buat kabarin papa. Yaudah ya pah, aku mau ke kamar dulu istirahat." ucap Aurora.
"Eh tunggu dulu sayang! Kamu kenalan dong sama kekasih Martin, ayo sini lebih dekat!" ucap Johan meminta putrinya mendekat.
Aurora menoleh ke arah Kiara, menatap gadis itu dari atas sampai bawah dengan tatapan sini.
"Jadi, nih cewek pacarnya kak Martin? Wah sempit banget ya dunia! Mantannya Willy ternyata malah pacaran sama sepupu gue," batin Aurora.
"Ayo Aurora, kenalan dengan Kiara!" ujar Johan.
"Gausah pah, aku udah kenal kok sama dia. Kita kan satu sekolahan, aku sering ketemu dia di sekolah dan kita udah saling kenal." ucap Aurora.
"Oh begitu, ya seenggaknya kamu ikut ngobrol-ngobrol dulu lah disini sama kita!" ucap Johan.
"Gapapa om, mungkin Aurora capek kali. Dia juga kan harus ganti baju dan makan, kasihan dia baru pulang jam segini!" ucap Martin.
"Nah, kak Martin aja ngerti tuh. Aku capek banget pah, pengen istirahat!" ucap Aurora.
"Kalau emang kamu capek, seharusnya tadi kamu tidak usah pergi dengan Willy! Kamu kan bisa langsung pulang ke rumah barang supir dan bodyguard kamu, tapi kamu malah ngeyel pengen pergi sama anak gak bener itu!" ujar Johan.
"Pah, kita berdebatnya nanti-nanti aja ya? Aku sekarang lagi gak mood buat debat, aku pengen ke kamar dan istirahat. Kak Martin, Kiara, aku duluan ya?" ucap Aurora.
"Iya Aurora," ucap Kiara singkat.
Aurora langsung pergi begitu saja tak perduli lagi dengan perkataan papanya, ia merasa malas berdebat dengan sang papa saat ini.
"Anak itu benar-benar, makin hari makin kurang ajar aja sifatnya!" umpat Johan sembari menggelengkan kepalanya.
"Sabar om! Aurora itu kan masih gadis, jadi ya begitulah sifatnya. Maka dari itu, saya saranin om buat jauhi Aurora dari Willy. Karena dengan mereka dekat, yang ada Aurora bisa kebawa-bawa sikap kurang ajar si Willy itu." ucap Martin.
"Iya, memang benar kata-kata kamu Martin. Om juga bingung kenapa Aurora susah sekali dikasih taunya, dia masih aja ngeyel buat dekat sama Willy. Padahal udah jelas-jelas Willy gak baik buat dia, tapi dia gak pernah mau dengerin om!" ucap Johan emosi.
"Yaudah om, kita duduk aja lagi! Om harus bisa tahan diri, jangan sampai om terlalu keras sama Aurora! Saya takut nantinya Aurora malah semakin membangkang dari om," ucap Martin.
"Ya saya tahu, saya hanya akan menegur Aurora secara perlahan nanti." kata Johan.
"Terimakasih ya Martin, karena kamu selalu kasih masukan-masukan buat om untuk bisa mendidik Aurora! Maklumlah, sejak dia jauh dari mamanya gadis itu memang sedikit berubah dan susah diatur." sambung Johan.
"Sama-sama om, Aurora itu kan keluarga saya juga. Jadi, kalau bisa bantu ya pasti saya bantu!" ucap Martin.
Johan tersenyum singkat, lalu ketiganya pun kembali duduk di sofa dan lanjut berbincang.
******
Willy tiba di rumahnya, ia masih merasa bingung apakah anak-anak black jack pelaku yang sudah mengeroyok Thoriq dan Farrel hingga babak belur dan masuk ke UGD.
Willy melepas helmnya, berdiam diri sejenak di atas motor memikirkan siapa kiranya orang yang mengeroyok teman-temannya itu dan apa motif mereka melakukan itu.
"Huft, gue jadi bingung. Kalau emang bukan anak black jack yang ngeroyok Thoriq dan Farrel, terus siapa ya pelakunya?" gumam Willy.
Akhirnya Willy turun dari motor, bergerak maju ke depan rumahnya. Ia merasa heran melihat motor terparkir disana, pasalnya motor itu bukanlah milik ayah atau ibunya.
"Ini motor siapa ya?" ujar Willy.
"Apa ada tamu di dalam?" gumam Willy.
TOK TOK TOK...
"Assalamualaikum, ibu bapak!" teriak Willy sembari mengetuk pintunya.
"Waalaikumsallam..."
Mendengar suara ibunya dari dalam, Willy pun mundur perlahan dan berhenti mengetuk pintu.
Ceklek...
Pintu terbuka, Bu Ani muncul dari dalam sana dan tersenyum menatap Willy putranya.
Willy langsung mencium tangan ibunya itu dengan lembut sembari menoleh ke kanan dan kiri.
"Kamu cari siapa Willy?" tanya Bu Ani heran.
"Eee itu bu, aku kan lihat ada motor nih disini. Nah makanya aku cari-cari siapa orangnya yang datang, eh malah gak kelihatan." jawab Willy.
"Oalah, itu sih motornya nak Sasha. Dia ada di dalam nungguin kamu, kalau kamu mau ketemu yaudah ayo masuk!" ucap Bu Ani.
"Sasha? Mau ngapain dia kesini Bu?" tanya Willy terheran-heran.
"Katanya sih pengen ketemu dan ngobrol sama kamu, udah kamu temuin aja gih dia sana! Lagian kalian kan udah lama juga gak ketemu tuh, mungkin Sasha kangen sama kamu." ucap Bu Ani.
"Apa sih Bu?" ujar Willy malu-malu.
"Ahaha, yuk ah kita masuk aja ke dalam! Kasihan nak Sasha sendirian tuh di dalam." ucap Bu Ani.
"Iya Bu," ucap Willy menurut saja.
Bu Ani dan Willy pun masuk ke dalam bersama-sama, mereka tampak saling merangkul dan tersenyum satu sama lain.
"Bu, bapak kemana?" tanya Willy penasaran.
"Lagi pergi sebentar," jawab Bu Ani singkat.
"Ohh," Willy mengangguk pelan.
Saat mereka tiba di dalam, terlihat Sasha tengah terduduk di sofa. Gadis itu pun langsung berdiri begitu melihat Willy dan Bu Ani muncul.
"Willy, kamu udah pulang?" ucap Sasha menyapa pria itu sambil tersenyum.
"Iya Sya, gue baru balik nih. Lu udah lama disini?" ucap Willy mendekati gadis itu.
"Eee belum kok, paling baru beberapa menit." ucap Sasha.
"Bagus deh! Oh ya, lu mau ngobrolin apa sama gue? Kata ibu tadi lu kesini pengen ketemu dan ngobrol sama gue kan," ucap Willy.
"Iya Wil, gue mau ngobrol-ngobrol biasa aja. Kan lu tau sendiri belakangan ini kita jarang ketemu, jadi gue agak kangen lah ngobrol sama lu." ucap Sasha.
"Nah kan sayang, nak Sasha itu kangen sama kamu. Yaudah, kamu duduk gih temenin nak Sasha sebentar!" ucap Bu Ani.
"Iya Bu," ucap Willy menurut.
"Iya tante," ucap Sasha mengangguk pelan.
Lalu, Willy dan Sasha pun duduk berdampingan di sofa. Sedangkan Bu Ani tampak berjalan pergi meninggalkan mereka.
******
Hari telah berganti, pagi ini Willy tidak datang ke rumah Aurora karena khawatir akan menimbulkan masalah lain disana.
Willy pun berangkat seorang diri menuju sekolahnya, walau ia masih terus memikirkan Aurora dan tidak bisa tenang.
"Huft, gue rasanya gak tenang kalau berangkat gak sama Aurora!" batin Willy.
Akhirnya Willy memutuskan menunggu di depan komplek perumahan gadis itu, ia pun memutar balik dan beralih menuju ke arah rumah Aurora karena perasaan tidak tenangnya.
Setibanya di depan komplek, sungguh suatu kebetulan karena ia berpapasan dengan mobil milik Aurora yang hendak melaju keluar menuju sekolahnya.
Willy pun menghentikan motornya di tengah-tengah jalan, ia melakukan itu agar mobil yang ditumpangi Aurora tidak bisa melaju dan ia dapat menemui Aurora disana.
"Ayo Aurora, kamu keluar dong sayang!" batinnya.
Melihat keberadaan Willy di depannya, Aurora langsung cemas dan meminta pada supir serta bodyguardnya untuk berhenti sebentar.
"Pak, tunggu sebentar pak! Aku harus keluar temui Willy, supaya dia mau minggir!" ucap Aurora.
"Tidak non, kami tidak bisa biarkan non turun dari mobil. Ini pasti rencana dari Willy, supaya non bisa pergi sama dia." ucap bodyguard itu.
"Tapi pak, kalau begini terus gimana aku bisa sampai ke sekolah?" ucap Aurora.
Bodyguard itu terdiam sejenak seraya menatap ke depan, sedangkan Aurora langsung bergerak cepat turun dari mobilnya dan menemui Willy disana.
"Eh eh non, tunggu!" teriak si bodyguard.
Akhirnya bodyguard itu melepas sabuk pengaman dan menyusul Aurora turun dari mobil.
Aurora sudah lebih dulu mendekati Willy, pria itu langsung memberikan helm kepadanya dan meminta Aurora untuk segera naik.
"Sayang, ini helmnya. Ayo buruan naik, kita pergi dari sini!" ucap Willy.
"Wil, ini gak bener! Gimana kalau bodyguard gue lapor ke papa lagi?" ucap Aurora.
"Udah, gapapa sayang. Emangnya kamu gak mau berangkat sekolah bareng aku?" ucap Willy.
"Ya mau sih, tapi..."
"Udah gausah tapi tapi! Buruan kamu naik sekarang, pakai helmnya dan kita langsung pergi sebelum bodyguard kamu sampe kesini!" potong Willy.
"I-i-iya iya.." ucap Aurora menurut.
Aurora pun memakai helmnya, lalu naik ke motor Willy dan memeluk pinggang pria itu sembari membenamkan wajahnya pada punggung Willy.
Willy tersenyum puas, ia merasa senang karena Aurora mau memeluknya dan pergi bersamanya. Sesekali ia menoleh ke belakang memandangi wajah cantik gadisnya.
"Wil, ayo cepet jalan!" pinta Aurora.
"Eh iya iya.." Willy baru tersadar dan langsung menancap gas sebelum bodyguard gadis itu muncul.
"Non, non tunggu non!" teriak si bodyguard.
"Ah sial! Saya kecolongan lagi, emang dasar kurang ajar tuh cowok!" umpatnya kesal.
Willy dan Aurora telah lolos dari kejaran si bodyguard tersebut, Willy pun memelankan laju motornya untuk menikmati perjalanan mereka.
"Wil, kok jadi pelan sih?" tanya Aurora bingung.
"Iya sayang, biar aku bisa ngerasain enaknya dipeluk sama kamu kayak gini. Nyaman banget tau rasanya!" jawab Willy sambil senyum-senyum.
"Ish dasar modus!" ucap Aurora sembari memukul punggung Willy.
"Awhh sakit tau sayang! Kamu kok tega banget sih pukul aku begitu?" ujar Willy sok imut.
"Bodo!" cibir Aurora sembari memundurkan duduknya dan melepas pelukannya dari Willy.
******
Sesampainya di sekolah, Willy dan Aurora pun langsung turun dari motor setelah pria itu memarkir motornya di parkiran sekolah.
Willy membantu Aurora melepas helmnya, ia juga merapihkan rambut gadis itu dan tidak ada penolakan dari Aurora.
"Nah udah rapih, makin cantik deh!" ucap Willy.
Aurora pun tersenyum sembari menundukkan kepalanya, wajahnya seketika memerah akibat pujian dari Willy.
"Hey, jangan disembunyiin dong senyumnya!" ucap Willy menarik dagu Aurora agar menghadap ke arahnya.
"Ih lagian lu pagi-pagi udah gombal segala!" ucap Aurora.
"Hahaha, kan emang benar kalau kamu makin cantik dilihatnya. Yaudah yuk kita langsung masuk ke dalam!" ucap Willy beralih menggandeng tangan Aurora.
Aurora mengangguk pelan, setuju dengan ucapan Willy lalu mulai melangkah bersama pria itu.
"Tangan kamu kok bisa halus banget sih?" ucap Willy seraya mengangkat tangan Aurora dan mencium telapak tangan gadis itu.
"Ih lu ngapain sih?!" protes Aurora.
"Gapapa sayang, tangan kamu emang enak buat dielus sama dicium kayak gini. Soalnya tangan kamu itu halus plus wangi banget," ucap Willy masih terus melakukan hal yang sama.
"Udah udah Wil, gak enak ah dilihat orang! Apalagi kalau dilihat sama guru, emang lu mau kena hukuman?" ucap Aurora.
"Lah hukuman apa?" tanya Willy.
"Ya hukuman lah karena mesra-mesraan di lingkungan sekolah, itu kan gak boleh tau." jawab Aurora.
"Ohh, ya biarin aja lah sayang. Kita kan emang pacaran, apa salahnya mesra-mesraan?" ucap Willy tersenyum renyah dan tak mau berhenti menciumi telapak tangan hingga lengan gadis itu.
"Haish, darimana ceritanya kita pacaran coba? Gausah ngarang deh, gue tuh belum bilang ya kalo gue mau jadi pacar lu!" ucap Aurora.
"Jangan galak-galak gitu dong! Walaupun kamu belum bilang, tapi aku udah anggap kamu sebagai pacar aku sayang." kata Willy.
"Dih, sejak kapan sih lu jadi gak waras kayak gini?" ujar Aurora.
"Sejak aku kenal sama kamu, karena kamu selalu bisa bikin aku tergila-gila." ucap Willy.
Aurora menggelengkan kepalanya, lalu terkejut saat melihat Martin tiba bersama Kiara di depan matanya.
"Wil, kayaknya kita jangan lewat sana deh!" ujar Aurora menghentikan langkahnya.
"Kamu kenapa sih sayang? Kok jadi panik gitu?" tanya Willy yang masih saja mencium lengan gadisnya.
"Itu loh, kak Martin sama Kiara datang." jawab Aurora seraya menunjuk ke depan.
"Hah? Mana?" Willy langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh Aurora dan ikut terkejut.
"Waduh, gawat nih sayang! Kalau dia lihat kita berduaan disini, pasti dia bakalan semakin gak suka sama aku!" ucap Willy.
"Iya Wil, itu dia." kata Aurora.
"Yaudah, kalo gitu kamu duluan aja masuk ke dalam! Nanti aku nyusul begitu kamu udah masuk, okay?" usul Willy.
"Iya iya.." ucap Aurora mengangguk cepat.
Willy pun melepaskan tangan Aurora dengan berat hati, lalu membiarkan gadis itu masuk ke dalam.
Sementara Willy sendiri kini melangkah menghampiri Martin dengan penuh emosi.
Bersambung....