My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 27. Ragu



My love is sillie


Episode 27.



Sasha bergerak cepat menuju lokasi terakhir kali Willy ditinggal oleh Ilham dan teman-temannya.


Gadis itu memang belum tahu dimana Willy berada saat ini, karena Ilham juga tidak memiliki informasi yang bisa ia gali.


Disaat Sasha hendak memakai helmnya, tiba-tiba Aziz muncul mencegahnya.


"Eh tunggu tunggu!" Aziz mencekal lengan Sasha membuat gadis itu merasa jengkel.


"Ish, lu ngapain sih! Gue harus buru-buru cari Willy, dia dalam kondisi kritis! Lu minggir deh, jangan halangin gue!" bentak Sasha kesal.


"Hah? Kritis? Kok bisa?" Aziz terkejut.


"Iya Sya, kenapa Willy bisa kritis?" Sasha bertambah emosi melihat kehadiran Ratih disana.


"Dia dipukulin." jawab Sasha ketus.


"Hah? Siapa yang udah mukulin Willy, Sya? Bilang sama gue! Gue gak terima sahabat gue dipukulin kayak gitu sama orang!" ujar Aziz emosi.


"Kalau gue bilang sama lu, emang lu mau ngapain? Lu berani hajar tuh orang yang udah bikin Willy kritis? Willy aja bisa sampai kritis, apalagi lu yang ceking begini!" ujar Sasha.


"Ya gak gitu juga, gue kan pengen tahu aja. Supaya gue bisa laporin dia ke polisi," ucap Aziz.


"Udah deh, gausah bawa-bawa polisi! Sekarang gue mau cari tahu Willy ada dimana, jadi kalian mending minggir deh!" ujar Sasha.


"Tunggu Sya! Kita juga mau ikut!" ucap Aziz.


"Iya Sya, kita khawatir banget sama Willy! Kan kita juga temannya Willy." sahut Ratih.


"Duh, kalian tuh ribet banget sih! Gue mana bisa bonceng kalian berdua sekaligus!" ucap Sasha.


"Jangan boncengan bertiga lah, Sya! Gue sama Ratih naik mobil aja, nah kita ngikutin lu dari belakang." usul Aziz.


"Ya terserah lu dah!" ujar Sasha.


Sasha langsung memakai helmnya, menyalakan mesin motornya dan bersiap pergi.


"Ayo Sya!" Aziz menarik tangan Ratih membawa gadis itu menuju parkiran mobil.


Mereka pun pergi bersamaan menuju lokasi terakhir kali Willy berada, Sasha memimpin di depan dengan motornya lalu diikuti oleh Aziz dan Ratih yang mengendarai mobil.


"Aduh! Semoga aja Willy gak kenapa-napa ya, Ziz!" ujar Ratih tampak panik.


"Aamiin! Udah, lu jangan cemas gitu! Mending kita sama-sama doain kebaikan buat Willy!" ujar Aziz.


"Iya Ziz," ucap Ratih menurut.


******


Aurora, Thoriq dan Randi tiba di rumah sakit tempat Willy berada.


Mereka langsung menuju ruangan Willy dirawat dan hendak menjenguk pria tersebut.


Akan tetapi, secara tiba-tiba Aurora mengurungkan niatnya untuk menjenguk Willy dan merasa ragu karena dirinya belum terlalu mengenal Willy.


"Heh! Kenapa lu malah berhenti? Ayo masuk!" ujar Thoriq keheranan.


"Iya, katanya tadi mau jenguk Willy." sahut Randi.


"Entahlah, kayaknya gue gak jadi deh jenguk Willy. Gue takut dia gak suka gue datang kesini, apalagi gue sama dia belum terlalu dekat." kata Aurora.


"Yah elah lu gituan aja dipermasalahin! Willy gak mungkin kayak gitu, udah tenang aja! Dia itu welcome sama siapapun yang mau jadi teman dia, termasuk lu!" ucap Thoriq.


"Benar tuh! Udah lu masuk aja dulu, kan lu belum tahu reaksi Willy gimana!" ujar Randi.


"Iya deh, tapi kalau Willy beneran gak suka gimana?" tanya Aurora cemas.


"Hadeh..." Thoriq mulai kesal, ia melangkah maju mendekati gadis itu dan meraih dua tangannya.


Gadis itu mengangguk tanda iya.


"Aurora yang cantik, lu gausah cemas ya! Willy sahabat kita itu baik kok orangnya, dia suka ketemu sama siapapun termasuk lu. Apalagi lu cantik banget, dia pasti tambah suka!" ucap Thoriq.


"Masa sih? Emang Willy suka sama yang cantik-cantik ya?" tanya Aurora.


"Oh jelas. Jangankan Willy, gue aja suka kok." jawab Thoriq tersenyum.


"Heh Thoriq! Lu ngada-ngada aja sih! Udah ayo mending ajak tuh cewek masuk ke dalam!" tegur Randi kesal.


"Iye iye..."


"Ayo cantik! Eh maksud gue, ayo Aurora kita masuk!" ucap Thoriq pada Aurora.


Aurora mengangguk dan bersedia masuk untuk menjenguk Willy.


Gadis itu mengambil nafas dalam-dalam, sebelum mulai melangkah bersama kedua pria tersebut.


******


Pak Gunawan dan Bu Ani masih belum bisa tenang karena mereka tak kunjung mendapat kabar mengenai Willy anak mereka, ya putra mereka satu-satunya itu sudah tidak pulang semalaman dan juga tidak bisa dihubungi.


Bahkan pak Gunawan sudah mencari kesana kemari, tapi tidak berhasil juga menemukan keberadaan putranya itu.


Bu Ani pun semakin cemas, ia khawatir pada kondisi putranya yang tidak jelas itu.


"Pak, gimana ini? Sudah semalaman Willy gak pulang, ibu jadi makin khawatir. Apalagi nak Sasha juga belum bisa temuin Willy, aku makin cemas pak!" ujar Bu Ani.


"Sabar ya Bu! Ini bapak juga lagi usaha buat cari Willy, bapak pun sama cemasnya dengan ibu. Lagian Willy itu kemana sih? Ngapain coba dia pake kabur segala dari rumah?" ujar pak Gunawan.


"Sudahlah pak, sekarang bukan waktunya bapak buat marah-marah begitu! Willy pergi kan ada alasannya, dia gak mau kita sedih kalau tahu dia dikeluarkan dari sekolah." kata Bu Ani.


"Ya itu dia, kenapa dia harus kabur? Padahal kan semuanya bisa dibicarakan baik-baik, jadi kita gak perlu cemas kayak gini!" ujar pak Gunawan.


"Ibu juga gak tahu, pak. Mungkin menurut Willy, itu yang terbaik." kata Bu Ani.


"Yasudah, sekarang bapak mau keluar dulu. Ibu tetap disini aja ya! Nanti bapak coba telpon nak Sasha dan minta tolong sama dia buat jagain ibu disini, oke?" ucap pak Gunawan.


"Jangan pak! Ibu juga mau ikut sama bapak buat cari Willy!" pinta Bu Ani.


"Gak bisa Bu, bapak gak mau bikin ibu terluka. Jadi, ibu tetap disini aja ya!" ucap pak Gunawan.


"Tapi pak, ibu khawatir sama Willy!" ujar Bu Ani.


"Iya Bu, bapak tahu. Cuma masalahnya kalau ibu ikut tuh malah repot, jadi ibu tunggu aja disini! Bapak pasti kasih kabar ke ibu kok kalau bapak berhasil temuin Willy!" ucap pak Gunawan.


Bu Ani terdiam, wanita itu tak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauan suaminya.


"Iya deh pak, ibu nurut sama bapak. Ibu tetap disini tunggu kabar dari bapak, tapi awas loh kalau bapak gak ada kabar juga!" ucap Bu Ani.


"Iya Bu, ibu tenang ya!" ucap pak Gunawan.


Wanita itu mengangguk sembari menundukkan kepala.


"Yasudah, bapak pergi dulu ya? Assalamualaikum," ucap pak Gunawan pamitan pada istrinya.


"Waalaikumsallam, hati-hati pak!" ucap Bu Ani sembari mencium tangan suaminya.


Pak Gunawan pun melangkah ke dekat pintu meninggalkan Bu Ani disana, dia menarik handle pintu dan membukanya lebar.


Pak Gunawan cukup terkejut melihat seorang wanita berdiri membelakanginya disana.


Seketika wanita itu berbalik menunjukkan wajahnya saat mendengar suara pintu dibuka.


Ya pak Gunawan semakin terkejut saat menyadari siapa wanita yang ada di hadapannya kini, bahkan mulutnya sampai terbuka lebar.


"Kamu...??" ujarnya.


Bersambung....