
My love is sillie
Episode 44
•
Willy dan Aurora tiba di markas the darks, tampak cukup banyak anggota the darks disana yang sedang berkumpul seperti biasa.
Mereka langsung turun dari mobil, menyapa seluruh anggota the darks satu persatu sembari melakukan tos dan kadang berpelukan.
"Wih keren banget ketua kita satu ini! Sekarang udah bisa bawa cewek lagi kesini," ujar Thoriq.
"Ahaha, bener lu bro! Udah gitu sekarang ketua kita ini kelihatannya makin bahagia aja nih, apakah gara-gara dia udah berhasil deketin Aurora?" sahut Jeki sambil terkekeh.
"Ah kalian ini paling bisa dah kalo urusan ngejek gue! Gue itu bawa Aurora kesini, karena dia kan mau belajar banyak tentang geng kita. Gue udah janji sama dia buat ajarin dia semua yang gue tahu, makanya gue bawa dia kesini." jelas Willy.
"Iya Wil, kita paham kok. Lagian gak masalah juga lu mau bawa siapa aja kesini, kan itu hak lu bro. Dan lagipun, dengan hadirnya Aurora disini juga menambah warna baru buat kita." ucap Thoriq.
"Betul tuh, gue setuju sama yang dibilang Thoriq barusan!" sahut Jeki.
"Iya, selama ini kan kita cuma bisa lihat sejenis aja sewaktu kumpul disini. Nah, sekarang dengan adanya Aurora tentu menambah keceriaan kita dan juga bisa bikin mata kita makin segera!" ucap Farrel sambil nyengir.
"Yaudah, kita duduk lagi aja yuk! Kasihan lah cewek gue ini kalo berdiri terus, bisa pegel dia!" ucap Willy sembari merangkul Aurora.
"Wih sekarang dipanggilnya udah cewek gue nih guys!" ucap Thoriq sedikit terkejut.
"Iyalah, Aurora kan emang cewek gue. Makanya kalian semua jangan ada yang godain dia, karena dia itu punya gue! Selain itu, kalian juga harus jagain dia supaya dia baik-baik aja!" ucap Willy.
"Siap Wil! Kita bakal anggap Aurora sebagai ratu di the darks kok," ucap Thoriq.
Mendengar perkataan Thoriq barusan membuat Aurora memerah, belum pernah ia merasakan ada di dekat para laki-laki seperti ini, apalagi jumlah mereka lumayan banyak.
"Eh ya, kalian kok gak pada paket jaket sih? Dimana rasa cinta kalian sama the darks? Gue kan udah bilang, kalian harus selalu pake tuh jaket! Apa emang kalian udah gak mau lagi the darks bangkit?" tanya Willy agak kesal.
"Tenang Wil! Kita bisa jelasin semuanya ke lu kok, ini bukan keinginan kita. Gimana kita bisa pake jaket itu, kalau anak-anak black jack udah bakar jaket kita?!" jawab Thoriq.
"Apa? Dibakar?" ujar Willy terkejut.
"Iya Wil, jadi kita itu sempat dikejar-kejar sama anak black jack sewaktu abis nganterin lu keluar dari rumah sakit. Terus, kita tarung dan kita kalah karena jumlah mereka lebih banyak dari kita. Mereka paksa buat ambil jaket kita, dibakar lah jaket kita itu di depan mata kita." jelas Jeki.
Willy terlihat emosi, tangannya mulai terkepal dan rahangnya gemetar hebat.
"Sialan mereka! Gue harus balas perbuatan mereka, gue gak bisa biarin mereka menginjak-injak harga diri the darks! Kurang ajar!" geram Willy.
"Eee Wil, lu jangan emosi dulu ya! Emosi gak bikin masalah jadi selesai, justru lu bisa dengan mudah dikalahkan!" ucap Aurora.
"Benar yang dibilang Aurora, kita harus pikirin dulu semuanya matang-matang, Wil!" sahut Randi.
Bughh...
Willy memukul dan menendang meja serta tempat duduk yang ada disana hingga berantakan, Aurora pun tampak terkejut dengan perbuatan Willy dan sedikit ketakutan melihatnya.
"Aaarrgghh kurang ajar tuh black jack! Gue gak akan maafin mereka!" teriak Willy cukup keras.
"Iya Wil, kita semua juga emosi sama kayak lu. Emang anak-anak black jack itu harus dikasih pelajaran!" ucap Thoriq.
"Riq, jangan mancing-mancing gitu deh! Biarin Willy tenang dulu!" tegur Randi.
"Gue gak mancing, gue cuma bilang kalo gue juga marah sama kayak Willy." elak Thoriq.
"Udah lah guys, beliin minuman buat kita semua! Gue pengen tenangin diri dulu, ayo Rora ikut gue!" ucap Willy langsung menarik tangan Aurora dan membawa gadis itu menjauh dari sana.
"Eh eh Wil, kita mau kemana?" tanya Aurora heran.
"Udah ikut aja!" tegas Willy.
Willy dan Aurora pun pergi ke belakang, seluruh anggota the darks tampak mengamati mereka dengan raut keheranan.
"Mau ngapain tuh si Willy ajak Aurora mojok di belakang?" tanya Jeki heran.
"Yah elah Jek, lu kayak baru kenal si Willy aja. Dia kan biasa begitu kalo lagi emosi, buat tenangin diri pasti dia bakal anu anu sama cewek. Sekarang mending lu beliin minuman sana buat Willy, daripada dia ngamuk lagi nanti!" ujar Thoriq.
"Yeh uangnya mana?" tanya Jeki.
"Minta sana sama Willy kalo berani," jawab Thoriq.
"Eee kagak deh kagak, pake uang gue aja dulu. Kalo gue minta sama Willy sekarang, yang ada gue bisa diamuk!" ucap Jeki.
"Hahaha, bagus tuh!" ujar Thoriq terkekeh.
Jeki pun melangkah pergi untuk membelikan minuman sesuai yang diperintahkan Willy tadi.
******
Willy kini tengah berduaan dengan Aurora di belakang, cukup jauh dari tempat anggota the darks berada.
Suasana disana sangat sepi, karena memang markas mereka saat ini berada di sebuah bangunan kosong yang ditinggalkan.
Willy pun mengungkung tubuh Aurora di pojok hingga gadis itu tidak bisa kemana-mana karena tubuhnya terpentok tembok.
Pria itu mencengkeram kedua tangan Aurora dan meletakkannya di atas kepala sembari menarik dagu Aurora agar tidak merunduk.
"Wil, lu mau ngapain?" ucap Aurora ketakutan.
"Sorry ya! Gue cuma gak mau lu takut karena gue marah-marah tadi, maafin gue ya Aurora! Gue gak bisa kontrol emosi gue," ucap Willy merasa bersalah pada Aurora.
"I-i-iya, gapapa kok. Gue udah maafin lu Wil, sekarang kita balik kesana ya!" pinta Aurora.
"Ntar dulu dong, gue masih pengen berduaan sama lu disini. Gue itu butuh sesuatu yang segar buat menenangkan pikiran gue," ucap Willy.
"Hah? Terus menurut lu, gue ini segar gitu?" tanya Aurora terkejut.
"Bisa dibilang begitu, bibir lu kan manis banget. Itu bisa jadi obat buat gue supaya gak emosi lagi, lu setuju kan kalo gue cium bibir lu saat ini?" jawab Willy sembari mengelus bibir ranum gadis itu.
"Wil, jangan ah! Gue gak mau kita kebablasan! Mending kita balik aja ya ke depan, lu pasti bisa kok kontrol emosi lu!" ucap Aurora cemas.
"Gak akan kebablasan kok," ucap Willy.
Willy malah semakin menekan dua tangan Aurora di atas kepalanya, lalu memajukan wajahnya sembari mengusap bibir yang ia sukai itu.
Aurora akhirnya hanya bisa pasrah karena tubuhnya hampir tidak dapat digerakkan sama sekali akibat tekanan dari Willy.
Gadis itu pun memejamkan mata ketika Willy perlahan mulai mendekati wajahnya, ia rasakan benda kenyal menyentuh bibirnya.
Cupp!
Satu kecupan telah berhasil didapatkan oleh Willy di bibir Aurora, gadis itu tampak membuka matanya dan menatap Willy dengan gugup.
"Tuh kan, perasaan gue jadi lebih tenang setelah cium bibir lu." kata Willy sambil tersenyum.
"Yaudah, lu udah puas kan? Kalo gitu kita balik ke depan aja yuk!" pinta Aurora.
"No, gue masih belum puas cium bibir lu. Gue mau cium lu terus sampai sore, mungkin malam juga kalau bisa." kata Willy.
"Apa sih Wil?! Jangan ngaco deh!" protes Aurora.
"Gak ada yang ngaco, emang beneran gue pengen cium lu lagi. Coba deh lu buka mulut lu, terus nikmati permainan bibir gue! Gue yakin lu juga bakal nagih kok!" pinta Willy.
"Gue gak bisa Wil, gue juga gak ma—mmpphh.." ucapan Aurora terpotong lantaran Willy langsung menyerbu bibirnya dan melumattnya dengan kasar penuh gairah.
Awalnya Aurora memang berontak, tetapi lambat laun ia dapat meladeni permainan lidah Willy.
Bunyi decakan kedua bibir mereka terus terdengar, Willy semakin memperdalam ciuman itu.
"Astaga, pantas aja pada mojok. Eh ternyata lagi enak-enak, nyesel deh gue kesini!" Willy langsung melepas pagutannya dan menoleh ke belakang begitu mendengar suara itu.
"Jeki? Lu ngapain sih?!" bentak Willy.
"Hehe, selow Wil jangan emosi! Gue cuma pengen kasih air minum yang lu minta tadi, itu aja kok!" ucap Jeki sambil nyengir.
"Yaudah, sana pergi lu!" ujar Willy mengusir Jeki.
"I-i-iya Wil..." ucap Jeki gugup.
Jeki pun pergi dari sana, Willy tampak sedikit kesal dan nafasnya juga sudah memburu.
Sementara Aurora masih terus menyembunyikan wajahnya yang memerah akibat perbuatan Willy tadi yang diketahui oleh Jeki.
"Sayang, maafin si Jeki tadi ya! Dia emang anaknya kurang ajar, suka banget ganggu orang lagi enak-enak! Lu mau lanjut lagi kan?" ucap Willy sembari menangkup wajah gadis itu.
"Eee udah ya Wil, gak enak tau kalo kita disini terus. Mending kita ke depan aja!" jawab Aurora.
"Loh, tapi aku belum puas sayang. Gue masih mau nikmati bibir lu!" ucap Willy tegas.
"Itu kan bisa nanti-nanti lagi, sekarang kita balik dulu ke depan! Gue gak mau kalau teman-teman lu mikir yang enggak-enggak!" ucap Aurora.
"Oh gitu, berarti boleh nih gue cium bibir lu lagi lain waktu?" tanya Willy menggoda gadis itu.
"Eee..." Aurora dibuat bingung sendiri dengan perkataannya barusan, sedangkan Willy makin menggodanya dan berharap kalau yang dikatakan oleh gadis itu adalah benar.
"Haish, kayaknya gue salah bicara deh. Ngeri banget sih nih cowok! Hobi banget cium bibir orang sembarangan!" batin Aurora.
******
Jeki kembali menemui teman-temannya dengan nafas memburu, ia masih syok pada apa yang barusan ia lihat di belakang tadi.
Tentu saja Thoriq beserta yang lain merasa bingung melihat tingkah Jeki itu, pasalnya Jeki seperti orang yang habis melihat penampakan.
"Eh Jek, lu kenapa sih?" tanya Thoriq bingung.
"Tau, dateng dateng ngos-ngosan. Abis lihat apaan emang lu barusan?" sahut Leo.
"Enggak bro, gue gak mau ceritain ah. Nanti yang ada gue dimarahin sama Willy," jawab Jeki.
"Hah? Emang kenapa sih?" tanya Randi heran.
"Gak kok, udah lu pada lupain aja gausah dipikirin! Anggap aja gak terjadi apa-apa, mending kita lanjut minum-minum nih biar enak!" usul Jeki.
"Ya okelah, walau gue masih penasaran sih lu abis ngeliat apaan." kata Randi.
Tak lama kemudian, giliran Willy serta Aurora yang muncul disana sambil senyum-senyum dan tampak sangat gembira.
Tangan Willy juga terus merengkuh pinggang Aurora, merapatkan jarak antara keduanya sampai mereka duduk di kursi yang tersedia.
"Wih ada yang senang banget nih!" sindir Thoriq.
"Iya dong pastinya, kan abis dapet jatah bro!" sahut Jeki terkekeh.
"Heh! Sialan ya lu Jek, sekali lagi lu ganggu gue sama Aurora, gue abisin lu!" ujar Willy.
"Eh eh, selow Wil selow! Hehe.." ucap Jeki.
"Emang kalian abis ngapain sih? Kok kayaknya raut wajah lu senang banget begitu Wil, ada apa nih di belakang tadi?" tanya Randi bingung.
"Yah elah pake ditanya segala lu, Ran! Udah jelas kelihatan mereka abis ngapain, masa lu gak tahu? Tuh lihat aja kancing baju Aurora lepas satu, masa masih nanya lagi?!" ujar Thoriq.
Sontak anak-anak the darks mengalihkan pandangan ke arah kancing baju Aurora yang lepas akibat perbuatan Willy tadi.
"Hah??" Aurora yang terkejut pun reflek menutupi bagian dadanya yang terbuka itu.
"Woi! Mata lu pada jangan jelalatan begitu dong! Aurora cewek gue, jadi kalian gak boleh kayak gitu!" ucap Willy menegur mereka.
"Hehe iya iya Wil..." ujar Thoriq nyengir.
"Yaudah, nih sayang minum dulu!" ucap Willy menyodorkan botol minuman yang tutupnya sudah dibuka ke arah Aurora.
"Thanks!" ucap Aurora singkat, lalu meminum minuman tersebut.
Willy tersenyum saja sembari memandangi wajah Aurora yang tengah minum, entah mengapa ia terpesona dengan ekspresi Aurora saat sedang meminum minuman.
Setelah selesai, Aurora menjilati bibirnya sendiri dan semakin membuat Willy terpesona, bahkan sampai tidak bisa berkedip.
Randi dan Thoriq tampak saling senggol satu sama lain saat menyaksikan adegan itu, mereka yakin jika Willy sedang terpesona pada Aurora.
"Wil, nih minumannya!" ucap Aurora.
"Ah iya," ucap Willy tersenyum tipis.
Tanpa berlama-lama lagi, Willy langsung meminum teh di botol tersebut dengan lahap sampai tak bersisa dan membuat Aurora jengkel.
"Ih kok diminum sih? Kan itu sengaja aku sisain buat nanti, kenapa malah diminum sampai habis?" tanya Aurora kesal.
"Maaf sayang! Abisnya gue suka banget kalau minum dari botol bekas bibir lu," jawab Willy.
"Cie cie..." seluruh anggota the darks disana kompak menggoda Willy serta Aurora yang semakin romantis itu.
Sementara Aurora sedang sibuk menutupi wajahnya yang merona akibat ulah Willy.
Tiba-tiba saja, kericuhan mereka terhenti saat sebuah mobil berhenti tepat di dekat mereka.
Sontak Willy yang sebelumnya duduk, kini bangkit dan menatap ke arah mobil tersebut.
Matanya menangkap jelas siapa yang turun dari mobil itu, dan seketika ia pun terbelalak.
"Permisi! Saya ingin bertemu dengan anak-anak the darks yang tadi sempat ingin membegal saya, mereka pasti ada disini kan?" ucap orang itu.
Willy dan yang lainnya kompak saling menatap satu sama lain, mereka tentunya tidak mengerti dengan kata-kata orang itu.
Bersambung....