
My love is sillie
Episode 114
•
"Eh, ada apa nih kalian? Kok pada tegang kayak gini?" tanya Ilham pada mereka.
"Begini Ham, tadi gue sama Choky dan Geri ketemu geng baru di jalan," jelas Billy.
"Hah? Geng baru? Siapa? Apa nama gengnya?" tanya Ilham terkejut.
"Eee kalo gak salah sih namanya Thunder, ya gak guys?" jawab Billy.
"Bener tuh, emang nama gengnya itu geng thunder!" sahut Choky.
"Geng thunder? Kalo gak salah, mereka itu pernah gue dengar namanya. Jadi, geng thunder tuh bukan geng baru," ucap Ilham.
"Hah? Serius lu Ham? Berarti mereka bisa jadi ancaman buat kita dong?" tanya Billy kaget.
"Iya, mereka sebelumnya masuk penjara karena pernah berurusan sama the darks. Gue rasa mereka punya dendam ke Willy dan teman-temannya itu, jadi kita gak mungkin ada urusan sama mereka!" jelas Ilham.
"Wah berarti bagus dong buat kita Ham! Geng thunder bisa kita ajak kerjasama buat abisin tuh anak the darks!" ucap Billy.
"Gue setuju sama kata-kata Billy! Kalau kita gabung sama geng thunder, kekuatan kita pasti gak akan ada tandingannya. Jangankan the darks, seluruh geng motor juga bisa kita kalahin!" ujar Geri.
"Benar juga! Terus, dimana kalian ketemu sama geng thunder tadi?" tanya Ilham.
"Eee di pinggir jalan kurma, tepatnya tempat jual kerak telor," jawab Billy.
"Loh, ngapain mereka disitu?" tanya Ilham heran.
"Mau makan kerak telor lah Ham, masa rental PS?" jawab Billy dengan candaan.
"Yah berarti kita gak bisa cari mereka disitu lagi dong besok, gak mungkin mereka bakal ke tempat itu lagi. Gue kira kalian tau dimana markasnya," ucap Ilham.
"Siapa tau aja markas mereka ada di dekat sana, ya kan?" ujar Choky.
"Yaudah, kita cari aja besok tempat mereka! Sekarang gimana kalau kita main kartu dulu?" usul Ilham.
"Wah boleh tuh! Setuju gue!" ucap Billy.
"Oke, gas lah ayo!" ujar Ilham.
Tiba-tiba saja, sebuah mobil muncul dan berhenti di dekat mereka dengan sinar lampu menyorot ke arah mereka.
"Eh guys, itu bang Martin. Ayo semua kita berdiri!" ucap Ilham.
Mereka pun kompak bangkit dari duduknya bersiap menyambut kedatangan Martin di markas mereka.
"Selamat malam bang!" sapa Ilham.
"Ya malam juga! Kalian semua lagi pada ngobrolin apa nih?" tanya Martin.
"Eee silahkan duduk aja dulu bang, nanti kita pasti ceritain semuanya ke lu!" ucap Ilham.
"Boleh," Martin menurut dan memilih duduk di tempatnya.
Anak-anak black jack yang lain pun ikut duduk pada tempat masing-masing, mereka terlihat ceria dengan kedatangan Martin disana.
"Jadi, apa yang asyik banget sampe bikin kalian semua kelihatan senang sekali?" tanya Martin.
"Gue baru dapat kabar dari anak-anak, katanya geng thunder udah keluar penjara dan sekarang mereka berkeliaran lagi di jalan," jawab Ilham.
"Geng thunder? Geng mana tuh? Gue baru denger nama itu," tanya Martin penasaran.
"Eee mereka sebenarnya anak lama, tapi mereka sempat hilang beberapa waktu karena masuk penjara. Ya itu semua ulah dari geng the darks sih, jadi sekarang mereka dendam sama anak the darks termasuk Willy!" jelas Ilham.
"Hmm, menarik!" ucap Martin.
******
Hari telah berganti, kini Willy yang sudah pulih seperti biasa kembali menjemput kekasihnya di depan rumah dengan motor kesayangannya.
Aurora juga sudah berdiri disana bersiap menyambut kehadiran sang kekasih tercinta sambil terus menunjukkan senyum manisnya.
"Hai, good morning sayang!" sapa Willy seraya mematikan mesin motornya.
"Hai juga! Kamu beneran udah bisa bawa motor kayak biasa nih?" tanya Aurora ragu.
"Iya dong sayang, kamu lihat sendiri kan ini aku bisa ngendarain motor aku," jawab Willy.
"Iya sih, tapi tetap aja aku masih takut kalau nanti tiba-tiba kamu jatuh," ucap Aurora.
"Tenang aja, gak bakalan jatuh kok sayang!" ucap Willy meyakinkan.
"Yaudah, kamu hati-hati ya bawa motornya! Jangan ngebut-ngebut dulu!" ucap Aurora dengan manja.
"Siap sayangku! Lagian aku juga gak mau lah wanita kesayangan aku ini lecet, bisa kena omel aku sama papa kamu," ucap Willy.
"Ahaha, bisa aja kamu ah!" ujar Aurora malu-malu.
"Yuk lah langsung aja kita berangkat! Mumpung masih banyak waktu, jadi aku mau ajak kamu sarapan dulu di pinggir jalan, tapi itu juga kalau kamu mau sih," ucap Willy.
"Ya jelas mau lah sayang! Siapa sih yang gak mau diajak makan bareng sama cowoknya?" jawab Aurora tanpa ragu.
"Nah gitu dong, aku paling suka kalau kamu udah gak malu-malu lagi kayak gini!" ujar Willy seraya mencubit pipi Aurora.
"Udah ah, mana helmnya?!" pinta Aurora.
Willy terkekeh kecil, lalu memakaikan helm yang ia bawa di kepala wanitanya.
Ctek..
Tak lupa Willy juga mengaitkan tali helm tersebut agar tidak terlepas dari kepala Aurora.
"Yuk naik sayang!" ujar Willy.
"Okay!" Aurora tersenyum singkat, kemudian naik secara perlahan ke atas jok motor Willy dan membenamkan wajah pada punggung pria itu.
"Peluk juga dong sayang, jangan cuma ditempelin aja mukanya!" pinta Willy.
"Iya iya, bawel ah!" Aurora langsung menuruti kemauan Willy, ia sedang tak ingin berdebat dengannya.
"Nah, kalo gini kan nyaman akunya." Willy merasa senang dan terus tersenyum lebar.
"Udah buruan ah jalan!" ujar Aurora.
"Siap cantik!" ucap Willy menurut.
Willy pun mulai menancap gas, melajukan motornya dengan kecepatan sedang seraya menikmati pemandangan indah di sekitarnya.
"Sayang, kalau kamu aku lamar besok kira-kira kamu bakal terima gak?" tanya Willy.
"Hah? Kamu bicara apa sih? Gak kedengaran tau, berisik suara motor!" ujar Aurora.
"Nanti aja deh di tempat makan kita bicaranya," ucap Willy geleng-geleng.
"Kenapa? Kamu bicara yang jelas dong!" ucap Aurora.
Willy terdiam saja, memang percuma jika ia terus bicara karena pasti Aurora tak mendengarnya.
******
Ilham kembali datang ke rumah Sasha, kali ini dengan niat untuk mengajak gadis itu berangkat sekolah bersamanya.
Kebetulan sekali Ilham berpapasan dengan Sasha yang baru keluar dari rumahnya, tentu saja ia tampak bahagia.
"Ehem ehem, pagi cantik!" sapa Ilham.
"Ish, lu ngapain lagi disini ha?" ketus Sasha.
"Wih galak amat sih! Aku kesini buat jemput kamu aja kok, tenang ya!" ucap Ilham.
"Gue gak butuh dijemput sama lu! Gue bisa bawa motor sendiri," ujar Sasha.
"Gapapa lah, sekali-kali kamu pergi ke sekolahnya bareng aku aja!" ucap Ilham.
"Emang di dalam ada abang kamu ya?" tanya Ilham sedikit was-was.
"Iyalah, dia masih di rumah. Kalau lu gak pulang sekarang, gue jamin lu bakal ketemu sama dia dan dihajar lagi!" ucap Sasha.
"Biarin deh, yang penting aku tetap harus berjuang demi bisa dapetin kamu!" ujar Ilham.
"Lo bicara apa sih, Ham? Please lah, lu jangan kayak gini terus! Jujur, gue sebenarnya gak tega lihat lu dipukulin terus sama abang gue!" ucap Sasha.
"Nah, kalo gitu kenapa kamu gak terima aja cinta aku sih? Beres kan?" tanya Ilham.
"Gue gak cinta sama lu Ham, gimana bisa gue terima cinta lu?" jawab Sasha.
"Udah deh, aku males debat sama kamu. Sekarang kamu pergi dan jangan pernah datang lagi kesini!" sambungnya.
Namun, Ilham justru menggeleng cepat.
"Aku gak akan pergi, sampai kamu mau terima cinta aku dan jadi pacar aku. Aku itu cinta banget sama kamu, Sasha!" ucap Ilham kekeuh.
"Ah terserah lu aja deh! Gue mau berangkat sekolah, takut telat. Lo jangan ikutin gue atau paksa gue buat naik motor lu!" ujar Sasha.
"Kita kan satu sekolah Sya, mending kamu bareng aku aja kesana nya!" usul Ilham.
"Dih ogah! Gue bisa bawa motor sendiri, lu gak bisa maksa gue kayak gini!" ucap Sasha.
Sasha pun membuka gerbangnya, mendorong motornya keluar rumah dan kembali menutup gerbang dengan cepat.
"Udah, lu jangan ikutin gue lagi!" ucap Sasha.
Ilham terdiam saja, sedangkan Sasha sudah menaiki motornya dan memakai helm.
"Sya, mau sampai kapan sih lu kayak gini sama gue? Apa salahnya coba lu buka hati buat gue? Gue ini cinta sama lu, ayolah lu ngertiin gue!" ujar Ilham dengan keras.
Sasha tak perduli dengan ucapan Ilham, ia segera menancap gas dan pergi meninggalkan pria itu disana.
"Aaarrgghh sial!" teriak Ilham emosi.
******
Willy dan Aurora tiba di tempat penjual ketoprak sesuai janji yang sudah dikatakan oleh Willy.
Mereka duduk dan memesan makan serta minum untuk sarapan pagi ini.
"Wil, kenapa kamu ajak aku makan disini? Emang gak ada tempat makan lain gitu yang lebih wah?" tanya Aurora.
"Kamu gak mau? Kenapa tadi kamu nurut aja pas aku bawa kesini? Harusnya kamu protesnya tuh daritadi dong sayang," ujar Willy.
"Eee bukan gak mau, aku kan cuma nanya. Lagian gak mungkin juga kita pergi sekarang, orang makannya udah dibuatin," ucap Aurora.
"Ohh, aku ajak kamu makan disini ya karena menurut aku ketoprak disini tuh enak. Aku bisa jamin, kamu pasti suka!" ucap Willy.
"Iya deh, aku percaya sama kamu. Soalnya kamu kan terbiasa makan di tempat kayak gini, pasti kamu lebih tau daripada aku," ucap Aurora.
"Nah gitu dong, yaudah kamu tunggu aja nanti sampai ketopraknya jadi. Kamu bisa nilai sendiri deh rasanya kayak gimana," ucap Willy.
Aurora mengangguk pelan dan nampak tidak sabar menantikan pesanannya datang.
"Silahkan mas, mbak!" penjual itu muncul membawa dua piring berisi ketoprak pesanan mereka.
"Yang pedes mana pak?" tanya Willy.
"Ini mas, nah kalo ini yang gak pedas. Minumnya bentar ya!" jawab penjual itu.
"Iya pak, makasih!" ucap Willy.
Willy dan Aurora pun sama-sama memakan ketoprak tersebut, pria itu tampak menantikan penilaian dari wanitanya saat ini.
"Gimana sayang? Enak gak?" tanya Willy.
"Umm, lumayan enak kok. Selera kamu emang gak pernah salah deh," jawab Aurora.
"Bener kan yang aku bilang, yaudah kamu makan sampe habis ya!" ucap Willy.
"Iya sayang," ucap Aurora menurut.
Tak lama kemudian, penjual tadi kembali membawakan minuman untuk mereka. Lalu pergi lagi membiarkan sepasang kekasih itu makan disana.
"Kalau masih kepedesan juga, kamu minta tambah kecap aja sama penjualnya!" ujar Willy.
"Hah? Emang siapa yang kepedesan sih? Ini aja gak ada pedas-pedasnya," elak Aurora.
"Ah masa? Buktinya kamu sampe keringetan gitu, ngaku aja kali!" goda Willy.
"Ih kamu mah," cibir Aurora.
"Hahaha, lucu banget sih pacar aku ini! Masa cuma makan segitu aja kepedesan? Gimana kamu makan punya aku nih?" ujar Willy.
"Gak lucu ah, kamu mah nyebelin! Sukanya ngecengin aku terus," ucap Aurora ngambek.
Willy tersenyum, lalu mengusap wajah Aurora yang berkeringat dengan jarinya. Aurora tampak tersipu malu dan berpura-pura tidak tahu, hingga membuat Willy makin gemas.
"Duh, kamu itu benar-benar gemesin deh! Aku sayang sama kamu!" ucap Willy.
"Hm, serah kamu! Oh ya, tadi kamu mau ngomong apa pas di motor?" tanya Aurora.
"Ah eee..."
******
Di sekolah, Max tampak menghampiri Kiara yang baru tiba dan langsung merangkul pundak gadis itu begitu saja.
"Hai Kiara!" sapa Max sambil tersenyum menatap wajah gadis itu.
"Max? Kamu apa-apaan sih? Jangan pegang-pegang aku kayak gini ah!" kesal Kiara.
Kiara berusaha melepaskan diri dari rangkulan Max, tetapi lelaki itu malah mengeratkan tangannya dan membuat Kiara makin jengah.
"Ih kamu kenapa sih?! Lepasin gak!" bentak Kiara.
"Bentar cantik, aku cuma mau bicara kok sama kamu. Abis itu aku lepasin deh," ucap Max.
"Bicara apa coba??" tanya Kiara kesal.
"Aku tahu, kamu itu masih cinta kan sama Willy?" tegas Max.
"Sok tau banget sih kamu! Aku udah punya pacar, mana mungkin aku cinta sama Willy?" elak Kiara.
"Udah deh Kiara, kamu ngaku aja sama aku! Aku janji gak akan bilang ke siapapun, termasuk pacar kamu itu!" ujar Max.
"Apa sih? Gausah ngada-ngada deh, aku gak cinta sama Willy!" ucap Kiara.
"Ngaku aja Kiara! Aku bisa bantu kamu kok buat deket sama Willy lagi, asalkan kamu mau ngaku ke aku," ucap Max.
"Ngaku gimana? Aku itu gak cinta sama Willy, kamu gak percayaan banget sih!" tegas Kiara.
"Aku bisa lihat loh ekspresi kamu sewaktu dekat sama Willy, kelihatan jelas kalau kamu itu masih cinta sama dia. Tapi, karena suatu hal yang aku gak tau, kalian terpaksa pisah. Iya kan?" ujar Max.
Kiara terdiam membisu, ia heran bagaimana bisa Max tahu cukup banyak tentang dirinya dan juga Willy.
"Lepasin aku, jangan bicara yang gak jelas deh!" ucap Kiara terus berontak.
"Aku bicara jelas loh, gak jelas darimana coba? Ayo ngaku aja sama aku cantik!" paksa Max.
"Dasar gila! Kalau kamu gak mau lepasin aku, aku bakal teriak sekarang supaya kamu ditangkap dan dibawa ke ruang BK!" ancam Kiara.
"Teriak aja, aku gak takut!" tantang Max.
Kiara melotot ke arah Max, coba melepas tangan Max dari pundaknya tetapi selalu gagal.
"Kiara!"
Mereka berdua terkejut saat seseorang datang dan memanggil gadis itu, keduanya pun menoleh secara bersamaan dengan mulut terbuka.
Bersambung....