
My love is sillie
Episode 54
•
Willy terdiam sejenak, tangannya terus menggenggam erat lengan Aurora di bawah sana.
"Ayo kita temui mereka bersama! Aku mau coba dulu bicara sama mereka, siapa tahu mereka bisa bantu kita kan. Aku bakal terus berjuang untuk dapat dekat dengan kamu!" ucap Willy.
"Wil, lu—"
"Sssttt jangan banyak bicara! Kamu mau aku cium disini sekarang juga?" potong Willy seraya menempelkan telunjuknya di bibir Aurora.
"Ish, ya jangan lah! Ini sekolah dan ramai orang, ngada-ngada aja lu!" ujar Aurora.
"Hahaha, yaudah jangan bandel deh jadi anak! Nurut aja sama yang pacar kamu bilang, ayo kita samperin mereka!" ucap Willy.
"Iya iya.." Aurora pun menurut dengan Willy, biarpun ia masih merasa tidak nyaman.
Willy langsung merangkul Aurora, mengecup bibirnya sekilas dan melangkah mendekati supir serta bodyguard Aurora di depan sana.
"Heh kalian berdua!"
Dua orang yang merupakan supir dan bodyguard Aurora itu pun menoleh begitu ada suara yang muncul di dekat mereka.
Tampak Willy serta Aurora sudah berada di depan kedua orang itu, menatap mereka penuh arti yang membuat keduanya kebingungan.
"Non Aurora? Non sudah pulang kan? Mari non, kita antar sampai ke rumah!" ucap supir itu.
"Tidak. Aurora pulang dengan saya, kalian tidak bisa memaksa dia untuk pulang sama kalian! Karena saya ini kekasih Aurora, jadi saya berhak buat antar dia sampai ke rumah." tegas Willy.
"Hey! Kamu itu bukan siapa-siapanya non Rora, jangan suka mengaku-ngaku ya! Kami ditugaskan oleh tuan kami, untuk menjauhkan Aurora dari anak berandalan seperti kamu. Jadi, kami tak akan biarkan Aurora pulang dengan kamu!" ujar si bodyguard.
"Eee maaf nih pak sebelumnya, tapi anak berandalan yang dimaksud sama papanya Aurora itu bukan saya. Kayaknya anda salah info deh, soalnya saya ini pacarnya Aurora loh." ucap Willy.
"Benar begitu non?" tanya supir itu.
Aurora tampak gugup saat hendak menjawabnya, ia melirik sekilas ke arah Willy dan diberi kode oleh pria itu untuk menjawab iya.
"Eee iya benar, dia pacar aku." jawab Aurora.
"Duh pak, gimana ini? Cowok itu beneran pacarnya non Aurora," bisik si supir di telinga si bodyguard.
"Ah biarin aja! Kita kan disuruh untuk jemput non Rora, jadi non Rora harus bareng sama kita bukan cowok di sebelahnya itu!" ucap si bodyguard.
"Maaf ya non! Kami sudah diberi perintah oleh tuan Johan untuk jemput non Aurora," ucap sang supir.
"Tetap gak bisa dong, saya sama Aurora masih pengen pacaran tau. Emang bapak berdua ini gak pernah muda apa? Pasti kalian punya pasangan kan? Ngerti lah gimana perasaan saya sama Aurora sekarang," ucap Willy.
"Iya, kami memang mengerti. Tapi, kami lebih takut jika tuan Johan memarahi kami karena membiarkan non Aurora pulang dengan anda. Tolong pengertiannya ya mas!" ucap supir itu.
"Sudahlah, tidak usah ada basa-basi lagi! Non Aurora harus pulang dengan kita, tidak ada penolakan! Kalau kamu masih kekeuh ingin mengantar non Rora, ayo hadapi saya disini sekarang juga!" ujar si bodyguard.
"Loh loh, kok jadi pakai kekerasan sih? Gak malu apa dilihat orang-orang? Masa orang seperti anda beraninya sama anak sekolahan?" ujar Willy.
"Kalau begitu jangan ganggu kerjaan kami! Kamu pergi saja sana!" ucap si bodyguard.
"Saya tidak akan pergi, karena saya ingin mengantar Aurora pulang. Justru kalian yang harus pergi dari sini sekarang juga," ucap Willy.
"Dasar kurang ajar!" geram si bodyguard.
Bodyguard itu hendak memukul Willy, tetapi ditahan oleh sang supir Aurora.
"Tahan pak, tahan!" ucap supir itu.
"Aaarrgghh dasar bocah menyebalkan!" umpat si bodyguard sangat kesal.
"Wil, udah ya Wil jangan begini lagi!" bisik Aurora di telinga Willy.
"Gapapa Rora, serahin aja ke aku!" ucap Willy.
******
Sementara itu, Kiara tak sengaja melihat Willy dan Aurora yang sedang berdebat di depannya bersama dua orang pria asing yang tak ia kenali.
Kiara pun penasaran mengapa Willy tampak begitu emosi disana, ia terus memandang ke arah Willy disana sambil berusaha mengerti apa maksudnya.
"Itu kan Willy, dia kenapa ya marah-marah begitu sama orang itu?" ujar Kiara.
Tiba-tiba saja ada seseorang yang menyentuh lengannya dari samping, membuat Kiara terkejut dan reflek menoleh ke arahnya.
"Hah? Max?" ucap Kiara.
"Iya Kiara, kamu lagi ngapain?" tanya Max.
"Eee enggak kok, aku cuma nunggu jemputan dari pacar aku. Dia biasanya udah datang, tapi gak tahu sekarang kenapa dia belum datang juga." jawab Kiara berbohong.
"Ohh, mungkin aja pacar kamu itu gak jemput. Gimana kalau kamu diantar aja sama aku? Kebetulan aku kosong loh," ucap Max.
"Ah gausah, aku tungguin dia aja. Pasti dia datang kok nanti, mungkin sekarang dia lagi kejebak macet atau masih sibuk kerja." ujar Kiara.
"Nah kan, yaudah sama aku aja pulangnya. Aku bisa anterin kamu sampai ke rumah," ucap Max.
"Tadi kan aku udah bilang gausah, kenapa masih maksa sih? Tolong ya, kamu jangan deketin aku terus kayak gini!" pinta Kiara.
"Kenapa sih? Emang salah?" ujar Max.
"Jelaslah salah, aku udah punya pacar dan kamu gak bisa deketin gadis yang udah berpasangan. Kamu kan katanya idola di sekolah ini, harusnya kamu bisa dong cari cewek lain disini yang lebih daripada aku!" ucap Kiara kesal.
"Bisa sih, tapi aku rasa di sekolah ini gak ada yang lebih cantik dari kamu. Ada sih satu, dan itu Aurora cewek yang ada di depan sana itu. Aku juga pengen dapetin dia, tapi ternyata dia juga udah punya pacar." ucap Max.
"Yaudah, kenapa kamu gak coba terus deketin Aurora?" tanya Kiara bingung.
"Karena aku lebih prioritaskan kamu untuk jadi pasangan aku, baru deh kalau gagal aku bakal coba deketin Aurora. Gak ada masalah berarti kan untuk itu?" jawab Max santai.
"Kamu udah gak waras apa gimana sih? Bisa-bisanya kamu bilang itu bukan masalah berarti, dasar aneh!" ujar Kiara keheranan.
"Lepasin tangan aku sekarang!" sambungnya.
Kiara langsung menghentakkan tangannya lepas dari genggaman pria itu, tampak Max masih terus tersenyum memandangi gadis di hadapannya walau Kiara terus memarahinya.
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu terus? Ada yang aneh?" tanya Kiara ketus.
"Enggak kok, aku cuma terpesona dengan kecantikan kamu. Aku jadi penasaran, siapa sih cowok yang beruntung dapetin kamu?" ujar Max.
"Ada deh, kamu gak perlu tau!" ucap Kiara.
"Eee kalo gitu aku tunggu disini bareng kamu, ya? Siapa tahu aku bisa ketemu sama dia, biar aku bandingin siapa yang lebih tampan antara aku dan dia." ucap Max.
"Apa-apaan sih kamu? Enggak ya, aku gak mau kamu ketemu sama pacar aku! Nanti yang ada bakal terjadi masalah besar disini," ucap Kiara.
"Oh ya? Emang kenapa sih? Pacar kamu itu pasti cemburuan banget ya?" tanya Max.
"Masa sih? Aku gak takut tuh sama dia," ucap Max.
"Ehem ehem..."
******
Willy berhasil membawa Aurora pergi dari supir serta bodyguardnya, pria itu melaju cepat dengan motornya membonceng Aurora di belakangnya agar tak dapat dikejar oleh bodyguard tadi.
Namun, tampak kecemasan di wajah Aurora. Selain karena Willy sedang ngebut, Aurora juga cemas jika nantinya ayahnya akan semakin marah padanya setelah mengetahui ini semua.
"Duh, Willy nekat banget sih bawa gue kabur. Kalau papa tahu gimana dong nanti?" batin Aurora.
Tak lama kemudian, Willy menghentikan motornya setelah dirasa aman dan kedua bodyguard Aurora tadi tidak lagi mengejarnya. Kini mereka berhenti di sebuah taman yang lumayan sepi.
"Sayang, kita mampir kesini dulu ya? Aku mau bicara sesuatu sama kamu, tolong jangan tolak aku sayang!" ucap Willy.
"I-i-iya.." ucap Aurora gugup.
Mereka pun turun dari motor, Willy membantu Aurora melepas helmnya dan langsung menggandeng tangan gadis itu pergi menuju tempat duduk yang ada di depan sana.
Keduanya duduk berdampingan disana, Willy menatap wajah Aurora sembari membenarkan rambut gadis itu dan menggeser posisi duduknya lebih dekat ke arah Aurora.
"Wil, kenapa lu senekat itu sih? Kalau mereka sampai lapor ke bokap gue gimana? Yang ada lu bisa makin dibenci!" tanya Aurora heran.
"Entahlah, aku juga gak tahu kenapa aku bisa berbuat senekat ini. Mungkin karena aku udah terlalu cinta sama kamu, aku gak mau dipisahkan dari kamu sayang. Aku itu pengen ada di dekat kamu terus!" jawab Willy.
"Ya tapi gak gini juga, ini kan bisa bahaya buat lu tau!" ujar Aurora.
"Gapapa, yang penting gue tetap bisa dekat sama lu sekarang." ucap Willy seraya menaruh telapak tangannya di wajah Aurora.
"Wil, emang serius lu cinta sama gue?" tanya Aurora penasaran.
Willy terdiam, ia masih fokus menatap wajah Aurora hingga membuat gadis itu bingung.
Lama-kelamaan Willy mulai menarik wajah Aurora lebih dekat ke arahnya, lalu mengecup bibir mungil gadis itu.
Cupp!
Cukup lama Willy menempelkan bibirnya disana, ia tak bergerak sedikitpun dan juga tak ada reaksi dari Aurora saat ini.
Hingga pada akhirnya Willy pun perlahan melumatt bibir Aurora sembari mendekap tubuh gadis itu, mereka pun saling memagut dan berciuman di bawah terik matahari.
Setelah dirasa cukup, Willy melepas pagutannya dan kembali menggenggam tangan Aurora.
"Kamu masih mau tanya lagi soal ketulusan cinta aku ke kamu? Barusan itu udah aku jawab loh, aku cinta banget sama kamu." ucap Willy.
"Loh, gimana bisa ciuman diartikan sebagai tanda cinta? Bisa aja kan lu cuma nafsuu dan gak benar-benar cinta sama gue." kata Aurora.
"Iya juga sih, tapi kenyataannya gue gak begitu. Gue ini tulus cinta sama lu! Bahkan, apapun rintangan yang harus gue hadapi gue siap melewati itu semua demi bisa terus dekat sama lu!" ucap Willy tegas.
"Huh iya deh iya, gue percaya sama lu. Lagian lu juga orang yang udah rebut kesucian bibir gue, jadi gue gak mungkin biarin lu pergi gitu aja setelah merebut itu dari gue." kata Aurora.
"Nah kan, itu artinya lu juga gak mau kehilangan gue kan?" ucap Willy tersenyum.
Aurora mengangguk saja, kemudian membuang muka. Namun, Willy cekatan menarik wajahnya dan kembali melakukan apa yang sebelumnya ia lakukan.
******
Disisi lain, Randi dan anak-anak the darks yang lain sudah berkumpul di markas sesuai dengan perintah Thoriq sebelumnya.
Namun, mereka cukup heran lantaran Thoriq tak kunjung sampai di markas hingga sekarang. Padahal yang mereka tahu, Thoriq sudah berangkat ke markas sedari tadi.
"Eh guys, ini si Thoriq kemana ya? Dia yang ajak ngumpul, dia juga yang gak dateng." ujar Jeki.
"Iya, tumben banget dia telat gini. Biasanya dia paling awal sampe disini," sahut Leo.
"Gue juga bingung, padahal tadi pas dia telpon gue katanya tuh udah di jalan mau kesini. Masa iya dia sampai sekarang belum nyampe juga?" ujar Randi.
"Jangan-jangan terjadi sesuatu sama dia pas di jalan!" ucap Jeki.
"Hus, lu gak boleh bilang gitu Jek! Kalau beneran terjadi sesuatu sama Thoriq gimana?" ujar Farrel.
"Iya Jek, kita tuh harus berpikir positif! Siapa tahu Thoriq mampir dulu ke suatu tempat, ya kan?" sahut Leo.
"Tapi, ini mencurigakan sih." ucap Randi.
"Nah kan, si Randi aja sepemikiran sama gue. Soalnya gak logis banget kalau Thoriq belum nyampe ke markas, padahal dia udah jalan lebih dulu daripada kita." ujar Jeki.
"Ya tapi gue juga gak tahu sih dia kenapa, kita tunggu aja kabar dari dia!" ucap Randi.
"Okelah," ucap Farrel mengangguk pelan.
"Yaudah Rel, mending lu beliin kita minuman dulu deh sana di warung! Gue haus nih, nanti tenggorokan gue bisa kering." ucap Jeki.
"Dih, lu siapa nyuruh-nyuruh gue? Sana lu jalan sendiri kalo haus mah, punya tangan sama kaki kan?!" ucap Farrel.
"Yah elah begitu banget lu sama temen!" cibir Jeki.
"Iya Rel, lu beliin gih minuman buat kita semua! Nih uangnya gue kasih, yang dingin ya!" ucap Randi.
"Nah, buruan jalan sana!" ujar Jeki.
"Yeh iye iye.." ucap Farrel pasrah.
"Hahaha..." mereka kompak tertawa keras.
Setelah Farrel pergi membeli minuman, ponsel milik Randi tiba-tiba berdering dan membuatnya kebingungan.
Drrttt.. drrttt...
"Bentar guys, ini ada yang telpon. Dari nomor yang gak jelas sih, tapi siapa tau penting." ucap Randi.
"Oke Ran, lu angkat aja dulu!" ucap Jeki.
Randi mengangguk pelan, kemudian mengangkat telpon tersebut tanpa turun dari motornya.
📞"Halo! Ini siapa ya?" tanya Randi bingung.
📞"Iya, halo mas! Ini dari pihak rumah sakit, kami ingin mengabarkan kalau salah seorang teman anda terluka dan sedang mengalami pengobatan di rumah sakit bina seta. Mungkin anda bisa datang kesini segera," jawab seseorang disana.
📞"Apa? Teman saya masuk rumah sakit? Siapa namanya mbak?" tanya Randi terkejut.
📞"Eee dari informasi yang kami dapat, pasien bernama lengkap Fredian Thoriq Sucipto." jawab orang itu lagi.
Deg!
Randi langsung syok berat begitu mendengar nama Thoriq disebut, ia reflek menutup mulutnya dan mengusap wajahnya disana.
"Ya Tuhan, Thoriq!" ucap Randi.
Bersambung....