My Love Is Sillie

My Love Is Sillie
Episode 23. Pengeroyokan



My love is sillie


Episode 23



Ilham bersama anggota gengnya masih terus mengejar si pemotor yang tadi memantau markas mereka dari jauh.


Mereka saling kejar-kejaran cukup jauh, Ilham pun tak berhenti meneriaki si pemotor sambil berusaha menendang motor tersebut.


"Woi berhenti lu!" teriak Ilham dengan lantang.


Akan tetapi, pengendara motor itu cukup lihai menghindari serangan-serangan dari Ilham dan teman-temannya. Sehingga mereka semua tidak bisa menangkapnya apalagi menyalipnya.


"Sialan tuh orang! Jago juga dia bawa motornya!" geram Ilham.


"Ham, kita harus bisa tangkap dia! Gue yakin banget itu si Willy!" ucap Billy.


"Iya Bil, kita gak boleh lepasin dia!" ucap Ilham.


Mereka menambah kecepatan berusaha menangkap pemotor yang diduga adalah Willy, namun cukup sulit karena pemotor itu sudah mulai menjauh dari mereka.


Akhirnya Ilham dan teman-temannya pun memutuskan untuk berhenti ke pinggir, mereka sudah tidak berani mengejar pemotor tadi karena dia memasuki area perumahan militer.


"Ah sial! Dia kok bisa masuk kesana ya?" geram Ilham memukul speedometer motornya.


"Gue juga gak tahu, apa jangan-jangan dia cuma sengaja supaya kita gak kejar dia lagi. Setelah kita cabut, dia pasti bakal keluar lagi." kata Billy.


"Bener tuh kata Billy! Ini pasti cuma ide dia aja buat menghindar dari kita, kalo gitu kita gak boleh kalah dari dia dan kita harus tetap disini!" ucap Dean.


"Gue setuju!" sahut Geri.


"Tapi, kita gak boleh nunggu disini. Si Willy pasti gak akan keluar selagi kita masih ada di dekat sini, maka dari itu kita harus cabut dan tunggu dia agak jauh." ucap Ilham.


"Oh iya bener tuh, yaudah kita cabut dulu sekarang!" ucap Billy.


Mereka semua pun melaju pergi dari area komplek marinir itu, Ilham sudah memiliki rencana untuk menjebak Willy agar mau keluar dari sana sehingga mereka akan lebih mudah menangkap Willy dan menghabisinya.


***


Sementara pemotor yang tadi memasuki komplek marinir pun menghentikan lajunya, ia melepas kaca helm dan menoleh ke belakang, melihat segerombolan geng motor yang sudah melaju pergi meninggalkan tempat itu.


"Huh syukurlah mereka mau pergi! Benar kan dugaan gue, mereka gak akan berani ikut masuk kesini!" gumam Willy tersenyum.


Lalu, dua orang tentara yang bertugas di palang pintu tadi menghampirinya dan menegurnya.


"Hey! Kamu baik-baik saja kan?" tanya salah seorang tentara itu.


"I-i-iya pak, saya baik kok. Terimakasih ya pak udah izinin saya masuk! Saya takut banget tadi pak, mereka itu anak geng motor berandalan!" jawab Willy sedikit gugup.


"Yasudah, syukurlah kalau kamu baik-baik saja! Sekarang kamu bisa pergi dari sini, keadaan sudah aman karena geng motor itu sudah pergi." perintah tentara itu.


"Baik pak! Sekali lagi terimakasih ya pak!" ucap Willy tersenyum.


"Sama-sama,"


Willy pun memakai kembali helmnya, memberi hormat sejenak lalu melaju pergi keluar dari area komplek itu.


***


Geng motor black jack yang memantau dari jauh pun langsung bergerak begitu melihat Willy keluar dari komplek itu, mereka kembali mengejar Willy sesuai perintah dari Ilham.


"Ayo kejar dia! Kita berpencar dan cegat dia supaya dia gak bisa kabur lagi!" ucap Ilham.


"Bil, lu sama Dean dan Geri lewat samping! Gue sama yang lainnya lurus, ayo cepat cepat!" sambungnya.


"Siap Ham!" ucap mereka kompak.


Puluhan orang itu melaju kencang mengejar Willy dengan saling berpencar, Ilham berharap bisa segera menangkap Willy dan menghajarnya, karena ia sudah sangat geram dengan musuhnya itu.


"Lihat aja lu Wil, abis lu sama gue!" batinnya.


***


"Sial! Ternyata mereka jebak gue, sekarang mereka malah cegat gue begini!" gumam Willy dalam hati.


"Hahaha... mampus lu Wil! Sekarang lu gak bisa lepas dari kita, siap-siap aja lu bakal masuk ke UGD sama kayak yang gue alami!" ujar Ilham.


Willy terdiam menelan saliva nya, ia melihat ke sekeliling dan jumlah mereka sangat banyak, tentu saja Willy agak gemetar karena belum pernah ia bisa menang menghadapi cukup banyak orang seperti itu, terlebih mereka adalah geng black jack yang sudah tentu ahli dalam berkelahi.


"Kenapa diem? Turun lu!" bentak Ilham.


"Ahaha, kayaknya dia takut deh sama lu, Ham. Cupu banget sih! Beraninya kalau ramai-ramai, giliran sendiri kicep!" cibir Billy.


"Tau nih dasar lemah lu Willy!" sahut Dean ikut menertawakan Willy.


Willy menggeleng pelan, kemudian melepas helmnya menatap seluruh wajah orang-orang itu sambil turun dari motor.


"Kata siapa gue takut?" ucap Willy seraya melipat lengan jaketnya.


"Mau apa lu datang ke markas kita dan pantau dari jauh kayak gitu, ha?" tanya Ilham emosi.


"Oh soal itu, santai aja gue gak ada maksud apa-apa kok. Gue cuma mau lihat kondisi markas the darks sekarang, ternyata malah jadi tempat kumpul makhluk-makhluk lembek seperti kalian. Gue kasihan aja sama tuh tempat, dari markas geng mematikan jadi markas geng lembek kayak kalian!" jawab Willy dengan santai.


"Kurang ajar!" Ilham terpancing emosi dan langsung menyerang Willy, sontak Willy menghindar namun Ilham masih terus menyerangnya bertubi-tubi.


Billy serta yang lainnya pun ikut maju menyerang Willy, mereka mengeroyok Willy secara membabi buta penuh emosi.


******


Martin dan Kiara terjebak macet di kawasan dekat perkelahian Willy dengan para anggota black jack, Martin pun tampak heran sekaligus kesal karena kemacetan panjang yang terjadi itu.


Tiiinnnn...


Tiiinnnn...


Klakson terus dibunyikan, namun tetap tidak ada perubahan. Mobilnya masih terjebak dalam kemacetan itu, sehingga Martin yang kesal memutuskan untuk membuka jendela dan bertanya pada salah seorang pengendara motor di sampingnya.


"Pak, ini macet karena apa sih?" tanya Martin.


"Ohh anu mas, saya dengar-dengar sih di depan ada perkelahian geng motor yang nutupin jalan." jawab pemotor itu.


"Perkelahian?" Martin cukup terkejut mendengarnya.


"Yaudah, makasih ya pak!" sambungnya.


"Sama-sama, mas."


Martin menutup kembali kaca mobilnya, lalu menatap ke arah Kiara dan menggenggam dua tangan gadis itu.


"Kiara, kamu tunggu sebentar ya!" pinta Martin.


"Iya tuan. Tapi, kenapa bisa ada perkelahian geng motor di jalan raya kayak gini ya tuan? Apa gak ada polisi yang berjaga? Aku kadang suka bingung deh sama orang-orang itu," ujar Kiara.


"Entahlah. Udah gausah dipikirin!" ucap Martin mengusap rambut Kiara sambil tersenyum.


Kiara mengangguk pelan dan membenamkan wajahnya pada bahu sang kekasih.


"Eee pak, kita cari jalan pintas ya! Kasihan istri saya ini, dia sudah kelaparan!" ucap Martin pada supirnya.


"Siap tuan!" ucap supir itu.


Lalu, sang supir pun mencari tempat untuk berputar balik menghindari kemacetan parah itu.


Sementara Nadira seketika teringat pada sosok Willy, ia khawatir jika geng motor yang dimaksud itu adalah Willy.


"Aku jadi keinget sama Willy, apa dia masih jadi anak geng motor atau udah enggak ya?" batin Kiara.


Bersambung....