
My love is sillie
Episode 39
•
Para anggota black jack yang dipimpin oleh Billy berhasil menaklukkan anak-anak the darks dan membuat mereka semua terkapar di jalan.
Setelah merasa puas, Billy serta teman-temannya pun tampak menertawakan Thoriq dan yang lainnya itu sembari melepas jaket mereka.
"Woi! Lu mau apain jaket kita?!" geram Thoriq.
"Hahaha... kita gak bakal apa-apain kok, kita cuma mau bakar nih jaket di depan mata kalian! Supaya kalian tahu, siapa penguasa jalanan yang sebenarnya sekarang!" jawab Billy dengan sombong.
"Sialan! Lu emang benar-benar kurang ajar, Bil! Lihat aja, kita bakal balas perbuatan lu!" ujar Thoriq.
"Balas? Yakin? Lu mau balas kayak gimana sih Thoriq, ha? Pake Willy? Dia aja lagi gak berdaya, gimana bisa dia bantu kalian sekarang? Hahaha..." ujar Billy tertawa mengejek.
"Tau lu, udah deh mending kalian pada diem aja dan lihat pertunjukan yang keren banget ini!" ucap Geri.
Tanpa berlama-lama lagi, Billy langsung melempar semua jaket milik the darks itu ke jalanan dan menumpuknya.
Lalu, terlihat Dean menuangkan minyak tanah ke atas jaket tersebut dan Billy pun menyalakan korek api kemudian melemparnya ke tumpukan jaket itu.
Dengan seketika, seluruh jaket anak-anak the darks terbakar di depan mata mereka.
Tawa kepuasan terdengar jelas, seluruh anggota black merasa puas karena telah berhasil mengalahkan anak the darks plus membakar jaket mereka tanpa tersisa.
Tampak Thoriq dan yang lainnya hanya bisa pasrah melihat jaket mereka terbakar hangus, mereka tak dapat melakukan apapun lagi saat ini.
"KURANG AJAR LU SEMUA...!!" teriak Thoriq.
"Hahaha, ayo teriak aja sepuas lu Thoriq! Kita gak akan larang lu kok, tapi jangan salahin kita ya kalau suara lu habis nanti dan lu gak bisa teriak-teriak lagi kayak gini." ujar Billy.
"Bener tuh! Mending lu hemat dah suara lu, supaya lu bisa lapor ke si Willy tentang semua ini!" sahut Dean.
Wiuuu wiuuu wiuuu...
Tak lama kemudian, terdengar suara sirine polisi di dekat sana.
Sontak itu membuat Billy dan yang lainnya merasa cemas, mereka tentunya tak mau masuk penjara.
"Gawat! Ada polisi lagi, cabut guys!" ujar Billy.
Seluruh anggota black jack pun pergi dari sana meninggalkan the darks yang masih bersedih disana meratapi jaket mereka.
Thoriq, Randi dan yang lainnya maju mendekat melihat jaket mereka yang sudah hangus terbakar akibat ulah black jack.
"Aaarrgghh sial! Kurang ajar tuh anak-anak black jack, mereka emang minta dibantai!" geram Thoriq.
"Iya Riq, kita harus balas mereka! Kita gak bisa diam aja kayak gini, harga diri kita udah diinjak-injak sama mereka! Pokoknya gue gak mau tau, kita juga harus bakar jaket mereka!" ucap Jeki.
"Benar banget, gue setuju sama kata-kata lu Jek! Ini namanya penghinaan, dan kita gak bisa diam aja kayak gini! Anak-anak black jack harus dapat balasan yang setimpal!" sahut Leo.
"Haaahhh..." Thoriq berteriak cukup keras.
******
Bu Ani tampak menceritakan apa yang ia lihat tadi kepada pak Gunawan, kebetulan saat ini sudah malam dan Willy pun telah berada di kamarnya.
Terlihat pak Gunawan tengah menonton bola di tv, Bu Ani pun mendekatinya dan duduk di samping sang suami sembari membawakan sepiring pisang goreng serta kopi.
"Pak, ini pisang goreng sama kopinya. Buat temen nonton bola," ucap Bu Ani.
"Wah iya Bu, ini dia yang bapak tunggu daritadi. Makasih ya Bu!" ucap pak Gunawan tersenyum.
"Sama-sama pak, nonton bola apa sih? Kok kayaknya serius banget?" tanya Bu Ani heran.
"Ya iyalah Bu, harus serius kalo lagi nonton club kesayangan main!" jawab pak Gunawan.
"Ealah bapak ini! Oh ya pak, ibu punya cerita deh yang seru!" ujar Bu Ani.
"Hah? Cerita apa Bu?" tanya pak Gunawan.
"Begini pak, tadi siang itu ibu ngeliat Willy sama Aurora lagi peluk-pelukan disini. Mereka kelihatan mesra banget tau pak, ibu jadi yakin deh kalau Willy emang ada rasa sama Aurora!" jawab Bu Ani.
"Nah kan, ibu sih gak percaya sama bapak! Kan bapak udah bilang, Willy itu naksir sama si Aurora. Tapi, gak ada yang percaya sama bapak." kata pak Gunawan.
"Iya deh iya, bapak benar. Tapi, ini beneran loh pak! Ibu jadi ikut seneng lihatnya!" ucap Bu Ani.
"Hooh Bu, bapak juga seneng banget kalau Willy bisa sampai jadian sama nak Aurora!" ucap pak Gunawan tersenyum.
"Aamiin! Kita berdua cukup doakan saja yang terbaik buat mereka, tidak usah terlalu ikut campur!" ucap Bu Ani.
"Iya Bu, tapi kalau usaha buat deketin mereka sih gapapa lah Bu. Kan ibu tahu sendiri anak kita kayak gimana malunya," ujar pak Gunawan.
"Ahaha, iya juga sih." kata Bu Ani terkekeh.
Tanpa disadari oleh mereka, rupanya Willy mendengar semua yang diobrolkan oleh kedua orangtuanya itu.
Willy mengintip dari balik pintu kamarnya, kebetulan memang jarak antara ruang tamu dan kamar Willy tidak begitu jauh sehingga ia dapat mendengar obrolan ayah dan ibunya itu.
"Jadi bapak sama ibu pengen aku dan Aurora jadian?" batin Willy.
******
Keesokan harinya, Willy keluar kamar dan menuju ke meja makan untuk melaksanakan sarapan bersama kedua orangtuanya yang sudah lebih dulu berada disana.
Willy menarik kursi, duduk di hadapan bapak dan ibunya itu sambil tak lupa menyapa mereka seperti biasanya.
"Pagi pak, pagi Bu!" ucap Willy sambil tersenyum.
"Iya, pagi juga sayang! Gimana istirahatnya semalam? Nyenyak kan?" ucap Bu Ani.
"Nyenyak kok Bu, aku kan lagi senang karena aku udah bisa keluar dari rumah sakit dan kumpul lagi di rumah ini sama bapak dan ibu." jawab Willy.
"Ahaha, bagus deh sayang! Ibu ikut senang dengar kamu senang!" ucap Bu Ani tersenyum.
"Oh ya pak, katanya bapak mau pindahin aku ke sekolah baru. Nah, sekolah mana sih pak?" tanya Willy pada bapaknya.
"Kamu penasaran ya..??" goda pak Gunawan.
"Haish, bapak ini ditanya benar-benar jawabnya malah bercanda. Aku serius loh pak, bapak mau masukin aku ke sekolah mana?!" ujar Willy.
"Hahaha, sabar dong Willy! Bapak itu pengen kamu sekolah di tempat neng Aurora sekolah, supaya kalian berdua bisa deketan terus!" ucap pak Gunawan.
"Apa??" Willy terkejut mendengarnya, ia sampai tidak jadi minum.
"Iya Willy, bagus kan ide bapakmu ini?" ucap pak Gunawan sambil nyengir.
"Bagus apanya pak? Dari sekian banyak sekolah SMA di negeri ini, kenapa bapak pilih sekolahnya Aurora sih? Lagian bapak tahu darimana tempat Aurora sekolah?" tanya Willy bingung.
"Kamu ini kayak gak tahu bapak aja, bapak kan bisa dapat informasi dari manapun. Hahaha enggak lah, bapak tahu ya dari nak Aurora sendiri." jawab pak Gunawan.
"Aduh pak! Jangan deh daftarin aku ke sekolah Aurora, itu pasti sekolah elit pak dan bayarannya mahal! Aku gak mau ah!" tolak Willy.
"Loh kenapa? Bapak mampu kok sekolahin kamu disana, udah ya jangan membantah! Ikuti saja kemauan bapak dan ibu, kamu itu tinggal sekolah aja yang bener!" tegas pak Gunawan.
"Udah lah Willy, ikuti saja apa kata bapak kamu!" sahut Bu Ani mendukung suaminya.
"Nah bagus itu!" ujar pak Gunawan tersenyum.
"Yasudah, ayo kamu sarapan! Abis itu kita coba datangi sekolahnya, sekalian kamu jemput nak Aurora." sambung pak Gunawan.
"Hah??" Willy kembali dibuat terkejut oleh perkataan bapaknya sendiri.
******
Aurora dan dua orang temannya yang bernama Cindy serta Elsa, baru saja keluar dari kelas mereka dan hendak pergi menuju kantin karena waktu istirahat sudah tiba.
Mereka tampak asyik berbincang-bincang, menuruni tangga hingga tiba di lantai dasar sekolah.
Saat tengah asyik berbincang, tiba-tiba saja mereka berpapasan dengan seorang lelaki tampan yang merupakan idola di sekolah itu.
Sontak saja Cindy dan Elsa merasa syok melihat lelaki di hadapan mereka itu, siapa yang tidak kagum dan terpesona dengan lelaki tampan nan rupawan itu.
"Eh eh Rora, ada si Max tuh." ujar Cindy.
"Iya gue tahu, terus apa masalahnya sama gue?" ujar Aurora dengan santainya.
"Yeh lu emang aneh banget sih! Dideketin Max malah biasa-biasa aja!" ucap Elsa heran.
"Iya, coba kalo gue yang dideketin. Beuh pasti udah salting parah gue!" sahut Cindy.
"Apaan sih, lebay lu?!" cibir Aurora.
"Hai Aurora!" ucap pria bernama Max itu menyapa Aurora dengan senyum manisnya.
"Hai!" balas Aurora singkat dan ketus.
"Halo Max tampan! Kok cuma Aurora doang sih yang disapa? Kan ada kita juga loh disini, lu gak ngeliat?" ujar Cindy cukup genit.
Max tersenyum tipis, kemudian kembali beralih menatap Aurora karena ia memang hanya menyukai gadis itu.
"Aurora, kamu mau ke kantin ya? Bareng aku aja yuk!" ucap Max.
"Enggak deh, gue sama teman-teman gue aja. Lu kalo mau ke kantin juga, yaudah sendiri aja sana!" ucap Aurora ketus.
"Jangan gitu dong Aurora! Kita bareng aja yuk ke kantinnya!" paksa Max.
Aurora terus menggeleng, namun Max juga terus memaksanya.
Bahkan, Max dengan berani mencengkram lengan Aurora dan memintanya untuk ikut dengannya.
"Ayolah Aurora, kali ini aja ikut sama aku ya! Aku traktir kamu deh dan kamu bebas mau pesan makan atau minum apapun itu!" ujar Max.
"Gue bilang gue gak mau, lu jangan paksa gue dong! Lepasin tangan gue!" ucap Aurora coba berontak.
"Aku gak akan lepasin kamu, sebelum kamu mau ikut sama aku!" tegas Max.
Cindy dan Elsa pun tampak bingung harus bagaimana, mereka sebenarnya juga tidak mau jika Max memaksa Aurora seperti itu.
Namun, tentu saja dua gadis itu tidak berani melawan Max walau sebenarnya mereka sangat ingin melakukan itu demi membantu Aurora.
******
Willy dan pak Gunawan tengah berkeliling lingkungan sekolah, mereka baru saja menyelesaikan masalah keuangan agar Willy dapat bersekolah disana.
Tampak Willy terus celingak-celinguk seperti mencari dimana Aurora, dan pak Gunawan pun tahu akan itu.
"Ehem ehem, nyariin siapa sih Wil? Aurora ya? Tenang aja Willy, paling nanti juga ketemu sama nak Aurora! Kalaupun enggak, besok kan kamu udah mulai sekolah disini. Jadi, kamu bisa kapan aja ketemu sama dia." kata pak Gunawan.
"Apa sih pak? Aku gak nyariin Aurora kok, orang aku lagi lihat-lihat bangunan sekolah ini." elak Willy.
"Halah ngeles aja kamu Wil! Bapak tahu kok apa yang ada di pikiran kamu," ucap pak Gunawan.
"Bapak sok tahu nih!" ujar Willy.
"Hahaha, ya terserah kamu ajalah Wil! Kalo gitu bapak mau istirahat dulu ya disini? Capek juga keliling sekolah ini, ternyata sekolahnya lumayan besar." ucap pak Gunawan memilih duduk.
"Iya pak, aku mau lanjut deh kesana. Jadi, pas besok aku mulai sekolah, aku gak kesasar lagi kalau mau kemana-mana." kata Willy.
"Yasudah, bapak tunggu disini ya?" ucap Gunawan.
"Oke pak!" ucap Willy singkat.
Willy pun pergi meninggalkan bapaknya untuk lanjut berkeliling sekolah.
"Keren juga nih sekolah!" ujarnya.
"Lepasin gue!"
Tanpa diduga, Willy mendengar suara teriakan seorang wanita dari depan sana. Willy yang penasaran, mencoba untuk mencari asal suara karena ia seperti mengenali suara tersebut.
Benar saja dugaan Willy, rupanya suara tadi adalah milik Aurora yang tengah berusaha melepaskan diri dari genggaman Max.
Tentu saja Willy geram melihat itu, ia tak terima ada laki-laki yang melakukan hal seperti itu kepada Aurora.
"Woi!" Willy berteriak keras dan melangkah menghampiri mereka di depan sana.
Sontak Max, Aurora serta dua temannya terkejut dengan teriakan itu. Mereka menoleh ke arah Willy dan langsung syok.
"Lepasin tangan dia!" tegas Willy.
"Lu siapa? Gausah ikut campur deh! Lagian lu juga bukan murid sini, jadi lu gak berhak ada disini!" ucap Max kesal.
"Kata siapa? Mulai sekarang gue udah resmi terdaftar di sekolah ini, dan gue berhak buat ada disini. Jadi, lu lepasin tangan Aurora sekarang atau gue hajar lu!" ucap Willy.
"Apa? Hajar gue? Lu murid baru disini tapi udah songong ya, berani banget lu bilang gitu sama gue! Lu belum tahu kan siapa gue?!" ujar Max.
"Gue gak perduli lu siapa, selagi lu sentuh tangan Aurora, itu artinya lu udah cari masalah sama gue! Dan gue gak akan biarin siapapun termasuk lu, nyakitin Aurora!" tegas Willy.
"Hahaha, emang lu siapanya Aurora? Pacar?" ujar Max tertawa meledek.
"Iya, gue pacarnya. Kenapa? Lu gak suka?" jawab Willy dengan tegas dan mendekat.
Semuanya terdiam menganga, termasuk Aurora yang tak mengira kalau Willy akan berkata seperti itu di hadapan Max.
"Sekarang lepasin tangan pacar gue!" ujar Willy.
Willy menyingkirkan tangan Max dari lengan Aurora, lalu menarik gadis itu ke dalam dekapannya.
"Kamu gapapa kan sayang?" tanya Willy pada Aurora dengan nada lembut.
Aurora menatap wajah Willy dengan heran, namun Willy nampak memberi kode padanya untuk berakting seakan mereka benar-benar pacaran.
"Eee aku gapapa," jawab Aurora gugup.
"Ka-kamu kenapa bisa ada disini?" ucap Aurora bertanya pada Willy.
"Iya, aku kan pindah kesini. Mulai besok aku bakal satu sekolah sama kamu, jadi aku bisa jagain kamu dari laki-laki gatal seperti dia!" ucap Willy sambil menyindir Max.
Max membuang muka, ia masih tak percaya jika Aurora sudah memiliki kekasih.
Bersambung....