
My love is sillie
Episode 143
•
"Hah? Cium? Cium pipi maksud kamu kan?" kaget Aurora.
"Ya bukanlah sayang, cium bibir yang aku mau. Atau enggak, aku yang cium kamu duluan nih," ujar Willy seraya memegang bibirnya.
"Ih gak mau!" tolak Aurora.
"Ohh gitu..." tanpa aba-aba, Willy menarik tengkuk Aurora dan mencium bibirnya cukup lama.
"Mmppphhh mmppphhh!!" Aurora coba berontak tetapi gagal.
Perlahan Willy mulai mendorong tubuh Aurora hingga menempel di tembok, memperdalam ciumannya sambil terus memaksa lidahnya untuk masuk.
Aurora yang tak mampu melawan, akhirnya membuka mulutnya dan memberi akses bagi Willy untuk bermain disana.
Merasa Aurora mulai kehabisan nafas, Willy pun melepas sejenak tautan mereka dan itu langsung dimanfaatkan Aurora untuk mengambil nafas.
"Haaahhh haaahhh.."
"Kamu benar-benar gak waras ya Willy!" kesal Aurora pada kekasihnya.
"Hahaha..."
"Ish malah ketawa, gak lucu tau! Aku sebel banget pokoknya sama kamu!" kesal Aurora.
"Hey, iya iya aku minta maaf!" ujar Willy sembari memeluk gadisnya itu dan mengusapnya lembut.
"Tadi itu aku terlalu naf-su sama kamu, jadinya aku lupa buat lepas ciumannya dan bikin kamu susah nafas. Maafin aku ya Aurora yang cantik jelita!" bujuk Willy.
Aurora hanya memutar bola mata malas, Willy pun menangkup wajahnya dan kembali mengecup bibir manis yang menjadi candu baginya itu.
Cup!
"I love you Aurora sayang!" ucap Willy.
"Willy, nak Aurora!" panggil Bu Ani.
Seketika Aurora dan Willy kompak terkejut melihat keberadaan Bu Ani serta Sasha disana.
"Hah ibu??" kaget Willy.
"Duh duh duh, kalian ini dilihat-lihat makin dekat dan mesra aja sih! Ibu jadi iri deh lihatnya, semoga kalian berdua langgeng terus ya!" ucap Bu Ani.
"Hehe, iya Bu aamiin! Insyaallah abis lulus aku bakal nikahin Aurora!" ujar Willy.
"Hah??" Aurora terkejut bukan main.
"Eh, kamu kenapa kayak gak senang gitu Aurora? Kamu gak mau dinikahin sama aku?" tanya Willy.
"Bu-bukan gitu Willy, tapi kan kamu udah janji buat nungguin aku lulus kuliah dulu," jawab Aurora.
"Iya juga sih," lirih Willy.
"Lagian ngapain sih kamu mau buru-buru nikahin nak Aurora? Takut diambil orang lain ya?" ujar Bu Ani sambil terkekeh kecil.
"Itu salah satu alasannya Bu, soalnya Aurora ini kan cantiknya bukan main. Aku gak mau lah ada cowok lain yang embat dia," jawab Willy.
"Ngomong apa sih kamu? Mana ada yang berani rebut aku dari kamu? Yang ada mereka nanti bakal dihajar dan dibikin masuk ke UGD sama kamu," ucap Aurora.
"Hahaha, iyalah itu yang bakal aku lakuin kalau sampai ada yang deketin kamu!" kekeh Willy.
"Udah udah, ngobrolnya disambung sambil makan aja! Ini udah mau siang loh, nanti kalian telat sekolah gimana?" potong Bu Ani.
"Oh iya, keasyikan ngobrol sama cewek cantik sih Bu jadi lupa waktu!" ucap Willy sambil menatap wajah Aurora.
Seketika Aurora kembali tersipu mendengar ucapan yang dilontarkan Willy.
"Cie cie mukanya merah cie," goda Willy.
"Apa sih kamu? Malu tau ada ibu sama teman kamu!" sentak Aurora.
"Gausah malu, mereka mah gak akan masalahin itu kok. Ya kan Bu? Sasha?" kekeh Willy.
"Eee..."
******
"Ki-kita gak mesum kok bang, kita kesasar. Tadi kita lagi naik kuda ini, terus gak sengaja sampai ke hutan ini. Untung kami ketemu sama abang, bisa kan kami minta bantuan?" jelas Thoriq.
"Kesasar? Jadi, kalian sewa kuda terus kesasar sampe sini?" tanya si pria.
"I-i-iya bang, emangnya kenapa?" Thoriq merasa heran dan curiga.
"Bohong! Alasan macam apa kayak gitu? Tempat kuda aja gak ada di dekat sini, jangan ngarang deh kalian!" tegur si pria.
"Ya mending kalian ngaku aja kalau mau berbuat mesum!" sahut pria yang lain.
"Apa sih bang? Mana ada kita mesum disini? Kalaupun iya, kenapa kita begituan siang-siang coba kan bisa malam biar enak?!" sangkal Thoriq.
"Iya juga ya.."
"Yaudah kita percaya sama alasan kalian, tapi emang kalian ini siapa dan tinggal dimana?" tanya pria itu pada Thoriq.
"Kenalin bang, saya Thoriq dan ini pacar saya namanya Mia!" ucap Thoriq seraya mengulurkan tangan ke arah pria itu.
"Gue Jamal, terus ini teman gue Ujang. Kita pemburu disini dan setiap hari kita selalu kesini buat tangkap buruan kita, gak nyangka juga kita bisa ketemu kalian sekarang," jawab pria bernama Jamal itu.
"Ohh, salam kenal ya bang Jamal, bang Ujang!" ucap Thoriq agak grogi.
Jamal dan Ujang hanya mengangguk pelan disertai senyum tipis, lalu mereka menyudahi sesi salaman itu dan kembali berbincang.
"Kalian mau keluar dari hutan ini kan?" tanya Jamal.
"I-i-iya bang, abang berdua bisa bantu kita keluar dari sini?" jawab Thoriq.
"Ya bisa lah, itu mah hal kecil buat kita. Tapi sebelumnya, gue minta kalian temenin gue dulu buat cari mangsa di sekitar sini!" ucap Jamal.
"Mangsa? Mangsa apa maksudnya bang?" tanya Thoriq tak mengerti.
"Ya hewan buruan lah, gimana sih lo?!" jawab Jamal ketus.
"Hehe.."
"Ta-tapi bang, kita gak ngerti caranya cari hewan buruan. Berburu aja kita gak pernah, ya kan sayang?" ucap Mia.
"Eee i-i-iya, betul itu bang!" sahut Thoriq dengan sedikit gugup.
"Lu berdua tenang aja, kita pasti kasih tau caranya nanti! Yang penting sekarang kalian ikut aja dulu sama kita!" ucap Jamal.
"Oke deh bang! Tapi, bener kan kalian bakal bantu kita buat keluar dari hutan ini?" ujar Thoriq.
"Iya, yah elah kagak percayaan amat! Gue mah udah hafal sama daerah sini," ucap Jamal.
Thoriq manggut-manggut saja, ia pun terpaksa mengikuti kemauan Jamal dan Ujang, meski ia sedikit merasa ragu.
"Sayang, kamu yakin?" bisik Mia.
"Kamu tenang aja!" balas Thoriq singkat.
******
"Iya tuh, kita harus abisin mereka!" timpal Billy.
"Gue punya saran buat kumpulin seluruh geng di Jakarta, gue bakal minta bantuan ke mereka untuk menghabisi anak-anak the darks," usul Rimba.
"Hah??!" kaget Ilham. "Serius lo bro?" sambungnya terkejut bukan main.
"Ya iyalah, semakin banyak orang yang kita kumpulin, semakin besar juga kemungkinan kita buat abisin anak-anak the darks! Mereka itu punya Willy, jadi kita harus waspada!" ucap Rimba.
"Kelihatannya lu takut banget sama Willy, lu udah pernah tarung sama dia terus kalah ya?" ledek Ilham.
Braakkk...
"Lo jaga kata-kata lo anjir!!" bentak Rimba emosi sembari menggebrak meja disana.
"Bro sabar bro, rileks! Lo kenapa jadi emosi kayak gini? Lo lupa kalau lo sekarang lagi ada di markas kita?" ujar Ilham tersenyum miring.
Rimba melirik ke sekeliling, terlihat para anggota black di sekitarnya menatapnya dengan tajam.
"Lo harus jaga sikap disini bro, kalau gak mau kita hajar sampai lu masuk UGD!" ucap Ilham sekali lagi mengingatkan Rimba.
"Oke, gue minta maaf!" ucap Rimba mengalah.
"Hahaha, takut juga ya lo ternyata sama ancaman kita?" kekeh Ilham.
"Hahaha..." anggota black jack lainnya pun ikut tertawa.
"Jangan ketawain gue kayak gitu kalian! Kita ini kan mau kerjasama, gak boleh lah saling mengejek!" ucap Rimba.
"Ya ya, makanya lain kali lu jaga sopan santun kalau ada di wilayah kita!" ucap Ilham.
"Siap salah! Gue minta maaf!" ucap Rimba.
"Oke kita maafin, tapi awas ya kalo lain kali lu begitu lagi!" ucap Ilham.
Rimba menunduk saja tanpa bicara apapun.
Drrttt
Drrttt
Ponsel milik Ilham berdering, dia pun bangkit dan mengangkatnya sejenak.
Sementara Rimba serta para anggota black jack yang lain hanya terduduk diam disana.
"Heh! Kira-kira siapa yang telpon Ilham?" tanya Rimba pada mereka.
Namun, mereka hanya menaikkan kedua bahu.
"Kenapa kalian gak coba nguping dan dengerin pembicaraan Ilham di telpon? Siapa tahu dia ada bisnis lain kan?" usul Rimba.
Mereka semua pun saling pandang.
"Gak mungkin si Ilham begitu, dia kalau ada apa-apa pasti kasih tahu kita kok. Mungkin sekarang dia butuh privasi, kita gak perlu juga tau urusan pribadi dia!" ucap Billy.
"Iya, lagian kenapa lu kepo banget sih? Gausah ikut campur urusan orang!" timpal Choky.
"Galak amat, gue kan cuma nebak-nebak! Abisnya si Ilham terima telpon pake menjauh segala," ucap Rimba.
"Halah udah lu diem aja deh!" ujar Billy.
******
Pria itu justru tersenyum dan menaruh tangannya di atas paha sang kekasih, mengusapnya lembut membuat Ayna merasa geli.
"Eemhh, Randi jangan nakal!" ucap Ayna berusaha menyingkirkan tangan Randi, tetapi gagal.
"Sssttt udah diem aja sayang! Kamu nyaman kan diginiin?" goda Randi.
"Gak nyaman, yang ada aku malah deg-degan takut ada yang lihat kita. Udah lah Randi, cepet lepasin tangan kamu!" sentak Ayna.
"Kalau aku gak mau gimana?" ucap Randi yang kini malah mengecup ceruk leher Ayna.
"Ahh.." de-sah Ayna tak tertahankan saat pria itu mengendus lehernya dengan mesra.
Tangan Randi bergerak semakin dalam, menyentuh bagian intim wanitanya dengan lembut yang membuat sang empu makin gelisah.
"Akh Ran, please!" lirih Ayna.
"Kamu suka kan? Nanti abis dari sini, kamu ke rumah aku ya? Supaya kita berdua bisa bebas ngapain aja," ucap Randi.
"Maksud kamu apa? Kamu mau ngapain ajak aku ke rumah kamu?" tanya Ayna.
"Gak ngapa-ngapain kok sayang, aku cuma pengen kenalin kamu sama rumah aku. Emang salah ya kalau aku bawa pacar aku ini ke rumah aku?" jawab Randi sambil tersenyum miring.
"Ya enggak sih, tapi beneran kan gak mau ngapa-ngapain? Awas loh ya kalau kamu mesum lagi disana!" ancam Ayna.
"Iya iya, gak bakal kok sayang," ucap Randi seraya mencubit hidung gadisnya.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri mereka dan membuat keduanya terkejut.
"Ehem ehem, misi pak bos!" sapanya.
Seketika Randi langsung mendongakkan wajahnya ke arah si pelayan, ia tersenyum tanpa menjauhkan tangannya dari inti Ayna.
"Ada apa sih? Saya kan belum panggil kamu, kenapa kamu udah datang?" tegur Randi.
"Eee..."
"Yeh malah bengong, ditanya sama bosnya itu dijawab bukan diam aja!" potong Randi.
"Maaf bos! Saya cuma mau tawarin makan atau minum aja gitu," ujar si pelayan.
"Hadeh, yaudah saya pesan coffe latte satu!" sentak Randi.
"Baik pak bos! Makanannya?" ucap si pelayan.
"Umm, nanti saya pikir-pikir dulu. Kamu buatin aja kopinya dan jangan ganggu saya!" ucap Randi.
"Eh sayang, aku belum pesen tau. Masa cuma kamu doang yang pesan minuman? Kan aku juga haus," ucap Ayna dengan nada manja.
"Oh iya ya, sampe lupa aku kalau ada kamu. Yaudah, kamu mau pesan apa cantik?" ujar Randi.
"Aku mau cappucino nya satu ya?" ucap Ayna pada si pelayan.
"Baik, ditunggu ya!" ucap si pelayan.
Lalu, pelayan itu pun pergi dan Randi serta Ayna kembali melanjutkan obrolan mereka.
"Kamu kok galak banget sih?" tanya Ayna.
"Gapapa, itu wajar." Randi menjawab dengan senyuman.
******
"Hah??" kaget Chalvin.
"Betul Vin, makanya kita lagi berusaha buat cari anggota baru di geng the darks. Supaya kita bisa mengimbangi kekuatan black jack, apalagi sekarang mereka juga dibacking sama Martin si mafia besar itu," ucap Leo.
"Berarti mereka kuat-kuat juga dong?" tanya Chalvin.
"Iya, itu karena pengaruh Martin. Kenapa Vin? Lo pengen coba lawan mereka?" ujar Leo.
"Eee gue..."
"Kalau iya lu mau, mending lu gabung aja deh sama kita lagi kayak dulu!" potong Leo.
"Nah betul tuh, gue setuju sama ucapan Leo! Lo balik aja ke the darks ya!" sahut Zafran.
"Justru emang itu yang mau gue sampein ke kalian, gue pengen balik kesini dan gabung sama kalian lagi," ucap Chalvin.
"Hah serius lo Vin?? Beneran lo mau gabung the darks lagi?" tanya Zafran yang langsung terkejut.
"Iya Zaf, makanya gue mau cari Willy karena gue pengen bicarain soal ini. Ya siapa tau aja gue bisa diterima lagi di geng the darks," jawab Chalvin.
Semua disana kompak terkejut bukan main.
"Wah ini sih berita menggembirakan banget buat kita-kita! Ya gak guys?" ujar Syakur yang langsung bangkit dari duduknya.
"Betul tuh! Kita seneng banget lo balik kesini Vin!" sahut Jeki.
"Kalian bisa aja, gue lah yang paling senang karena gue bisa diterima lagi di tempat ini. Bagi gue, the darks itu udah kayak keluarga dan susah buat gue lupain kalian semua!" ucap Chalvin.
Mereka yang ada disana merasa terharu mendengar ucapan Chalvin, memang benar bahwa sangat sulit untuk saling melupakan satu sama lain apabila sudah sangat lama bersama-sama.
"Tapi Vin, tetap aja lu harus bilang dulu sama Willy! Dia itu kan leader kita disini, jadi yang bisa terima lu di the darks ya cuma dia!" ucap Leo.
"Iya betul, bentar deh gue coba dulu telpon ke nomor si Willy," sahut Zafran.
"Eh gausah, nanti malah ganggu dia sekolah lagi! Udah biar nanti siang aja gue kesini lagi, siapa tahu Willy udah balik kan?" ujar Chalvin.
"Iya sih, terserah lo aja deh. Pastinya kita senang banget bro karena lu balik lagi ke the darks!" ucap Zafran.
"Hahaha, gue juga Zaf!" balas Chalvin.
"Eh guys, gimana kalau kita rayain gabungnya Chalvin di the darks?" usul Leo.
"Hah rayain gimana maksud lo?" tanya Tedy.
"Ya rayain, kita bikin party buat menyambut kembalinya Chalvin di the darks. Acaranya nanti malam di markas besar, gimana pada setuju gak?" jelas Leo.
"Wah gue sih setuju! Udah lama kita gak party, markas besar juga jarang kita datangin. Pasti asik tuh kalo diadain pesta disana!" ucap Syakur.
"Gue juga setuju sama usul Leo!" sahut Jeki.
"Wih mantap pada setuju! Gimana nih Zaf? Lo setuju juga gak?" ujar Leo.
"Eee gue sih setuju aja.."
Bersambung...