
My love is sillie
Episode 55.
•
"Eee kalo gitu aku tunggu disini bareng kamu, ya? Siapa tahu aku bisa ketemu sama dia, biar aku bandingin siapa yang lebih tampan antara aku dan dia." ucap Max.
"Apa-apaan sih kamu? Enggak ya, aku gak mau kamu ketemu sama pacar aku! Nanti yang ada bakal terjadi masalah besar disini," ucap Kiara.
"Oh ya? Emang kenapa sih? Pacar kamu itu pasti cemburuan banget ya?" tanya Max.
"Itu kamu tau, terus kenapa kamu maksa buat ketemu sama dia? Yang ada dia bakal marah dan hajar kamu loh." kata Kiara.
"Masa sih? Aku gak takut tuh sama dia," ucap Max.
"Ehem ehem..." tiba-tiba saja seorang pria berdehem di dekat mereka.
Sontak Kiara serta Max langsung mengalihkan pandangan ke asal suara.
Kiara spontan terkejut saat melihat Martin sudah berdiri disana menatapnya.
"Tuan Martin?" ucap Kiara gugup.
"Ohh, jadi ini yang kamu lakuin sewaktu di sekolah sayang. Kamu bilang gak ada cowok yang deketin kamu, terus dia ini apa?" ucap Martin.
"Eee ka-kamu tenang dulu ya! Dia bukan siapa-siapa kok, dia cuma teman sekolah aku yang kebetulan ketemu disini." ucap Kiara.
"Hahaha, ini pacar kamu yang cemburuan itu ya Kiara? Cih pantas aja gampang cemburu, orang mukanya pas-pasan kayak gini. Pasti dia takut tuh kehilangan kamu," ucap Max.
"Max, kamu kenapa bilang gitu? Jangan cari gara-gara deh!" tegur Kiara.
"Loh kenapa? Aku kan udah bilang tadi, aku gak takut sama sekali sama orang ini. Jangankan dia, seribu orang kayak dia juga aku gak akan takut! Lagian aku gak salah, buat apa takut kan?" ucap Max dengan gaya menantang.
"Heh! Jangan kurang ajar ya anda! Kiara ini kekasih saya, dan anda tidak berhak ada di dekatnya tanpa seizin saya!" ucap Martin.
"Baru pacaran aja udah larang-larang kayak gitu, gimana nanti pas nikah? Kiara, mending kamu pikir-pikir lagi deh buat terusin hubungan kamu sama dia!" ucap Max.
"Hey, jaga bicara kamu itu! Saya bisa robek mulut kamu, kalau kamu tidak meminta maaf sekarang juga pada saya!" bentak Martin.
"Hahaha, gue gak takut!" ujar Max tertawa.
Martin yang emosi hendak maju mendekat ke arah Max dan memukulnya, namun Kiara dengan cekatan menahan Martin karena tidak ingin ada keributan disana.
"Tuan, tolong jangan kepancing emosi! Tuan harus bisa tahan diri tuan!" ucap Kiara menenangkan.
"Gak bisa Kiara, dia udah kelewat batas!" ujar Martin.
"Sabar tuan! Aku gak mau ada keributan disini, nanti yang ada tuan bisa diusir sama satpam." ucap Kiara terus memegangi lengan Martin.
"Tuan? Kiara, kenapa kamu panggil pacar kamu dengan sebutan tuan? Sebenarnya dia ini pacar kamu, atau tuan kamu?" tanya Max heran.
"Anda tidak usah banyak tanya! Semakin sedikit yang anda tahu, itu semakin bagus." ucap Martin.
"Cih! Lama-lama gue jadi curiga nih, jangan-jangan lu itu paksa Kiara buat jadi pacar lu ya! Soalnya gue yakin banget, gak mungkin Kiara yang cantik jelita kayak gini mau sama cowok modelan kayak lu." ucap Max.
"Heh jaga bicara anda! Saya ini Martin, orang terpandang di kota ini. Saya bisa melakukan apapun yang saya inginkan, termasuk mengirim kamu ke neraka!" ucap Martin kesal.
"Hahaha, coba saja kalo bisa!" tantang Max.
"Anda benar-benar memancing saya, jangan salahkan saya jika anda akan mendapat pukulan yang menyakitkan dari saya!" ujar Martin.
"Gue gak takut, emang lu bisa apa sih? Gue pengen tahu, seberapa jagonya lu." ucap Max.
"Max Max, udah Max jangan kayak gini! Kamu mending pergi deh sana, aku gak mau kalian berdua berantem begini!" ucap Kiara memisahkan.
Bukannya menurut, Max justru maju mendekati Martin dan seakan-akan menantang pria itu.
"Duh, gimana ini?" batin Kiara.
******
Willy kini membawa Aurora ke markas the darks, ia bermaksud mengajak Aurora untuk berkumpul dengan anak-anak the darks yang lain.
Akan tetapi, Willy cukup terkejut saat melihat kondisi markas tersebut dalam keadaan kosong dan tidak ada siapapun disana.
"Loh, kok kosong ya disini? Pada kemana nih mereka?" gumam Willy kebingungan.
"Eee mungkin aja mereka belum datang, atau mereka lagi punya kesibukan lain." jawab Aurora.
"Ah gak mungkin! Mereka itu pengangguran semua, kerjaan mereka ya cuma ngumpul disini doang gak ada yang lain. Ini pasti ada yang gak beres nih, aku harus cari tau dulu!" ucap Willy.
"Kamu mau ngapain?" tanya Aurora.
"Aku pengen hubungi mereka satu persatu, barangkali mereka ada problem atau apa gitu yang aku gak tahu. Sebentar ya cantik!" jawab Willy.
"Iya, yaudah kamu telpon aja mereka!" ujar Aurora.
Willy mengangguk pelan sembari mencubit pipi Aurora dan mengambil ponselnya.
"Ish sempat-sempatnya ya kamu!" ujar Aurora.
"Hehe.." Willy nyengir saja.
Lalu, Willy pun menelpon nomor Thoriq untuk coba bertanya pada temannya itu.
Namun, nomor Thoriq tidak dapat dihubungi dan membuat Willy merasa bingung.
"Kenapa Wil?" tanya Aurora heran.
"Ini loh, nomornya si Thoriq gak bisa dihubungi. Aku jadi makin khawatir deh, aku takut terjadi sesuatu sama mereka!" jawab Willy.
"Sabar dulu Wil! Coba kamu hubungi nomor teman kamu yang lain, siapa tahu nyambung dan diangkat!" ucap Aurora memberi saran.
"Oh iya ya, pinter banget sih kamu sayang!" ucap Willy memuji sembari mencubit pipi Aurora dengan gemas.
"Ah lebay!" umpat Aurora kesal.
"Hahaha, yaudah sebentar ya cantik! Kamu duduk dulu gih disana, biar gak pegel!" ucap Willy.
"Okay!" Aurora menurut dan pergi menuju tempat duduk di dekat sana.
Gadis itu meminum air di botol yang ia bawa untuk bekal sekolah sebelumnya, sambil memperhatikan Willy yang tengah menelpon temannya disana.
Willy terus mencoba menghubungi nomor temannya, kali ini giliran nomor Randi yang ia hubungi dan berhasil menyambung.
"Nah nyambung nih!" ucap Willy senang.
📞"Halo Randi! Lu lagi dimana sekarang? Kenapa markas the darks bisa kosong?" tanya Willy.
📞"I-i-iya, halo Wil! Gue sama anak-anak sekarang lagi di rumah sakit nih, kita tadi udah sempat kumpul di markas tapi gak lama ada kabar kalau Thoriq kritis dan masuk ke UGD. Makanya kita semua langsung berangkat kesini," jelas Randi.
📞"Apa? Thoriq kritis? Serius lu, Ran? Lu udah cek sendiri kalau beneran Thoriq yang ada di rumah sakit itu?" tanya Willy langsung panik.
📞"Udah Wil, barusan kita cek sendiri kok. Emang benar itu Thoriq teman kita, nama panjangnya juga sama kok. Dari penuturan dokter, Thoriq katanya dikeroyok sama orang di jalan." jawab Randi.
📞"Hah? Dikeroyok?" Willy terkejut bukan main.
📞"Yaudah, terus Thoriq dirawat di rumah sakit mana? Kasih tau ke gue, biar gue bisa kesana!" ucap Willy.
📞"Sekarang kita ada di rumah sakit bina seta, lu bisa langsung kesini aja Wil!" jawab Randi.
📞"Oh oke, gue otw kesana sama Aurora. Thanks kabarnya!" ucap Willy.
📞"Sama-sama, Wil." kata Randi.
Tuuutttt...
Willy menutup telponnya, lalu menghampiri Aurora di belakangnya yang juga sudah berdiri karena penasaran melihat Willy tampak panik.
"Wil, ada apa? Kok lu panik gitu?" tanya Aurora.
"Barusan Randi kasih kabar ke aku, katanya Thoriq dipukulin sama orang di jalan sampai masuk UGD. Aku mau jenguk dia sekarang kesana, kamu ikut aku yuk kesana!" jawab Willy.
"Eee iya deh, tapi kalo papa nyariin gue gimana?" tanya Aurora khawatir.
"Tenang aja! Kamu gausah mikirin soal itu, cukup ikut aja sama aku dulu!" ucap Willy tersenyum.
"Okelah," ucap Aurora menurut saja.
Akhirnya mereka pergi bersama menuju rumah sakit untuk menjenguk Thoriq.
******
Sementara itu, Kiara berhasil memaksa Martin pergi dari sekolahnya dan kini mereka pun sudah berada di dalam mobil berdua.
Tampak Martin masih terbawa emosi akibat kelakuan Max tadi, namun Kiara terus berupaya menahan emosinya agar tidak meluap-luap.
"Tuan, aku mohon tuan tahan emosi tuan ya! Aku gak mau tuan kayak gini lagi!" ucap Kiara cemas.
"Iya cantik, sebenarnya saya juga gak mau begini. Tapi, anak tadi itu benar-benar memancing emosi saya. Dia sepertinya tertarik dengan kamu, saya gak akan biarkan itu terjadi!" ucap Martin kesal.
"Gapapa lah tuan, kan yang tertarik cuma dia. Aku juga gak ada rasa apa-apa sama Max, udah lah tuan gak perlu cemburu terus kayak gitu ya!" pinta Kiara.
"Gak bisa Kiara, tetap aja saya gak suka lihat kamu dekat-dekat dengan pria lain. Apalagi saya tahu sendiri kalau pria itu suka sama kamu, kan dia bisa melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan hati kamu sayang." ujar Martin.
"Eee tuan tenang aja ya! Walau Max terus-terusan deketin aku, aku gak bakal tertarik sama dia kok. Dan aku juga akan berusaha untuk menghindar dari dia, gimana?" ucap Kiara meyakinkan Martin.
"Ya bagus deh, saya pegang kata-kata kamu ya! Awas aja kalau kamu malah kepincut dengan dia, saya pastikan saya akan memutus sekolah kamu!" ujar Martin dengan tegas.
"Jangan dong tuan! Aku kan masih mau sekolah, aku janji kok gak akan tergoda sama si Max itu! Lagian dia juga gak ada apa-apanya kok kalau dibandingin sama tuan, tuan lebih segalanya deh dari dia!" ucap Kiara memuji Martin.
"Hahaha, kamu memang paling bisa kalau urusan memuji ya!" ujar Martin terkekeh kecil.
"Kan emang benar tuan, si Max mah jauh kalau dibandingin sama tuan. Buat apa aku pilih Max, kalau aku udah punya tuan?" ucap Kiara.
"Yasudah, saya agak lega sekarang." kata Martin.
"Baguslah tuan! Oh ya, tuan sebenarnya udah ngelakuin apa sih ke geng the darks? Kenapa tadi Willy bilang kalau tuan udah sebarin berita bohong ke masyarakat tentang the darks?" tanya Kiara.
"Kamu gausah dengerin dia sayang! Dia itu emang gak jelas orangnya!" ucap Martin.
"Tapi, tuan beneran gak ngelakuin itu sama anak-anak the darks?" tanya Kiara penasaran.
"Jelas enggak dong sayang! Buat apa juga saya begitu? Emang mereka nya aja yang bandel dan suka bikin rusuh, jadi masyarakat anggap mereka tuh biang rusuh! Tapi si Willy malah nyalahin saya, mentang-mentang saya gak suka sama dia." jawab Martin.
"Syukur deh, aku senang kalau tuan ternyata gak begitu sama mereka! Biar gimanapun, perbuatan begitu kan gak baik tuan." ucap Kiara.
"Iya Kiara, saya ngerti kok. Sudah ya, tolong kamu jangan bahas Willy lagi di depan saya! Emangnya kamu mau bikin saya cemburu? Kamu kan tahu sendiri, saya ini gak suka sama dia!" ujar Martin.
"I-i-iya tuan, maaf ya!" ucap Kiara gugup.
"Gapapa, kali ini saya maafkan kamu. Asal kamu jangan mengulangi perbuatan kamu barusan!" ucap Martin mengacungkan jari telunjuknya.
"Siap tuan!" ucap Kiara tersenyum menurut.
"Nah, itu baru pacar saya yang cantik dan penurut!" ucap Martin mengusap wajah Kiara.
"Ah tuan bisa aja!" ucap Kiara tersipu.
******
Randi bersama anak-anak the darks yang lain masih berada di depan ruang UGD, mereka tengah menunggu kabar dari dokter mengenai kondisi Thoriq yang dirawat disana.
Farrel kembali dari mengangkat telpon, ia nampak bingung saat hendak berbicara dengan teman-temannya disana.
"Kenapa lu?" tanya Randi heran.
"Eee begini Ran, kayaknya gue gak bisa deh lama-lama disini." jawab Farrel gugup.
"Loh, kenapa?" tanya Randi.
"Iya nih Ran, barusan nyokap gue telpon dan katanya adik gue sakitnya kambuh. Gue harus segera bawa dia ke psikolog, tapi gue juga masih pengen disini buat tau kondisinya Thoriq." jawab Farrel kebingungan.
"Lu santai aja Rel! Udah, lu mending balik deh dan anterin adik lu! Soal Thoriq, itu biar nanti gue yang kasih kabar ke lu." ucap Randi.
"Serius lu Ran? Jadi, gue bisa nih pulang sekarang?" tanya Farrel.
"Iyalah Rel, lu pulang aja sana! Adik lu juga butuh bantuan lu sekarang, Thoriq juga kan udah aman di dalam sana." jawab Randi.
"Iya sih, yaudah deh kalo gitu gue balik dulu. Jangan lupa kabarin gue ya!" ucap Farrel.
"Siap!" ucap Randi menepuk bahu Farrel.
Farrel pun pamit kepada teman-temannya yang lain, lalu melangkah tergesa-gesa keluar dari rumah sakit itu.
Saat di luar rumah sakit, Farrel tak sadar jika sudah ada seseorang yang memantaunya dari jauh dan memegang HT di tangannya.
Setelah Farrel pergi dengan motornya, orang itu pun mengabari seseorang yang lainnya melalui HT tersebut untuk mengejar Farrel.
Farrel melaju dengan kencang, tapi tiga motor trail di belakangnya berhasil menyusul dengan cepat dan kini mengurungnya di tengah-tengah.
"Gawat! Mereka siapa ya?" batin Farrel.
Bruuukkk...
Tiba-tiba saja, mereka menendang motor Farrel hingga pria itu terjatuh ke pinggir dan mengerang kesakitan.
"Aakkkhhh!!" pekiknya.
"Bangun lu!" teriak salah seorang dari mereka yang kini menghampiri Farrel.
"A-ampun jangan apa-apain gue!" ucap Farrel.
Orang itu justru menarik kerah jaket Farrel dan meninju perut Farrel dengan kuat.
Bugghhh...
Tak berhenti sampai disitu, mereka juga kembali memukuli Farrel hingga pria itu tergeletak pingsan di jalanan aspal.
Bersambung....